Lewat Blog Bisa Tampil di Metro TV

 

Menulis bagi saya merupakan sebuah rutinitas yang mengasyikkan. Selain di blog ini, ada beberapa ruang media yang selalu memposting tulisan-tulisan saya. Carlos Fuentes bilang, “Menulis adalah perjuangan melawan kesunyian.”

Dan memang benar, saya tidak merasa sepi ketika berkawan dengan pena dan kertas pada masa komputer masih barang mewah. Kini suara tak tik tuk keyboard komputer adalah sahabat setia saya saban hari. Menulis adalah salah satu seni menikmati hidup.

Dari sekedar menuangkan ide yang terlintas, gagasan yang terbesit bahkan hati yang sedang galau, ruang kosong selalu tersedia untuk diisi dengan tulisan. “Yang susah adalah memulainya,” demikian kata Maya Decline, seorang sahabat yang saya sudah anggap adik sendiri. Hmm, padahal dia kuliah di Jurusan Sastra. Seharusnya punya kepekaan untuk menuangkan pikiran dalam tulisan.

“Tulislah apa saja,” saya mencoba memberi motivasi. Jangan dulu membebani pikiran dengan tulisan-tulisan yang berat, opini misalnya. Mulailah dari menulis apa yang dialami. Soal kisah jalan-jalan misalnya, kita bisa menulis dalam gaya bercerita. Menuangkan apa yang kita rasa selama bepergian ke suatu tempat jelas tidak perlu bahan referensi yang berta-berat. Tulis saja apa yang dialami.

Lanjutkan membaca “Lewat Blog Bisa Tampil di Metro TV”

Potensi Wisata Sitaro: Keindahan Yang Belum Termaksimalkan

Ronny-Buol---Nirwana-Mahoro

Menyambangi Sitaro tidaklah sulit. Apalagi sekarang ini sudah saban saat tersedia pelayaran dari Manado ke Sitaro. Trasnportasi laut merupakan satu-satunya penghubung antara kabupaten kepulauan tersebut dengan daerah lainnya.

Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (SITARO) merupakan kabupaten otonomi baru di Sulawesi Utara. Dulunya, Sitaro merupakan bagian dari Kabupaten Sangihe. Layaknya daerah kepulauan, Sitaro menyimpan sejuta potensi wisata bahari. Demikian pula dengan wisata alamnya. Sungguh indah, dan masih sangat alami.

Sebutnya saja, keindahan Pulau Mahoro yang berada dalam cluster Buhias. Keindahan pulau tak berpenghuni ini sungguh menakjubkan. Ebbie Vebri Adrian, seorang Travel Photographer profesional yang sudah mendatangi lebih dari 2000 destinasi di Indonesia dibuat kagum dengan keindahan pulau Mahoro. “Jika saya diminta membuat daftar 10 pantai terbaik di Indonesia, maka pantai pulau Mahoro masuk dalam daftar tersebut,” komentarnya ketika menginjakkan kaki pertama kali di Mahoro beberapa waktu lalu.

Lain lagi dengan Kamga, vokalis band Tangga tersebut tak habis herannya ketika menyambangi Lehi yang punya pantai berair panas. “Ini luar biasa! Selama saya menjadi host Explore Indonesia, baru kali ini saya menjumpai ada air laut yang panas seperti ini,” ujarnya. Sebagaimana diketahui, Kamga membawakan sebuah acara Travel di salah satu media tv swasta nasional.

Lanjutkan membaca “Potensi Wisata Sitaro: Keindahan Yang Belum Termaksimalkan”

Pantai Panas Lehi membuat Tim Explore Indonesia Kompas TV Terkagum-kagum

IMG_1696

Explore Indonesia merupakan salah satu acara Kompas TV yang mengexplore tempat-tempat indah dan unik di Indonesia yang sebelumnya belum pernah terexpose atau sudah dikenal namun ditampilkan dengan sesuatu yang baru.

Minggu kedua Oktober 2011, saya dihubungi bagian Creative dan Produser Explore Indonesia. Percakapan via telepon yang cukup lama itu menanyakan soal potensi yang dimiliki Kabupaten Kepulauan Sitaro. Beberapa tulisan saya mengenai keindahan pulau-pulau dijajaran Nusa Utara itu menarik perhatian mereka. Akhirnya kesepakatanpun dicapai, saya menemani perjalanan mereka ke Pulau Siau.

Dengan menggunakan Kapal Cepat Express Bahari, kami berangkat dari Pelabuhan Manado pada Selasa, 18 Oktober 2011. Kapal bertolak pukul 10.00 wita dengan cuaca yang sangat cerah. Begitu meninggalkan pelabuhan Manado, tim Explore Indonesia yang terdiri dari 4 personel itu sudah terkagum-kagum dengan laut dan langit yang sangat biru.

