Galeri

Foto: Sidang Terdakwa Narkoba Warga Thailand

Sukrita Thiemek warga Thailand ditangkap oleh petugas Badan Narkotika Nasional Propinsi (BNNP) Sulawesi Utara pada 25 Maret 2013, ketika masuk melalui pintu Bandara Samratulangi Manado. Dari tangan Sukrita diamankan 1099,2 gram narkotika golongan 1 jenis Shabu.

Kini Sukrita sedang menjalani sidang di Pengadilan Negeri Manado atas dakwaan menyelundupkan barang terlarang tersebut. Dia terancam hukuman 15 tahun penjara.

DENGARKAN HAKIM. Sukrita Thiemek (berbaju putih) warga Thailand didampingi seorang penterjemah, sedang mendengarkan pertanyaan Hakim di Pengadilan Negeri Manado, 24 Juli 2013. Sukrita didakwa menyelundupkan narkotika jenis Shabu ke Indonesia. Dia ditangkap ketika masuk melalui Bandara Samratulangi Manado.
DENGARKAN HAKIM. Sukrita Thiemek (berbaju putih) warga Thailand didampingi seorang penterjemah, sedang mendengarkan pertanyaan Hakim di Pengadilan Negeri Manado, 24 Juli 2013. Sukrita didakwa menyelundupkan narkotika jenis Shabu ke Indonesia. Dia ditangkap ketika masuk melalui Bandara Samratulangi Manado.
BARANG BUKTI. Hakim di Pengadilan Negeri Manado mengkonfrontasi barang bukti milik Sukrita Thiemek (berbaju putih), 24 Juli 2013. Dia didakwa berusaha menyelundupkan narkotika golongan I jenis Shabu senilai Rp 2,2 miliar.
BARANG BUKTI. Hakim di Pengadilan Negeri Manado mengkonfrontasi barang bukti milik Sukrita Thiemek (berbaju putih), 24 Juli 2013. Dia didakwa berusaha menyelundupkan narkotika golongan I jenis Shabu senilai Rp 2,2 miliar.
DISIDANG. Sukrita Thiemek (berbaju putih) sedang mengikuti sidang di Pengadilan Negeri Manado, atas dakwaan terhadap dirinya yang menyelundupkan narkotika golongan I jenis shabu, 24 Juli 2013.
DISIDANG. Sukrita Thiemek (berbaju putih) sedang mengikuti sidang di Pengadilan Negeri Manado, atas dakwaan terhadap dirinya yang menyelundupkan narkotika golongan I jenis shabu, 24 Juli 2013.
KONSULTASI. Terdakwa penyelundupan narkotika golongan I jenis shabu, Sukrita Thiemek (berbaju putih) warga Thailand sedang berkonsultasi dengan penasehat hukumnya. Dia didampingi oleh seorang penterjemah ketika menjalani sidang di Pengadilan Negeri Manado, 24 Juli 2013.
KONSULTASI. Terdakwa penyelundupan narkotika golongan I jenis shabu, Sukrita Thiemek (berbaju putih) warga Thailand sedang berkonsultasi dengan penasehat hukumnya. Dia didampingi oleh seorang penterjemah ketika menjalani sidang di Pengadilan Negeri Manado, 24 Juli 2013.

 

Galeri

Photo Essay: 46 Tahun Hasri Setia Menjadi Kusir Bendi

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.




Di tengah mahalnya tarif angkutan sebagai dampak naiknya harga bahan bakar minyak bersubsidi, Hasri Alhasni (68), tetap setia dengan kendaraan tradisionalnya, bendi. Ditemui di kawasan Calaca Pasar 45 Kota Manado, Hasri yang tengah mengawasi penggantian tapal kaki kuda penarik bendinya, menuturkan, menjadi kusir bendi sudah menjadi pilihan hidupnya sejak remaja.

“Saya sudah menjadi kusir bendi sejak tahun 1967. Waktu itu saya dari Gorontalo dan datang ke Manado mencari kerja. Ayah saya yang mengajari saya dulu menjadi kusir,” ujar Hasri yang menawarkan saya ikut bersamanya mengantarkan seorang penumpang, Sabtu (27/7/2013).

Menurut Hasri, dulunya bendi (di Jawa disebut dokar) menjadi salah satu kendaraan utama di pusat Kota Manado. Pada waktu itu, bendi bersaing dengan kendaraan bemo dan becak. “Walau banyak jumlahnya, tapi kami juga dapat banyak waktu itu. Sekarang jumlah bendi yang ada di Calaca sini sisa 50 buah. Tapi walau sisa sedikit, pendapatannya sudah berkurang juga,” kata Hasri sambil mengarahkan kuda penarik bendinya dengan tali dan cambukan cemeti pelan.

Namun, Hasri merasa bangga, karena dari pekerjaannya menjadi kusir bendi ia telah menyekolahkan anak-anaknya hingga selesai. “Kini mereka semua sudah bekerja. Dulu saya membiayai sekolah mereka, kini mereka yang balik memberi saya uang,” ujarnya sambil tersenyum.

Kini jalur transportasi bendi sudah dibatasi. Namun, warga masih memakai moda transportasi ini. Halimah, warga Kampung Arab misalnya, Dia yang sering menggunakan jasa bendi mengakui, keberadaan bendi sangat membantu. “Mereka mau mengantar kami hingga ke depan rumah, yang tidak dilalui oleh jalur angkutan umum. Kalau naik ojek bawaan terbatas, tapi kalau naik Bendi, bawaan belanja dari pasar bisa banyak,” kata Halimah.

Dengan bendi, Hasri mengaku tidak pusing soal kenaikan harga BBM bersubsidi. Sebab dia hanya perlu menyediakan makanan kuda dan merawat bendinya. “Makanan kuda berupa jagung tersedia setiap saat, yang penting jangan sampai kudanya sakit. Jadi saya tidak perlu memikirkan bensin yang naik harganya,” kata Hasri dengan tersenyum.

Walau hanya berupa kendaraan tradisional, para kusir bendi di Kota Manado mempunyai perserikatan yang bernama Asosiasi Bendi Kota Manado. “Pengurus itulah yang mengurus surat-surat kelengkapan kami,” tambah Hasri.

Ternyata bendi juga harus dilengkapi dengan Surat Tanda Nomor Kendaraan Tidak Bermotor (STNKTB) serta kusirnya harus memiliki Surat Keterangan Mengemudi Bendi (SKMB). “Jadi kalau ada masalah di jalan, kami aman,” kata Hasri.