Tag

,

IMG_3929

o, aditinggi moyang tertinggi
pelindung alamina, pelindung kita
pusaka kara, seperti pedang terhunus
di tangan sejarah menjernihkan nasib
dimana doadoa berdaun
dimana maarifat berakar
dirapal hulubalanghulubalang
agar laut tak letih, langit tiada mengantuk
(Alamina, Aku Laut Aku Ombak, Iverdixon Tinungki)

Sebuah mite dari masa purba di bawah 1500 SM menyebut pulau Alamina merupakan daratan pulau besar yang membentang dari pulau Bacan hingga pulau Mindanao. Masyarakat pulau itu dipimpin seorang kulano tua bernama Ampuang Tatetu yang dipercaya sebagai wakil dewa moyang tertinggi yang disebut juga Aditinggi. Aditinggi berdiam di puncak gunung Karangetang, yang merupakan gunung tertinggi di daratan Alamina.
Konon Alamina di hancurkan dan ditenggelamkan lewat letusan gunung Garengetang yang begitu dasyat sebagai manifestasi kemarahan dewa Aditinggi, karena manusia tak lagi patuh pada hukum dewa moyang tertinggi (narang).

Dari bencana besar itu, yang tersisa adalah puncak-puncak gunung yang kemudian membentuk pulau-pulau. Sementara hamparan karang di dalam laut di wilayah utara muncul menjadi pulau-pulau karang yang baru. Karena letaknya jauh ke laut maka disebut pulau karang jauh di laut (Malaude atau Talaude). Sisa-sisa dari reruntuhan Alamina itu oleh datuk Tatetu dinamakan Nusalawo (Pulau banyak).

Saat ini orang menyebut kawasan pulau-pulau di utara daratan Minahasa itu dengan nama Nusa Utara (kepulauan Siau Tagulandang, Sangihe dan Talaud). Padahal sebutan Nusa Utara tidak tercatat dalam artefak sejarah dan mitologi Nusalawo.

Selanjutnya peristiwa letusan gunung Awu di Pulau Sangihe tercatat juga menelan banyak korban jiwa serta hancurnya 7777 rumah di abad ke XI menenggelamkan sebagian daratan pulau Sangihe dan membentuk pulau-pulau kecil seperti pulau-pulau Nusa, Lipang dan beberapa pulau lain hingga pulau Marore. Kejadian itu dikaitkan dengan adanya dosa sumbang (nedosa) antara Mekondangi dan Tampilangbahe.

Gunung Karangetang di pulau Siau adalah salah satu gunung aktif di dunia dengan ketinggian 1827 m. Jarak sekitar 146 km dari kota Manado, termasuk kedalam Kabupaten Sitaro (Provinsi Sulawesi Utara). Secara geografis gunung Karangetang terletak pada posisi 02°47’ Lintang Utara dan 125°29’ Bujur Timut.

Gunung ini pernah meletus pada tahun 1675, mengeluarkan lava pijarnya dengan sangat dahsyat. Karangetang tercatat juga sudah mengalami erupsi sebanyak 41 kali sejak tahun 1675 dan salah satu ciri khas dari gunung api ini, adalah satu-satunya gunung didunia yang pernah di Baptis.

Gunung ini di Baptis oleh salah satu Pendeta yang datang ke Siau untuk menyebarkan Injil ( misionaris). Pendeta tersebut adalah orang Belanda dan kemudian gunung ini diberi nama sesuai dengan nama Pendeta yang Membaptisnya , yaitu ( YOHANIS ). tapi kebanyakan orang di pulau Siau hanya mengetahui nama gunung tersebut " Karangetang" tapi nama yang sebenarnya adalah " Yohanis"

Salah satu keunikan dari gunung ini adalah, jika masyarakat yang ada di pulau Siau melakukan pelanggaran maka gunung ini akan memberi tanda yang berupa suara gemuruh ataupun langsung mengeluarkan lava pijar.
Gunung Api Karangetang sudah menjadi bagian keseharian masyarakat Pulau Siau. Keaktifan gunung ini merupakan berkat bagi tanah di sekitarnya yang menyuburkan lahan-lahan tanaman Pala yang merupakan salah satu Pala terbaik di dunia. (iverdixon@portalsulut.com)