Catatan Perjalanan: Mata Desa, Ide Yang Berangkat Dari Desa Tak Berakses Internet

Undangan resmi itu datang tiga minggu sebelum kegiatan itu digelar. Keraguan masih membayangi sepulang saya dari Data Driven Master Class yang digelar pada 9-11 Februari di Jakarta. Ini adalah workshop yang diselenggarakan oleh AJI Indonesiabersama independen.id.

Pada kegiatan yang digelar di Morrissey Hotel, itu saya mempresentasikan sebuah project yang sedang Zonautara.com siapkan. Namanya Info Desa. Ini adalah project jurnalistik yang akan melibatkan partisipasi warga desa dalam mempromosikan potensi desanya.

Ide Info Desa lahir saat saya membawakan materi Cerdas Bermedia Sosial di Pelatihan Jurnalisme Warga di Desa Pinaling, Kecamatan Amurang Timur, Minahasa Selatan pada November 2017.  Itu kegiatan yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN). Eva Aruperes mendapat fellowship Citradaya Nita untuk pendidikan anak putus sekolah sejak 2015. Dia kemudian melakukan penguatan ke warga Desa Pinaling, lokasi implementasi program fellowship dari PPMN itu.

Materi yang saya bawakan adalah soal bagaimana seharusnya menggunakan media sosial. Tentu akses internet adalah modal utama. Namun, lucunya, Pinaling, desa yang berjarak sekitar dua kilometer dari jalan Trans Sulawesi yang melintasi Amurang itu tak menangkap signal seluler apapun.

Namun sekitar 20 peserta pelatihan yang digelar di ruang kelas SDGMIM Pinaling semuanya punya smartphone. Beberapa tipe smartphone milik warga itu, bahkan mengalahkan tipe Xiaomi Note 4 milik saya. Saya penasaran dengan apa yang mereka lakukan dengan smartphone itu tanpa signal. Nyatanya materi yang saya bawakan bisa diserap dengan baik. Sebabnya adalah, walau Pinaling adalah desa nirsignal seluler, namun smartphone adalah sebuah kebutuhan. Tak sekedar untuk memotret, bermain game dan mendengarkan lagu. Smartphone itu juga tetap digunakan sebagai pencari informasi. Caranya, mereka mendatangi desa tetangga yang signalnya bagus, atau saat sedang bepergian kesempatan itu digunakan untuk browsing dan menyimpan informasinya.

Ide menghadirkan informasi kepada warga desa di smartphone mereka walau tanpa jaringan internet pun muncul. Bagaimana mewujudkan ide itu adalah persoalan yang terus menganggu setelah pelatihan selesai. Keinginannya adalah memberi keadilan bagi warga desa dalam mengakses informasi.Kegelisahan itu berkembang menjadi sebuah keinginan menciptakan akses bagi warga desa untuk mempromosikan potensi desa yang mereka miliki. Selama ini, warga desa hanya didatangi oleh media, saat ada sesuatu yang diperlukan di sana. Terlebih jika itu berhubungan dengan persoalan hukum, kejadian yang menarik perhatian atau sesuatu yang ramai diperbincangkan.

Warga desa selalu kerap menjadi objek dalam peliputan media. Namun asas kesamaan dalam akses informasi, nyaris tak berpihak kepada warga desa. Padahal mereka sendirilah yang paham persis apa yang dibutuhkan. Semestinya warga desa diberi kesempatan menyampaikan apa yang desa mereka miliki dan apa yang mereka inginkan.

Keinginan itu kemudian kami bahas dalam beberapa kali rapat Redaksi Zonautara.com, yang setelahnya dirumuskan menjadi konsep news roomyang kami namai Info Desa. Diskusi dengan Kepala Dinas Pemberdayaan Desa Minahasa (PMD) Selatan (Minsel) pun kami lakukan pada Desember 2017. Saat itu hampir semua kepala desa dan perangkat desa se-Minsel hadir di Manado. Mereka sedang mengikuti pelatihan peningkatan kapasitas.

Ide ini disambut baik oleh Kepala Dinas PMD Minsel dan memberikan kesempatan kepada Zonautara.com mengujicobanya di Minsel. Ada sebanyak 167 desa di Minsel yang bisa dijadikan desa percontohan dalam implementasi Info Desa.

Pemberian kesempatan itu selain menjadi motivasi bagi crew Zonautara.com sekaligus menjadi semacam tekanan bahwa ide ini harus bisa diwujudkan dan terimplementasi. Persoalannya adalah pendanaan yang dalam kalkulasi Tim Redaksi memerlukan dana yang tidak sedikit.

Namun tekad memberi keadilan bagi warga desa dalam distribusi informasi sudah menjadi agenda yang kami harus persiapkan tahun 2018. Usai libur tahun baru pada minggu pertama Januari, di Rapat Evaluasi perdana, Info Desa langsung dibahas dan menjadi prioritas program Tim Redaksi.

Konsep news room itu kemudian saya presentasikan ketika diberi kesempatan saat kegiatan Data Driven Master Class di Jakarta. Presentasinya menitikberatkan pada pemberdayaan informasi warga desa yang diolah menjadi basis data informasi bagi pembaca. Prensentasi singkat dalam bentuk sharing ide itu disambut baik beberapa pihak.

Saat istirahat makan siang di hari kedua pelaksanaan workshop, saya dihampiri Direktur Eksekutif AJI Indonesia, Eva Danayanti serta Pimpinan Redaksi Independen.id, Hesti Murti. Mereka berdua mengungkapkan keinginan mengundang Tim Zonautara.com untuk ikut Jakarta Editors Lab (JEL) yang akan digelar pada 9-11 Maret.

