BATUWINGKUNG

_mg_0012
#49~365

Seorang nelayan dengan perahu khas daerah Sanger, bersiap melaut di sekitar pulau Batuwingkung.

Batuwingkung adalah pulau yang berada di Kecamatan Tabukan Selatan, Kabupaten Sangihe Sulawesi Utara. Ada satu kampung di pulau itu, yang penduduknya merupakan nelayan paruh waktu. Jika laut sedang berombak, mereka berkebun.

Nelayan di Batuwingkung juga dikenal sebagai nelayan pemburu Hiu hingga ke perairan Kabupaten Sitaro dan Talaud.

Orang Sanger sebagian besar menggantungkan hidup mereka dari bahari, hingga mereka memiliki pengetahuan yang tinggi dalam membuat perahu. Pengetahuan itu didapat secara turun menurun.

Baca juga: Marisa, Bidan Kontrak di Batuwingkung yang Sering Talangi Obat Pasien; Bagi Mereka, Perahu Adalah Kenderaan Mewah; Membangun Harapan dari Pengelolaan Kawasan Pesisir di Pulau-pulau Sangihe

#batuwingkung #sangihe #sanger #bahari #sea #boat #ship #sunset #sunrise #ocean #jurnal_rb #merasakanindonesiamu #perahu #nelayan #fisherman

JUBI

_mg_9966

#17~365

Dua bocah ini baru saja selesai ‘bajubi’ di perairan dangkal berterumbu karang di pulau Kawaluso, Kecamatan Kepulauan Marore, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara.

Bajubi, merupakan salah teknik tangkap ikan tradisional dengan cara memanah ikan sambil menyelam. Sama halnya dengan senjata panah yang dibuat secara tradisional itu, para nelayan di Nusa Utara melakukan penyelaman juga hanya dengan peralatan sangat sederhana. Cukup sebuah kacamata yang dibuat dari kayu.

Walau pun dalam beberapa kearifan lokal ada nilai-nilai yang perlu diperbaiki, namun pendidikan di sekolah yang menjauhkan mereka dari cara-cara tradisional yang diwarisi, tentu pula harus diperdebatkan.

Acap kali, mata pelajaran di sekolah (dasar, terutama) justru menjauhkan anak-anak dari nilai lokal tradisi dan budaya mereka.

#jurnal_rb #child #children #kawaluso #sangihe #sea #fish #laut #ocean #fishing #fisherman #jubi #culture

TERIK

_mg_9848

#15~365

Para pelajar Sekolah Dasar di pulau Kawuso ini, berhenti sejenak, dan saling memberi minum, saat pulang sekolah.

Sekolah mereka yang berlokasi di bawah bukit sementara rumah mereka berada di atas bukit, membuat perjalanan pulang sekolah menjadi aktifitas yang menguras tenaga. Apalagi kemiringan jalan yang harus dilalui mencapai 45 derajat, dan iklim yang cukup panas di salah satu Pulau Terluar yang berada di wilayah Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara itu.

Namun walaupun begitu, semangat pelajar di daerah perbatasan NKRI ini, mampu mengalahkan keterbatasan yang ada di pulau mereka.

Teringat kami yang menyesal karena menampik tawaran diantar dengan motor ke lokasi Balai Desa, karena mengira jalannya tak seterjal yang dikira.

(Mengenai Kawaluso ada di postingan sebelum ini)

#jurnal_rb #kawaluso #pulau #island #pulau_terluar #sangihe #child #anak-anak #pelajar #nkri #merasalanindonesiamu #inspirasipendidikan #inspirasinegeri #pendidikan #education #natgeoindonesia #pesonaindonesia #ngi

KAWALUSO

_mg_9685

#14~365

Dua bocah kakak beradik ini tertidur lelap di hammock yang dibuat dari jaring ikan, yang diikat oleh ayah mereka di pohon kelapa di Pulau Kawaluso.

