Manumpitaeng, Mengintip Burung Gosong Bertelur di Pulau Perawan

Manumpitaeng-1Kawasan Nusa Utara, yang melingkupi tiga kabupaten di ujung Utara provinsi Sulawesi Utara (Sulut) seakan menyimpan surga tersembunyi. Ketiga kabupaten itu adalah Kabupaten Kepulauan Talaud yang berada paling utara dan berbatasan dengan Filipina, Kabupaten Kepulauan Sangihe yang berada di tengah dan Kabupaten Kepulauan Sitaro yang paling dekat dengan Manado, ibu kota Sulut.

Ketiga kabupaten tersebut merupakan kabupaten bahari karena potensi kebaharian yang dimilikinya. Dengan posisi itu, ketiga kabupaten ini punya sederet destinasi wisata bahari, yang sayang memang belum dikelola secara maksimal, termasuk yang ada di Kabupaten Sitaro.

Sitaro sebenarnya punya keunggulan dilihat dari jaraknya yang dekat dengan Manado, hanya butuh sekitar 4 jam perjalanan dengan kapal cepat untuk mencapai pulau Siau sebagai pusat pemerintahan Sitaro, dan hanya butuh sekitar 2 jam untuk mencapai pulau Tagulandang yang tidak kalah eksotis.

Lanjutkan membaca “Manumpitaeng, Mengintip Burung Gosong Bertelur di Pulau Perawan”

EKSOTIS BEBATUAN PANTAI-PANTAI DI SITARO

4R

Sebagai daerah kepulauan, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) yang berada dalam wilayah administrasi Provinsi Sulawesi Utara memiliki luas wilayah perairan laut sekitar 91% dari total 3.066,22 KM2 luas wilayahnya.

Dari luas daratan yang hanya 9% tersebut (275,96 KM2) kabupaten baru ini memiliki garis pantai sepanjang 154 KM. Sungguh merupakan garis pantai yang amat panjang dibanding dengan wilayah daratannya.

Tidak heran, sebagian besar penduduk dari kabupaten yang baru 2 tahun memekarkan diri dari kabupaten induk Sangihe ini, tinggal di wilayah pesisir.

Namun jangan membayangkan seperti didaerah berpantai di tempat lain, garis pantai di Kabupaten Kepulauan Sitaro memiliki karakteristik khusus dan unik.

Akibat dari kehadiran dua gunung berapi yang ada di Pulau Siau (GA. Karangetang) dan Gunung Api Ruang di Pulau Tagulandang dan pula dipengaruhi oleh letak kabupaten ini pada jalur labil sirkum pasifik, membuat garis pantainya sebagian besar merupakan bebatuan.

Lanjutkan membaca “EKSOTIS BEBATUAN PANTAI-PANTAI DI SITARO”

Potensi Wisata Sitaro yang Belum Termaksimalkan

(Sajian Eksotisme Kawasan Pantai dan Gunung Api Yang Masih Virgin)

(artikel ini merupakan artikel saya untuk dimuat di Explore Indonesia edisi Januari 2009)

Kabupaten Sitaro termasuk dalam bentangan laut dan ratusan pulau di Kawasan SaTas (Sangihe Talaud), yang terletak paling utara Indonesia. Secara administratif, Kabupaten Sitaro berada dalam wilayah Provinsi Sulawesi Utara. Nama kabupaten ini diambil dari akronim 3 pulau besar dalam wilayahnya, yakni Siau, Tagulandang dan Biaro.

Kabupaten Sitaro sendiri terdiri dari 47 pulau, 10 pulau diantaranya berpenghuni dan 37 pulau lainnya tidak berpenghuni, kebanyakan diantaranya merupakan pulau batu. Kawasan ini mempunyai karakteristik geologis khas yang merupakan gugusan karang ( atol ) di dasar laut. Gususan karang yang bertumbuh inilah yang menyembul ke permukaan laut dan menjadi pulau. Penduduk lokal menamakannya napo.

Napo Pasige dan Mahoro

p-pasigeNapo-Napo ini menjadi berkah tersendiri bagi penduduk di Sitaro. Salah satu Napo yang telah menjadi pulau definitif adalah Pasige alias Passighi atau juga Pasiak di Gugusan Pulau Tagulandang. Terletak tidak jauh dari Pulau Ruang. Pulau ini kecil, rendah dan datar. Bahkan jika air pasang tinggi, pulau Pasige hampir tengelam. Tidak ada penghuni yang tinggal di pulau ini, tetapi pulau ini menjadi surga bagi nelayan menangkap ikan dan teripang.

Lanjutkan membaca “Potensi Wisata Sitaro yang Belum Termaksimalkan”

Danau Kapeta, Kini menjadi Sumber Air Minum

 

danau-kapeta1Danau Kapeta terletak diatas Gunung Kapeta, Kecamatan Siau Barat Selatan. Walaupun disebut dengan nama Danau Kapeta, tapi tidak ada akses jalan dari Kampung Kapeta menuju ke lokasi Danau. Kalaupun ada, anda harus mencari rute sendiri di sela-sela perkebunan pala milik warga.