Editors Lab adalah ajang bergengsi yang diselenggarakan oleh Global Editor Network (GEN). Pada gelaran yang juga sering disebut dengan istilah hackathon itu, media-media yang diundang akan membangun prototipe inovasi news room dalam meliput sebuah isu. Ini adalah soal bagaimana news room memanfaatkan teknologi informasi.

zonautara.comTim Zonautara.com sedang merumuskan konsep. (Foto: Zonautara.com/Bios Lariwu)

GEN yang merupakan kerja kolaboratif media-media terkemuka di dunia, ingin mendorong pemanfaatan teknologi digital dalam pengembangan inovasi peliputan. Di Indonesia, GEN bekerjasama dengan Google News Lab dan AJI Indonesia.

Tahun 2016 saat pertama kali JEL diselenggarakan, tim Tempo.co menjadi juaranya dan mewakili Indonesia ke Wina, Austria. Tim Tempo.co waktu itu bahkan menjadi juara di level internasional menyisihkan 15 negara. Mereka mengusung project“Stop the Haze”, soal memadamkan kebakaran hutan.

JEL 2017, giliran Independen.id yang menjadi juaranya dan mewakili Indonesia bertarung di Vienna. Walau belum menang di Vienna, Tim Independen.id memukau para Juri JEL 2017 dengan konsep soal kecelakaan lalu lintas di suatu wilayah.

Tentu mendapat pertanyaan kesediaan menjadi peserta JEL 2018, bagi saya adalah sesuatu yang hampir mustahil. Sebabnya adalah, Zonautara.com merupakan media baru yang dioperate dari Manado, dengan resource yang sangat kecil dibanding dengan media-media raksasa nasional. Zonautara, dikenalkan kepada publik pertama kali pada Mei 2017. Belum genap setahun.

Tim yang ikut Editors Labs harus terdiri dari editor (jurnalis), web developer dan desainer grafis. Kami nyaris tak punya dua tenaga khusus yang disyaratkan itu. Kalaupun ada, itu adalah kerja rangkap saya yang belajar membangun web sendiri dan grafis yang kadangkala dikerjakan secara learning by doing oleh Redaktur Pelaksana Rahadih Gedoan.

Tapi ajakan itu tentu tak biasa disia-siakan. Dengan jawaban mantap saya menyatakan kesediaannya. Hesti menekankan bahwa Zonautara.com segera membentuk tim, sementara Eva Danayanti mengingatkan segera membangun prototipe aplikasinya.

Sekembali di Manado, saya segera berembuk dengan Tim Redaksi. Kami lalu bersepakat mencari tenaga web developer. Pengumuman recruitment pun kami publish, dan ternyata mencari seorang programer di Manado tak gampang. Jika pun ada, yang bersedia bergabung dengan Zonautara.com mengajukan gaji paling rendah Rp 7 juta per bulan, dan tidak mau kerja terikat.

Jelas kami tak mampu dengan kondisi Zonautara.com yang masih baru ini. Tak ada pilihan. Dalam Rapat Redaksi berikutnya saya menunjuk Rahadih Gedoan (Hadi) dan Suhandri Lariwu (Bios) sebagai anggota tim. Hadi akan menangani desain grafis, sementara Bios menjadi web developer. Saya sendiri yang menjadi jurnalisnya nanti.

Bukannya gembira karena bisa ikut JEL di Jakarta, Bios dan Hadi justru merasakan tekanan yang luar biasa. “Ini sudah pemaksaan,” celoteh Hadi dengan gaya tertawanya yang membahana itu. Pasalnya, Hadi adalah sarjana sastra. Kemampuan desain grafisnya semata-mata karena tak ada yang selama ini menggarap infografis di Zonautara.com. Dia “dipaksa” belajar design grafis untuk mengisi kekosongan itu. Sesekali saya yang sedikit paham menggunakan Photoshop membantunya.

Bios, walaupun S1 Informatika, tapi sudah jarang mengupgrade perkembangan bahasa pemograman. Bahkan belajar CMS WordPress pun, karena termotivasi pada saya yang bisa membangun web Zonautara.com secara otodidak. Orang ini adalah petualang alam, dirinya lebih senang belajar pada alam daripada belajar coding. Apalagi dirinya sibuk sebagai tenaga administrasi di Program Keluarga Harapan di Talaud selama 3 tahun belakangan.

Sejak Zonautara.com berdiri, Bios menambah kesibukkannya sebagai Kontributor di Talaud. Dia memang sedang senang belajar menulis laporan. Basicnya sebenarnya adalah seorang fotografer. Daripada foto-fotonya hanya tersimpan di hardisk, lebih baik sekalian belajar jurnalistik.

Tim sudah disepakati, dan saatnya mempersiapkan diri. Kami lalu pergi ke Kecamatan Amurang Timur di Minsel. Lima desa kami jadikan sebagai lokasi riset mengumpulkan data. Semua tim Redaksi Zonautara.com saya boyong ke Minsel. Selama dua hari kami menginap di rumah salah satu Editor, Eva Aruperes. Dua hari diakhir pekan itu kami isi dengan mendatangi desa Kotamenara, Maliku Satu, Malenos Baru, Pinaling, dan Lopana.