Kawaluso merupakan satu dari 11 pulau terluar di wilayah Sulawesi Utara yang memiliki luas wilayah 0,9 km2. Di pulau ini terdapat Titik Dasar nomor TD.053A  dan Titik Referensi nomor TR.053. Letak geografis pulau ini berada di Utara Pulau Sangihe dan secara administrasi berada di Kecamatan Kepulauan Marore, Kabupaten Kepulauan Sangihe.

Penduduk kampung Kawaluso tidak lebih dari 1000 jiwa dengan mata pencaharian utama sebagai nelayan, dan petani jika laut sedang ombak tinggi. Hasil pertanian  berupa bahan makanan hanya untuk keperluan /konsumsi sendiri seperti sagu, bete atau talas dan singkong.

Menurut tuturan dari Tua-tua Kampung, penduduk Desa Kawaluso mulai ada sekitar tahun 1800 an.  Pada zaman penjajahan Belanda seorang yang bernama Mamudi dibuang oleh pemerintah Belanda karena diketahui sebagai dukun yang melakukan praktek ilmu hitam. Kemudian menyusul Taguriri seorang pengembara yang berasal dari Tahuna (namun ada juga yang mengatakan dari Siau) yang kemudian menetap dipulau Kawaluso.  Setelah Taguriri, datang lagi seorang pengembara yang bernama Takumansang dari Kendar Sawang, yang kemudian membentuk suatu komunitas dan lama kelamaan berkembang menjadi suatu kampung.

Pulau Kawaluso merupakan pulau yang fisiografisnya terdiri dari perbukitan dan sedikit dataran. Komposisi lahan pulau ini terdiri dari lahan basah, lahan kering, semak, belukar, lahan terbuka, dan terumbu karang. Sebagian besar daerah perbukitan dipergunakan sebagai lahan perkebunan, selebihnya mulai ditanami dengan tanaman palawija.

Keadaan Pulau yang hampir seluruhnya berbukit ini memiliki kemiringan lereng berkisar antara 30º – 50º.  Pulau Kawaluso dulunya dikelilingi oleh karang yang berbentuk seperti kawat yang dalam bahasa Sangihe disebut huso.
Dari 11 pulau terluar yang ada di Sulut, 10 pulau sudah saya datangi. Semoga tahun ini berkesempatan mengunjungi 1 pulau lagi.

#sangihe #sanger #pulau #island #pulau_terluar #border_area #kepulauan #jurnal_rb #child #children #anak #instachild #insta #merasakanindonesiamu

Bagi Para Pelajar di Sangihe Ini, Perahu adalah Kendaraan Mewah Menuju Sekolah

MENDAYUNG - Dua pelajar ini harus mendayung perahu menyeberangi lautan untuk menuju sekolah mereka di Pulau Batuwingkung, Sangihe.
MENDAYUNG – Dua pelajar ini harus mendayung perahu menyeberangi lautan untuk menuju sekolah mereka di Pulau Batuwingkung, Sangihe.

SANGIHE  – Kabut sisa semalam masih belum beranjak. Namun, Novi dan Atris harus segera bangun. Mereka bergegas dan harus lebih awal.

Seragam sekolah menengah pertama (SMP) mereka simpan di dalam tas sekolah. Seperti biasanya, setiap pagi mereka mengenakan jaket lebih dulu.

Maklum dingin masih menusuk, karena mereka harus menyeberang lautan. Tak ada pilihan lain untuk menuju ke sekolah mereka di pulau Batuwingkung.

Setiap hari mereka harus bolak balik mendayung perahu sendiri dari Kampung Kendong dan Paraleng untuk pergi dan pulang sekolah. Butuh waktu sekitar 30 menit untuk tiba di Batuwingkung.

“Kalau lagi musim ombak, kadangkala kami harus basah. Makanya nanti pakai seragam kalau sudah tiba di Batuwingkung,” ujar Novi, Rabu (4/5/2016) yang bersama Atris duduk di bangku kelas 7 SMP Negeri 2 Satu Atap Tabukan Selatan di Batuwingkung.

