Cerita Opa Yem dan Pisang Gorohonya..

opa-yem

Meski usianya sudah 87 tahun, Jemyy Albert Polii, yang biasa disapa Opa Yem masih terlihat kuat mengurus kebun pisangnya di Aer Panas, Malalayang, Manado.

Saat ditemui di kebunnya, Senin (16/1/2017), Opa Yem masih terlihat gagah, dan berpenampilan rapih. Ditemani istrinya, Opa Yem sedang memilin jagung yang juga merupakan hasil dari kebunnya.

“Saya mulai menanam pisang sejak tahun 60an. Dulu lahan kebun sekitar dua hektar,” kata Opa Yem.

Dengan luas lahan sebesar itu, Opa Yem mengaku bisa menanam pisang dari jenis goroho (Musa acuminafe,sp) hampir 1.000 pohon.

“Sudah beberapa jenis pisang yang dicoba, tetapi goroho yang terbaik. Tapi sekarang kebunnya sudah kecil, karena sudah dibagi ke anak-anak, dan sebagian sudah dibeli orang untuk dibangun rumah,” ujar Opa Yem. Lanjutkan membaca “Cerita Opa Yem dan Pisang Gorohonya..”

In Picture: FESTIVAL BANTIK 2013

Suku Bantik merupakan salah satu sub etnik Minahasa yang ada di Sulawesi Utara. Di Sulawesi Utara sendiri terdapat tiga etnis utama, yaitu Suku Minahasa, Suku Sangihe dan Talaud serta Suku Bolaang Mongondow.
Sub-Etnik Bantik saat ini tersebar dan mendiami 11 negeri di Sulawesi Utara, yaitu :  Mahasa (Meras), Molrasa (Molas), Bailrang (Bailang), Talrabang (Talawaan Bantik), Bengkolro (Bengkol), Buha, Sikilri (Singkil), Minanga (sekarang Malalayang), Kalrasei (Kalasei), Tanamon, dan Sumoiti.

Setiap tanggal 5 September, warga Sulawesi Utara dari sub etnik Bantik menggelar Festival Bantik yang dipusatkan di Lapangan Bantik Malalayang. Festival tersebut dirangkaikan dengan peringatan wafatnya pahlawan nasional asal Sulut, Wolter Mongisidi, yang merupakan pahlawan berdarah Bantik.

Berikut beberapa foto yang terekam pada Festival Bantik 2013.

Seorang pria dari Suku Bantik dengan pakaian Upasa sedang bersiap dalam Festival Bantik 2013.
Seorang pria dari Suku Bantik dengan pakaian Upasa sedang bersiap dalam Festival Bantik 2013.

Lanjutkan membaca “In Picture: FESTIVAL BANTIK 2013”

Dari Sekedar Jual Pisgor, Kini Jadi Desa Wisata

Pisang-Goreng-dan-Milu

Tidak hanya di Bali, pesisir pantai Manado juga merupakan lokasi yang tepat untuk menikmati sunset. Pada waktu-waktu tertentu, keindahan sajian semburat warna khas matahari terbenam akan tersaji dengan dahsyat di pantai Manado. Hermondo Kasiadi, salah satu fotografer di Manado berujar, "Sunset Manado selalu luar biasa, rasanya tidak pernah puas mengabadikannya," ujarnya.

Kemudahan akses membuat lokasi pesisir pantai Manado menjadi tempat favorit. Cukup dengan sekali naik angkutan umum dari pusat kota dan membayar dengan tarif Rp 2000, pengunjung sudah bisa mendatangi pantai Malalayang.

Lanjutkan membaca “Dari Sekedar Jual Pisgor, Kini Jadi Desa Wisata”

Suatu Sore di Pantai Malalayang

Pantai Malalayang, nama yang tak asing bagi Warga Manado. Pantai yang sudah menjadi salah satu ikon wisata Kota Manado ini mudah dijangkau. Maklum hanya berjarak sekitar 5 KM dari pusat kota, dan dengan mudah dijangkau melalui angkutan umum. Cukup bayar Rp. 2.000, pantai ini sudah bisa dicapai.

Sekilas tidak ada yang istimewa dari pantai yang sebagian sudah masuk wilayah Kabupaten Minahasa ini. Pondok-pondok penjual pisang goreng, milu bakar dan kopi menjadi salah satu ciri khasnya. Terdapat Monumen Tugu Boboca tepat di Batas Kota, tapal yang memisahkan Kota Manado dengan Kabupaten Minahasa.

Tapi, bukan itu yang saya mau sajikan dalam postingan kali ini. Bagi pehobby foto, khususnya lansekap, Pantai Malalayang bisa menjadi lokasi favorit berburu foto, terlebih jika sunset bermurah hati menampakkan semburat warnanya.

Lanjutkan membaca “Suatu Sore di Pantai Malalayang”