Tak tahan dengan keindahan itu, mereka pun melakukan pengambilan gambar di haluan kapal ketika melewati Pulau Manado Tua dan Bunaken. Host mereka, Kamga, yang juga vokalis group band Tangga harus berulang kali saya ajarkan untuk melafalkan dengan benar kata-kata seperti, Siau, Tagulandang, Biaro, Makalehi, Mahoro, Lehi dan beberapa tempat di Pulau Siau. Maklum, penyanyi yang satu ini keturunan Kamerun dan Palembang serta kental dengan dialek Jakarta.

Lanjutkan membaca “Pantai Panas Lehi membuat Tim Explore Indonesia Kompas TV Terkagum-kagum”

EKSOTIS BEBATUAN PANTAI-PANTAI DI SITARO

4R

Sebagai daerah kepulauan, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) yang berada dalam wilayah administrasi Provinsi Sulawesi Utara memiliki luas wilayah perairan laut sekitar 91% dari total 3.066,22 KM2 luas wilayahnya.

Dari luas daratan yang hanya 9% tersebut (275,96 KM2) kabupaten baru ini memiliki garis pantai sepanjang 154 KM. Sungguh merupakan garis pantai yang amat panjang dibanding dengan wilayah daratannya.

Tidak heran, sebagian besar penduduk dari kabupaten yang baru 2 tahun memekarkan diri dari kabupaten induk Sangihe ini, tinggal di wilayah pesisir.

Namun jangan membayangkan seperti didaerah berpantai di tempat lain, garis pantai di Kabupaten Kepulauan Sitaro memiliki karakteristik khusus dan unik.

Akibat dari kehadiran dua gunung berapi yang ada di Pulau Siau (GA. Karangetang) dan Gunung Api Ruang di Pulau Tagulandang dan pula dipengaruhi oleh letak kabupaten ini pada jalur labil sirkum pasifik, membuat garis pantainya sebagian besar merupakan bebatuan.

Lanjutkan membaca “EKSOTIS BEBATUAN PANTAI-PANTAI DI SITARO”

MAKALEHI – Misteri Tengkorak Tembo Yonding, Danau Eksotis dan Kehidupan Nelayan

Makalehi-1

Pulau Makalehi berada dibawah administrasi Kecamatan Siau Barat. Pulau ini merupakan pulau terluar dari Kabupaten Siau Tagulandang Biaro, bahkan merupakan salah satu dari 92 pulau terluar Indonesia.

Pulau ini berbentuk kerucut yang terpancung oleh letusan dahsyat Kala Pilo-Plistosen. Kawahnya terbuka ke arah barat daya. Mengakibatkan Pulau ini sangat indah dilihat dari udara yang merupakan perpaduan pasir pantai, bertemu birunya laut yang bergradasi dari muda ke tua.

Luas Pulau Makalehi + 300 Ha. Masyarakatnya 100 persen nelayan. Sehingga sangat ideal untuk menikmati wisata kehidupan masyarakat. Potensi hasil perikanan tangkap yang memadai merupakan salah satu objek yang patut diexplorasi. Masyarakatnya ahli membuat Kapal Pajeko (kapal penangkap ikan) dengan keterampilan alamiah.

Kawah dari pulau ini membentuk sebuah danau yang sangat indah untuk dinikmati dari atas bukit yang mengelilinginya. Hampir seluruh masyarakat Makalehi hidup di sekitar danau.

Lanjutkan membaca “MAKALEHI – Misteri Tengkorak Tembo Yonding, Danau Eksotis dan Kehidupan Nelayan”

TAGULANDANG – Potensi Buah Salak Yang Belum Termaksimalkan

E:\Design\wisata\Tagulandang.pm

Kalau anda memandang Pulau Siau dari arah laut, maka tersajilah hamparan Tanaman Pala yang hampir menutupi seratus persen lahan yang ada di Pengunungan Pulau Siau. Lain halnya dengan di Pulau Tagulandang, khususnya di Desa Bawuleo Kecamatan Tagulandang Utara. Sejauh mata memandang, hamparan tanaman Salak milik rakyat menjadi sajian yang menarik.

Lanjutkan membaca “TAGULANDANG – Potensi Buah Salak Yang Belum Termaksimalkan”

Hajatan Ekonomi yang Memberi Harapan

Bertempat di Hotel Quality Manado, dengan menyewa Ruang Bunaken dan Mantehage, Pemkab Sitaro yang dikoordinasi Bagian Ekonomi dan Pembangunan Setda, menggelar Forum Temu Pemerintah Sitaro dengan Kalangan Pengusaha dan Bisnis. Forum yang berlangsung pada Sabtu, 11 Oktober 2008 tersebut dibuat terbuka untuk kalangan pengusaha dari pukul 8 pagi sampai pukul 8 malam.

Beberapa pengusaha yang selama ini interest dengan usaha dan bisnis di Sitaro nampak hadir. Mereka berasal dari Sitaro sendiri, dari luar Sitaro, dari Pengusaha Pulau Jawa dan juga nampak hadir perwakilan pengusaha dari Batam, Singapura, Philipina, Hongkong, dan Malaysia. Juga hadir salah satu pelaku wisata yang berasal dari Italia. Kesemua Pengusaha dan Pebisnis yang hadir tersebut dilayani langsung oleh Bupati Toni Supit, Wakil Bupati Pite Kuerah dan Kepala-Kepala SKPD terkait.

