Memanfaatkan Limbah Sebagai Sumber Penghasilan

Salmon

Salmon Mamahi pekerja serabutan di Desa Bahoi, Kecamatan Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara telah dengan bijak memanfaatkan beberapa limbah menjadi sesuatu yang dapat mendatangkan penghasilan bagi keluarganya.

Pria 39 tahun ini dengan cermat dapat membuat beberapa kerajinan tangan. Diantaranya mengolah tempurang kelapa menjadi asbak, vas beserta bunganya, limbah kayu menjadi ikan hias, miniatur perahu dan tiruan burung. Demikian pula dengan sabut kelapa yang diubat menjadi asbak besar, serta beberapa kerajinan tangan lainnya yang kesemuanya dari bahan yang sudah tidak terpakai lagi.

Desa Bahoi merupakan desa pesisir yang dikarunia keindahan alam yang mempesona. Berkat pendampingan yang dilakukan oleh Worldwild Conservation Society Indonesian Programme (WCS-IP) Sulawesi Utara dan PNMPM-LMP, Desa Bahoi menjadi desa wisata yang dikelola secara langsung oleh masyarakat. Konsep ekowisata merupakan pilihan bagi masyarakatnya dengan pertimbangan mempertahankan lingkungan alam yang ada.

Lanjutkan membaca “Memanfaatkan Limbah Sebagai Sumber Penghasilan”

Kerajinan Anyaman Tikar dan Ginto menjadi salah satu Fokus Disperindag Sitaro

Ginto dan AnyamanKepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian, Eddy Salindeho membuktikan ucapannya beberapa waktu lalu. “Saya akan mengekspose kerajinan anyaman tikar dan ginto yang ada di Sitaro.” Hal ini dibuktikan dengan dipamerkannya hasil dua kerajinan tersebut dalam Sulut Expo di WOC dan CTI Summit 2009.

Seperti diketahui bahwa selama ini masyarakat Pulau Makalehi memiliki sebuah kerajinan tangan berupa anyaman tikar. Demikian pula dengan masyarakat yang ada di Kampung Nameng, memiliki keterampuilan dalam membuat anyaman dari ginto (sejenis rumput liar yang tumbuh di hutan).

Hasil kedua kerajinan tersebut terlihat halus dibandingkan dengan kerajinan dari daerah lain. Kedua kerajinan tersebut memang perlu mendapat perhatian khusus. Blog Sitaro yang datang langsung ke Kampung Nameng dan bertemu dengan pengrajinnya, mencermati bahwa jika tidak diambil langkah penting, bisa saja kerajinan tangan ini akan hilang. Demikian pula yang disaksikan di Pulau Makalehi beberapa waktu lalu.

“Disperindag akan mencoba untuk mengembangkan kedua kerajinan tersebut menjadi sebuah industri. Walaupun baru sekedar industri rumah tangga dengan skala kecil. Yang penting, bagaimana kita sekarang memberi perhatian kepada pengrajin.” Demikian ditegaskan oleh Eddy Salindeho yang dengan setia berada di Stand Sitaro.