Magnet Wisata Bahari di Tapal Batas Itu Bernama Miangas

Tag

, , , , , ,

_MG_6294

NAMA “Miangas” populer karena tersebut dalam lirik lagu yang menggambarkan batas-batas wilayah Indonesia. Penggalannya adalah “dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote”.

Miangas menjadi magnet karena pulau kecil ini, lebih dekat dengan Filipina dibandingkan dengan ibu kota Kabupaten Kepulauan Talaud, Melonguane yang merupakan pemilik wilayah administrasi pulau yang hanya memiliki luas sekitar 3,5 Km2 ini.

Dari Melonguane, Miangas berjarak sekitar 110 mil, dan dari Manado sekitar 320 mil, sementara jarak Miangas ke Davao (Filipina) hanya 48 mil. Tak heran pulau ini dijadikan sebagai cross border area. Sebuah bangunan sederhana milik pemerintah Filipina berdiri di Miangas.

Untuk mencapai Miangas, dibutuhkan perjuangan yang tak gampang. Tidak saban hari ada kapal yang menyinggahi pulau yang dihuni sekitar 1.000 jiwa ini. Tetapi justru karena tantangan itulah, para pejalan dan pelancong menjadikan Miangas sebagai target destinasi khusus.
Baca lebih lanjut

Menyatu di Sulawesi Utara: Dari Keindahan Alam, Kekayaan Biodiversitas, Hingga Kultur Eksotis

Tag

, , , , , , , , , , , , , , ,

Danau-Linouw-2

MANADO –  Sulawesi Utara begitu identik dengan Bunaken. Keindahan bawah air di taman laut nasional itu terlanjur tersohor.

Dari rata-rata 16.000 kunjungan turis per tahun yang menyambangi Sulut, sebagian besar punya satu tujuan: menyelam di Bunaken dan datang ke Manado.

Bahkan di beberapa publikasi international, Sulut dikenal hanya karena penjelasan soal di mana Bunaken berada. Padahal Manado hanyalah kota seluas 1,1 persen dari seluruh wilayah Sulut dengan luas wilayah 13.851 kilometer persegi.

Provinsi ini menjadi tempat hidup tiga etnis besar yang mempengaruhi kehidupan sosial masyarakatnya, serta budaya yang membuat ritme hidup mereka begitu cair. Tak hanya kekayaan alam dan kultur, Sulawesi Utara juga dikenal dengan kekayaan biodiversitas.

Keramahan dan sikap terbuka adalah jamak bagi etnis Minahasa, Sanger dan Bolaang Mongondow. Ketiga etnis yang membuat masyarakat Sulut membuka diri bagi siapapun yang mengunjungi tanah mereka.

Baca lebih lanjut

Ini 9 Permainan Tradisional Anak di Sulawesi Utara

Tag

, , , , , , , , , , , , ,

LOMPAT TALI

MANADO – Libur panjang pada akhir pekan ini sangat cocok dimanfaatkan untuk mengajak anak bermain di luar rumah. Beberapa permainan tradisional dari masa tahun 1950-an hingga 1990-an masih bisa diajarkan bagi tumbuh kembang anak.

“Permainan anak zaman dulu yang dilakukan beramai-ramai secara berkelompok sudah jarang lagi ditemui. Anak-anak sekarang lebih memilih tinggal di rumah bermalas-malasan sambil bermain gadget tanpa bersosialisasi dengan teman sebayanya,” ujar Koordinator Studio dan Perfilman Kantor Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sulawesi Utara, Tengah, dan Gorontalo, Rocky H Koagouw, Kamis (5/5/2016).

Padahal permainan anak-anak tradisional memberikan banyak manfaat bagi tumbuh kembang anak, misalnya dalam pertumbuhan kesehatan dan motorik anak.

Belum lagi keseruan permainan yang bisa dinikmati bersama teman-teman sebaya yang secara emosi memberikan efek kesenangan dan kenangan bagi setiap anak.

Baca lebih lanjut

Dari Tungku Sederhana Itu, Sem Jadikan Anak-anaknya Sarjana

Tag

, , , , , , , , , , , ,

GULA MERAH - Sem, sedang menata gula aren yang baru saja selesai diolahnya.

GULA MERAH – Sem, sedang menata gula aren yang baru saja selesai diolahnya.

TOMOHON  — Tungku itu terletak di bagian belakang pada gubuk sederhana yang dibangun Yusuf Sem Wungow (64) di kebunnya.

Setiap hari, dia mengayuh sepeda sejauh tiga kilometer dari rumahnya di Lahendong Lingkungan 6, Kecamatan Tomohon Selatan, Sulawesi Utara (Sulut).

Walau usianya sudah senja, Sem tetap semangat menyalakan api di tungkunya setiap hari. Sebab, dari tungku itulah dia bisa berbangga dengan apa yang dicapainya.

Kalo ndak mo kase manyala ini dodika, ndak mo dapa doi. Itu doi dari dodika ini tu kase kita pe anak-anak jadi sarjana. (Kalau tidak menyalakan api di tungku ini, tidak akan dapat uang. Uang itulah yang membiayai anak-anak saya menjadi sarjana),” cerita Sem dengan dialek Manado, Selasa (29/3/2016).