Hadir pula memberikan dukungan penuh pada Forum tersebut beberapa anggota dewan Sitaro yang dipimpin langsung Ketua Dewan Denny Tindas. Dalam sambutan pengantarnya, Denny Tindas mengatakan bahwa Dewan sepenuhnya mendukung penuh langkah yang dilakukan oleh Pemkab tersebut. Dewan berjanji untuk berusaha menciptakan situasi dan kondisi yang terjamin, aman dan kondusif di Sitaro agar supaya usaha Pemkab menarik investor bisa berhasil.

Adapun Pejabat yang turut hadir pada Forum tersebut adalah, Assisten II, Kadis Perikanan/Kelautan, Kadis Perindag, Kadis Pertanian Perkebunan dan Peternakan, Kadis Pertambangan, Kadis Perhubungan Pariwisata dan Infokom, Kepala Bappeda, Kadis Keuangan Pendapatan dan Pengelolaan Aset Daerah, Kabag Ekbang, Kabag Humas.

Kabag Ekbang, Salindeho menjadi leader dalam dua sesi presentasi potensi yang dimiliki oleh Kab. Sitaro di ruang Mantehage. Dalam pemaparan tersebut, Kabag Ekbang menjelaskan kepada para pengusaha mengenai 3 sektor utama yang menjadi prioritas pengembangan di Sitaro, yakni, Tanaman Pala, Perikanan dan Pariwisata. Dari pemaparan dan diskusi tersebut para pengusaha mendapat banyak masukan dan data, serta tidak lupa mereka membagi pengalaman serta memberi masukan bagi Pemkab Sitaro dalam mempersipakan iklim investasi di Sitaro.

Pada kesempatan itu pula, foto-foto esklusif hasil jepretan Admin Blog Sitaro dipajang sebagai visualisasi keberadaan Kab. Sitaro. Tidak lupa pula divisualisasikan video profil yang dibuat admin blog sitaro pada tahun yang lalu.

Apa yang telah ditempuh oleh Pemerintah Baru Pemkab Sitaro melalui Bupati/Wakil Bupati ini perlu mendapat dukungan penuh dan telah memberi harapan kepada Kabupaten Kepulauan yang penuh dengan keterbatasan itu. Oleh karena itu, sitaro.wordpress.com memberi support penuh atas inisiatif menjual Sitaro kepada investor, walaupun hingga saat ini sitaro.wordpress.com belum mendapat dukungan resmi dari Pemkab Sitaro. Oleh karena itu, kami berusaha untuk menampilkan data-data mengenai potensi yang dimiliki oleh Pemkab Sitaro.

Beberapa Petikan Sambutan Ketua DPRD dalam Rapat Paripurna Istimewa dalam Rangka Acara Pelantikan Bupati/Wakil Bupati (2)

Sambutan mengakhiri Rapat:

Rapat Peripurna Istimewa, Hadiri yang berbahagia,

Demikianlah Acara Rapat Paripurna Istimewa Dewan dalam rangka Pengucapan Sumpah/Janji Jabatan dan Pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Kepulauan Siau Tagulandang Biaro Masa Jabatan 2008-2013 telah selesai dilaksanakan. Kami yakin dan percaya bahwa semua yang hadir di tempat ini bahkan seluruh masyarakat Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro sangatlah bersukacita, karena telah memiliki Bupati dan wakil Bupati pertama pilihan rakyat. Dan oleh karena itu kami yakin dan percaya bahwa Bupati dan Wakil Bupati Kepulauan Siau Tagulandang Biaro yang baru dilantik ini mampu memberikan yang terbaik bagi kemajuan daerah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro ini.

Kepada seluruh komponen masyarakat Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro, saya mengajak marilah kita tingkatkan kebersamaan, rapatkan barisan dan satukan persepsi dalam membangun Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro yang sama-sama kita cintai. Ada satau pepatah klasik yang mengatakan: “Biduk berlalu kiambang bertaut”, mencermati makna terdalam yang terkandung dalam pepatah kuno tersebut saya berharap kiranya segala perbedaan warna dan idola dimasa yang lalu hendaknya kita tinggalkan dan marilah bersama-sama kita menatap masa depan, karena Bapak Tonny Supit dan Bapak Piet Hein Kuerah sebagai Bupati dan Wakil Bupati bukan hanya untuk kelompok tertentu saja, tetapi adalah Bupati dan Wakil Bupati pilihan rakyat dan milik seluruh rakyat Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro.

