Membangun Harapan Pengelolaan Pesisir dari Pulau-Pulau di Sangihe

SOSIALISASI - Staff dari Perkumpulan Sampiri sedang memberikan pemahaman mengenai laut dan wilayah pesisir kepada Siswa SMPN 2 Satap Tabukan Selatan di Batuwingkung.
SOSIALISASI – Staff dari Perkumpulan Sampiri sedang memberikan pemahaman mengenai laut dan wilayah pesisir kepada Siswa SMPN 2 Satap Tabukan Selatan di Batuwingkung.

SANGIHE, KOMPAS.com – Raut wajah Risno Mangune (32) terlihat gembira pagi itu. Hujan yang dinanti turun juga. Bak-bak penampungan air di pulau Batuwingkung terisi lagi.

Batuwingkung merupakan desa yang berada di kecamatan Tabukan Selatan, Kabupaten Sangihe, Sulawesi Utara. Risno telah menjadi kepala desa selama satu periode, bagi 423 jiwa penduduk di pulau itu.

“Hujan sudah jarang turun di sini. Sumber air berkurang, sumur warga banyak yang kering. Kemarau tahun lalu sangat berpengaruh,” keluh Risno saat menjemput Tim dari Perkumpulan Pemberdayaan Masyarakat dan Koservasi Alam (YAPEKA), Kamis (5/5/2016).

YAPEKA bersama Perkumpulan Sampiri Sangihe memilih pulau Batuwingkung menjadi salah satu target pengembangan program pengelolaan wilayah sumber daya pesisir dan laut berbasis masyarakat. Lanjutkan membaca “Membangun Harapan Pengelolaan Pesisir dari Pulau-Pulau di Sangihe”

Menjadi Feature Tamu di Yaki Magz

YAKI MAGZ ED 2Beberapa bulan lalu, saya dihubungi oleh staf dari Yayasan Selamatkan Yaki, sebuah yayasan yang bekerja untuk memberikan pendidikan konservasi Yaki di Sulawesi Utara.

Mereka menanyakan beberapa hal sebagai bahan untuk majalah terbitan mereka YAKI MAGZ edisi kedua. Majalah itu diterbitkan seiring dengan event Yaki Youth Camp yang mereka selenggarakan saban tahun.

Yaki Youth Camp 2015 ini diselenggarakan di kompleks museum Pa’Dior, Yayasan Institut Seni Budaya Sulawesi Utara di Tompaso, Minahasa, yang diikuti oleh 18 siswa yang merupakan perwakilan berbagai sekolah SMA sederajat di Minahasa. Saya juga diminta untuk menjadi salah satu pembicara dalam Camp tersebut. Pada kesempatan itu saya membagi pengalaman bagaimana kegiatan fotografi bisa memberikan kontribusi bagi konservasi.

Tentu saya merasa senang bisa berbagi pengalaman dengan anak-anak yang merupakan masa depan kita itu, dan berharap dapat menumbuhkan kecintaan akan kelestarian lingkungan serta satwa endimik dan dilindungi di Sulawesi Utara.

Berikut screen capture dari halaman 41 Yaki Magz, dimana hasil wawancara tim dari Yaki Magz dengan saya.

HAL-14

Cerita mengenai Yaki Youth Camp itu sendiri dapat dibaca di Yaki Youth Camp Angkatan Ke-II ini.

Tumpara, Semestinya Diberi Perhatian Lebih di Sitaro

Menyebut nama Tarsius, ingatan sebagian besar dari kita mungkin tertuju ke Kota Bitung. Karena di sanalah Tarsius mudah dijumpai dan selalu menjadi sajian ketika wisatawan mengunjungi Kota Cakalang itu. Terlebih jika ke Tangkoko, para pemandu pasti tidak akan melewati pohon Tarsius, dimana para wisatawan secara mudah melihat aktifitas hewan unik tersebut.

Banyak yang tak tahu bahwa di Kabupaten Kepulauan Sitaro, khususnya di pulau Siau, Tarsius juga bisa dijumpai. Bahkan dibanding dengan yang ada di Tangkoko, Tarsius Tumpara yang ada di Siau pernah masuk dalam daftar 25 satwa paling terancam punah di dunia hingga tahun 2012.

Salah satu individu Tarsius Tumpara yang difoto oleh Astrid Mangague di pulau Siau.
Salah satu individu Tarsius Tumpara yang difoto oleh Astrid Mangague di pulau Siau.

Hingga saat ini Tarsius Tumpara juga masih dalam status Critically Endangered menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN), sebuah organisasi internasional yang didedikasikan untuk konservasi sumber daya alam. IUCN secara berkala merilis IUCN Red List, sebuah Daftar Merah yang bertujuan memberikan informasi dan analisis mengenai status serta ancaman terhadap spesies agar diperlukan tindakan cepat dalam upaya konservasinya.

