Torosiaje, "Tanah Leluhur Kami adalah Laut"

Torosiaje-2

Tersebut dulu dalam hikayat orang Bajo, putri Sang Raja Elolo Bajo hanyut terbawa arus. Rombongan Patta Sompa diutus raja untuk mencari putri yang hilang tersebut. Dalam pencarian itu Patta Sompa sampai di Teluk Tomini. Ketika ingin beristirahat Patta Sompa menunjuk sebuah tanjung sambil berujar, “Kita Pasemba Matoro Ore” yang artinya, “kita akan singgah di tanjung sana.”

Tanjung itu bernama Tanjung Salam Penguh yang kini berada dalam wilayah administrasi Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwatu, Gorontalo. Waktu itu rombongan Patta Sompa masih menggunakan soppe (perahu). Mereka mengikat perahu-perahu di pohon lolaro yang banyak terdapat di tanjung tersebut.

“Ini merupakan salah satu versi asal mula terbentuknya kampung Torosiaje,” ujar Pemerhati Masalah Sosial Budaya, Dirno Kaghoo yang juga adalah seorang dosen.
Menurut tuturan warga lainnya, Suku Bajo yang berada di Torosiaje sudah ada sejak tahun 1901. Mereka berasal dari Sulawesi Selatan. “Dengan menggunakan perahu, sembilan keluarga dari Sulawesi Selatan itu menjadikan hutan bakau yang ada di tanjung itu sebagai daerah perlindungan mereka,” ujar Kepala Dusun Bahari Jaya Desa Torosiaje, Akbar Mile.

Lanjutkan membaca “Torosiaje, "Tanah Leluhur Kami adalah Laut"”