Presiden Tetapkan 111 Pulau Terluar, Sulut Ketambahan 1 Pulau

Salah satu sisi Pulau Intata dengan pasirnya yang sangat lembut. Pulau Intata merupakan salah satu pulau terluar dari 11 pulau yang dimiliki Provinsi Sulawesi Utara.

Presiden Joko Widodo menandatangani keputusan presiden (Keppres) Nomor 6 Tahun 2017 tentang Penetapan Pulau-Pulau Kecil Terluar. Keppres ini mengatur penetapan 111 pulau-pulau kecil terluar di Indonesia. Penetapan tersebut berdasarkan pertimbangan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 38 Tahun 2002 tentang Daftar Koordinat Geografis Titik-Titik Garis Pangkal Kepulauan Indonesia sebagaimana telah diubah dengan PP Nomor 37 Tahun 2008 yang intinya terdapat perubahan jumlah pulau-pulau terluar menjadi 111 pulau.

“Menetapkan 111 Pulau sebagai Pulau-Pulau Kecil Terluar”, bunyi Pasal 1 Keppres tersebut.

Menurut Keppres ini, Pulau-Pulau Kecil Terluar sebagaimana dimaksud disusun dalam daftar yang terdiri dari nama pulau, nama lain pulau, perairan koordinat titik terluar, titik dasar dan petunjuk jenis garis pangkal dan provinsi.

Seperti yang dikutip di website resmi Setkab, pada saat Keputusan Presiden ini mulai berlaku, menurut Keppres, ketentuan dalam Pasal 1 ayat (2) dan Lampiran Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Terluar dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Lanjutkan membaca “Presiden Tetapkan 111 Pulau Terluar, Sulut Ketambahan 1 Pulau”

Tengkorak Makalehi itu Tidak Mau Difoto bersama Kamga

P9080691 Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro, atau yang sering disingkat sebagai SITARO, mempunyai salah satu pulau yang merupakan satu dari 99 pulau terluar Indonesia. Pulau Makalehi namanya. Masuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Siau Barat, kini Pulau Makalehi sedang dalam persiapan menjadi satu kecamatan sendiri. Pulau ini pada tahun 2010 sempat menjadi tenar, karena merebut Juara Pertama dalam Lomba Desa Tingkat Nasional. Alhasil, Piagam Penghargaan itu, kini tergantung dengan megahnya di rumah Kepala Desa Makalehi.

Di Nusa Utara sendiri (sebutan untuk wilayah Talaud, Sangihe dan Sitaro) terdapat tiga pulau terluar. Pulau Marore (Kab. Sangihe), Pulau Miangas (Kab. Talaud) dan Pulau Makalehi sendiri yang berbatasan dengan wilayah Malaysia Timur. Luas Pulau Makalehi lebih kurang 300 ha. Penduduknya hampir semua bermata pencarian sebagai nelayan. Pulau ini juga terkenal sebagai penghasil pelaut-pelaut ulung. Beberapa diantaranya bahkan menjadi nahkoda kapal internasional.

Saya mengunjungi Makalehi pertama kali pada tahun 2007. Waktu itu sarana dan prasarana di pulau Makalehi masih sangat terbatas. Maklum, Sitaro baru memekarkan diri dari Kabupaten Induknya, Sangihe. Kini Makalehi telah berbenah. Sebagai salah satu Desa Teladan Nasional, berbagai fasilitas telah dibangun. Termasuk pelabuhan megah yang sementara diselesaikan pekerjaannya.

Pulau ini berbentuk kerucut yang terpancung oleh letusan dahsyat Kala Pilo-Plistosen. Kawahnya terbuka ke arah barat daya. Mengakibatkan Pulau ini sangat indah dilihat dari udara yang merupakan perpaduan pasir pantai, bertemu birunya laut yang bergradasi dari muda ke tua.

Kawah dari pulau ini membentuk sebuah danau yang sangat indah untuk dinikmati dari atas bukit yang mengelilinginya. Hampir seluruh masyarakat Makalehi hidup di sekitar danau. Namanya Danau Makalehi. Tentang keindahan danau ini, Host Explore Indonesia Kompas TV, Kamga berujar, “mungkin ini satu-satunya danau di Indonesia yang bisa saya katakan sebagai danau perawan. Tidak ada aktifitas apapun di tengah danau, seperti pemeliharaan ikan oleh masyarakat sekitar. Danau ini mungkin hanya untuk dinikmati oleh mata.” ujarnya ketika melakukan pengambilan gambar di tepi danau.