Lanjutkan membaca “Beberapa Petikan Sambutan Ketua DPRD dalam Rapat Paripurna Istimewa dalam Rangka Acara Pelantikan Bupati/Wakil Bupati (2)”

Beberapa Petikan Sambutan Ketua DPRD dalam Rapat Paripurna Istimewa dalam Rangka Acara Pelantikan Bupati/Wakil Bupati

Sambutan Pembukaan Sidang:

…..hadirin yang berbahagia, Rapat Paripurna Istimewa Dewan yang terhormat,

Dengan berpedoman pada ketentuan pasal 109 ayat (4) Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 dan pasal 99 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 6 tahun 2005, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro telah menyampaikan kepada Gubernur Sulawesi Utara untuk diteruskan kepada Menteri Dalam Negeri usul pasangan calon bupati/wakil bupati terpilih berdasarkan Berita Acara Penetapan Pasangan Calon Terpilih dari Komisi Pemilihan Umum Daerah Kabupaten Kepulauan Sangihe dan dilengkapi Berkas Pemilihan untuk mendapatkan pengesahan pengangkatannya.

Lanjutkan membaca “Beberapa Petikan Sambutan Ketua DPRD dalam Rapat Paripurna Istimewa dalam Rangka Acara Pelantikan Bupati/Wakil Bupati”

Toni Supit, SE MM – Drs. Piet Hein Kuerah resmi menjadi Bupati

Ondong Siau, 8 September 2008

Melalui Rapat Paripurna Istimewa DPRD Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro, akhirnya Pasangan Toni Supit dan Drs. Piet Kuerah yang memenangi Pilkada Pertama di Kab. Kepl. Sitaro resmi dilantik menjadi Bupati dan Wakil Bupati Pertama Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro untuk masa jabatan 2008-2013.

Rapat yang dipimpin oleh Ketua Dewan, Drs. Denny CP. Tindas diawali dengan pembukaan sidang, kemudian dilanjutkan dengan Pembacaan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri RI tentang Pemberhentian Drs. Idrus Mokodompit sebagai Penjabat Bupati serta SK Mendagri RI tentang Pengangkatan Bupati dan Wakil Bupati.

Acara yang berlangsung di Aula Kadademahe, Ondong tersebut berlangsung mulai pukul 10.00 wita. Gubernur Sulawesi Utara, S.H. Sarundayang atas nama Presiden akhirnya mengambil sumpah dan janji jabatan Bupati dan Wakil Bupati Kepulauan SITARO untuk masa bakti 2008-2013. Setelah pengambilan sumpah, Gubernur atas nama Mendagri melantik Toni Suput dan Piet Hein Kuearh sebagai Bupati dan Wakil Bupati Pertama Negeri 47 pulau.

Pada saat pelantikan, nampak kedua pasangan tersebut terharu. Toni Supit tidak dapat menyembunyikan rasa terharunya, hal itu sangat kentara dari ekspresi wajahnya. Begitu pula saat Gubernur menyematkan tanda pangkat jabatan dan tanda jabatan serta menyerahkan petikan Keputusan Menteri Dalam Negeri RI kepada kedua pasangan tersebut. Sontak seisi Aula dan undangan serta masyarakat di luar gedung yang menyaksikan upacara pelantikan tersebut bertepuk tangan. Sitaro.Wordpress.Com yang hadir secara langsung (serta dipercaya untuk menangani live event) merasakan suasana haru dari masyarakat dan undangan yang hadir.

Dan, resmilah Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro memiliki Bupati dan Wakil Bupati Pertama pilihan rakyat yang dipilih secara langsung. Maju terus Sitaro, selamat buat Toni Suput dan Piet Hein Kuerah.

Karakteristik Gugusan Pulau Kecil (Archipelagic Islands) di Kabupaten Kepulauan SITARO

(Tulisan ini merupakan copyleft dari http://www.jchkumaat.wordpress.com)

Pengantar.

Kawasan pulau-pulau kecil memiliki potensi sumberdaya alam dan jasa lingkungan yang tinggi dan dapat Investasi7dijadikan sebagai modal dasar pelaksanaan pembangunan Indonesia di masa yang akan datang. Kawasan ini menyediakan sumberdaya alam yang produktif seperti terumbu karang, padang lamun (seagrass), hutan mangrove, perikanan dan kawasan konservasi. Pulau-pulau kecil juga memberikan jasa lingkungan yang besar karena keindahan alam yang dimilikinya yang dapat menggerakkan industri pariwisata bahari.