Tungku yang dimaksud adalah tungku yang dibuatnya dengan menggali tanah berbentuk segi empat berukuran setengah meter dengan kedalaman sekitar 60 sentimeter.

Baca lebih lanjut

Bagi Para Pelajar di Sangihe Ini, Perahu adalah Kendaraan Mewah Menuju Sekolah

Tag

, , , , , ,

MENDAYUNG - Dua pelajar ini harus mendayung perahu menyeberangi lautan untuk menuju sekolah mereka di Pulau Batuwingkung, Sangihe.

MENDAYUNG – Dua pelajar ini harus mendayung perahu menyeberangi lautan untuk menuju sekolah mereka di Pulau Batuwingkung, Sangihe.

SANGIHE  – Kabut sisa semalam masih belum beranjak. Namun, Novi dan Atris harus segera bangun. Mereka bergegas dan harus lebih awal.

Seragam sekolah menengah pertama (SMP) mereka simpan di dalam tas sekolah. Seperti biasanya, setiap pagi mereka mengenakan jaket lebih dulu.

Maklum dingin masih menusuk, karena mereka harus menyeberang lautan. Tak ada pilihan lain untuk menuju ke sekolah mereka di pulau Batuwingkung.

Setiap hari mereka harus bolak balik mendayung perahu sendiri dari Kampung Kendong dan Paraleng untuk pergi dan pulang sekolah. Butuh waktu sekitar 30 menit untuk tiba di Batuwingkung.

“Kalau lagi musim ombak, kadangkala kami harus basah. Makanya nanti pakai seragam kalau sudah tiba di Batuwingkung,” ujar Novi, Rabu (4/5/2016) yang bersama Atris duduk di bangku kelas 7 SMP Negeri 2 Satu Atap Tabukan Selatan di Batuwingkung.

Baca lebih lanjut

Marisa, Bidan Kontrak di Pulau Batuwingkung yang Sering Talangi Obat Pasien

Tag

, , , , , ,

PENGABDIAN - Marisa Siagian berfoto usai melayani pasien di pulau Batuwingkung, Sangihe.

PENGABDIAN – Marisa Siagian berfoto usai melayani pasien di pulau Batuwingkung, Sangihe.

SANGIHE — Siang itu panas terik menyengat di pulau Batuwingkung. Sebuah desa di Kecamatan Tabukan Selatan, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Perlu menyeberang lautan dengan perahu dari daratan Sangihe untuk ke Batuwingkung.

Namun terik itu tak menyurutkan langkah Marisa Siagian (27), mengunjungi seorang anak kecil. Bidan kontrak itu harus melewati jalan setapak naik turun. Maklum pasien terbaring dan tidak bisa dibawa ke Puskesmas Pembantu (Pustu).

“Bocah ini sudah beberapa hari panas tinggi,” ujar Marisa sambil menyeka peluhnya, Rabu (4/5/2016). Sejurus kemudian, wanita cantik ini lalu mengerjakan tugasnya. Memeriksa pasien dan memberikan obat yang diperlukan.

Usai menangani bocah itu, Marisa lalu beranjak ke rumah warga lainnya. Seorang wanita paruh baya telah menanti kunjungannya, mengharapkan pemeriksaan kesehatan dari lulusan Politeknik Kesehatan Manado itu.

Baca lebih lanjut

Membangun Harapan Pengelolaan Pesisir dari Pulau-Pulau di Sangihe

Tag

, , , , , , , , , ,

SOSIALISASI - Staff dari Perkumpulan Sampiri sedang memberikan pemahaman mengenai laut dan wilayah pesisir kepada Siswa SMPN 2 Satap Tabukan Selatan di Batuwingkung.

SOSIALISASI – Staff dari Perkumpulan Sampiri sedang memberikan pemahaman mengenai laut dan wilayah pesisir kepada Siswa SMPN 2 Satap Tabukan Selatan di Batuwingkung.

SANGIHE, KOMPAS.com – Raut wajah Risno Mangune (32) terlihat gembira pagi itu. Hujan yang dinanti turun juga. Bak-bak penampungan air di pulau Batuwingkung terisi lagi.

Batuwingkung merupakan desa yang berada di kecamatan Tabukan Selatan, Kabupaten Sangihe, Sulawesi Utara. Risno telah menjadi kepala desa selama satu periode, bagi 423 jiwa penduduk di pulau itu.

“Hujan sudah jarang turun di sini. Sumber air berkurang, sumur warga banyak yang kering. Kemarau tahun lalu sangat berpengaruh,” keluh Risno saat menjemput Tim dari Perkumpulan Pemberdayaan Masyarakat dan Koservasi Alam (YAPEKA), Kamis (5/5/2016).

