Tag

, , , , , , ,

IMG_1696

Explore Indonesia merupakan salah satu acara Kompas TV yang mengexplore tempat-tempat indah dan unik di Indonesia yang sebelumnya belum pernah terexpose atau sudah dikenal namun ditampilkan dengan sesuatu yang baru.

Minggu kedua Oktober 2011, saya dihubungi bagian Creative dan Produser Explore Indonesia. Percakapan via telepon yang cukup lama itu menanyakan soal potensi yang dimiliki Kabupaten Kepulauan Sitaro. Beberapa tulisan saya mengenai keindahan pulau-pulau dijajaran Nusa Utara itu menarik perhatian mereka. Akhirnya kesepakatanpun dicapai, saya menemani perjalanan mereka ke Pulau Siau.

Dengan menggunakan Kapal Cepat Express Bahari, kami berangkat dari Pelabuhan Manado pada Selasa, 18 Oktober 2011. Kapal bertolak pukul 10.00 wita dengan cuaca yang sangat cerah. Begitu meninggalkan pelabuhan Manado, tim Explore Indonesia yang terdiri dari 4 personel itu sudah terkagum-kagum dengan laut dan langit yang sangat biru.

Tak tahan dengan keindahan itu, mereka pun melakukan pengambilan gambar di haluan kapal ketika melewati Pulau Manado Tua dan Bunaken. Host mereka, Kamga, yang juga vokalis group band Tangga harus berulang kali saya ajarkan untuk melafalkan dengan benar kata-kata seperti, Siau, Tagulandang, Biaro, Makalehi, Mahoro, Lehi dan beberapa tempat di Pulau Siau. Maklum, penyanyi yang satu ini keturunan Kamerun dan Palembang serta kental dengan dialek Jakarta.

Sesuai dengan rute perjalanan, kami mampir di Pulau Tagulandang menurunkan dan menaikan penumpang. Waktu yang hanya sekitar 20 menit, kami gunakan mengambil gambar diseputaran Dermaga Tagulandang. Kali ini tim juga terkesima dengan Gunung Ruang yang tepat berada di depan dermaga Tagulandang.

Tak tahan untuk mencicipi, anggota tim ikut membeli Salak dan kue “Lalampa”. Lidah mereka pun termanjakan oleh manisnya salak Tagulandang dan legitnya beras kentan yang dibakar sebagai bahan utama lalampa.

Menuju Lehi

Empat puluh menit kemudian kami sudah berhadapan dengan Gunung Karangetang yang menjadi simbol Pulau Siau. Karena Pelabuhan Ulu sedang diperbaiki, kapal cepat Express Bahari mengarahkan haluannya ke Dermaga Pehe. Warna laut hijau kebiruan menyambut kedatangan kami, yang juga membuat tim terkagum-kagum dengan keindahannya.

Dinas Pariwisata Kab. Kepl. Sitaro menjemput rombongan kami dengan dua kenderaan dinas. Kamipun bersua dengan Kepala Dinas Pariwisata di Kantor Dinas yang berada satu kompleks dengan Kantor Bupati Sitaro.

Tak mau kehilangan waktu, kami bergegas ke Lehi, lokasi pertama pengambilan gambar sesuai jadwal. Waktu sudah menunjukkan Pukul 14.30 wita. Tiba di lokasi, banyak penduduk yang sedang menikmati hembusan angin pantai di lokasi air panas tersebut.

Anjas Prawioko, produser acaranya melakukan survei sepintas. Dan ia bersama dua orang kameramannya pun dibuat terkagum-kagum dengan keunikan air panas pantai Lehi. “Mungkin ini satu-satunya di Indonesia, pantai yang air lautnya panas,” ungkapnya.

Pantai Lehi terletak di Kecamatan Siau Barat. Lokasinya bisa dijangkau dari Pelabuhan Pehe sekitar 20 menit dengan kenderaan bermotor. Pantai ini memang unik, karena di sepanjang garis pantainya, airnya terasa panas. Hal ini dapat dimaklumi, karena Pantai Lehi tepat berada di kaki Gunung Api Karengetang yang super aktif itu.

Uap panas keluar dari antara bebatuan dan bertemu dengan air laut. Terdapat sebuah kolam kecil di pantai ini, yang merupakan tempat menampung air tersebut. Empat tahun lalu ketika saya pertama kali datang ke tempat ini, fasilitasnya hanya seadanya. Tetapi kali ini, saya telah melihat adanya tenpat rehat dan beberapa MCK umum, serta jalan akses menuju pantai yang telah dibangun oleh Dinas Pariwisata Sitaro.

Kamga pun kagum dengan keunikan air panas ini. Lalu ia mencoba menggali pasir. Tak berapa lama, airpun keluar dan terasa panas. “Unik sekali, walau jaraknya dekat sekali dari tepi air laut, air ini tidak terasa asin. Benar-benar menggagumkan,” ujar Kamga yang tak henti-hentinya kagum.