Lanjutkan membaca “Tengkorak Makalehi itu Tidak Mau Difoto bersama Kamga”

Kamga, Vokalis Tangga itu Nyaris Tenggelam

Sebuah pengalaman yang tak pernah akan aku lupakan terjadi pada 19 Oktober 2011 lalu. Ketika harus menemani Tim Explore Indonesia, salah satu acara di Kompas TV melakukan pengambilan gambar di Kabupaten Kepulauan Sitaro.

Sitaro, merupakan singkatan dari tiga pulau besar dari 47 pulau yang ada di kabupaten yang masuk dalam wilayah administrasi Provinsi Sulawesi Utara. Dulunya kabupaten ini merupakan satu kesatuan dengan Kabupaten Kepulauan Sangihe. Tetapi sejak 4 tahun lalu, menjadi kabupaten sendiri.

Daerah ini menyimpan potensi perikanan dan kelautan yang melimpah. Pulau-pulaunya juga menyimpan potensi wisata yang sangat indah. Bahkan beberapa diantaranya bisa menjadi kandidat destinasi wisata bahari utama, jika dikelola dengan baik.

Tidak salah, jika Kompas TV lewat acara Explore Indonesia, memasukkan segmen Sitaro pada salah satu episodenya di Sulawesi Utara.  Mereka memilih Sitaro setelah membaca tulisan-tulisan saya mengenai potensi wisata daerah itu di https://sitaro.wordpress.com/category/sitaro/

Lalu saya pun memasukkan Pulau Makalehi, sebagai salah satu objek yang harus diambil. Disana ada Misteri Tengkorak Tembo Yonding, Danau Makalehi yang indah serta Patok dan Monumen Tapal Batas NKRI. Ya, karena Pulau Makalehi merupakan salah satu dari 99 pulau terluar NKRI. (Mengenai Pulau Makalehi akan saya tuliskan pada kesempatan lain, juga misteri tengkorak yang tidak berhasil difoto oleh Kamga)

Kami bertolak dari Manado hari selasa, 18 Oktober 2011. Dan langsung mengambil gambar di Pantai Panas Lehi yang sensional. Dan pada keesokan harinya kami ke Pulau Makalehi.

Lanjutkan membaca “Kamga, Vokalis Tangga itu Nyaris Tenggelam”

Daftar Objek Wisata di PULAU SIAU Kab. Kepl. SITARO

Dalam daftar berikut saya coba mengiventaris beberapa lokasi yang bisa dikembangkan menjadi destinasi wisata di Pulau Siau.  Sebagian besar telah sempat saya datangi dan mengabadikannya melalui foto.  Beberapa lokasi belum ada fotonya.  Dikesempatan berikut saya akan berusaha mengabadikannya, sekaligus memperbaharui koleksi-koleksi foto yang ada.

Silahkan memberikan saran dan ulasan jika pembaca (terutama teman-teman yang berasal dari Sitaro) mempunyai pendapat atau destinasi yang dianggap layak untuk dijadikan objek wisata.

Dalam tulisan berikutnya saya akan publish destinasi wisata di Pulau Tagulandang dan Biaro.

 

  1. Objek Wisata Alam :      Gunung Api Karangetang
    Karangetang Foto-foto dari atas gunung karentang dapat dilihat disini: http://bit.ly/ji0Pwp
  2. Objek Wisata Alam :      Danau Makalehi
    Danau-Makalehi Artikel lainnya dapat dibaca disini: http://bit.ly/llWsFU Lanjutkan membaca “Daftar Objek Wisata di PULAU SIAU Kab. Kepl. SITARO”

MAKALEHI – Misteri Tengkorak Tembo Yonding, Danau Eksotis dan Kehidupan Nelayan

Makalehi-1

Pulau Makalehi berada dibawah administrasi Kecamatan Siau Barat. Pulau ini merupakan pulau terluar dari Kabupaten Siau Tagulandang Biaro, bahkan merupakan salah satu dari 92 pulau terluar Indonesia.

Pulau ini berbentuk kerucut yang terpancung oleh letusan dahsyat Kala Pilo-Plistosen. Kawahnya terbuka ke arah barat daya. Mengakibatkan Pulau ini sangat indah dilihat dari udara yang merupakan perpaduan pasir pantai, bertemu birunya laut yang bergradasi dari muda ke tua.

Luas Pulau Makalehi + 300 Ha. Masyarakatnya 100 persen nelayan. Sehingga sangat ideal untuk menikmati wisata kehidupan masyarakat. Potensi hasil perikanan tangkap yang memadai merupakan salah satu objek yang patut diexplorasi. Masyarakatnya ahli membuat Kapal Pajeko (kapal penangkap ikan) dengan keterampilan alamiah.

