Manumpitaeng, Mengintip Burung Gosong Bertelur di Pulau Perawan

Tag

, , , , , , , , , ,

Manumpitaeng-1Kawasan Nusa Utara, yang melingkupi tiga kabupaten di ujung Utara provinsi Sulawesi Utara (Sulut) seakan menyimpan surga tersembunyi. Ketiga kabupaten itu adalah Kabupaten Kepulauan Talaud yang berada paling utara dan berbatasan dengan Filipina, Kabupaten Kepulauan Sangihe yang berada di tengah dan Kabupaten Kepulauan Sitaro yang paling dekat dengan Manado, ibu kota Sulut.

Ketiga kabupaten tersebut merupakan kabupaten bahari karena potensi kebaharian yang dimilikinya. Dengan posisi itu, ketiga kabupaten ini punya sederet destinasi wisata bahari, yang sayang memang belum dikelola secara maksimal, termasuk yang ada di Kabupaten Sitaro.

Sitaro sebenarnya punya keunggulan dilihat dari jaraknya yang dekat dengan Manado, hanya butuh sekitar 4 jam perjalanan dengan kapal cepat untuk mencapai pulau Siau sebagai pusat pemerintahan Sitaro, dan hanya butuh sekitar 2 jam untuk mencapai pulau Tagulandang yang tidak kalah eksotis.

Baca lebih lanjut

Pantai Paal, diantara Keramaian dan Tukik

Tag

, , , , , , , , ,

Beberapa ekor anak penyu sedang berusaha mencapai air laut di Pantai Paal.

Beberapa ekor anak penyu sedang berusaha mencapai air laut di Pantai Paal.

Pantai Paal di Desa Marinsow, Likupang Timur, Minahasa Utara sejak beberapa bulan terakhir dijejali ratusan pengunjung yang datang dari berbagai daerah di Sulawesi Utara. Pasir putihnya yang halus, serta gradasi air laut yang mempesona mampu memikat warga untuk berbondong-bondong menyerbu pantai itu.

Warga di Marinsow yang bertugas menjaga Pantai Paal, bahkan mengakui bahwa pada akhir pekan atau hari libur, Pantai Paal bisa didatangi hingga sekitar 5.000 orang. Padahal, dulunya Pantai Paal sepi, dan hanya ada aktivitas warga di sekitar Marinsow. Semua berawal saat pengguna jejaring sosial mulai mengunggah foto keindahan Pantai Paal. Sejak itulah, pantai ini menjelma menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Sulut.

Warga di Marinsow mengaku senang dengan ramainya pengunjung, sebab bagi mereka kini ada sumber penghasilan tambahan dari berbagai jasa yang ditawarkan kepada pengunjung. Salah satunya adalah mendirikan warung untuk menjajakan berbagai makanan dan minuman. Baca lebih lanjut

Menjadi Feature Tamu di Yaki Magz

Tag

, , , , , , , ,

YAKI MAGZ ED 2Beberapa bulan lalu, saya dihubungi oleh staf dari Yayasan Selamatkan Yaki, sebuah yayasan yang bekerja untuk memberikan pendidikan konservasi Yaki di Sulawesi Utara.

Mereka menanyakan beberapa hal sebagai bahan untuk majalah terbitan mereka YAKI MAGZ edisi kedua. Majalah itu diterbitkan seiring dengan event Yaki Youth Camp yang mereka selenggarakan saban tahun.

Yaki Youth Camp 2015 ini diselenggarakan di kompleks museum Pa’Dior, Yayasan Institut Seni Budaya Sulawesi Utara di Tompaso, Minahasa, yang diikuti oleh 18 siswa yang merupakan perwakilan berbagai sekolah SMA sederajat di Minahasa. Saya juga diminta untuk menjadi salah satu pembicara dalam Camp tersebut. Pada kesempatan itu saya membagi pengalaman bagaimana kegiatan fotografi bisa memberikan kontribusi bagi konservasi.