Pengambilan gambar pada sore hari itu berlangsung hingga matahari terbenam. Ditemani ramainya anak-anak yang mandi di pantai, tim Explore Indonesia mendapat banyak stock shoot dengan keindahan suasana sunset. Pulau Makalehi yang berada tepat di depan Pantai Lehi pun menjadi siluet yang sangat indah. Pulau itu kami akan tuju keesokan harinya.

Termometer Pecah

Menjelang malam, kami balik ke Hotel Jakarta yang berada di Kota Ulu. Malam harinya kami isi dengan Minum Saraba di pinggiran pantai Kota Ulu yang sudah dibangun menjadi semacam boulevard. Sungguh sebuah kemajuan.

Keesokan harinya rabu, 19 Oktober 2011 kami bertolak ke Makalehi. Sebuah perjalanan yang tak akan terlupakan, karena terjangan ombak yang hampir membuat kami tenggelam. Kami balik dari Pulau Makalehi pada tengah malam dengan ombak yang sangat ganas. Cerita perjalanannya akan saya tuliskan pada bagian lain.

Seperti janji saya pada Tim Kompas TV, bahwa masih ada satu lokasi yang tak kalah indah di Pantai Lehi, maka pada Kamis Pagi, 20 Oktober 2011, saya membawa Tim kembali menuju Lehi. “Ketika membaca tulisan bung Ronny sewaktu di Jakarta lalu, saya pikir bung hanya melebih-lebihkan atau hanya membual soal keunikan pantai Lehi. Ternyata praduga saya salah, dan pantai ini memang indah,” Produsernya memberi pengakuan.

“Hari ini kita akan melihat sesuatu yang lebih indah dari kemarin bung Anjas,” saya memberi sebuah jaminan. Dan jadilah, difasilitasi kenderaan Dinas Pariwisata, kami kembali menuju Lehi. Kali ini ke lokasi yang dituju harus ditempuh dengan menuruni tebing dan semak belukar. Tempat yang belum tersedia akses jalannya.

“Wow…… this is amazing…! Sangat indah. Sungguh…” Kamga berdecak kagum begitu tiba di lokasi.  “Perbukitan dan tebing-tebing batunya sungguh mengagumkan.” Tambah Lauwin, salah seorang cameraman mereka. Bahkan ke profesionalisme kerja mereka sedikit terusik, ketika mereka harus mendahulukan mengabadikan tempat itu dengan camera ponsel mereka. Tak tahan untuk memotretnya. Saya juga yang sudah siap dengan camera di tangan, tak henti-hentinya mengabadikan keindahan pagi itu. Cuaca seolah sangat bersahabat.

Setelah Kamga melakukan take shoot di perbukitan, lalu kami menuruni tebing. Menuju sebuah cekukan dengan eksotisme air panas yang luar biasa. Di tepi pantai. Menuruni jalan yang terjal saja, kami sudah bertemu dengan uap panas yang keluar dari bebatuan. Begitu tiba di cekukan tersebut, airnya seolah sedang dipanaskan dalam sebuah tunggu. Berasap!

Tak habis-habisnya kekaguman tim akan keunikan pantai Lehi ini. Dengan berbekal termometer, produser acara mengarahkan Kamga sebagai host untuk mengukur derajat kepanasan airnya. Awalnya termometer di celup agak ke laut. 41 derajat angkanya. Dan take berikutnya, termometer dicelup di genangan air yang ada di bebatauan. Termometer yang disiapkan hanya berangka maksimal 42. Dan… termometer itupun pecah.

Tergambar ekspresi kaget dari Kamga. “Kemarin saya pikir airnya sudah sangat panas, tetapi hari ini, saya bisa mengukur sendiri air di pantai ini benar-benar sangat panas. Saya jamin ini sebuah sensasi yang luar biasa,” ujar Kamga.

Lalu penyanyi bersuara merdu itupun tak segan melepas bajunya dan merasakan sauna alam ala Pantai Lehi. Lalu ia mencoba mencari tebing yang agak menjorok ke laut, dan tertantang untuk menjeburkan dirinya. “Wow…. gila benar….panas……”

Pantai Panas Lehi, sungguh menyimpan sejuta potensi. Kini setelah diexplore oleh salah satu TV Nasional, sepatutnyalah mendapat perhatian yang lebih dari Pemkab Sitaro dalam menunjang pembangunan kepariwisataan di kabupaten itu. Saya telah melakukan “keterpanggilan tugas” mempromosikan potensi ini sejak empat tahun lalu, tanpa ribut-ribut dan secara swadaya. Kini semakin banyak yang melirik. Kembali kepada kita semua yang ada di Sitaro.

Sitaro is amazing place.