Pantai Paal, diantara Keramaian dan Tukik

Beberapa ekor anak penyu sedang berusaha mencapai air laut di Pantai Paal.
Beberapa ekor anak penyu sedang berusaha mencapai air laut di Pantai Paal.

Pantai Paal di Desa Marinsow, Likupang Timur, Minahasa Utara sejak beberapa bulan terakhir dijejali ratusan pengunjung yang datang dari berbagai daerah di Sulawesi Utara. Pasir putihnya yang halus, serta gradasi air laut yang mempesona mampu memikat warga untuk berbondong-bondong menyerbu pantai itu.

Warga di Marinsow yang bertugas menjaga Pantai Paal, bahkan mengakui bahwa pada akhir pekan atau hari libur, Pantai Paal bisa didatangi hingga sekitar 5.000 orang. Padahal, dulunya Pantai Paal sepi, dan hanya ada aktivitas warga di sekitar Marinsow. Semua berawal saat pengguna jejaring sosial mulai mengunggah foto keindahan Pantai Paal. Sejak itulah, pantai ini menjelma menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Sulut.

Warga di Marinsow mengaku senang dengan ramainya pengunjung, sebab bagi mereka kini ada sumber penghasilan tambahan dari berbagai jasa yang ditawarkan kepada pengunjung. Salah satunya adalah mendirikan warung untuk menjajakan berbagai makanan dan minuman. Lanjutkan membaca “Pantai Paal, diantara Keramaian dan Tukik”

Di Binerean, Maleo Punya Kebun Kelapa Sendiri

Pantai-Binerean

Sejak 2005 Wildlife Conservation Society Indonesia Project (WCS IP) Sulawesi Utara melakukan upaya pelestarian Macrocephalon Maleo di pantai Tanjung Binerean, Desa Mataindo, Kecamatan Pinolosian Tengah, Kabupaten Bolaang Mongondow. Maleo merupakan salah satu species endemik Sulawesi yang populasinya terancam punah karena telurnya terus diburu.

Berbeda dengan site yang ada di Muara Pusian dan Tambun yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW), site Binerean berada diluar kawasan TNBNW. "Burung Maleonya memang berasal dari kawasan TNBNW, tetapi mereka datang bertelur di pantai ini, ujar Manager Maleo Project WCS IP Iwan Honuwu, Sabtu (29/09/2012) ketika melakukan monitoring rutin.

Sebelum Maleo Project berlangsung, telur-telur Maleo di Binerean menjadi incaran para pemburu telur untuk dijual. Sifat Maleo yang meninggalkan begitu saja telurnya di lubang pasir yang digalinya membuat perkembangbiakan populasinya terancam. "Jika tidak dilakukan usaha konservasi, mungkin species macrocephalon maleo ini tinggal catatan saja," kata Iwan lagi.

Lanjutkan membaca “Di Binerean, Maleo Punya Kebun Kelapa Sendiri”

Karamoy, Dari Pemburu Jadi Pengasuh

Karamoy-2

Karamoy sedang mengamati keberadaan Maleo

 

Karamoy Maramis (69) sudah beranjak dari pembaringan ketika mentari belum muncul. Di pagi yang gelap dan dingin, dirinya  bersiap menuju hutan yang tepat berada di belakang tempat tinggalnya, sebuah Pos Penjaga Hutan milik Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNWB) yang dijadikan basecamp Maleo Project WCS IP di Tambun, Dumoga, Kabupaten Bolaang Mongondow.

Setiap hari, dua kali Karamoy harus mengitari area seluas 2,6 hektar yang sudah dipagari. Dia diberi tugas oleh Wildlife Conservation Society Indonesia Program (WCS IP) Maleo Project sebagai pengawas aktivitas spesies Macrocephalon maleo, unggas endemik Sulawesi.

"Saya harus berjalan pelan-pelan. Takut mengusik kehadiran maleo yang akan datang bertelur. Mereka liar dan takut akan kehadiran manusia. Jika tahu ada orang, mereka enggan bertelur," ujar Karamoy sambil mengendap-endap di antara rimbunnya tanaman, Jumat (28/9/2012) subuh .

Lanjutkan membaca “Karamoy, Dari Pemburu Jadi Pengasuh”

CORAL TRIANGLE DAY SIAP DIGELAR

CTD_Web_Button_Animated Beberapa organisasi dan stakeholder yang peduli lingkungan siap menggelar Hari Segitiga Karang (Coral Triangle Day) yang dijadwalkan pada tanggal 9 Juni nanti.

Coral Triangle Day yang untuk pertama kalinya dilaksanakan tahun ini, diharapkan akan menjadi event tahunan yang bertujuan untuk menunjukkan pentingnya konservasi laut, serta meningkatkan kepedulian keanekaragaman hayati laut.