Kami menghimpun data geografis, demografis, potensi desa, struktur desa serta sejarah dan kisah-kisah menarik dari lima desa itu. Hasilnya adalah sekumpulan data yang kemudian diolah. Beberapa dari cerita-cerita desa itu telah dipublikasikan dalam Special Report.

zonautara.comPimred dan Redpel Zonautara.com sedang menyelesaikan konsep dasar. (Foto: Zonautara.com/Bios Lariwu)

Usai dari riset di Amurang Timur itu, tekanan semakin dirasakan oleh tim. Sebabnya adalah undangan resmi dari GEN dan Google News Lab datang melalui email. Zonautara.com mendapat kepastian berkompetisi di JEL 2018. Arie, staff dari AJI Indonesia yang mengomunikasikan akomodasi selama JEL 2018, menyampaikan list media mana saja yang diundang. Daftar media itu justru menambah tekanan, terutama bagi Bios dan Hadi.

Kedua orang ini tak pulang-pulang rumah, dan nyaris dalam sehari cuma tidur selama 3-4 jam. Itu berlangsung lebih dari seminggu sebelum keberangkatan Tim pada tanggal 8 Maret. Sementara saya sebagai Pimpinan Redaksi dengan seabrek agenda punya tanggungjawab membangun microsite Info Desa. Tekanan juga saya rasakan, karena mengetahui persis kapasitas tim kami. Namun saya terus menyemangati Bios dan Hadi, bahwa GEN dan AJI Indonesia mengundang Zonautara.com, karena yakin kami bisa.

Bios menghabiskan waktu seminggunya dengan menekuni pemograman mobile terutama android. Karena saya menginginkan Info Desa harus jalan sebagai mobile application. Tak ada pilihan yang lebih baik saat ini selain aplikasi berbasis android. Hadi terus bereksperimen dengan berbagai tool visualisasi grafis. Terakhir dia yang sama sekali tak paham html dan css, saya paksa belajar, bahkan caritahu tentang Google spredsheet dan Google chart.

Dalam proses belajar penuh tekanan itu, justru kami bisa menghasilkan hal lain yang memberi kontribusi bagi portal Zonautara.com. Bios mampu membangun aplikasi mobile Zonautara.com yang bisa diunduh lewat Google Play. Hadi bisa mengembed Google Chart ke CMS zonautara.com. Dan saya bahkan berhasil mengintegrasikan Instant Articel Facebook ke auto publish CMS WordPress enginenya Zonautara.com. Sebuah kemajuan dalam proses learning by doing.

Dan tibalah keberangkatan kami ke Jakarta. Saya dan Bios memilih tidur di kantor pada tanggal 7 malam sembari menyelesaikan beberapa pekerjaan. Dan subuhnya meluncur ke Bandara Sam Ratulangi. Waktu menunggu boarding kami gunakan berdiskusi tentang persiapan Info Desa nanti di JEL 2018. Dengan pesawat Citilink, dan diwarnai keterlambatan Hadi yang tertidur, kami pun terbang ke Jakarta.

Jelang siang, di tanggal 8 kami tiba di Bandara Soekarno Hatta. Menghabiskan waktu di bandara sembari makan, kami kembali berdiskusi soal Info Desa. Setelahnya Hadi berpisah menuju ke rumah sakit menjengguk anaknya, saya dan Bios menginap di Zuri Express Hotel di Mangga Dua. Besok harinya adalah ujian bagi kami. Tentu kami berdebar menanti itu.

Debaran jantung semakin kencang saat kami menuju Universitas Multimedia Nusantara siang tanggal 9. Seluruh Tim diharapkan sudah melakukan registrasi sebelum pukul 12.30 WIB. Hadi tiba lebih awal, disusul saya dan Bios. Gedung UMN yang megah dan futuristik itu seakan mengintimidasi. Baliho besar tepat di hall masuk yang mengucapkan selamat datang kepada seluruh tim JEL 2018, semakin menambah tekanan. Beruntung dua orang yang saya bawa adalah orang periang. Mereka selalu tertawa.

Tim lain juga mulai berdatangan dan berkumpul di ruang makan usai urusan registrasi. Kami bertiga berkenalan dengan tim dari Kabar Makkasar. Hendra, ketua timnya adalah orang yang periang. Suka tertawa dan mampu mencairkan suasana tegang kami. Tim yang lain terlihat serius, bahkan saat makan pun mereka tak melewatkan membuka laptop dan mengulik coding.

Eh, kurang ajar, jangan begitu kwa, tunggu dulu, jangan ngoni so duluan,” ujar Hadi berkelakar kepada saya dan Bios.

Sesi seminar pun dimulai. Ini adalah sesi yang juga mengundang mahasiswa UMN. Kami duduk dalam formasi theater. Beberapa tim ada dibarisan di bawah kami. Terlihat mereka bekerja dengan coding pada laptop mereka. Sementara kami bertiga penuh kelakar. Hadi sampai bilang, “Om, so betul-betul torang ini ada di sini?” tanyanya sambil tertawa.

Ini ekspresi ketidakpercayaannya bahwa Zonautara.com bisa terundang di acara level internasional itu.

Satu-persatu pemateri membawakan sesi mereka. Pemateri pertama adalah Kuek Ser Kuang Keng dari DataN. Data jurnalis asal Malaysia ini membawakan materi Data Journalism Strategy For Newsrooms With Limited Resources. Sebelumnya sesi seminar dibuka oleh Eva Danayanti dari AJI Indonesia dan pengantar oleh Manajer Program GEN, Sarah Toporoff.  Setelahnya Antoine Laurent membawakan materi Tips to succeed in a news hackathon. Antoine adalah pria Perancis pendiri Data Journalism Award. Dia juga menjabat Former Deputy Director di GEN.

