Tengkorak Makalehi itu Tidak Mau Difoto bersama Kamga

P9080691 Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro, atau yang sering disingkat sebagai SITARO, mempunyai salah satu pulau yang merupakan satu dari 99 pulau terluar Indonesia. Pulau Makalehi namanya. Masuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Siau Barat, kini Pulau Makalehi sedang dalam persiapan menjadi satu kecamatan sendiri. Pulau ini pada tahun 2010 sempat menjadi tenar, karena merebut Juara Pertama dalam Lomba Desa Tingkat Nasional. Alhasil, Piagam Penghargaan itu, kini tergantung dengan megahnya di rumah Kepala Desa Makalehi.

Di Nusa Utara sendiri (sebutan untuk wilayah Talaud, Sangihe dan Sitaro) terdapat tiga pulau terluar. Pulau Marore (Kab. Sangihe), Pulau Miangas (Kab. Talaud) dan Pulau Makalehi sendiri yang berbatasan dengan wilayah Malaysia Timur. Luas Pulau Makalehi lebih kurang 300 ha. Penduduknya hampir semua bermata pencarian sebagai nelayan. Pulau ini juga terkenal sebagai penghasil pelaut-pelaut ulung. Beberapa diantaranya bahkan menjadi nahkoda kapal internasional.

Saya mengunjungi Makalehi pertama kali pada tahun 2007. Waktu itu sarana dan prasarana di pulau Makalehi masih sangat terbatas. Maklum, Sitaro baru memekarkan diri dari Kabupaten Induknya, Sangihe. Kini Makalehi telah berbenah. Sebagai salah satu Desa Teladan Nasional, berbagai fasilitas telah dibangun. Termasuk pelabuhan megah yang sementara diselesaikan pekerjaannya.

Pulau ini berbentuk kerucut yang terpancung oleh letusan dahsyat Kala Pilo-Plistosen. Kawahnya terbuka ke arah barat daya. Mengakibatkan Pulau ini sangat indah dilihat dari udara yang merupakan perpaduan pasir pantai, bertemu birunya laut yang bergradasi dari muda ke tua.

Kawah dari pulau ini membentuk sebuah danau yang sangat indah untuk dinikmati dari atas bukit yang mengelilinginya. Hampir seluruh masyarakat Makalehi hidup di sekitar danau. Namanya Danau Makalehi. Tentang keindahan danau ini, Host Explore Indonesia Kompas TV, Kamga berujar, “mungkin ini satu-satunya danau di Indonesia yang bisa saya katakan sebagai danau perawan. Tidak ada aktifitas apapun di tengah danau, seperti pemeliharaan ikan oleh masyarakat sekitar. Danau ini mungkin hanya untuk dinikmati oleh mata.” ujarnya ketika melakukan pengambilan gambar di tepi danau.

Lanjutkan membaca “Tengkorak Makalehi itu Tidak Mau Difoto bersama Kamga”

Kamga, Vokalis Tangga itu Nyaris Tenggelam

Sebuah pengalaman yang tak pernah akan aku lupakan terjadi pada 19 Oktober 2011 lalu. Ketika harus menemani Tim Explore Indonesia, salah satu acara di Kompas TV melakukan pengambilan gambar di Kabupaten Kepulauan Sitaro.

Sitaro, merupakan singkatan dari tiga pulau besar dari 47 pulau yang ada di kabupaten yang masuk dalam wilayah administrasi Provinsi Sulawesi Utara. Dulunya kabupaten ini merupakan satu kesatuan dengan Kabupaten Kepulauan Sangihe. Tetapi sejak 4 tahun lalu, menjadi kabupaten sendiri.

Daerah ini menyimpan potensi perikanan dan kelautan yang melimpah. Pulau-pulaunya juga menyimpan potensi wisata yang sangat indah. Bahkan beberapa diantaranya bisa menjadi kandidat destinasi wisata bahari utama, jika dikelola dengan baik.

Tidak salah, jika Kompas TV lewat acara Explore Indonesia, memasukkan segmen Sitaro pada salah satu episodenya di Sulawesi Utara.  Mereka memilih Sitaro setelah membaca tulisan-tulisan saya mengenai potensi wisata daerah itu di https://sitaro.wordpress.com/category/sitaro/

Lalu saya pun memasukkan Pulau Makalehi, sebagai salah satu objek yang harus diambil. Disana ada Misteri Tengkorak Tembo Yonding, Danau Makalehi yang indah serta Patok dan Monumen Tapal Batas NKRI. Ya, karena Pulau Makalehi merupakan salah satu dari 99 pulau terluar NKRI. (Mengenai Pulau Makalehi akan saya tuliskan pada kesempatan lain, juga misteri tengkorak yang tidak berhasil difoto oleh Kamga)

Kami bertolak dari Manado hari selasa, 18 Oktober 2011. Dan langsung mengambil gambar di Pantai Panas Lehi yang sensional. Dan pada keesokan harinya kami ke Pulau Makalehi.

Lanjutkan membaca “Kamga, Vokalis Tangga itu Nyaris Tenggelam”