Mendongeng Bakeng

Iverdixon tinungkiOleh : Iverdixon Tinungki

Terkisahlah cerita lama di kabut mega
Selaksana anak taufan menghamburkan pasir
Menerjang mata para raja dan sultan

Sebuah dongeng, sebuah perlawanan! Sebuah daya yang niscaya. Sebuah creativity yang memungkinkan hadirnya entitas aktual. Karena di balik maknanya, –mengacu semiotika de Saussure — terdapat suatu system yang rumit dan kompleks sebagai pembentuknya.

Maka tersebutlah di suatu masa, Ansuang Bakeng (Raksasa Bakeng) bertahta sebagai penguasa. Raja diraja, di tanah Sangihe. Permaisurinya Boki, perempuan suka pesta, dan hidup mewah. Ketika kisah ini dicipta, anaknya masih kanak-kanak. Diberi nama Watairo. Tapi rakyat hanya boleh menyapanya Batairo.
Entah apa penyebab huruf “W” menjadi “B”. Tak ada penjelasan. Tapi, terasa ada gelagat tersembunyi terbebat. Semacam kombinasi antara konsep dan citra bunyi yang melahirkan tanda (sign) sebagai penanda (signifie). Seperti guru dipanggil “tuang guru” (tuan guru), pejabat disebut “tuang labo” (tuan besar), pejabat tinggi, penguasa dan ninggrat disebut “manga mawu” (para tuhan). Dan ironis, kaum jelata disebut “manga dempuge” (para rumput), lebih leceh lagi, “manga nune” (para tak beradab).

Generasi kini barangkali menyangka, perubahan kata itu sekadar symbol perangai kekuasaan lama. Kekuasaan yang mendudukkan rakyat sebagai pihak yang selalu keliru dan salah. Bodoh dan tak berdaya. Sampai-sampai di mulut pun tak boleh ada kata terlafal benar. Rakyat dilarang berfikir dengan bahasa, dan kata-kata harus lumpuh sejak awal. Seperti gelagat polisi menghardik tersangka: “Diam! Kau berani melawan petugas!”. Tersangka, yang keliru dan yang tidak keliru sama-sama terpaksa bungkam. Terpuruk dalam “kebudayaan bisu”, sitir Freire.

Lanjutkan membaca “Mendongeng Bakeng”

Kuah Dedah Sitaro tersedia di Mall

423103_3481049110926_1412268071_33527194_1893719002_n 

Kesibukkan menyita waktu saya siang itu. Tak terasa, hingga sore hari saya belum makan sama sekali. Dan ketika sms dari teman yang mengingatkan akan janji pertemuan sore itu datang, saya tak sempat lagi makan. Keputusannya, makan di tempat pertemuan saja.

Kami bertemu di sebuah mall besar di Manado. Mall teramai yang ada di ibukota provinsi Sulawesi Utara. Saya berinisiatif menunggu di salah satu food court yang ada. Kelaparan yang menyapa, membuat keinginan saya menyantap masakah berkuah.

Mata menyusuri kedai-kedai yang ada di food court tersebut. Dan mata saya tertarik pada papan nama sebuah kedai. Tertulis dengan sangat jelas. Masakah Khas Sitaro, Kuah Dedah. Saya yang saat itu bersama pasangan, memutuskan mencoba menu yang ditawarkan.

Lanjutkan membaca “Kuah Dedah Sitaro tersedia di Mall”

Sunset di Pulau Mahoro

Dalam kunjungan ke Pulau Mahoro, Januari 2012, saya bersama Ebbie Adrian, Travel Fotografer Indonesia, dan seorang teman lagi dari Manado, kami menyempatkan bermalam di Pulau Eksotis itu.

Berangkat dari Ulu, Siau pukul 3 siang. Dengan menyewa speed boat, kami memutari kluster Buhias, dan berakhir di pantai indah Mahoro. Ketika sampai di Pulau Mahoro, langit begitu indahnya dan cerah, sehingga saya sempat mengabadikan sunset dari arah Pulau Mahoro.