Dilain pihak, pemanfaatan potensi pulau-pulau kecil masih belum optimal akibat perhatian dan kebijakan Pemerintah selama ini yang lebih berorientasi ke darat (land based oriented). Pengembangan kawasan pulau-pulau kecil merupakan suatu proses yang akan membawa suatu perubahan pada ekosistemnya. Perubahan-perubahan tersebut akan membawa pengaruh pada lingkungan. Semakin tinggi intensitas pengelolaan dan pembangunan yang dilaksanakan berarti semakin tinggi tingkat pemanfaatan sumberdaya, maka semakin tinggi pula perubahan-perubahan lingkungan yang akan terjadi di kawasan pulau- pulau kecil. Pulau-pulau kecil penting artinya karena fungsinya sebagai sabuk penghubung, sabuk pengaman, dan sabuk ekonomi. Pemberdayaan fungsinya dapat ditempuh melalui sektor wisata bahari, perikanan, pertambangan, atau kehutanan. Jumlah pulau hasil perhitungan DISHIDROS tercatat 17.508 buah, maka pemberdayaan dapat dikembangkan melalui berbagai sektor sesuai dengan potensi pulau-pulaunya. Pulau-pulau kecil memiliki keunikan ekologis dengan potensi sumberdaya alam antar pulau bervariasi. Ekologis pulau kecil relatif homogen dengan posisi terisolir dan ekosistem laut mendominasi karakteristik pulau ini. Keunikan ini menawarkan suatu potensi yang menarik karena secara natural berbeda dengan pulau besar, sehingga memberi peluang diversifikasi upaya pembangunan. Lingkup pengelolaan dilakukan secara parsial disebabkan antara lain oleh paradigma pengembangan pulau dengan memanfaatkan keunikan suatu pulau. Kasus ini berefek pada ketidakseimbangan ekosistem antar pulau karena tidak ada keterpaduan pengelolaan di antara pulau-pulau tersebut. Di sisi lain, dirasakan bahwa pengembangan pulau-pulau kecil masih terabaikan dibandingkan pulau besar. Hal ini disebabkan oleh berbagai kendala seperti infrastrukturnya relatif kurang lengkap dan lebih sulit dicapai. Permasalahan ini diawali oleh ketiadaan informasi tentang karakteristik fisik dan sosial di tingkat perencana baik regional maupun nasional, sehingga hal ini dirasakan sebagai penghambat upaya pembangunan (Asriningrum, 2004).

Pengembangan dan pengelolaan pulau-pulau kecil pada dasarnya terkait dengan masalah tata ruang antar pulau. Jika di pulau besar penetapan rencana umum tata ruang menggunakan unit Daerah Aliran Sungai (DAS), maka di pulau kecil perlu menggunakan unit tertentu misalnya gugusan (entitas) pulau. Dari jumlah pulau 17.508 buah dipisahkan pulau-pulau yang termasuk pulau kecil dan dikelompokkan dalam unit-unit yang saling mendukung sehingga tercipta suatu keterpaduan. Dengan permasalah itu, maka pengaturan tata ruang pulau-pulau kecil perlu mendapat perhatian serius, termasuk pengadaan data dasar berupa data sosial, ekonomi, kependudukan, dan juga data fisik lahan.
Dari berbagai fakta di atas tentu pengelolaan pulau-pulau kecil perlu di perhatikan dengan melihat tingkat kerentanan dan kepekaan dari pulau tersebut. Adapun definisi dari pulau kecil seperti yang di kutip oleh Bengen dan Retraubun (2006) yang di tuangkan UNCLOS (1982, Bab VIII Pasal 121 Ayat 1) adalah: ” Pulau adalah massa daratan yang terbentuk secara alami, dikelilingi oleh air dan selalu berada/muncul di atas permukaan air pasang”. Selanjutnya, berdasarkan SK Menteri Kelautan dan Perikanan No 41 Tahun 2000 mendefinisikan lagi berdasarkan kondisi geografis dan perairan Indonesia , bahwa yang dimaksud dengan pulau kecil adalah “pulau yang mempunyai luas area kurang dari atau sama dengan 10.000 km2 , dengan jumlah penduduk kurang dari atau sama dengan 200.000 orang” (DKP, 2001 dalam Bengen dan Retraubun, 2006). Batasan yang sama pula seperti yang didefinisikan oleh Hess, 1990 dalam Bengen dan Retraubun, 2006 yang membedakannya adalah komposisi jumlah penduduk yang mendiami pulau tersebut kurang dari atau sama dengan 500.000 orang. Keterkaitan ekolologis pulau kecil tidak semata di pandang dari satu sisi saja akan tetapi juga di lihat bahwa pulau kecil adalah merupakan suatu sistem yang saling mengkait antar sitem yang satu dengan sistem yang lain. Dari sisi Geomorfologi kepesisiran tidak terlepas dari hubungan yang sangat erat antara ekosistem perairan pulau-pulau kecil. Oleh Retraubun (2002) juga Bengen dan Retraubun (2006) bahwa pulau-pulau di dunia di kelompokan menjadi lima (5), yaitu pulau benua, pulau vulkanik, pulau daratan rendah, pulau karang timbul dan pulau atoll. Selanjutnya, oleh Bengen dan Retraubun, 2006 memberikan klasifikasi dari pulau-pulau yang ada kedalam dua kelompok yaitu: kelompok pulau dataran yang terdiri dari tiga kelompok yaitu pulau aluvium, pulau karang/koral dan pulau atol. Kelompok pulau berbukit terdiri dari lima kelompok yaitu: pulau vulkanik, pulau tektonik, pulau teras terangkat, pulau petabah dan pulau genesis campuran. Secara geomorfologi kelompok-kelompok pulau ini adalah merupakan pulau-pulau yang khas dan memiliki sifat kondisi alam yang spesifik.
Sebagai ilustrasi, proses-proses darat dan laut yag terjadi di pulau-pulau kecil memiliki mekanisme yang khas contohnya pulau aluvial terbentuk oleh adanya sistem aliran sebagai pembawa sedimen di daerah berbatasan pantai. Sedimen ini awalnya berasal dari darat dan oleh adanya proses abrasi dan akresi, material ini diendapkan lagi ke darat oleh gelombang laut. Bentuklahan ini sebagian besar berupa hutan lahan basah dengan tumbuhan mangrove. Fungsi unit lahan ini sebagai penahan abrasi dan intrusi air laut dan tempat perkembangbiakan berbagai fauna bernilai ekonomis. Mengingat fungsi lahan ini, penentuan sebagai kawasan lindung akan menjaga ekologi lahan ini. Bentuk lahan perbukitan sisa terbentuk pada perbukitan yang mengalami proses denudasi lanjut.
Contoh yang lain, pengaruh efek pemanasan global yang mau tidak mau secara langsung menghantam keberlangsungan ekosistem perairan di pulau-pulau kecil seperti adanya coral bleaching akibat pengaruh pemanasan global El Nino. Dampak naiknya suhu air 1 – 1,250 Celsius dengan selang kepercayaan di atas 90 persen. Kenaikan ini akan memusnahkan semua spesies karang yang kita miliki karena hewan ini memiliki toleransi yang sangat sempit terhadap suhu maupun perubahan kedalaman. Akibatnya terjadi wabah coral bleaching (pemutihan karang) di seantero wilayah penyebarannya. Di Palau, salah satu tetangga kita, akibat kenaikan suhu, coral bleaching terjadi sampai kedalaman 90 meter. Populasi beberapa spesies karang berkurang sebanyak 99 persen dengan kerugian ekonomi (economic loss) diperkirakan sebanyak 91 miliar dollar AS. Indonesia bahkan akan mengalami kerugian berlipat ganda jika luas penyebaran karang kita dibandingkan dengan Palau (Retraubun, 2007). Selain itu pula, adanya ancaman abrasi dimana hilangnya nilai-nilai ekologis lahan pantai, di kutip dari laporan Retraubun (2007) bahwa kerusakan ekologis di pulau kecil cukup mengkhawatirkan. Dari hasil survei penamaan pulau di 22 provinsi sejak tahun 2005, ditemukan 24 pulau yang telah hilang secara fisik. Mereka tersebar di delapan ( 8) provinsi, 10 kabupaten, dan 12 kecamatan. Di Aceh, misalnya, tiga (3) pulau hilang karena tsunami, yaitu: Pulau Gosong Sanjai, Pulau Karang Linon Kecil, dan Pulau Karang Linon Besar. Di Kepulauan Riau dan Kepulauan Seribu (DKI Jakarta), semua pulau hilang karena penambangan pasir. Pulau-pulau di atas umumnya merupakan pulau yang datar (low-lying islands) yang memiliki ketinggian rata-rata 1 meter di atas permukaan laut dan selalu berasosiasi dengan ekosistem – ekosistem tropis. Interaksinya menghasilkan fungsi produksi dan jasa lingkungan lautnya. Output-nya, komoditas perikanan yang kita konsumsi serta tumbuhnya resor-resor di pulau. Maka, kehilangan pulau akan berdampak luas.