Tentu saya merasa senang bisa berbagi pengalaman dengan anak-anak yang merupakan masa depan kita itu, dan berharap dapat menumbuhkan kecintaan akan kelestarian lingkungan serta satwa endimik dan dilindungi di Sulawesi Utara.

Berikut screen capture dari halaman 41 Yaki Magz, dimana hasil wawancara tim dari Yaki Magz dengan saya.

HAL-14

Cerita mengenai Yaki Youth Camp itu sendiri dapat dibaca di Yaki Youth Camp Angkatan Ke-II ini.

Mari Menikmati Pasir Putih Tambio’e Sambil Menunggu “Sunset”

Tag

, , , , , , ,

Pantai-Tambioe-1Pasir putih itu memanjang ratusan meter, seolah memasrahkan diri diempas buih-buih ombak kecil yang datang dari lautan bebas. Orang lokal menyebut pantai itu dengan nama Tambio’e. Sebuah pantai indah di tepi jalan Beo, Kabupaten Talaud, Sulawesi Utara.

Inilah salah satu pantai yang mempesona di Pulau Karakelang, pulau terbesar di Talaud, kabupaten perbatasan yang ada di ujung Utara Sulawesi. Talaud menjadi garda terdepan NKRI yang berhadapan langsung dengan negara Filipina. Beberapa pulaunya, seperti Intata, Marore, Marampit bahkan menjadi patokan tapal batas Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) perairan Indonesia dengan negara lain.

Di Tambio’e anda dapat merasakan lembutnya pasir putih yang eksotis, tanpa gangguan yang berarti. Embusan angin dari lautan Pasifik menambah suasana romantis. Ajaklah para bocah yang rajin datang ke pantai itu untuk bermain bola. Dengan senang hati mereka akan meladeni anda. Jika merasa capai, tunggulah para nelayan merapatkan perahu mereka ke pantai dan belilah beberapa ekor ikan yang baru saja ditangkap.
Baca lebih lanjut

Intata, Pulau Tak Berpenghuni nan Memukau di Utara Indonesia

Tag

, , , , , , ,

Bocah Kakorotan di Pulau Intata. Pulau Intata merupakan salah satu pulau terluar dari 11 pulau yang dimiliki Provinsi Sulawesi Utara.

Bocah Kakorotan di Pulau Intata. Pulau Intata merupakan salah satu pulau terluar dari 11 pulau yang dimiliki Provinsi Sulawesi Utara.

Membayangkan keindahan pulau cantik nan eksotis, dengan pasirnya selembut tepung, air laut super jernih dengan warna gradasi dari biru ke hijau tosca, dan lambaian nyiur di tepi pantai? Datanglah ke Intata. Anda akan merasa bak hulubalang kerajaan karena menaklukkan sebuah pulau. Ya, pulau ini tak berpenghuni. Pulau Intata merupakan salah satu pulau kecil terluar dari 11 pulau terluar yang dimiliki Provinsi Sulawesi Utara.

Pulau Intata terletak di bagian utara Pulau Sulawesi yang berbatasan langsung dengan negara Filipina. Pulau ini hanya memiliki luas 0,15 kilometer persegi dan banyak ditumbuhi pohon kelapa. Di bagian selatan dan barat terdapat pasir putih, sementara di bagian timur pantainya berbatu. Secara administratif, Pulau Intata masuk dalam Kecamatan Nanusa, Kabupaten Kepulauan Talaud, dengan dibatasi Samudera Pasifik di sebelah timur dan Pulau Kakorotan di sebelah selatan.

Baca lebih lanjut

HANYA MITO YANG BISA – Yang tercecer dari perjalanan ke Polahi

Tag

, , , , , , , , ,

(Ini bukan Promosi !)

BABUTA - Salah satu anggota kelompok Polahi ini sedang menggunakan telepon genggamnya di atas gunung Boliyohuto.

BABUTA – Salah satu anggota kelompok Polahi ini sedang menggunakan telepon genggamnya di atas gunung Boliyohuto.