Kawah dari pulau ini membentuk sebuah danau yang sangat indah untuk dinikmati dari atas bukit yang mengelilinginya. Hampir seluruh masyarakat Makalehi hidup di sekitar danau.

Lanjutkan membaca “MAKALEHI – Misteri Tengkorak Tembo Yonding, Danau Eksotis dan Kehidupan Nelayan”

Beberapa Motif Porselin di Kumpulan Tengkorak Pulau Makalehi

 

Seperti dalam tulisan saya mengenai Tengkorak Makalehi,  disela-sela kumpulan tengkorak dalam perahu itu terdapat beberapa porselin tua. Menurut cerita para warga Makalehi, porselin-porselin itu seumur kumpulan tengkorak tersebut.

Bentuk porselin yang ada berupa teko, piring, gelas, mangkuk. Sayang masih menurut keterangan warga, sebagian besar porselin tersebut telah dicuri oleh orang yang tak bertanggung jawab. Mereka membawanya dan mengantikan dengan porselin buatan lokal.

Pada kesempatan yang ketiga saya mengunjungi Makalehi, saya menyempatkan diri kembali ke Kumpulan Tengkorak itu. Dan saya sempat mengambil gambar dari pecahan porselin yang tersisa. Terdapat beberapa motif yang menarik dari porselin-porselin tersebut. Sekiranya motif-motif tersebut dapat dipelajari oleh yang berkompoten.

Hasil foto tidak terlalu bagus, karena saya hanya sempat membawa camera poket.

Kerajinan Anyaman Tikar dan Ginto menjadi salah satu Fokus Disperindag Sitaro

Ginto dan AnyamanKepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian, Eddy Salindeho membuktikan ucapannya beberapa waktu lalu. “Saya akan mengekspose kerajinan anyaman tikar dan ginto yang ada di Sitaro.” Hal ini dibuktikan dengan dipamerkannya hasil dua kerajinan tersebut dalam Sulut Expo di WOC dan CTI Summit 2009.

Seperti diketahui bahwa selama ini masyarakat Pulau Makalehi memiliki sebuah kerajinan tangan berupa anyaman tikar. Demikian pula dengan masyarakat yang ada di Kampung Nameng, memiliki keterampuilan dalam membuat anyaman dari ginto (sejenis rumput liar yang tumbuh di hutan).

Hasil kedua kerajinan tersebut terlihat halus dibandingkan dengan kerajinan dari daerah lain. Kedua kerajinan tersebut memang perlu mendapat perhatian khusus. Blog Sitaro yang datang langsung ke Kampung Nameng dan bertemu dengan pengrajinnya, mencermati bahwa jika tidak diambil langkah penting, bisa saja kerajinan tangan ini akan hilang. Demikian pula yang disaksikan di Pulau Makalehi beberapa waktu lalu.

“Disperindag akan mencoba untuk mengembangkan kedua kerajinan tersebut menjadi sebuah industri. Walaupun baru sekedar industri rumah tangga dengan skala kecil. Yang penting, bagaimana kita sekarang memberi perhatian kepada pengrajin.” Demikian ditegaskan oleh Eddy Salindeho yang dengan setia berada di Stand Sitaro.

Sekumpulan Tengkorak di Pulau Makalehi

Tengkorak MakalehiBulan September 2007. Saya mendapat sebuah kepercayaan dari Bagian Humas Setda Pemda Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro, mengabadikan obyek-obyek strategis di Kabupaten yang baru ini baik melalui Foto maupun Video. Hasil dari dokumentasi itu akan dipamerkan pada Pameran Pembangunan Provinsi Sulawesi Utara pada bulan yang sama. Setelah beberapa hari keliling Pulau Siau, pada tanggal 6 September saya berada di Pulau Tagulandang. Satu hari berada disana mengelilingi Pulau tersebut dan pada keesokan harinya langsung balik ke Siau. Menumpang Kapal Cepat Express Bahari, saya tiba di Siau sekitar pukul 1 siang setelah menempuh perjalanan laut kurang lebih 45 menit. Rasa lelah masih terasa, namun begitu turun di Pelabuhan Ulu Siau, saya langsung naik motor bersama kakak saya, menuju ke Pehe, karena disana telah menanti Camat Siau Barat, Bpk. R. A. Sagune. Bapak Camat ini memfasilitasi kami berangkat menuju ke Pulau Makalehi.

Lanjutkan membaca “Sekumpulan Tengkorak di Pulau Makalehi”