Status Critically Endangered yang diberikan kepada Tarsius Tumpara merupakan status Kritis sebelum dinyatakan punah di alam liar, atau punah sama sekali dari muka bumi. Dengan demikian Tumpara semestinya diberikan perhatian lebih oleh stakeholder di Sitaro. Tapi sejauh ini perhatian tersebut belum terlihat, setidaknya dari sosialisasi kepada warga yang bermukim di sekitar habitat Tumpara diketahui hidup.
Lanjutkan membaca “Tumpara, Semestinya Diberi Perhatian Lebih di Sitaro”

Di Binerean, Maleo Punya Kebun Kelapa Sendiri

Pantai-Binerean

Sejak 2005 Wildlife Conservation Society Indonesia Project (WCS IP) Sulawesi Utara melakukan upaya pelestarian Macrocephalon Maleo di pantai Tanjung Binerean, Desa Mataindo, Kecamatan Pinolosian Tengah, Kabupaten Bolaang Mongondow. Maleo merupakan salah satu species endemik Sulawesi yang populasinya terancam punah karena telurnya terus diburu.

Berbeda dengan site yang ada di Muara Pusian dan Tambun yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW), site Binerean berada diluar kawasan TNBNW. "Burung Maleonya memang berasal dari kawasan TNBNW, tetapi mereka datang bertelur di pantai ini, ujar Manager Maleo Project WCS IP Iwan Honuwu, Sabtu (29/09/2012) ketika melakukan monitoring rutin.

Sebelum Maleo Project berlangsung, telur-telur Maleo di Binerean menjadi incaran para pemburu telur untuk dijual. Sifat Maleo yang meninggalkan begitu saja telurnya di lubang pasir yang digalinya membuat perkembangbiakan populasinya terancam. "Jika tidak dilakukan usaha konservasi, mungkin species macrocephalon maleo ini tinggal catatan saja," kata Iwan lagi.

Lanjutkan membaca “Di Binerean, Maleo Punya Kebun Kelapa Sendiri”

Karamoy, Dari Pemburu Jadi Pengasuh

Karamoy-2

Karamoy sedang mengamati keberadaan Maleo

 

Karamoy Maramis (69) sudah beranjak dari pembaringan ketika mentari belum muncul. Di pagi yang gelap dan dingin, dirinya  bersiap menuju hutan yang tepat berada di belakang tempat tinggalnya, sebuah Pos Penjaga Hutan milik Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNWB) yang dijadikan basecamp Maleo Project WCS IP di Tambun, Dumoga, Kabupaten Bolaang Mongondow.

Setiap hari, dua kali Karamoy harus mengitari area seluas 2,6 hektar yang sudah dipagari. Dia diberi tugas oleh Wildlife Conservation Society Indonesia Program (WCS IP) Maleo Project sebagai pengawas aktivitas spesies Macrocephalon maleo, unggas endemik Sulawesi.

"Saya harus berjalan pelan-pelan. Takut mengusik kehadiran maleo yang akan datang bertelur. Mereka liar dan takut akan kehadiran manusia. Jika tahu ada orang, mereka enggan bertelur," ujar Karamoy sambil mengendap-endap di antara rimbunnya tanaman, Jumat (28/9/2012) subuh .

Lanjutkan membaca “Karamoy, Dari Pemburu Jadi Pengasuh”

Sebuah Ironi dari Bumi Porodisa: PENYU YANG DILINDUNGI DIJUAL BEBAS DI TEPI JALAN

Tanggal 29 September 2011 lalu, saya mendapat kesempatan berlayar bersama KRI Teluk Sampit 515 ke Melonguane, Kabupaten Kepulauan Talaud.  Salah satu kapal perang RI bertipe LST (Landing Ship Tank) tersebut mendapat tugas mengangkut pasukan dari Lantamal VIII Manado, guna persiapan Peresmian Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Melonguane.

Kecamatan Melonguane merupakan ibukota Kabupaten Kepulauan Talaud. Kabupeten hasil pemekaran dari Kabupaten induknya, Sangihe ini merupakan daerah yang berbatasan langsung dengan Negara Filipina. Kepulauan Talaud merupakan gugusan pulau-pulau terluar di bagian utara jazirah Sulawesi Utara yang merupakan daerah bahari. Mempunyai luas lautan 37.800 km persegi dan luas daratan hanya 1.251 km persegi, menjadikan Talaud rawan dari kegiatan ilegal fishing. Melonguane sendiri berjarak sekitar 271 mil laut dari ibukota Provinsi Sulawesi Utara, Manado. Salah satu pulau terjauhnya, Pulau Miangas, berbatasan langsung dengan Kota Davoa (berjarak kurang lebih 60 mil laut) dan Tanjung St. Agustin Mindanao, Filipina yang hanya berjarak 50.4  mil laut. Bandingkan jaraknya dengan Melonguane sejauh 129 mil laut.

Lanjutkan membaca “Sebuah Ironi dari Bumi Porodisa: PENYU YANG DILINDUNGI DIJUAL BEBAS DI TEPI JALAN”