Pelingkupan Permasalahan, Kepekaan dan Kerentanan Pulau-pulau Kecil (Bengen dan Retraubun, 2006)

  • Secara ekologis pulau-pulau kecil amat rentan terhadap pemanasan global (global warming), angin topan dan gelombang tsunami
  • Pulau kecil memiliki banyak spesies-spesies endemik dan keanekaragaman hayati tipikal yang bernilai tinggi. Sehingga bila terjadi perubahan lingkungan maka akan sangat mengancam keberadaan spesies-spesies tadi
  • Pulau-pulau kecil memiliki daerah tangkapan air yang sangat terbatas sehingga ketersediaan air tawar merupakan faktor pembatas pembangunan
  • Pemanfaatan potensi sumberdaya laut dan alam yang belum optimal karena letak dan kondisi geografis yang jauh dan terisolir
  • Akibat letak yang jauh dan terisolir maka kebanyakan pulau –pulau kecil tersebut tidak berpenghuni atau lebih banyak di manfaatkan oleh penduduk pulau sekitar sebagai lahan pertanian dan perkebunan
  • Jaringan transportasi dan aksesibilitas merupakn salah satu permasalahan yang sangat besar dalam pengembangan pulau-pulau kecil
  • Lemahnya pengawasan dan pengamanan di pulau-pulau kecil, diantaranya adalah adanya kegiatan ilegal (pembuangan limbah, penyeludupan, penangkapan ikan karang, pencurian jenis biota laut penting, penambangan pasir laut) akibat letak pulau yang terpencil
  • Diperlukan investasi yang besar bagi pengembangan, pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya pulau kecil sehingga tidak menjadi prioritas pembangunan
  • Terbatasnya dana bagi pengelolaan dan pengembangan pulau-pulau kecil
  • Belum adanya klasifikasi menyangkut keadaan biofisik, sosial ekonomi terhadap pulau-pulau kecil yang dapat digunakan sebagai acuan dalam pengelolaan atas lokasi sumberdaya alam agar lebih efektif