Minggu, 14 April 2013 saya berkesempatan melakukan trip bersama Tim Indonesiaku Trans7 (Widya sebagai Host, Mas Nata dan Mas Adi sebagai kameraman) serta si Pengeliling Indonesia Ebbie Vebri Adrian. Perjalanan kami kali ini menuju ke pemukiman Polahi di Hutan Humohulo, Pengunungan Boliyohuto (2049 m).

Kami start dari Dusun Pilomohuta, Desa Bina Jaya, Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Boalemo. Dusun Pilomohuta merupakan salah satu dusun terdekat menuju ke pemukiman Polahi. Untuk mencapai Dusun Pilomohuta harus melewati jalan yang lumayan rusak dari pertigaan Desa Lakea. Jalan berbatu yang diselingi dengan pohon tebu. (maklum di Kecamatan Paguyaman terdapat areal perkebunan Tebu milik salah satu pabrik gula terbesar di Indonesia).

Mobil tidak bisa sampai di Dusun Pilomohuta, hanya berakhir di seberang sebuah sungai. Terpaksa mobil numpang parkir di rumah salah satu warga. Kami harus menyebrang untuk sampai di rumah Kepala Dusun Pilomohuta. Cerita lainnya nanti diseri berikut, saya mau cerita yang ini sesuai judulnya.

Baca lebih lanjut

Mendongeng Bakeng

Tag

, , , , , , , ,

Iverdixon tinungkiOleh : Iverdixon Tinungki

Terkisahlah cerita lama di kabut mega
Selaksana anak taufan menghamburkan pasir
Menerjang mata para raja dan sultan

Sebuah dongeng, sebuah perlawanan! Sebuah daya yang niscaya. Sebuah creativity yang memungkinkan hadirnya entitas aktual. Karena di balik maknanya, –mengacu semiotika de Saussure — terdapat suatu system yang rumit dan kompleks sebagai pembentuknya.

Maka tersebutlah di suatu masa, Ansuang Bakeng (Raksasa Bakeng) bertahta sebagai penguasa. Raja diraja, di tanah Sangihe. Permaisurinya Boki, perempuan suka pesta, dan hidup mewah. Ketika kisah ini dicipta, anaknya masih kanak-kanak. Diberi nama Watairo. Tapi rakyat hanya boleh menyapanya Batairo.
Entah apa penyebab huruf “W” menjadi “B”. Tak ada penjelasan. Tapi, terasa ada gelagat tersembunyi terbebat. Semacam kombinasi antara konsep dan citra bunyi yang melahirkan tanda (sign) sebagai penanda (signifie). Seperti guru dipanggil “tuang guru” (tuan guru), pejabat disebut “tuang labo” (tuan besar), pejabat tinggi, penguasa dan ninggrat disebut “manga mawu” (para tuhan). Dan ironis, kaum jelata disebut “manga dempuge” (para rumput), lebih leceh lagi, “manga nune” (para tak beradab).

Generasi kini barangkali menyangka, perubahan kata itu sekadar symbol perangai kekuasaan lama. Kekuasaan yang mendudukkan rakyat sebagai pihak yang selalu keliru dan salah. Bodoh dan tak berdaya. Sampai-sampai di mulut pun tak boleh ada kata terlafal benar. Rakyat dilarang berfikir dengan bahasa, dan kata-kata harus lumpuh sejak awal. Seperti gelagat polisi menghardik tersangka: “Diam! Kau berani melawan petugas!”. Tersangka, yang keliru dan yang tidak keliru sama-sama terpaksa bungkam. Terpuruk dalam “kebudayaan bisu”, sitir Freire.