 _MG_7697

Ronny Buol - Menyambut Malam di Pulau Mahoro

Kuburan Tua Tamawiwij di Beo, Talaud

Dalam sebuah kunjungan saya ke Talaud pada Oktober 2011, saya menyempatkan diri ke Beo. Dalam kesempatan itu saya sempat memotret kompleks Perkuburan Tua, milik marga Tamawiwij.

Yang menarik dari yang tertulis pada kuburan tua tersebut adalah sebutan President Djogoegoe Beo untuk Kuburan SS. Tamawiwij dan sebutan Padoeka Radja P.P. Talaud untuk Kuburan Julius Satio Tamawiwij.

4R Tertulis: Disini Berhenti JULIUS SARIO TAMAWIWIJ, Padoeka Radja P.P. TALAUD, Wafat 19-7-1931 di Manado, Dimakamkan 28-7-1931 di BEO, Mazmoer 73:26, Wahjoe 14:13

Lanjutkan membaca “Kuburan Tua Tamawiwij di Beo, Talaud”

Tengkorak Makalehi itu Tidak Mau Difoto bersama Kamga

P9080691 Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro, atau yang sering disingkat sebagai SITARO, mempunyai salah satu pulau yang merupakan satu dari 99 pulau terluar Indonesia. Pulau Makalehi namanya. Masuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Siau Barat, kini Pulau Makalehi sedang dalam persiapan menjadi satu kecamatan sendiri. Pulau ini pada tahun 2010 sempat menjadi tenar, karena merebut Juara Pertama dalam Lomba Desa Tingkat Nasional. Alhasil, Piagam Penghargaan itu, kini tergantung dengan megahnya di rumah Kepala Desa Makalehi.

Di Nusa Utara sendiri (sebutan untuk wilayah Talaud, Sangihe dan Sitaro) terdapat tiga pulau terluar. Pulau Marore (Kab. Sangihe), Pulau Miangas (Kab. Talaud) dan Pulau Makalehi sendiri yang berbatasan dengan wilayah Malaysia Timur. Luas Pulau Makalehi lebih kurang 300 ha. Penduduknya hampir semua bermata pencarian sebagai nelayan. Pulau ini juga terkenal sebagai penghasil pelaut-pelaut ulung. Beberapa diantaranya bahkan menjadi nahkoda kapal internasional.

Saya mengunjungi Makalehi pertama kali pada tahun 2007. Waktu itu sarana dan prasarana di pulau Makalehi masih sangat terbatas. Maklum, Sitaro baru memekarkan diri dari Kabupaten Induknya, Sangihe. Kini Makalehi telah berbenah. Sebagai salah satu Desa Teladan Nasional, berbagai fasilitas telah dibangun. Termasuk pelabuhan megah yang sementara diselesaikan pekerjaannya.

Pulau ini berbentuk kerucut yang terpancung oleh letusan dahsyat Kala Pilo-Plistosen. Kawahnya terbuka ke arah barat daya. Mengakibatkan Pulau ini sangat indah dilihat dari udara yang merupakan perpaduan pasir pantai, bertemu birunya laut yang bergradasi dari muda ke tua.

Kawah dari pulau ini membentuk sebuah danau yang sangat indah untuk dinikmati dari atas bukit yang mengelilinginya. Hampir seluruh masyarakat Makalehi hidup di sekitar danau. Namanya Danau Makalehi. Tentang keindahan danau ini, Host Explore Indonesia Kompas TV, Kamga berujar, “mungkin ini satu-satunya danau di Indonesia yang bisa saya katakan sebagai danau perawan. Tidak ada aktifitas apapun di tengah danau, seperti pemeliharaan ikan oleh masyarakat sekitar. Danau ini mungkin hanya untuk dinikmati oleh mata.” ujarnya ketika melakukan pengambilan gambar di tepi danau.