Morfogenesis Gugusan Pulau Kecil (Archipelagic Islands) di Kabupaten SITARO

Provinsi Sulawesi Utara, memiliki 258 pulau kecil yang sudah secara resmi di daftarkan di badan dunia PBB dan telah diverifikasi secara detil. Sedangkan, kabupaten SITARO memiliki tiga (3) gugusan pulau yaitu : Gugusan Pulau Siau dan pulau-pulau sekitarnya yaitu: P. Siau Besar, P. Gunatin, P. Pahepa, P. Kapuliha, P. Masare, P.Mahoro, P. Laweang, gugusan pulau Sanggeluhan (terdiri dari: P. Bawondeke dan P. Sanggeluhang), P. Makalehi; Gugusan Pulau Tagulandang dan pulau-pulau sekitarnya terdiri dari: P. Taggulandang, P. Passige dan P. Ruang dan yang terakhir adalah Gugusan Pulau Biaro dan pulau-pulau sekitarnya P. Biaro, P. Kalukughi, P. Tandukuhang, P. Tumbonang Besar P. Seba Besar dan P. Salangka . Sebanyak 33 buah pulau dimana 10 pulau yang berpenghuni dan 22 pulau yang tidak berpunghuni dan Pulau Makalehi adalah pulau terluar di daerah ini lewat penetapan Peraturan Presiden No. 78 tentang pengelolaan pulau-pulau kecil terluar.
Keberadaan morfologi gugusan kepulauan SITARO adalah merupakan proses geologis yang panjang disertai dengan rentetan evolusi dari sistem perubahan lempeng samudera yang berada di laut Sulawesi. Keberadaan lempengan ini menyebabkan gugusan pulau Sitaro memberikan sifat endemik (bio-fisik) dari komposisi fisik pulau-pulau kecil tersebut. Seperti yang terlihat pada gambar 1 bahwa jejaring gugusan pulau-pulau Siau, Tagulandang dan Biaro adalah merupakan pulau-pulau vulkanik di awali dengan pulau Biaro yang adalah rangkaian terluar dari sisi selatan gugusan pulau Sitaro, kemudian pulau Tagulandang dengan adanya Gunung Ruang serta keberadaan pulau Siau sendiri yang memiliki Gunung Karangetang.
Sejalan dengan pemanasan global (global warming) yang telah memicu terjadinya kenaikan paras laut global (eustatik sea level rise), dimana menurut Asian Development Bank (2001), Indonesia diprediksikan akan mengalami pemansan suhu sebesar 0.4 – 3.00 C dan kenaikan muka laut sebesar 15 – 90 cm pada tahun 2010 (Gambar 2). Issu ini merebak dengan makin meningkatnya tekanan dari laut itu sendiri, maka diperlukan pengelolaan efektif pulau-pulau kecil yang arif dan selaras dengan potensi sumberdaya alam yang ada.
Beberapa cara untuk mengetahui naiknya paras laut adalah dengan suatu pengembangan model berbasis spasial yang dapat memprediksikan dampak kenaikan paras laut di pesisir pulau-pulau kecil di masa yang akan datang. Model yang dikembangkan adalah model prediksi pemunduran garis pantai (shoreline reatret model) sebagai dampak dari kenaikan muka laut berbasis SIG dalam beberapa skenario. Adapun persyaratan di dalam pengembangan model perubahan garis pantai oleh Hennecke et al (2004) mendasarkan kepada beberapa kriteria:
• Meskipun model ini telah memperhitungkan komponen sedimentasi termasuk juga dampak sedimentasi karena arus menyusur pantai, diterapkan pada pantai semi tertutup, model ini belum mempertimbangkan model ketidakpastian (uncertainty), menambahkan komponen edimentasi secara terpisah (tidak dalam satu persamaan) sehingga tidak dapat memperlihatkan dampak positif atau negatif dari naiknya muka air laut atau sedimentasi pada perubahan garis pantai.
• Menggunakan kenaikan muka air laut versi IPCC (2001) dan tidak memperhitungkan kenaikan muka air laut lokal dan regional, dan
• Kajian fisik masih bersifat statis.