Akses ke Danau Kapeta tersedia justru dari Kampung Mburake (berbatasan dengan Kampung Biau). Akses jalan tersebut ada karena kini Danau Kapeta telah dijadikan sebagai Sumber Air Minum. Dari Danau ini dibuatlah saluran air yang cukup besar untuk diteruskan di bak penampungan PDAM di Kampung Mburake. Dan sampai tulisan ini dibuat, proyek yang menelan anggaran milyaran rupiah dari dana pusat tersebut telah berfungsi. Kini, masyarakat dibeberapa Kampung telah bisa menikmati air bersih yang berasal dari Danau Kapeta.

  Lanjutkan membaca “Danau Kapeta, Kini menjadi Sumber Air Minum”

Air Panas di Pantai Temboko Lehi, Kampung Mini

Air Panas LehiJika anda berkunjung ke Pulau Siau, sempatkan diri ke Kampung Mini. Kampung Mini relatif mudah dijangkau. Dengan Ojek (Sepeda Motor yang menarik penumpang), perjalanan ke Mini lebih kurang 20 menit dari Ondong, Ibukota Kabupaten Siau Tagulandang Biaro.
Di Lehi, Mini ini anda akan menemui salah satu hasil karya Gunung Karangetang. Berbeda dengan air panas di daerah lain. Air Panas Lehi merupakan hasil pertemuan antara sumber air panas dari Gunung Api Karangetang dengan air laut. Yang mengeluarkan uap panas adalah air laut di pinggiran Pantai Temboko. Sungguh merupakan suatu sajian alam yang indah.

Lanjutkan membaca “Air Panas di Pantai Temboko Lehi, Kampung Mini”

Diskusi dengan Fredy Tewu (Redaktur Senior Explore Indonesia)

Pada Acara Forum Temu Pemkab Sitaro dengan Kalangan Pengusaha dan Pebisnis yang digelar di Hotel Quality pada Sabtu, 11 Oktober 2008, saya berkesempatan berkenalan dengan seorang yang sangat welcome. Freddy Tewu, Redaktur Senior dari Free Magazine Explore Indonesia (http://www.explore-indo.com). Diskusi kami berlangsung disela-sela pelaksanaan Forum tersebut.

Banyak hal yang kami bicarakan, dan saya sangat berterima kasih atas pengalaman yang disharing oleh Freddy Tewu. Sebagaimana Explore Indonesia yang memfokuskan pada liputan investasi dan pariwisata, maka diskusi kami pun seputar pada investasi dan pariwisata di Sitaro. Apa yang telah kami hasilkan dari bincang-bincang itu, nantinya akan saya rangkum dalam sebuah intisari pemikiran untuk disodorkan ke pihak terkait di lingkungan Pemkab Sitaro. Saya sangat senang, karena telah ketambahan seorang sahabat lagi dengan semangat yang sama, ingin memajukan daerah-daerah yang selama ini kurang mendapat liputan informasi memadai padahal menyimpan sejuta potensi.

Apa yang diutarakan oleh Freddy Tewu yang telah berkeliling Indonesia menjadi bahan yang sangat berharga bagi saya untuk tanpa pernah patah semangat membangun Sitaro walau hanya lewat media blog ini. Banyak hal yang memang perlu dilakukan demi kebangkitan Sitaro teristimewa dalam memaksimalkan potensi wisata bahari yang dimilikinya. Keterbatasan sarana dan prasarana penunjang seperti akomodasi hotel dan penginapan, restaurant, ketersediaan cinderamata, informasi wisata, pemandu wisata dan tak kalah penting transportasi yang bisa memperlancar arus kunjungan wisatawan. Ini memang menjadi sebuah tantangan, ketika kita mempromosikan apa yang bisa dijual di Sitaro. Wisatawan tentu akan mempertanyakan semua sarana pendukung tersebut. Dan seperti yang diakui oleh Bupati sendiri dalam Forum tersebut, Sitaro masih sangat tertinggal dalam ketersediaan prasarana pendukungnya.

Namun, satu masukan yang dapat dipertimbangkan dari Freddy Tewu adalah mencoba melakukan terobosan ecowisata di Sitaro. Saya setuju dengan usulan tersebut, karena harus diakui penelitian-penelitian mengenai alam dan kekayaannya di Kab. Sitaro masih sangat kurang, bahkan bisa dibilang tidak terdengar sama sekali. Maka memadukan wisata dengan penelitian merupakan langkah yang patut dipertimbangkan. Jadi peneliti itu bukan saja datang menikmati keindahan panorama pantai yang unik di Sitaro dan mengagumi “keangkuhan” Karangetang, tetapi sekaligus memberi sumbangan dari hasil penelitian mereka. Dan dengan demikian, “Tengokorak Makalehi” itu tidak akan berselubung misteri dan mitos lagi.

Terima kasih banyak Bung Freddy Tewu.