Disesi yang dibawakan Antoine, saya sempat mengajukan pertanyaan, soal tool yang harus dipakai oleh peserta. Menurutnya, peserta bebas menggunakan tool apa saja untuk mewujudkan prototipenya nanti. Setelah jeda minum kopi, Irene Jay Lui dari Google News Lab mengambil bagian menyampaikan apa dan bagaimana Google mengambil peran dalam lingkup jurnalisme. Irene saat ini menjabat Leads GoogleNews Labs untuk kawasan Asia-Pacific.Tentu kami menyimak baik-baik seluruh materi.

Saat coffe break kami banyak berkenalan dengan tim-tim lainnya. Lengkapnya tim yang diundang untuk berkompetisi adalah Kompas.com, CNN TV, The Jakarta Post, Liputan6.com, Radar Bojonegoro, Suara.com, Kabarmakassar.com, Beritagar.id, IDNTimes.com, Katadata.co.id, Tempo.co,  Zonautara.com dan tim UMN.

Usai coffe break, Hesti dari Independen.id membagi pengalamannya saat memenangi JEL 2017 dan saat berada di Vienna. Walau singkat, saya menangkap atmosir kompetisi yang ketat dalam paparan Hesti, terutama soal perumusan konsep. Sesudahnya, Saraf Toporoff menyampaikan metodologi kompetisi. Saat paparan Sarah saya baru menyadari, bahwa tema kompetisi adalah soal meliput Pemilu (covering election).

Saya panik! Hadi dan Bios tak menyadari kepanikan saya, karena saya menyembunyikannya. Kepanikan saya dikarenakan, konsep Info Desa bukan disiapkan untuk tema Pemilu. Nanti setelah kompetisi berlangsung, saya baru tahu bahwa tema memang baru disampaikan jelang kompetisi dimulai. Memang dalam email undangan tema ini sudah disampaikan, namun saya tidak terlalu memperhatikannya. Pantas saja, dalam email itu diberi huruf tebal kalimat, “tidak perlu menyiapkan apapun“.

Menjelang malam, seluruh peserta diminta bergerak ke bus yang sudah disediakan. Kami diinapkan di Lemo Hotel yang berjarak sekitar 3 KM dari venue. Usai check-in kami langsung menuju kamar. Saya sekamar dengan Bios dan Hadi sekamar dengan Firman dari Kabar  Makassar. Usai mandi, Hadi bergabung dengan kami, dan di situlah baru saya menyampaikan bahwa yang kami harus garap adalah tema meliput Pemilu.

Memerlukan waktu yang cukup lama bagi kami bertiga berdebat dan berdiskusi, bagaimana menyusun konsepnya. Nyaris kami tak menyentuh laptop malam itu, semata-mata mencari ide bagaimana Info Desa bisa disesuaikan dengan liputan soal Pemilu. Intinya, kami bertiga sepakat bahwa apapun nanti konsepnya, warga desa tetap menjadi target audience. Subuh menjelang dan kami belum menemukan apapun.

Sabtu, 10 Maret hari kedua JEL 2018. Dan ini adalah kompetisi yang sesungguhnya. Sesi pertama diisi dengan round table, dimana setiap tim dipertemukan dengan tim lainnya dalam durasi waktu 2-3 menit. Tujuannya agar saling mengenal. Di round table itulah kami mulai mengenal komposisi tim lawan. Lucunya, saya harus bertemu dengan Tim Kompas.com yang sebenarnya adalah media yang ikut mewarnai perjalanan jurnalistik saya. Saya juga merupakan Kontributor Kompas.com untuk wilayah liputan Sulawesi Utara. Kini media saya itu menjadi kompetitor saya sendiri.

zonautara.comSuasana meja kerja Tim Zonautara.com / Foto: Zonautara.com

Usai round table dan arahan dari Sarah, kami kembali ke ruangan collaboratif. Ruangannya full ac dan disediakan peralatan kerja yang lengkap. Atmosfir kompetisi begitu kental. Kami seruangan dengan tim dari CNN TV, Tempo.co, IDN  Times, UMN, dan Liputan6.com. Sementara tim lainnya berada di ruangan sebelah.

Kami bertiga mulai merembukan apa yang harus disajikan. Sticky note yang disediakan oleh panitia pun kami manfaatkan untuk mengoleksi permasalahan. Arahan Sarah di sesi pagi sangat berguna. Dia memberi clue, fokus ke satu masalah, tidak perlu banyak masalah. Kami membagi dua bagian besar masalah kami, masalah warga desa dan masalah kandidat. Sticky note pun kami tempeli di penyangga layar monitor dan di atas meja.

Hingga jam makan siang, kami belum mampu merumuskan satu masalah utama. Masalah yang kami bahas masih terlalu melebar. Sarah sempat mengadvise tim kami. Dengan bantuan interpreter, Sarah mengoreksi beberapa hal, yang justu bagi kami menjadi tekanan yang luar biasa. Hadi dan Bios adalah dua orang yang memuja nikotin sebagai suplai energi kreativitas.

Torang pe otak mo bajalan kalo ada nikotin,” tegas mereka berdua.

Sialnya, aturan ketat di UMN tidak mengijinkan siapapun merokokdi dalam lingkungan kampus. Terpaksa agar bisa berasap, kami harus pergi ke trotoar jalan raya yang jaraknya cukup jauh. Saya ikut-ikutan jadi perokok berat.