Lanjutkan membaca “Bagi Para Pelajar di Sangihe Ini, Perahu adalah Kendaraan Mewah Menuju Sekolah”

Marisa, Bidan Kontrak di Pulau Batuwingkung yang Sering Talangi Obat Pasien

PENGABDIAN - Marisa Siagian berfoto usai melayani pasien di pulau Batuwingkung, Sangihe.
PENGABDIAN – Marisa Siagian berfoto usai melayani pasien di pulau Batuwingkung, Sangihe.

SANGIHE — Siang itu panas terik menyengat di pulau Batuwingkung. Sebuah desa di Kecamatan Tabukan Selatan, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Perlu menyeberang lautan dengan perahu dari daratan Sangihe untuk ke Batuwingkung.

Namun terik itu tak menyurutkan langkah Marisa Siagian (27), mengunjungi seorang anak kecil. Bidan kontrak itu harus melewati jalan setapak naik turun. Maklum pasien terbaring dan tidak bisa dibawa ke Puskesmas Pembantu (Pustu).

“Bocah ini sudah beberapa hari panas tinggi,” ujar Marisa sambil menyeka peluhnya, Rabu (4/5/2016). Sejurus kemudian, wanita cantik ini lalu mengerjakan tugasnya. Memeriksa pasien dan memberikan obat yang diperlukan.

Usai menangani bocah itu, Marisa lalu beranjak ke rumah warga lainnya. Seorang wanita paruh baya telah menanti kunjungannya, mengharapkan pemeriksaan kesehatan dari lulusan Politeknik Kesehatan Manado itu.

Lanjutkan membaca “Marisa, Bidan Kontrak di Pulau Batuwingkung yang Sering Talangi Obat Pasien”

Membangun Harapan Pengelolaan Pesisir dari Pulau-Pulau di Sangihe

SOSIALISASI - Staff dari Perkumpulan Sampiri sedang memberikan pemahaman mengenai laut dan wilayah pesisir kepada Siswa SMPN 2 Satap Tabukan Selatan di Batuwingkung.
SOSIALISASI – Staff dari Perkumpulan Sampiri sedang memberikan pemahaman mengenai laut dan wilayah pesisir kepada Siswa SMPN 2 Satap Tabukan Selatan di Batuwingkung.

SANGIHE, KOMPAS.com – Raut wajah Risno Mangune (32) terlihat gembira pagi itu. Hujan yang dinanti turun juga. Bak-bak penampungan air di pulau Batuwingkung terisi lagi.

Batuwingkung merupakan desa yang berada di kecamatan Tabukan Selatan, Kabupaten Sangihe, Sulawesi Utara. Risno telah menjadi kepala desa selama satu periode, bagi 423 jiwa penduduk di pulau itu.

“Hujan sudah jarang turun di sini. Sumber air berkurang, sumur warga banyak yang kering. Kemarau tahun lalu sangat berpengaruh,” keluh Risno saat menjemput Tim dari Perkumpulan Pemberdayaan Masyarakat dan Koservasi Alam (YAPEKA), Kamis (5/5/2016).

YAPEKA bersama Perkumpulan Sampiri Sangihe memilih pulau Batuwingkung menjadi salah satu target pengembangan program pengelolaan wilayah sumber daya pesisir dan laut berbasis masyarakat. Lanjutkan membaca “Membangun Harapan Pengelolaan Pesisir dari Pulau-Pulau di Sangihe”

Foto Story: Upacara Adat Tulude Sulawesi Utara – 2016

Pemerintah Sulawesi Utara melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, menggelar Upacara Adat Tulude tingkat provinsi tahun 2016. Gelaran yang bekerjasama dengan berbagai komunitas Nusa Utara di Sulut itu, dilaksanakan di Lapangan KONI Manado, pada sabtu (6/2/2016).

Walau tidak terlalu meriah, tetapi berbagai simbol budaya seperti Kue Tamo, pakaian adat, musik bambu, tarian gunde, masamper dan sebagainya, ditampilkan pada gelaran Tulude tersebut.

