Gambar

FOTO: “Bermain Sampah Bersama Ayah”

BERMAIN SAMPAH BERSAMA AYAHBocah ini menemani ayahnya yang memulung botol-botol plastik bekas di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumompo, Kota Manado. Dari mengais barang-barang bekas dari produksi sampah warga Kota Manado yang dibuang di TPA Sumompo itu, ratusan orang menggantungkan hidup mereka dengan cara berjuang melawan beraneka kuman dan bibit penyakit yang ikut terbawa sampah. Tapi seperti wajah sang bocah dan ayahnya yang seakan sudah kebal dari ancaman berbagai penyakit tersebut, mereka telah mampu beradaptasi dengan sampah yang semakin menggunung dan bau menyengat yang menusuk hidung.

Kapasitas TPA Sumompo kini telah melebihi daya tampungnya seiring dengan laju pertumbuhan penduduk Kota Manado. Dari catatan yang ada, setiap tahun volume produksi sampah di Manado terus meningkat. Jika pada tahun 2011 volume sampah sebanyak 828.812 meter kubik (m3), maka pada tahun 2012 meningkat menjadi 840.960 m3 dan di 2013 menyentuh angka 940.703 m3, sedangkan di 2014 mencapai 980.865 m3. Tahun ini diperkirakan produksi volume sampah warga Manado terus meningkat secara signifikan. Lanjutkan membaca “FOTO: “Bermain Sampah Bersama Ayah””

Ta Prop

Lampu-MerahSejak beberapa tahun terakhir, kemacetan telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan Kota Manado. Orang Manado, menyebutnya dengan “ta prop.”

Prop, berasal dari bahasa Belanda, yang berarti tersumbat, tidak jalan, tidak ada jalan keluar. Bahasa Melayu Manado memang banyak teradaptasi dari bahasa Belanda. Biasanya kalau kenderaan sudah terjebak di tengah kemacetan, penumpang langsung mengeluh, “so ta prop lagi,” maksudnya macet lagi.

Beberapa kali pihak terkait mengubah jalur kenderaan untuk mengatasi kemacetan. Tetapi bukan menyelesaikan masalah, malah menambah parah kemacetan. Apalagi dihari-hari sibuk seperti menjelang natal yang baru saja lewat. Bayangkan, saya pernah terjebak di angkutan kota selama 2 jam dari Malalayang sampai Pusat Kota Pasar 45. Padahal jarak yang ditempuh hanya sekitar 5 kilometer.

Alhasil, kemacetan sudah menjadi sahabat akrab masyarakat Kota Manado. Saya, mencoba membuat catatan penyebab kemacetan tersebut, yang justru tidak pernah dimaksimalkan penanganannya.

1. Kapastitas jalan yang tidak mendukung laju pertumbuhan kenderaan.

IMG_7434 Kota Manado memang sedang bertumbuh sangat pesat. Tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi sekaligus mendorong semakin banyaknya orang kaya. Semakin banyak orang kaya, semakin banyak mobil yang dibutuhkan. Kini, di garasi orang kaya Manado, bukan hanya terdapat satu mobil. Bahkan, ada rumah yang hanya dihuni 3 orang anggota keluarga, tetapi di garasinya bisa terdapat lebih dari 3 mobil. Pertumbuhan mobil pribadi sangat tinggi. Di jam-jam sibuk, jumlah kenderaan pribadi yang melaju di jalan umum, bisa 6-7 kali lebih banyak dari kenderaan umum.

Pertumbuhan laju kenderaan yang tinggi ini, tidak dibarengi dengan pertambahan daya tampung jalan. Kapasitas jalan di Kota Manado terhitung begitu-begitu saja. Tidak ada lagi usaha untuk menambah kapasitas jalan. Sejak jalan utama Boulevard diperlebar dan jalan poros Malalayang, tidak ada lagi pertambahan kapasitas jalan di Kota Manado. Beruntung, jalan poros Bandara – Paal 2 sudah diperlebar ketika menyambut event international WOC. Tetapi, jalan utama lainnya, seperti jalan Samrat, Wenang, Sarapun, Karombasan, Bersehati, Bethesda tetap seperti itu saja.

Menurut catatan, panjang ruas jalan arteri di Kota Manado adalah sekitar 57 KM. Jumlah angkutan kota (mikrolet) saja, yang beroperasi aktif sebanyak 3000 buah. Pada tahun 2004 saja terdapat total 58.776 kendaraan di Kota Manado. Sementara saat sekarang diperkirakan setiap bulan bertambah 4000 kenderaan baru.

Lanjutkan membaca “Ta Prop”