Kami merokok di trotoar usai makan siang yang terasa hambar itu, karena makanannya tak pedas.Tapi alasan utamanya adalah tekanan yang besar untuk merumuskan satu masalah. Saya balik duluan ke dalam ruangan. Begitu tiba, langsung mengambil kertas. Dikendalikan intuisi, saya tetiba menuliskan satu permasalahan dalam satu kalimat. Dengan spidol dan huruf kapital, saya menulis: WARGA DESA SELALU MENJADI KORBAN KAMPANYE PARTAI POLITIK DAN KANDIDAT.

Dan usai menuliskan kalimat itu, pikiran saya langsung terbuka. Ini dia masalah utamanya!. Saya segera memanggil mereka berdua dan menegaskan bahwa masalah utamanya sudah ketemu. Kami lalu merumuskan problem solvernya. Apa kira-kira yang kami mau sodorkan sebagai jawaban atas masalah itu. Ini tak gampang. Ditambah dengan perjuangan Hadi menahan kantuk, akhirnya kami bisa merumuskan solusinya.

Kira-kira seperti ini, kami menawarkan kepada warga desa untuk menyampaikan keinginannya terhadap pembangunan yang sesuai dengan desa mereka kepada partai politik yang tepat. Asumsi kami adalah, bahwa selama ini partai politik dan kandidat nanti datang pada saat musim kampanye, dan menawarkan program yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan warga desa. Seharusnya warga desalah yang paling tahu apa yang mereka butuhkan.

Lalu bagaimana menemukan partai politik dan kandidat yang tepat? Tentu itu harus dibangun lewat database yang merecord jejak rekam apa yang sudah dilakukan oleh partai politik dan kandidat. Sebuah algoritma aplikasi akan menganalisis keinginan warga desa dan mencari partai politik mana yang paling tepat yang cocok dengan kondisi pembangunan didesa mereka. Aplikasi akan memberikan referensi berdasarkan database. Dan di sinilah peran media yang menginput database partai politik dan kandidat.

Great. Skema kerjanya sudah didapat. Persoalannya, bagaimana ini kami bahasakan dengan sesederhana mungkin. Apalagi adviser dan Juri adalah orang asing, dan kami tak fasih berbahasa Inggris. Saya jadi ingat pelajaran di Informatika.

Bios, ngana bisa kan bikin flowchart?“, tanya saya.

Bios menjawab dengan tegas, “kita pe makanan itu“.

“Nah kalau begitu, terjemahkan ini semua dalam sebuah flowchart,” pinta saya.

Bios mengerjakan itu tanpa kesulitan. Dia hanya butuh waktu sekitar 15 menit untuk membuat sebuah flowchart. Programer manapun pasti mampu membaca flowchart, itu dasar pemikiran kami. Usai flowchart selesai, Bios dan Hadi minum kopi di luar ruangan. Saat minum kopi itulah, mereka disapa Antoine, yang menanyakan project yang akan kami buat. Bios menerangkan skema database yang saya corat-coret di kertas. Antoine tertarik.

Lalu dia menghampiri meja kami dan memberikan advise. Dan yuhu….. flowchartitu mampu mengomunikasikan dengan baik konsep kami. Antoine orang Perancis dengan bahasa Inggris terbatas dan kami yang kurang sekali dalam bahasa Inggris. Dan corat-coret flowchart itu menjadi perantaranya. Antoinie bilang, “ini ide yang sangat bagus, sudah kalian berhenti corat-coret, segera bangun prototipe, buka photoshop dan buat mockupnya.”

Kami terpana dan senang, konsep kami disambut baik. Dan giliran saya yang harus segera menyusun one sentence untuk dipresentasikan dalam mini pitch. Rulenya, setiap tim hanya diberi waktu satu menit untuk menyampaikan konsep yang dirumuskan. Optimisme saya bangkit, saya bilang ke Hadi dan Bios, ekspresi Antoine sangat yakin bahwa konsep kami bisa bersaing. Ok, kita bangun mockupnya dengan photoshop agar Juri bisa mendapat gambaran apa yang akan kami kerjakan. Jelang sore, semua tim dikumpulkan dalam ruangan presentasi. Komposisi sengaja dibuat melingkar, agar setiap tim bisa saling berhadapan langsung.

Tim dari Liputan6.com mengambil inisiatif lebih dulu mempitch rencana project mereka. Masing-masing diberi waktu semenit untuk menyampaikan gagasan itu. Saya tidak mempersiapkan apa-apa, selain memahami dengan benar apa yang sudah kami bertiga rumuskan sebelumnya. Usia Tim Liputan6.com, dia memberikan mic kepada tim di sebelahnya, dan begitu seterusnya.

Giliran Tempo.co mempresentasikan project mereka. Saya tidak menyimak dengan baik apa yang dipresentasikan oleh Sadika Hamid yang mewakili Tempo.co. Yang saya tanggap mereka menyasar audience kaum milineal, sebagaimana tim-tim lainnya. Dapat dimaklumi, mereka adalah media nasional dengan cakupan audience yang cukup besar se-Indonesia.

Mini pitch dilakukan interaktif, dimana usai satu tim mempresentasikan projectnya dalam durasi satu menit, tim lain dan para Juri bisa memberikan tanggapan. Sadika kemudian menunjuk Tim Zonautara.com untuk pitch berikutnya. Saya mengambil mic yang disodor, berdiri, memperkenalkan diri dan langsung melakukan penetrasi: “Kami media kecil, media daerah, yang belum genap setahun, dari Sulawesi Utara. Oleh karena itu audience kami sangat spesifik, warga desa. Mengapa warga desa, karena mereka selalu terpinggirkan dalam keadilan distribusi informasi.”

