Malam Natal Diantara Kopiah

24 Desember. Malam Natal. Kenangan saya justru mengembara ke masa kecil, sewaktu duduk di bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah. Jika usia saya sekarang mendekati 40 tahun, berarti kejadiannya berlangsung sekitar 25-30 tahun lalu.

Bulontio, demikianlah nama kampung tempat saya belajar mengenal masa kanak-kanak hingga remaja. Berada disebuah Kecamatan Sumalata, Kabupaten Gorontalo yang waktu itu masih bergabung dengan Provinsi Sulawesi Utara. Bulontio sendiri terdiri dari dua desa. Bagian Barat dan Bagian Timur. Saya tinggal di Bulonti0 Barat, yang merupakan ibukota kecamatan.

Ayah saya suku Sanger, sebuah kepulauan di ujung Utara Sulawesi. Ibu saya terlahir sebagai suku Minahasa. Kami bisa berada di Bulontio karena ayah saya seorang tentara. Berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Saya malah lahir di Toli-Toli, Sulawesi Tengah.

Lanjutkan membaca “Malam Natal Diantara Kopiah”

SEJARAH POHON NATAL

2353Christmas_tree Sejarah pohon natal dimulai dari Jerman. Konon Bangsa Jerman kuno memiliki kebiasaan memasang batang pohon (lengkap dengan cabang-cabang dan daun-daunnya) di tempat tinggal mereka untuk mengusir ‘bad spirit’, dan sebagai simbol agar musim semi cepat tiba. Kebiasaan ini telah dimiliki pada zaman dahulu bahkan sebelum kitab-kitab suci dibawa oleh para nabi.

Pada saat kristen menyebar di Jerman, gereja tidak menyukai kebiasaan tersebut dan melarangnya. Sekitar abad ke-12, seorang pemilik bakery memiliki ide untuk menaruh batang pohon tersebut dalam keadaan terbalik dan hal ini disetujui oleh gereja katolik.

Setelah protestan muncul, Martin Luther King mempopulerkan dengan posisi natural seperti pohon pada umumnya dan dihiasi dengan lilin-lilin untuk menunjukkan pada anak-anaknya bagaimana bintang-bintang berkilauan di langit yang kelam. Dan seiring dengan waktu, pohon natal pun didekorasi dengan hiasan-hiasan menarik seperti lampu-lampu, angel, bahkan cokelat dan apel.

 

Lanjutkan membaca “SEJARAH POHON NATAL”