Lanjutkan membaca “Tengkorak Makalehi itu Tidak Mau Difoto bersama Kamga”

Pantai Panas Lehi membuat Tim Explore Indonesia Kompas TV Terkagum-kagum

IMG_1696

Explore Indonesia merupakan salah satu acara Kompas TV yang mengexplore tempat-tempat indah dan unik di Indonesia yang sebelumnya belum pernah terexpose atau sudah dikenal namun ditampilkan dengan sesuatu yang baru.

Minggu kedua Oktober 2011, saya dihubungi bagian Creative dan Produser Explore Indonesia. Percakapan via telepon yang cukup lama itu menanyakan soal potensi yang dimiliki Kabupaten Kepulauan Sitaro. Beberapa tulisan saya mengenai keindahan pulau-pulau dijajaran Nusa Utara itu menarik perhatian mereka. Akhirnya kesepakatanpun dicapai, saya menemani perjalanan mereka ke Pulau Siau.

Dengan menggunakan Kapal Cepat Express Bahari, kami berangkat dari Pelabuhan Manado pada Selasa, 18 Oktober 2011. Kapal bertolak pukul 10.00 wita dengan cuaca yang sangat cerah. Begitu meninggalkan pelabuhan Manado, tim Explore Indonesia yang terdiri dari 4 personel itu sudah terkagum-kagum dengan laut dan langit yang sangat biru.

Tak tahan dengan keindahan itu, mereka pun melakukan pengambilan gambar di haluan kapal ketika melewati Pulau Manado Tua dan Bunaken. Host mereka, Kamga, yang juga vokalis group band Tangga harus berulang kali saya ajarkan untuk melafalkan dengan benar kata-kata seperti, Siau, Tagulandang, Biaro, Makalehi, Mahoro, Lehi dan beberapa tempat di Pulau Siau. Maklum, penyanyi yang satu ini keturunan Kamerun dan Palembang serta kental dengan dialek Jakarta.

Lanjutkan membaca “Pantai Panas Lehi membuat Tim Explore Indonesia Kompas TV Terkagum-kagum”

Beberapa Foto Barang milik Raja Taboekan Sangihe

Foto-foto berikut yang berhubungan dengan Raja Taboekan – Sangihe merupakan koleksi dari Olden Kansil.  Kualitas foto tidak terlalu baik karena hanya diambil menggunakan kamera handset, tetapi nilai historis yang terpapar merupakan sebuah usaha dokumentasi yang patut diberi apresiasi.

 

1.  David Jonathan Papukule dan Boki, Raja Taboekan XIV

1

2.  William Kahendake Sarapil, dan Boki Kansil, Raja Taboekan IV, Bupati Pertama Kab. Sangihe dan Talaud

2

Lanjutkan membaca “Beberapa Foto Barang milik Raja Taboekan Sangihe”

EKSOTIS BEBATUAN PANTAI-PANTAI DI SITARO

4R

Sebagai daerah kepulauan, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) yang berada dalam wilayah administrasi Provinsi Sulawesi Utara memiliki luas wilayah perairan laut sekitar 91% dari total 3.066,22 KM2 luas wilayahnya.

Dari luas daratan yang hanya 9% tersebut (275,96 KM2) kabupaten baru ini memiliki garis pantai sepanjang 154 KM. Sungguh merupakan garis pantai yang amat panjang dibanding dengan wilayah daratannya.

Tidak heran, sebagian besar penduduk dari kabupaten yang baru 2 tahun memekarkan diri dari kabupaten induk Sangihe ini, tinggal di wilayah pesisir.

Namun jangan membayangkan seperti didaerah berpantai di tempat lain, garis pantai di Kabupaten Kepulauan Sitaro memiliki karakteristik khusus dan unik.