Kalimat pembuka yang langsung menohok itu, menghentak sebagian peserta dan Juri. Ekspresi wajah mereka menyiratkan hal itu, ini sebuah target audience yang berbeda. Setelahnya saya menyampaikan inti permasalahan dan solver yang kami tawarkan. Satu menit tak habis. Saya kembali duduk, dan Hendra dari Kabar Makassar menanggapi dengan tawaran sindikasi untuk wilayah Timur Indonesia.

Usai mini pitch, makan malam disediakan oleh panitia, dan setelahnya bus yang sama dengan hari pertama membawa kami ke Lemo Hotel. Kali ini suasana sudah lebih cair, karena sudah saling mengenal. Candaan mewarnai perjalanan menuju hotel. Tiba di hotel, kami bertiga sepakat untuk tidur dulu dan bangun tengah malam untuk meneruskan garapan konsep itu.

Saya langsung berbaring, begitu pun Bios tanpa mandi. Lalu saya bilang ke Bios, “Jika kita bisa membangun prototipe dari konsep ini serta mempresentasikan, saya kira nilai kita akan naik.”

Bios, memang yang bertanggungjawab terhadap web develope. Mendapat tantangan itu, otaknya bekerja, mencari solusi ditengah keterbatasan penguasaan kami terhadap bahasa pemograman yang populer saat ini seperti, java script, json, php, dan lainnya.

“Kita sih bisa, cuma yang kita kuasai hanya visual basic, itu kuno sekali,” ujar Bios.

“Aha… itu sudah!” jawab saya setengah berteriak. Saya bilang ke Bios, Juri tak peduli kita menggunakan tools apa, yang mereka inginkan adalah sebuah prototipe untuk melihat bagaimana seharusnya project kita bekerja.

“Itu kan yang saya tanya di hari pertama ke Antoine,” saya meyakinkan Bios.

Bios kemudian membuka laptopnya, sembari berharap software Visual Basic terinstall di system Windowsnya. Dan ternyata, program itu masih terinstal, Visual Basic 6, sebuah software yang dirilis tahun 1998. Sangat jauh ketinggalan. Tawa Bios memecah kamar, khas dia yang tanpa mengerem intonasi ketawanya.

Saya meyakinkan bahwa dia bisa membangun prototipe. Saya segera menyodorkan flowchart yang kami sudah corat-coret itu. Dia lalu larut dengan Visual Basicnya, dan saya mengambil waktu untuk istirahat tidur. Sementara di kamar sebelah, Hadi mengerjakan bahan presentasi.

Sesekali saya bangun dan melihat progress pekerjaannya. Tengah malam setelah merasa cukup, saya lalu bangun dan sangat senang dengan hasil yang dibuat oleh Bios. Hadi juga ikut bergabung. Kami lalu membagi tugas. Saya mengoreksi hasil yang dikerjakan oleh Hadi. Kami bertiga lalu berdebat soal nama project ini.

Bios menyodor frase Mata Warga, tapi Hadi mengoreksinya dengan “Mata Desa”, lalu di detik berikutnya kami saling tos tangan.

zonautara.comHadi dan Bios sedang mereview prototipe. (Foto: Zonautara.com/Bios Lariwu)

“Itu sudah, Mata Desa! tegas saya.

Hadi kembali ke kamarnya untuk mengambil jeda istirahat, demikian pula Bios memgambil tidur, padahal hari menjelang subuh. Saya melarutkan diri dalam mematangkan konsep, sembari mengoreksi prototipe dan presentasi. Hasil koreksinya saya kirimkan ke group wa yang kami buat bertiga. Harapannya, saat pagi mereka harus mengerjakan koreksi itu.

Bus kembali menjemput kami menuju venue di UMN. Hadi terlambat bangun dan harus menyusul dengan Gojek. Sesi pagi kami isi dengan memperbaiki yang kurang sesuai dengan review saya semalam. Setelahnya kami diminta berkumpul di ruang presentasi. Selama 15 menit, Sarah menegaskan hal-hal penting saat final round pitch sore nanti.

Sebenarnya sebelum jam makan siang, pekerjaan kami sudah selesai dan tinggal merapihkan. Seperti biasa, usai makan siang, kami pergi ke bagian depan UMN dan menghabiskan dua batang rokok. Sesudah itu masuk ke ruangan dan saya belajar mempresentasi dengan durasi yang dibatasi selama 4 menit. Setelah merapihkan semuanya, mengopi dalam satu folder file-file yang diperlukan, kami lalu dengan yakin mensubmit project Mata Desa ke Community Global Editors Network. Ini merupakan syarat mutlak di langkah terakhir, project harus disubmit sebelum pukul 15.30 WIB.

Aha, dan ternyata kami adalah tim pertama yang mensubmit. Sarah memberi tahu tim lain lewat group WA sembari memberi pujian. Penetrasi kedua sudah kami lakukan, tim-tim lain merasa berada di bawah tekanan. Sembari berkelakar, saya bilang ke Hadi dan Bios, “Tim lain paling punya dua pendapat, Zonautara.com sudah selesai karena memang mereka kelar, atau karena memang sudah tidak tahu apa-apa”.

Kami pun tertawa sembari menghabiskan rokok di area parkir.