YAPEKA bersama Perkumpulan Sampiri Sangihe memilih pulau Batuwingkung menjadi salah satu target pengembangan program pengelolaan wilayah sumber daya pesisir dan laut berbasis masyarakat. Baca lebih lanjut

INGIN KE PULAU TERLUAR SAMBIL MENANGKAP IKAN DENGAN RIBUAN ORANG? – Yuk … Isi Formulirnya.

Tag

, , , , , , , , ,

Apa Itu Miangas?

Miangas adalah satu dari 11 pulau terluar Indonesia yang berada di dalam wilayah administrasi Provinsi Sulawesi Utara. Miangas terletak dekat perbatasan antara Indonesia dengan Filipina. Pulau ini termasuk ke gugusan pulau  Nanusa, Kabupaten Kepulauan Talaud.

Pulau ini memiliki luas sekitar 3,15 km2. Jaraknya ke Filipina (Davao) hanya 48 mil, dibanding dengan jaraknya ke Melonguane (ibukota Talaud) sekitar 110 mil, dan ke Manado sekitar 320 mil.

Penduduknya pada tahun 2010 tercatat 797 jiwa dengan mayoritas etnis Talaud. Karena dekat dengan Filipina, beberapa penduduknya kawin dengan orang Filipina. Bahkan mata uang Peso Filipina jamak di pulau ini.

Dermaga dan pulua kecil di depan Miangas

Dermaga dan pulau kecil di depan Miangas

Baca lebih lanjut

Foto Story: Upacara Adat Tulude Sulawesi Utara – 2016

Tag

, , , , , ,

Pemerintah Sulawesi Utara melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, menggelar Upacara Adat Tulude tingkat provinsi tahun 2016. Gelaran yang bekerjasama dengan berbagai komunitas Nusa Utara di Sulut itu, dilaksanakan di Lapangan KONI Manado, pada sabtu (6/2/2016).

Walau tidak terlalu meriah, tetapi berbagai simbol budaya seperti Kue Tamo, pakaian adat, musik bambu, tarian gunde, masamper dan sebagainya, ditampilkan pada gelaran Tulude tersebut.

Hadir pula Penjabat Gubernur Sulut Soni Soemarsono, Kapolda Sulut Wilmar Marpaung, Penjabat Walikota Manado Roy Roring dan sejumlah pejabat lainnya.

Berikut beberapa foto yang sempat saya abadikan:

Julius Kalinge (77), warga Teling, Manado, asal Tamako, Sagihe dengan alat musik Tangonggong yang akan dimainkannya dalam Gelar Upacara Adat Tulude yang diselanggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Utara yang bekerjasama dengan berbagai Komunitas Masyarakat Nusa Utara, Sabtu (6/2/2016) di Lapangan KONI Manado.

Julius Kalinge (77), warga Teling, Manado, asal Tamako, Sagihe dengan alat musik Tangonggong yang akan dimainkannya dalam Gelar Upacara Adat Tulude yang diselanggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Utara yang bekerjasama dengan berbagai Komunitas Masyarakat Nusa Utara, Sabtu (6/2/2016) di Lapangan KONI Manado.

Julius Kalinge (77), warga Teling, Manado, asal Tamako, Sagihe dengan alat musik Tangonggong yang akan dimainkannya dalam Gelar Upacara Adat Tulude yang diselanggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Utara yang bekerjasama dengan berbagai Komunitas Masyarakat Nusa Utara, Sabtu (6/2/2016) di Lapangan KONI Manado.

Julius Kalinge (77), warga Teling, Manado, asal Tamako, Sagihe dengan alat musik Tangonggong yang akan dimainkannya dalam Gelar Upacara Adat Tulude yang diselanggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Utara yang bekerjasama dengan berbagai Komunitas Masyarakat Nusa Utara, Sabtu (6/2/2016) di Lapangan KONI Manado.

Baca lebih lanjut

Manado Fashion Carnaval – Januari 2016

Tag

, , , , ,

Event Fashion Carnaval pada 29 Januari 2016 yang digelar oleh MTC cukup menarik perhatian warga Manado. Walau masih sedikit peserta yang mengikuti fashion on the street tersebut, namun event ini perlu diberi apresiasi dan didorong untuk terus dilakukan dengan konsep penyelanggaraan yang lebih baik.

Mengambil start dari Pohon Kasih, Kawasan Mega Mas, peserta yang datang dari berbagai kalangan usia mempertontonkan beraneka kreasi busana. Ikut pula meramaikan beberapa komunitas seperti pecintan satwa anjing dan kucing, penggemar busana tokoh film, serta komunitas otomotif.

Event ini juga dibarengi dengan kampanye anti narkoba. Peserta kemudian finish di MTC.

Berikut beberapa foto yang sempat saya abadikan:

Peserta Fashion Carnaval dari berbagai kalangan usia tampil dengan kreasi busana mereka saat berparade di jalan Kawasan Mega Mas Manado, Sabtu, 29 Januari 2016.

Peserta Fashion Carnaval dari berbagai kalangan usia tampil dengan kreasi busana mereka saat berparade di jalan Kawasan Mega Mas Manado, Sabtu, 29 Januari 2016.

Baca lebih lanjut

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 307 pengikut lainnya