Akibat dari kehadiran dua gunung berapi yang ada di Pulau Siau (GA. Karangetang) dan Gunung Api Ruang di Pulau Tagulandang dan pula dipengaruhi oleh letak kabupaten ini pada jalur labil sirkum pasifik, membuat garis pantainya sebagian besar merupakan bebatuan.

Lanjutkan membaca “EKSOTIS BEBATUAN PANTAI-PANTAI DI SITARO”

MAKALEHI – Misteri Tengkorak Tembo Yonding, Danau Eksotis dan Kehidupan Nelayan

Makalehi-1

Pulau Makalehi berada dibawah administrasi Kecamatan Siau Barat. Pulau ini merupakan pulau terluar dari Kabupaten Siau Tagulandang Biaro, bahkan merupakan salah satu dari 92 pulau terluar Indonesia.

Pulau ini berbentuk kerucut yang terpancung oleh letusan dahsyat Kala Pilo-Plistosen. Kawahnya terbuka ke arah barat daya. Mengakibatkan Pulau ini sangat indah dilihat dari udara yang merupakan perpaduan pasir pantai, bertemu birunya laut yang bergradasi dari muda ke tua.

Luas Pulau Makalehi + 300 Ha. Masyarakatnya 100 persen nelayan. Sehingga sangat ideal untuk menikmati wisata kehidupan masyarakat. Potensi hasil perikanan tangkap yang memadai merupakan salah satu objek yang patut diexplorasi. Masyarakatnya ahli membuat Kapal Pajeko (kapal penangkap ikan) dengan keterampilan alamiah.

Kawah dari pulau ini membentuk sebuah danau yang sangat indah untuk dinikmati dari atas bukit yang mengelilinginya. Hampir seluruh masyarakat Makalehi hidup di sekitar danau.

Lanjutkan membaca “MAKALEHI – Misteri Tengkorak Tembo Yonding, Danau Eksotis dan Kehidupan Nelayan”

TAGULANDANG – Potensi Buah Salak Yang Belum Termaksimalkan

E:\Design\wisata\Tagulandang.pm

Kalau anda memandang Pulau Siau dari arah laut, maka tersajilah hamparan Tanaman Pala yang hampir menutupi seratus persen lahan yang ada di Pengunungan Pulau Siau. Lain halnya dengan di Pulau Tagulandang, khususnya di Desa Bawuleo Kecamatan Tagulandang Utara. Sejauh mata memandang, hamparan tanaman Salak milik rakyat menjadi sajian yang menarik.

Lanjutkan membaca “TAGULANDANG – Potensi Buah Salak Yang Belum Termaksimalkan”

Status Kegiatan GA. Karangetang selama Bulan Maret 2011

Sumber: http://www.vsi.esdm.go.id/

Guguran LavaHasil evaluasi kegiatan G. Karangetang di Kabupaten Sitaro, Provinsi Sulawesi Utara sebagai berikut;

I. PENDAHULUAN

Gunungapi Karangetang yang dikenal juga sebagai G. Api Siau merupakan sebuah pulau gunungapi dan  berada di bagian utara P. Siau termasuk kedalam Kabupaten Sitaro yang berjarak sekitar 146 km dari kota Manado. Secara geografis G. Karangetang terletak pada posisi 02047’ Lintang Utara dan 125029’ Bujur Timut, dengan tinggi puncak sekitar 1827 m di atas permukaan laut. Gunungapi tersebut dipantau secara menerus dari Pos Pengamatan Gunungapi di Desa Salili.

Sejak 18 Maret 2011 kegiatan G. Karangetang mengalami peningkatan status dari SIAGA (Level III) menjadi  AWAS (Level IV) didasarkan pada peningkatan aktivitas secara visual, kegempaan dan potensi ancaman bahaya yang tinggi dari kejadian awan panas guguran terhadap masyarakat yang berada di lereng G. Karangetang bagian barat.

Lanjutkan membaca “Status Kegiatan GA. Karangetang selama Bulan Maret 2011”