Tumpara, Semestinya Diberi Perhatian Lebih di Sitaro

Menyebut nama Tarsius, ingatan sebagian besar dari kita mungkin tertuju ke Kota Bitung. Karena di sanalah Tarsius mudah dijumpai dan selalu menjadi sajian ketika wisatawan mengunjungi Kota Cakalang itu. Terlebih jika ke Tangkoko, para pemandu pasti tidak akan melewati pohon Tarsius, dimana para wisatawan secara mudah melihat aktifitas hewan unik tersebut.

Banyak yang tak tahu bahwa di Kabupaten Kepulauan Sitaro, khususnya di pulau Siau, Tarsius juga bisa dijumpai. Bahkan dibanding dengan yang ada di Tangkoko, Tarsius Tumpara yang ada di Siau pernah masuk dalam daftar 25 satwa paling terancam punah di dunia hingga tahun 2012.

Salah satu individu Tarsius Tumpara yang difoto oleh Astrid Mangague di pulau Siau.
Salah satu individu Tarsius Tumpara yang difoto oleh Astrid Mangague di pulau Siau.

Hingga saat ini Tarsius Tumpara juga masih dalam status Critically Endangered menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN), sebuah organisasi internasional yang didedikasikan untuk konservasi sumber daya alam. IUCN secara berkala merilis IUCN Red List, sebuah Daftar Merah yang bertujuan memberikan informasi dan analisis mengenai status serta ancaman terhadap spesies agar diperlukan tindakan cepat dalam upaya konservasinya.

Status Critically Endangered yang diberikan kepada Tarsius Tumpara merupakan status Kritis sebelum dinyatakan punah di alam liar, atau punah sama sekali dari muka bumi. Dengan demikian Tumpara semestinya diberikan perhatian lebih oleh stakeholder di Sitaro. Tapi sejauh ini perhatian tersebut belum terlihat, setidaknya dari sosialisasi kepada warga yang bermukim di sekitar habitat Tumpara diketahui hidup.
Lanjutkan membaca “Tumpara, Semestinya Diberi Perhatian Lebih di Sitaro”

Siau Island Tarsier

Siau Island tarsier (Tarsius tumpara) is a species of tarsier from the tiny volcanic island of Siau. It was described by Shekelle M, Groves C, Merker S. Supriatna J. (2008) Tarsius tumpara: a new Tarsius Siautarsier species from Siau Island, North Sulawesi. Primate Conservation (23):55–64[1].

Its existence as a distinct taxon was predicted by the hybrid biogeographic hypothesis for Sulawesi, described by Shekelle M, Leksono SM. (2004). Rencana konservasi di Pulau Sulawesi: dengan menggunakan Tarsius sebagai flagship spesies Biota IX(1):1-10. The rationale was that a geographic discontinuity existed between the northern tip of Sulawesi, and the population of tarsiers on Sangihe Island (Tarsius sangirensis), approximately 200 kilometres (120 mi) to the north. In between, lay very deep oceans and three island clusters, Biaro, Tagulandang/Ruang, and Siau. Like Sangihe Island, itself, each of these three island clusters are a part of the Sangihe Island volcanic arc. Volcanic arcs, like the Galapagos and Hawaiian Island chains, feature islands that erupt from the ocean floor. In such circumstances, islands form independently, are colonized independently, and remain geographically isolated. These characteristics lead to high levels of endemism. The presence of tarsiers on the most distant island group in the Sangihe volcanic arc (i.e. Sangihe island), led to curiosity about the presence of tarsiers on the other islands in the chain. Each of the three island clusters mentioned above were surveyed for the presence of tarsiers in 2004 and 2005, but tarsiers were only observed on Siau.

Lanjutkan membaca “Siau Island Tarsier”