Sehingga oleh Sutrisno (2006) membatasi peluang untuk memodifikasi model perbahan garis pantai di pulau-pulau kecil sesuai dengan kebutuhan lokal didasari oleh beberapa skenario di bawah ini:
• Menggambungkan komponen sedimentasi ke dalam satu persamaan (perhitungan laju akumulasi sedimen, volume endapan per tahun sedimen dan transport aliran litoral).
• Modifikasi model ini di kombinasikan dengan pengurangan komponen sedimen, sehingga dampak positif dan negatif dari kombinasi naiknya muka air laut dan sedimentasi terhadap wilayah pesisirnya dapat terlihat jelas.
• Model dikembangkan secara dinamis (dynamic system) dan memperhitungkan komponen ketidakpastian dari unsur-unsur paras laut (MSL) dan sedimentasi  10 tahun pengamatan pasang surut.
• Naiknya muka laut di hitung dengan menggunakan data pasang surut stasiun lokal.
Dengan demikian, secara keseluruhan dampak dari kenaikan muka air laut hubungannya denga kondisi morfologi pantai pulau-pulau kecil dapat di ketahui dan diprediksi dengan membuat skenario-skenario terbaik dengan meminimalisasikan sknario terburuk yang akan terjadi. Pada kenyataannya pembukaan lahan mangrove untuk pertambakan, penambangan karang serta gejala overfishing dan lain sebagainya, memiliki keterkaitan dengan meningkatnya paras air laut yang mengakibatkan kerugian secara ekonomis yang tidak terhingga.
Penutup.
Menata ruang pulau-pulau kecil membutuhkan peran dari masyarakat lokal dan dukungan dari berbagai pihak seperti pemerintah pusat dan daerah serta kalangan akademisi. Issu yang berangkat dari menaiknya massa permukaan laut yang akan mengakibatkan hilangnya gugusan pulau-pulau kecil ini perlu di kaji secara ilmiah. Diperhadapkan dengan situasi demikian tulisan ini mencoba menggambarkan adanya keterkaitan antara sifat morfogenesis pulau – pulau kecil hubungannya dengan naiknya paras laut global (eustatic sea level rise). Oleh karena itu, masih perlu adanya penelitian yang lebih komprehensif dan mendalam untuk mempelajari sifat-sifat massa air laut seperti island wakes, eddies, vortex current dan aliran lokal seperti littoral transport dan tidal current secara real time. Demikianpula dengan keberadaan pulau-pulau kecil perlu di kaji ”genetic building” dan ”physical character” sehingga dapat menjawab masalah-masalah kepesisiran.

DAFTAR PUSTAKA
Asriningrum, W. 2004. STUDI IDENTIFIKASI KARAKTERISTIK PULAU KECIL MENGGUNAKAN DATA LANDSAT DENGAN PENDEKATAN GEOMORFOLOGI DAN PENUTUP LAHAN: Studi Kasus Kepulauan Pari dan Kepulauan Belakangsedih. Makalah pribadi.
Bengen, D.G dan Retraubun, A.W.S. 2006. Menguak Realitas dan Urgensi Pengelolaan Berbasis Eko-Sosio Sistem Pulau-Pulau Kecil. Pusat Pembelajaran dan Pengembangan Pesisir dan Laut (P4L). ISBN 979-98867-2-4.
Harvey, N.,M. Rice and L. Stephenson, 2004.Global Change Coastal ZoneManagement Synthesis Report. Asia-Pacific Network for Global Change Research, APN Secretariat, Chuo-ku, Kobe, 37 pp.
Retraubun, A.S.W. 2002. Pulau-pulau Kecil di Indonesia. Data dan Masalah Pengelolaannya. Makalah Lokakarya dalam rangka Penetapan Luas TerumbuKarang, Panjang Pantai, dan Jumlah Pulau di Indonesia Berdasarkan Data Penginderaan Jauh. oleh COREMAP. LIPI.
Retraubun, A.S.W. 2007. Pulau Kecil ditegah Pemanasan Global. Harian Kompas tanggal 2 Juni 2007
Sutrisno, D. 2005. DAMPAK KENAIKAN MUKA LAUT PADA PENGELOLAAN DELTA: Studi Kasus Penggunaan Lahan Tambak di Pulau Muara ulu Delta Mahakam (Disertasi, 2005)

Biodata Penulis.
Joyce Christian Kumaat, S.Pi,M.Sc. Dosen di Jurusan Geografi Universitas Negeri Manado dan sekarang tercatat sebagai mahasiswa program Doktor di School of Graduate Studies, Bogor Agricultural University dengan Mayor Sistem dan Pemodelan Sumberdaya Perikanan Tangkap (SPT). Tamat pendidikan Sekolah Menengah Atas Tahun 1990 di SMA Kr Tomohon. Gelar Sarjana Perikanan (S.Pi) dari Program Studi Ilmu Kelautan Tahun 1995 dengan konsentrasi penelitian morfologi pantai di Fakultas Perikanan, Universitas Sam Ratulangi. Gelar Master of Science dari Dipartimento Scienze del mare Tahun 2005 dengan fokus penelitian pemetaan geomorfologi terumbu karang di Facolta di Scienze, Universita Politecnica delle Marche Ancona, Italia (Kerjasana dengan Universitas Sam Ratulangi dan Universita degli studi di Genova). Sebagai konsultan perencana di bidang sumberdaya air khususnya perencanaan pengamanan pantai, sejak tahun 1996 – sekarang untuk kajian hidro-oseanografi dan pemodelan spasial Sistem Informasi Geografis (SIG) di wilayah pesisir. Keanggotaan Organisasi Profesi: Anggota HATHI (Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia) Cabang Sulawesi Utara, ASPISIA (Asosiasi Penyelam Ilmiah Seluruh Indonesia), FORPELA, CMAS/POSSI, SSI dan PADI.