Area Coral Triangle Day meliputi enam negara di Asia-Pasific termasuk Indonesia, Malayasia, Papau Nugini, Filipina, Kepulauan Solomon dan Timor Leste yan menyimpan kekayaan jenis ikan karang lebih dari 3.000 jenis.

Area yang sangat luas itu juga dikenal sebagai area pemijahan dan jalur perlintasan migrasi berbagai jenis tuna yang memiliki nilai jual tinggi serta memiliki potensi produksi dengan total sebesar seperlima dari produksi dunia.

Lanjutkan membaca “CORAL TRIANGLE DAY SIAP DIGELAR”

DPL Bahoi

DPL-1

Daerah perlindungan laut (DPL) diyakini sebagai salah satu upaya efektif dalam mengurangi kerusakan ekosistem pesisir, yaitu dengan melindungi habitat penting wilayah pesisir, khususnya ekosistem terumbu karang. Selain itu DPL juga penting bagi masyarakat setempat sebagai salah satu cara meningkatkan produksi perikanan (terutama ikan yang berasosiasi dengan terumbu karang), memperoleh pendapatan tambahan melalui kegiatan penyelaman wisata bahari, dan pemberdayaan pada masyarakat dalam perencanaan dan pengelolaan sumberdaya mereka.

Desa Bahoi yang masuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara memiliki struktur ekosistem wilayah pesisir yang lengkap seperti hutan mangrove, padang lamun dan terumbu karang yang merupakan pembentuk mata rantai ketahanan pangan laut.

Bahoi dapat dicapai dari Manado dengan menggunakan kendaraan melalui jalan darat dengan waktu tempuh sekitar 2 jam. Desa ini dapat dicapai dari pelabuhan Likupang dengan perahu taksi selama 40 menit. Demikian pula Bahoi dapat diakses dari terminal Pasar Likupan dengan kenderaan umum.

Lanjutkan membaca “DPL Bahoi”

Memanfaatkan Limbah Sebagai Sumber Penghasilan

Salmon

Salmon Mamahi pekerja serabutan di Desa Bahoi, Kecamatan Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara telah dengan bijak memanfaatkan beberapa limbah menjadi sesuatu yang dapat mendatangkan penghasilan bagi keluarganya.

Pria 39 tahun ini dengan cermat dapat membuat beberapa kerajinan tangan. Diantaranya mengolah tempurang kelapa menjadi asbak, vas beserta bunganya, limbah kayu menjadi ikan hias, miniatur perahu dan tiruan burung. Demikian pula dengan sabut kelapa yang diubat menjadi asbak besar, serta beberapa kerajinan tangan lainnya yang kesemuanya dari bahan yang sudah tidak terpakai lagi.

Desa Bahoi merupakan desa pesisir yang dikarunia keindahan alam yang mempesona. Berkat pendampingan yang dilakukan oleh Worldwild Conservation Society Indonesian Programme (WCS-IP) Sulawesi Utara dan PNMPM-LMP, Desa Bahoi menjadi desa wisata yang dikelola secara langsung oleh masyarakat. Konsep ekowisata merupakan pilihan bagi masyarakatnya dengan pertimbangan mempertahankan lingkungan alam yang ada.

Lanjutkan membaca “Memanfaatkan Limbah Sebagai Sumber Penghasilan”

Mereka Tak Berharap pada PLN

4R Bunyi putaran kincir air di sebuah bangunan sangat sederhana mengusik Tim 12 Days Exploratory Photo Expedition ketika tiba di Desa Mengkang. Tanpa dikomando dan beristirahat, Tim yang menggunakan 4 mobil dari Manado dengan jarak tempuh sekitar 5 jam langsung menuju sumber bunyi tersebut.

Rasa ingin tahu anggota Tim Berburu Foto 12 Hari di 5 Kabupaten Sulawesi Utara itu, akhirnya terjawab. Ternyata kincir air itu merupakan bagian dari Instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Tidak ada yang istimewa dari pembangkit listrik tersebut. Tetapi yang mengugah adalah, bahwa PLTMH yang berkapasitas 10.000 watt tersebut merupakan inisiatif murni dari masyarakat desa Mengkang.

Desa Mengkang merupakan salah satu desa di Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Desa ini menjadi penting letaknya karena berada di tengah-tengah Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Taman Nasional yang berada di dua Provinsi tersebut, yakni Sulawesi Utara dan Gorontalo memiliki luas wilayah 287.115 hektar, dengan 62,32% berada di wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow bagian Timur.

Infrastruktur jalan akses menuju Mengkang masih sangat memprihatinkan. Setelah melewati Desa Mopusi, dua sungai berbatu menanti untuk diseberangi. Kondisi ini menjadikan suplai listrik ke Desa Mengkang belum menjadi prioritas dari PLN, buktinya sampai dengan kunjungan Tim 12 Days Exploratory Photo Expepedition pada 15 November 2011, Desa Mengkang belum terjamah jaringan listrik PLN.

Lanjutkan membaca “Mereka Tak Berharap pada PLN”