Tetiba, Kueng, salah satu Juri menghampiri, dan meminta kami harus balik karena diminta berkomunikasi dengan Interpreter agar dalam presentasi sebentar tidak terjadi misskomunikasi. Di saat yang bersamaan, WA dari Sarah juga masuk meminta saya kembali ke venue.

Seorang Interpreter disiapkan untuk mendampingi kami. Dan saya menjelaskan ke mahasiswa UMN itu, apa dan bagaimana project kami. Usai itu, kami lalu menghabiskan waktu mengobrol dengan tim-tim lainnya yang juga sudah selesai mensubmit project mereka. Final round pitch semakin mendekat. Pukul 16.00 WIB akan dimulai. Para Juri mulai berdatangan, di antaranya Ketua Dewan Pers Stanly Adi Prasetyo, serta Titi Anggraini dari Perludem. Tiga juri lainnya adalah Irene Jay Liu dari Google News Lab, Kuek Ser Kuang Keng dari DataN serta Sarah Toporoff dari GEN.

Urutan pitch ditentukan dengan cara undian. Dan kami mendapat giliran kedua, setelah Radar Bojonegoro. Mendekati pukul 16.00, saya sedikit deg-degan karena teryata Radar Bojonegoro belum mensubmit, begitu juga dengan Kabar Makassar yang mendapat undian urutan ketiga. Bisa-bisa kami yang berada di urutan pertama. Namun tepat akan dimulai, Tim Radar Bojonegoro siap. Dan mereka mempresentasikan project Ayo ke TPS. Suasana datar saja, hanya satu Juri yang bertanya.

Giliran nama Zonautara.com dipanggil. Tepuk tangan riuh menggiringi langkah saya dan Bios maju ke depan. Bios bertugas mengendalikan file presentasi dan saya yang bertugas menyampaikan gagasan itu. Saya berusaha tenang, bahkan tak menyentuh dulu mic sama sekali. Bios siap dan saya mengambil mic. Dengan penuh keyakinan saya memperkenalkan diri serta tim. Waktu pun mulai dihitung.

Presentasi saya berjalan dengan sangat lancar. Saking lancarnya saya bahkan nyaris seperti tak bernafas. Ciri khas saya jika sedang bersemangat berbicara. Saya baru menyadari setelahnya , bahwa itu bisa menjadi kelemahan, karena interpreter bisa jadi tidak menerjemahkan dengan tepat apa yang saya maksudkan. Prensetasi saya berhenti sebelum petugas memberitahu bahwa waktusudah habis. Ratna, pembawa acara menyampaikan bahwa saya masih memiliki waktu satu menit, namun dengan yakin saya katakan, “cukup!.”

Kini giliran Juri bertanya. Setiap pertanyaan saya cuma punya waktu satu menit untuk menjawab.  Titi dari Perludem mengajukan pertanyaan pertama. Dia menyoal bagaimana database yang akan dibangun itu terhindar dari data partisan. Saya menjawab singkat dan tegas, “media harus melibatkan lembaga-lembaga independen dengan kredibilitas yang terpercaya untuk ikut membantu membangun database”. Titi mengangguk kepala tanda setuju.

Lalu mic berpindah ke Irene dari Google News Lab. Saya memasang headset untuk mendengar interpreter menerjemahkan pertanyaannya. Lagi-lagi saya menjawab dengan singkat dan tidak menghabiskan jatuh waktu satu menit. Setelahnya saya dikejutkan pertanyaan dari Ketua Dewan Pers yang menyoal sekuriti dari Mata Desa.

Walaupun sedikit kaget dengan pertanyaan yang tak terduga itu, saya masih menjawab dengan singkat dan tegas. “Ini juga menjadi bahan diskusi kami, apakah Mata Desa akan menjadi aplikasi server center atau aplikasi stand alone. Yang jelas kami akan mengeliminasi pilihan yang membuka peluang pihak lain bisa menginput data secara legal. Pilihan logisnya mungkin ada di stand alone apllication“.

Setelah itu Kueng mengajukan pertanyaan lagi. Dan Sarah memilih tidak bertanya apapun, karena mungkin dia telah memberi advise sebelumnya.

Pitching saya selesai, dan dan tepukan tangan riuh di ruangan itu. Sesudahnya kami kembali ke tempat duduk di bagian belakang, dan mengamati semua tim yang membawakan presentasi. Selain kami, hanya Tempo.co dan Suara.com yang juga selesai sebelum distop oleh Juri karena melewati waktu 4 menit.

zonautara.comFoto bersama usai seluruh rangkai kegiatan. (Foto: Zonautara.com/Bios Lariwu)
zonautara.comSaya saat sedang membawakan presentasi di hadapan para Juri di Final Pitch. / (Foto: Zonautara.com/Bios Lariwu)

Tim UMN menutup sesi pitchingdan seluruh peserta diminta mengisi waktu dengan coffee break sembari Juri berembuk menentukan hasilnya. Kami bertiga berbaur dengan para peserta lainnya yang semakin akrab, sambil bercanda. Sesekali kembali ke ruangan kerja kami dan merapihkan barang-barang.

Menjelang malam, semua peserta dipanggil kembali ke dalam ruangan. Para Juri sudah selesai mengerjakan tugasnya. Sarah mengambil mic menyampaikan terima kasih kepada semua peserta dan menyampaikan bahwa para Juri kesulitan memilih pemenangnya karena semua project yang dibuat bagus.