Hadir pula Penjabat Gubernur Sulut Soni Soemarsono, Kapolda Sulut Wilmar Marpaung, Penjabat Walikota Manado Roy Roring dan sejumlah pejabat lainnya.

Berikut beberapa foto yang sempat saya abadikan:

Julius Kalinge (77), warga Teling, Manado, asal Tamako, Sagihe dengan alat musik Tangonggong yang akan dimainkannya dalam Gelar Upacara Adat Tulude yang diselanggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Utara yang bekerjasama dengan berbagai Komunitas Masyarakat Nusa Utara, Sabtu (6/2/2016) di Lapangan KONI Manado.
Julius Kalinge (77), warga Teling, Manado, asal Tamako, Sagihe dengan alat musik Tangonggong yang akan dimainkannya dalam Gelar Upacara Adat Tulude yang diselanggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Utara yang bekerjasama dengan berbagai Komunitas Masyarakat Nusa Utara, Sabtu (6/2/2016) di Lapangan KONI Manado.
Julius Kalinge (77), warga Teling, Manado, asal Tamako, Sagihe dengan alat musik Tangonggong yang akan dimainkannya dalam Gelar Upacara Adat Tulude yang diselanggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Utara yang bekerjasama dengan berbagai Komunitas Masyarakat Nusa Utara, Sabtu (6/2/2016) di Lapangan KONI Manado.
Julius Kalinge (77), warga Teling, Manado, asal Tamako, Sagihe dengan alat musik Tangonggong yang akan dimainkannya dalam Gelar Upacara Adat Tulude yang diselanggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Utara yang bekerjasama dengan berbagai Komunitas Masyarakat Nusa Utara, Sabtu (6/2/2016) di Lapangan KONI Manado.

Lanjutkan membaca “Foto Story: Upacara Adat Tulude Sulawesi Utara – 2016”

Mendongeng Bakeng

Iverdixon tinungkiOleh : Iverdixon Tinungki

Terkisahlah cerita lama di kabut mega
Selaksana anak taufan menghamburkan pasir
Menerjang mata para raja dan sultan

Sebuah dongeng, sebuah perlawanan! Sebuah daya yang niscaya. Sebuah creativity yang memungkinkan hadirnya entitas aktual. Karena di balik maknanya, –mengacu semiotika de Saussure — terdapat suatu system yang rumit dan kompleks sebagai pembentuknya.

Maka tersebutlah di suatu masa, Ansuang Bakeng (Raksasa Bakeng) bertahta sebagai penguasa. Raja diraja, di tanah Sangihe. Permaisurinya Boki, perempuan suka pesta, dan hidup mewah. Ketika kisah ini dicipta, anaknya masih kanak-kanak. Diberi nama Watairo. Tapi rakyat hanya boleh menyapanya Batairo.
Entah apa penyebab huruf “W” menjadi “B”. Tak ada penjelasan. Tapi, terasa ada gelagat tersembunyi terbebat. Semacam kombinasi antara konsep dan citra bunyi yang melahirkan tanda (sign) sebagai penanda (signifie). Seperti guru dipanggil “tuang guru” (tuan guru), pejabat disebut “tuang labo” (tuan besar), pejabat tinggi, penguasa dan ninggrat disebut “manga mawu” (para tuhan). Dan ironis, kaum jelata disebut “manga dempuge” (para rumput), lebih leceh lagi, “manga nune” (para tak beradab).

Generasi kini barangkali menyangka, perubahan kata itu sekadar symbol perangai kekuasaan lama. Kekuasaan yang mendudukkan rakyat sebagai pihak yang selalu keliru dan salah. Bodoh dan tak berdaya. Sampai-sampai di mulut pun tak boleh ada kata terlafal benar. Rakyat dilarang berfikir dengan bahasa, dan kata-kata harus lumpuh sejak awal. Seperti gelagat polisi menghardik tersangka: “Diam! Kau berani melawan petugas!”. Tersangka, yang keliru dan yang tidak keliru sama-sama terpaksa bungkam. Terpuruk dalam “kebudayaan bisu”, sitir Freire.

