JUBI

_mg_9966

#17~365

Dua bocah ini baru saja selesai ‘bajubi’ di perairan dangkal berterumbu karang di pulau Kawaluso, Kecamatan Kepulauan Marore, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara.

Bajubi, merupakan salah teknik tangkap ikan tradisional dengan cara memanah ikan sambil menyelam. Sama halnya dengan senjata panah yang dibuat secara tradisional itu, para nelayan di Nusa Utara melakukan penyelaman juga hanya dengan peralatan sangat sederhana. Cukup sebuah kacamata yang dibuat dari kayu.

Walau pun dalam beberapa kearifan lokal ada nilai-nilai yang perlu diperbaiki, namun pendidikan di sekolah yang menjauhkan mereka dari cara-cara tradisional yang diwarisi, tentu pula harus diperdebatkan.

Acap kali, mata pelajaran di sekolah (dasar, terutama) justru menjauhkan anak-anak dari nilai lokal tradisi dan budaya mereka.

#jurnal_rb #child #children #kawaluso #sangihe #sea #fish #laut #ocean #fishing #fisherman #jubi #culture

Foto Story: Upacara Adat Tulude Sulawesi Utara – 2016

Pemerintah Sulawesi Utara melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, menggelar Upacara Adat Tulude tingkat provinsi tahun 2016. Gelaran yang bekerjasama dengan berbagai komunitas Nusa Utara di Sulut itu, dilaksanakan di Lapangan KONI Manado, pada sabtu (6/2/2016).

Walau tidak terlalu meriah, tetapi berbagai simbol budaya seperti Kue Tamo, pakaian adat, musik bambu, tarian gunde, masamper dan sebagainya, ditampilkan pada gelaran Tulude tersebut.

Hadir pula Penjabat Gubernur Sulut Soni Soemarsono, Kapolda Sulut Wilmar Marpaung, Penjabat Walikota Manado Roy Roring dan sejumlah pejabat lainnya.

Berikut beberapa foto yang sempat saya abadikan:

Julius Kalinge (77), warga Teling, Manado, asal Tamako, Sagihe dengan alat musik Tangonggong yang akan dimainkannya dalam Gelar Upacara Adat Tulude yang diselanggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Utara yang bekerjasama dengan berbagai Komunitas Masyarakat Nusa Utara, Sabtu (6/2/2016) di Lapangan KONI Manado.
Julius Kalinge (77), warga Teling, Manado, asal Tamako, Sagihe dengan alat musik Tangonggong yang akan dimainkannya dalam Gelar Upacara Adat Tulude yang diselanggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Utara yang bekerjasama dengan berbagai Komunitas Masyarakat Nusa Utara, Sabtu (6/2/2016) di Lapangan KONI Manado.
Julius Kalinge (77), warga Teling, Manado, asal Tamako, Sagihe dengan alat musik Tangonggong yang akan dimainkannya dalam Gelar Upacara Adat Tulude yang diselanggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Utara yang bekerjasama dengan berbagai Komunitas Masyarakat Nusa Utara, Sabtu (6/2/2016) di Lapangan KONI Manado.
Julius Kalinge (77), warga Teling, Manado, asal Tamako, Sagihe dengan alat musik Tangonggong yang akan dimainkannya dalam Gelar Upacara Adat Tulude yang diselanggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Utara yang bekerjasama dengan berbagai Komunitas Masyarakat Nusa Utara, Sabtu (6/2/2016) di Lapangan KONI Manado.

Lanjutkan membaca “Foto Story: Upacara Adat Tulude Sulawesi Utara – 2016”

Nikmatnya Menyeruput Kopi Di Air Terjun Berhadapan Ampadoap di Talaud

Air-Terjun-Ampadoap-2Air terjun yang ada di Beo, Kabupaten Kepualauan Talaud, Sulawesi Utara ini memang tidak terlalu tinggi. Namun air terjun Ampadoap, demikian warga di sana menamakannya memiliki keunikan tersendiri. Di lokasi perbukitan itu terdapat air terjun yang saling berhadapan.

Kedua air terjun itu jatuh dari antara bebatuan dan aliran air keduanya bertemu di satu titik lalu mengalir bersama menuruni anak sungai. Satu air terjun lumayan besar dengan lebar sekitar 20 meter dan satunya lagi lebih kecil yang tepat berada di depan air terjun yang besar itu.

Tak sulit untuk mencapai lokasi air terjun Ampadoap dari Beo. Cukup berkendara sekitar 15 menit ke arah perbukitan yang masih ditumbuhi berbagai pohon lebat dan tanaman pohon kelapa milik warga. Jika menggunakan mobil, kenderaan bisa diparkir di tepi jalan raya dan berjalan kaki sekitar satu kilometer. Namun jika menggunakan kenderaan sepeda motor, bisa terus hingga di depan tangga dari kayu untuk turun ke sungainya.

Lanjutkan membaca “Nikmatnya Menyeruput Kopi Di Air Terjun Berhadapan Ampadoap di Talaud”

Mendongeng Bakeng

Iverdixon tinungkiOleh : Iverdixon Tinungki

Terkisahlah cerita lama di kabut mega
Selaksana anak taufan menghamburkan pasir
Menerjang mata para raja dan sultan

Sebuah dongeng, sebuah perlawanan! Sebuah daya yang niscaya. Sebuah creativity yang memungkinkan hadirnya entitas aktual. Karena di balik maknanya, –mengacu semiotika de Saussure — terdapat suatu system yang rumit dan kompleks sebagai pembentuknya.

Maka tersebutlah di suatu masa, Ansuang Bakeng (Raksasa Bakeng) bertahta sebagai penguasa. Raja diraja, di tanah Sangihe. Permaisurinya Boki, perempuan suka pesta, dan hidup mewah. Ketika kisah ini dicipta, anaknya masih kanak-kanak. Diberi nama Watairo. Tapi rakyat hanya boleh menyapanya Batairo.
Entah apa penyebab huruf “W” menjadi “B”. Tak ada penjelasan. Tapi, terasa ada gelagat tersembunyi terbebat. Semacam kombinasi antara konsep dan citra bunyi yang melahirkan tanda (sign) sebagai penanda (signifie). Seperti guru dipanggil “tuang guru” (tuan guru), pejabat disebut “tuang labo” (tuan besar), pejabat tinggi, penguasa dan ninggrat disebut “manga mawu” (para tuhan). Dan ironis, kaum jelata disebut “manga dempuge” (para rumput), lebih leceh lagi, “manga nune” (para tak beradab).

Generasi kini barangkali menyangka, perubahan kata itu sekadar symbol perangai kekuasaan lama. Kekuasaan yang mendudukkan rakyat sebagai pihak yang selalu keliru dan salah. Bodoh dan tak berdaya. Sampai-sampai di mulut pun tak boleh ada kata terlafal benar. Rakyat dilarang berfikir dengan bahasa, dan kata-kata harus lumpuh sejak awal. Seperti gelagat polisi menghardik tersangka: “Diam! Kau berani melawan petugas!”. Tersangka, yang keliru dan yang tidak keliru sama-sama terpaksa bungkam. Terpuruk dalam “kebudayaan bisu”, sitir Freire.

Lanjutkan membaca “Mendongeng Bakeng”