Sarah kemudian mengumumkan tim favorit pilihan audience yang jatuh ke tangan Radar Bojonegoro. Sarah lalu menyerahkan mic ke Titidari Perludem untuk mengumumkan Special Mention Pertama. Titi menyampaikan pengantar tentang pentingnya pemilih mendapat informasi yang tidak bias soal partai politik dan kandidat. Selama ini informasi itu hanya bisa diakses oleh warga kota dengan infrastruktur distribusi informasi yang memadai.

Saat menyampaikan pengantar itu, rasa optimisme menyeruak di dada saya. Kami bertiga duduk sejajar di barisan kursi paling belakang di ruangan itu. Dan tibalah saatnya Titi menyebutkan, “Dan Juri memberikan Special Mention ini kepada Tim Zonautara.com.”

Saya terkejut, sama terkejutnya Hadi dan Bios. Tepuk tangan bergemuruh. Hesti dan Eva dari AJI Indonesia menatap kami sembari bertepuk tangan. Saya disalami beberapa orang dan diminta maju ke depan. Titi menyerahkan hadiah, dan kami diminta berfoto. Bios yang memegang kamera terpaku dan lupa memotret moment itu. Dia baru sadar ketika anggota Tim dari Katadata mengingatkannya. Dia berlari ke depan, dan mengambil beberapa gambar, sebelum bergabung dengan saya dan Hadi berfoto bersama Titi.

Saat kembali ke kursi, kami disalami oleh banyak orang. Saya masih tak percaya kami bisa meraih penghargaan itu. Zonautara.com adalah media baru, belum setahun. Media kecil dengan resource yang sangat terbatas. Kami bertiga saling tatap, dan mengumbar tawa satu sama lain. Berkali-kali melakukan tos tangan dan saling memberi selamat. Stanly dari Dewan Pers kemudian mengumumkan penghargaan Special Mention Kedua yang jatuh kepada Katadata. Mereka layak dengan prototipe Ayo Peka!

Irene dari Google News Labs kemudian mendapat giliran mengumumkan pemenang utama JEL 2018. Tanpa baca pengantar, Irene lalu berujar, “…and the winner is Tempo”. Tepuk tangan bergumuruh. Sekali lagi Tempo.co meraih yang terbaik dan mendapatkan tiket ke Lisbon, Portugal. Mereka akan mewakili Indonesia untuk bertarung dalam GEN Summit 2018. Prototipe mereka dinamai LeaderMatch.

zonautara.comTim Tempo.co yang memenangi JEL 2018 / Foto: GEN – JEL 2018

Setelah pengumuman itu, kami makan malam bersama, dan saling memberi selamat. Saya sedikit terharu. Sambil menikmati makan malam terakhir di JEL 2018, saya kembali memberi selamat kepada Hadi dan Bios. Ini prestasi mereka, prestasi kami dan prestasi semua yang ada di Zonautara.com. Tak menyangka kami bisa berada dalam pencapaian sejauh ini. Datang sebagai tim underdog dan tak menargetkan apapun, tapi bisa membawa pulang hasil maksimal. Sungguh sebuah keberhasilan yang perlu dirayakan.

Jika menelisik ke belakang, pencapaian itu bukanlah tetiba turun dari langit. Namun ini adalah buah dari kerja keras sejak Mei 2017, kala Zonautara.com dihadirkan ke publik. Tekad menjadi pembeda, menjadi media yang tak sekedar menyajikan berita telah melandasi semua komitmen kerja kami. Komitmen yang terus mewarnai setiap rapat redaksi saban Jumat, dan komitmen yang terus disemangati dalam rapat evaluasi setiap awal bulan. Tanpa alpa sekalipun, kebiasaan itu menjadi rutinitas wajib bagi segenap awak redaksi.

zonautara.comTim Kata Data yang meraih Special Mention Kedua. / Foto: GEN – JEL 2018

Pun saat undangan resmi dari GEN, Google News Lab dan AJI Indonesia datang, kami benar-benar menumpahkan energi untuk belajar setiap hari tanpa jeda. Hadi yang larut dalam tools yang baru dia kenal sama sekali, dan Bios yang memacu kemampuannya mengenal coding-coding. Saya, ditengah kesibukan dan agenda yang seabrek terus menerus merumuskan konsep editorial apa yang terbaik yang bisa diimplementasikan di Zonautara.com.

Setelah makan malam itu, kami bersama Tim Kabar Makkasar dan Radar Bojonegoro kembali ke Lemo Hotel. Sementara tim media nasional yang kantornya di Jakarta langsung pulang ke rumah. Di bus kami mengekspresikan rasa senang bersama dua tim dari daerah itu. Setidaknya pencapaian yang kami raih bisa membuktikan bahwa media daerah bisa berbicara di level nasional.

Dan tak ada pilihan terbaik malam itu setiba di hotel, selain tidur. Bahkan untuk makan malam pun kami tak sempat. Begitu tubuh menyentuh kasur, mata langsung terpejam dan nanti bangun pada keesokan paginya.

Perjalanan dari Pinaling telah menemukan rohnya: Mata Desa. Kini kami bersiap untuk mewujudkan prototipe itu dalam implementasi yang sesungguhnya.

zonautara.comKami bertiga saat menerima penghargaan dari Titi. / Foto: GEN – JEL 2018

 

Penulis: Ronny A. Buol

Editor: Rahadih Gedoan

Foto-foto: Bios Lariwu dan GEN

Satu tanggapan untuk “Catatan Perjalanan: Mata Desa, Ide Yang Berangkat Dari Desa Tak Berakses Internet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s