Lanjutkan membaca “Mendongeng Bakeng”

Pelajaran Ekstrakurikuler Mereka Menanam Padi

Nampak dari kejauhan serombongan anak-anak belia itu sedang asyik bermain lumpur. Sambil bercanda, mereka membungkukkan badan dalam barisan teratur. Setelah Tim 12 Days Exploratory Photo Expedition mendekat, baru ketahuan, ternyata mereka sedang menanam padi.

Anak-anak itu merupakan murid kelas 2 SMP Negeri 2 Manganitu Selatan. Tepatnya berada di Desa Laine. Sebuah kampung tua di Kabupaten Sangihe. Mereka tidak sedang bermain, tetapi sedang belajar. Ya, sore itu mereka sedang belajar mata pelajaran pembudidayaan tanaman yang masuk dalam kegiatan ekstrakurikuler.

Setiap hari Sabtu, guru mereka mewajibkan anak-anak ini turun ke sawah. Belajar memanfaatkan lahan serta mengolahnya menjadi sawah. Daerah Nusa Utara (Kab. Sangihe, Kab. Talaud dan Kab. Sitaro) di Sulawesi Utara memang tidak terlalu akrab dengan areal persawahan. Kontur tanah yang berbukit-bukit serta pasokan air yang kurang, membuat penduduk kesulitan mengolah lahan kosong menjadi sawah.

Lanjutkan membaca “Pelajaran Ekstrakurikuler Mereka Menanam Padi”

Latar Belakang Sejarah Daerah Sangihe Talaude (versi Suendumang)

Sebelum digabung, daerah ini terdiri dari dua gugusan kepulauan, yaitu: Kepulauan Sangihe dan Kepulauan Talaude.Yang disebut Kepulauan Sangihe meliputi Pulau Taghulandang dengan pulau-pulau kecil disekelilingnya; Pulau Siau dengan pulau-pulau kecil disekelilingnya dan Pulau Sangihe Besar dengan pulau-pulau kecil disekelilingnya.

Sedangkan yang disebut dengan Kepuluan Talaude ialah: Pulau Karakelang, Pulau Salibabu, Pulau Kabaruan dan Pulau-Pulau Nunusa termasuk Pulau Miangas.

Pemerintahan pada dua gugusan kepulauan ini sebelm penjajahan adalah sebagai berikut:

Di Kepulauan Sangihe, pada akhir abad ke-XVII, pemerintahan berhubungan dengan Kesultanan Ternate, tapi sebelum waktu itu adalah pemerintahan yang merdeka.

Sedangkan Kepulauan Talaude berhubungan dengan Kerajaan Mojopahit.  Hal ini terlihat dalam syair Prapanca pada Kitab Negarakartagama pada Zaman Gajahmada (th. 1364), bahwa Talaud didalam syair bahasa Jawa tersebut disebut sebagai Udamakatrayadhi atau Udamakatraya. (buku Mr. M. Yamin yang berjudul Gajahmada Pahlawan Persatuan Nusantara, hal. 48-50).

Penggabungan dua gugusan kepulauan ini, yaitu Kepl. Sangihe dan Kepl. Talaude sehingga menjadi Sangihe Talaude nanti terjadi pada abad ke XVIII, setelah Kepl. Talaude tahun 1779 ditemukan oleh bangsa Belanda dan secara resmi disebut Daerah / Kepulauan Sangihe-Talaud.

Derah Sangihe Talaud dimasukkan ke dalam keresidenan Manado, nanti pada tahun 1825, yaitu setelah seluruh kepulauan ini dilepaskan dari Kesultanan Ternate, sehingga dengan keadaan ini maka penetapan raja-raja mulai tahun 1825 sudah bukan lagi di Ternate, melainkan di Manado.