Baca lebih lanjut

Mengisi Waktu Dengan Motret Sunset di Mokupa

Tag

, , , , ,

Pukul 18:02 | F/11 | 20s | ISO 100 | FL 50 mm |AV Mode | -1.00 ev

Pukul 18:02 | F/11 | 20s | ISO 100 | FL 50 mm | AV Mode | -1.00 ev

Seperti yang saya tulis dalam artikel kemarin di blog ini, sekarang adalah saat yang tepat bagi landscaper (sebutan untuk fotografer penyuka lansekap) untuk turun memotret. Alasan utamanya adalah karena cuaca di Manado dan sekitarnya lagi cerah-cerahnya. Sinar matahari tersedia dengan sangat melimpah.

Saya pun ingin sekali turun memotret, satu karena memang saya penyuka langit biru dan kedua karena sudah lama pula saya tidak memotret landscape. Namun keinginan itu harus saya pendam dulu berhubung mengejar waktu menyelesaikan my project kecil saya.

Baca lebih lanjut

Iseng Memotret Di Siang Yang Terik

Tag

, , , , ,

Cuaca Manado dalam beberapa pekan ini cukup panas. Matahari menyinari dengan terik, dan hampir semua orang yang bekerja di luar ruangan mengeluhkan suhu yang tinggi tersebut. Bahkan yang tinggal di dalam rumah pun ikut merasakan suhu yang sangat panas.

Burung-burung itu bercengkrama di atas pohon Rambutan di halaman tetangga saya.

Burung-burung itu bercengkrama di atas pohon Rambutan di halaman tetangga saya.

Bagi fotografer landscape mungkin ini saat yang tepat untuk hunting foto, karena ketersediaan cahaya yang sangat cukup dan langit selalu biru. Pukul lima subuh hingga pukul 10 pagi merupakan saat yang sangat tepat untuk memotret lansekap.

Lebih dari itu, terik matahari terasa membakar kulit dan energi yang terkuras akibat penguapan tinggi jelas membuat tubuh menjadi ingin terus beristirahat. Tak terkecuali saya, yang memang dalam beberapa hari ini kurang fit. Enggan untuk keluar rumah, apalagi banyak pekerjaan yang harus diselesaikan di komputer.

Rumah saya berada di Desa Tateli, yang dilewati jalan Trans Sulawesi. Sebuah desa di Kecamatan Mandolang, Kabupaten Minahasa, tapi hanya berjarak kurang lebih 5 kilometer dari Terminal Malalayang. Di desa kami pohon-pohon masih banyak tumbuh, bahkan ada hutan-hutan kecil walau tak seberapa. Termasuk di sekitar rumah saya, walau beberapa pohon telah roboh tertiup angin.

Baca lebih lanjut

Inilah Kronologi Letusan Dahsyat Tambora 200 Tahun Lalu,

Tag

, , ,

Tepat 200 tahun lalu, Tambora marah besar. Amarahnya secara langsung dan tidak langsung menewaskan 88.000 orang. Tiga kerajaan tamat riwayatnya, Napoleon kalah perang, tahun tanpa musim panas terjadi, dan kelaparan serta wabah melanda dunia.

Bagaimana sesungguhnya bencana itu terjadi? Tak banyak dokumen yang bisa menjadi rujukan untuk menceritakannya. Tiga dokumen berharga antara lain The History of Java (1817) dari Raffles, gubernur Inggris penguasa Jawa saat Tambora meletus, memoir Raffles (1830), dan Asiatic Journal volume 1 (1816).

Menurut dokumen itu, Tambora sebenarnya sudah mulai aktif tahun 1812, sering mengeluarkan asap hitam. Namun, banyak orang yang menganggap bahwa Tambora kala itu sudah “punah” atau bukan gunung berapi aktif.

Tambora

Erupsi besar pertama dimulai pada 5 April 1815, berlangsung selama 2 jam. Merujuk pada dokumen Raffles dan Asiatic Journal, Richard B Stothers dalam makalahnya di jurnal Science 15 Juni 1984 mengatakan, gemuruh aktivitas Tambora pada tanggal itu terdengar hingga kota Makassar (berjarak 380 km), Jakarta (1260 km), dan bahkan Maluku (1400 km).
Baca lebih lanjut

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 278 pengikut lainnya.