Bangsa Pelupa

Gedung-Tua Bukan anti modernisasi. Tidak ada yang bisa menolak arus modernisasi, apalagi yang tinggal di perkotaan. Bahkan, bangsa kita harus dipacu untuk menghasilkan karya-karya kreatif dan modern agar bisa sejajar dengan negara lain. Namun modernisasi yang sering diidentikan dengan pembangunan berkelanjutan akan menjadi kehilangan makna jika harus menghancurkan atau menggusur nilai-nilai kesejarahan yang kita miliki. Nilai-nilai itulah yang telah menjadi sumber kearifan lokal selama ini.

Sebuah adagium, “lupa kacang akan kulitnya” mungkin bisa menggambarkan kondisi bangsa kita saat sekarang kaitannya dengan ingatan masa lalu. Adagium itu identik dengan reportoar “Petruk Dadi Ratu.” Sebuah lakon yang menggambarkan Petruk yang jelata sedang berada diatas tahta kekuasaan dengan memangku perempuan sexy nan bahenol, sambil mencekik botol minuman keras. Lakon yang merepresentasikan ikon jahat betapa kekuasaan, uang dan perempuan bisa membuat orang lupa akan kesejatiaan dirinya.

Milan Kundera, Novelis asal Rusia itu pun pernah bilang bahwa salah satu perjuangan terberat manusia adalah perjuangan melawan lupa. Kita memang bangsa pelupa. Berbagai fenomena kekerasan yang menguras kesenduhan dan tragis mengoyak bangsa ini semakin membenarkan bahwa kita sedang hidup dan berkawan dengan sesama bangsa yang suka lupa. Kita hampir selalu lupa dengan sejarah bangsa kita sendiri.

Lanjutkan membaca “Bangsa Pelupa”