USAI

_mg_9595
#41~365

Cap Go Meh selalu menjadi daya tarik saban tahun bagi warga Manado.
Cap Go Meh (Hokkien: 十五暝) melambangkan hari ke-15 dan hari terakhir dari masa perayaan Tahun Baru Imlek bagi komunitas Tionghoa di seluruh dunia. Istilah ini berasal dari dialek Hokkien dan secara harafiah berarti hari kelima belas dari bulanpertama (Cap = Sepuluh, Go = Lima, Meh = Malam). Ini berarti, masa perayaan Tahun Baru Imlek berlangsung selama lima belas hari.

Perayaan Cap Go Meh di Manado diadakan rutin setahun sekali. Pada Cap Go Meh, jalanan di sekitar daerah Kampung Cina (Pecinan) Manado akan ditutup. Arak-arakan kio yang dinaiki oleh tangsin (wadah roh suci) menjadi daya tarik utama. Prosesi arak-arakan biasanya berlangsung hingga malam sampai waktu kunci sembahyang. Setiap klenteng akan mengarakan dewa atau dewi tertentu berdasarkan klenteng masing-masing.

#capgomeh #tionghoa #imlek #jurnal_rb #manado

LETER C

leter-e

#39~365

Tahun 1884 Belanda mengreorganisasi Wijk di Manado menjadi 3: Wijk Leter A dan Leter B khusus orang Belanda, dan Wijk Leter C sebagai Kampung Cina.

Pemerintah kolonial Belanda ketika menjajah Indonesia, suka membagi-bagi klas masyarakat. Klas dan keistimewaan ini pun berlaku di Manado, pusat Keresidenan Manado. Orang Belanda dan penduduk istimewa memiliki pemukiman khusus di pusat Kota Manado, yang telah mulai dirintis sejak awal penjajahan, masa Kompeni (VOC, sebelum berganti pemerintah Hindia-Belanda).

Kampung-kampung istimewa tumbuh di Bendar Manado, sekarang masuk Kecamatan Wenang, lokasi yang di masa lalu disebut ‘distrik’ hoofdplaats Manado, pusat pemerintahan dan perdagangan. Hunian orang Belanda terdiri 6 kampung, tersebar di utara dan selatan Benteng Nieuwe Amsterdam. Di dekatnya, Kampung Cina di Calaca sekarang, dan kemudian Kampung Arab di Istiqlal sekarang. Berikut Kampung Borgo, sekarang di Kecamatan Tuminting, Kampung Borgo Kristen di Sindulang dan Kampung Borgo Islam di Kampung Islam. Lanjutkan membaca “LETER C”

Tiga Agenda Gelar Budaya di Manado Awal Tahun

figura-manado

Bagi anda yang ingin mengunjungi Kota Manado, Sulawesi Utara di awal tahun 2017 ini sebaiknya mencatat tiga agenda budaya yang akan digelar pada Januari dan Februari.

1. Pawai Figura

Ada sesuatu yang unik di Manado dan sekitarnya, khususnya di beberapa daerah di Minahasa. Masyarakat di sana mengenal istilah Pesta Kunci Taong.

Kunci Taong adalah kebiasaan masyarakat saling mengunjungi dari rumah ke rumah secara rombongan lengkap dengan alat musik petik sambil bernyanyi setiap hari Minggu sepanjang bulan Januari.

Dan puncaknya adalah minggu terakhir di bulan Januari. Pada puncak Kunci Taong biasanya digelar pula Pawai Figura. Kali ini Pemerintah Kota Manado menetapkan Pawai Figura akan digelar pada 29 Januari 2017.

Lanjutkan membaca “Tiga Agenda Gelar Budaya di Manado Awal Tahun”

Catat, 5 Wisata Gratis di Manado

Jembatan Seokarno menjadi ikon baru Kota Manado. / Foto: Liny Tambajong.
Jembatan Seokarno menjadi ikon baru Kota Manado. / Foto: Liny Tambajong.

Jika Anda sedang berada di Manado, ibu kota Provinsi Sulawesi Utara, berbagai destinasi wisata tersedia untuk didatangi. Sebut saja pulau Bunaken dengan keindahan taman lautnya yang tersohor seantero dunia itu. Juga puluhan destinasi bahari lainnya di sekitar Manado juga sangat layak dikunjungi.

Tetapi untuk ke lokasi-lokasi itu, tentu dibutuhkan persiapan yang matang dan juga biaya yang tidak sedikit, terutama menyewa transportasi laut. Nah, bagi Anda yang berkantung pas-pasan, ada beberapa lokasi wisata di Manado yang tidak dipungut bayaran untuk masuk alias gratis dan tergolong mudah untuk didatangi. Berikut daftarnya.

Lanjutkan membaca “Catat, 5 Wisata Gratis di Manado”

KAMPUNG CINA, Sajian Wisata Bangunan Tua di Kota Manado

Kampung Cina, merupakan salah satu destinasi wisata yang terletak di tengah pusat keramaian kota Manado. Lokasi ini juga dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan tertua yang ada di Manado.

Disebut dengan nama Kampung Cina, karena hampir semua pemilik bangunan di tempat ini berasal dari etnis Cina. Dahulu kala, Pemerintahan Kolonial Belanda, membangun perkampungan ini untuk menampung para tukang kepala yang berasal dari etnis Cina.
Seiring perkembangan, perkampungan ini menjelma menjadi pusat perdagangan awal Kota Manado, hingga sekarang.

Disini pula terletak Klenteng Ban Hing Kiong, yang dibangun pada tahun 1819. Di Kampung Cina ini juga setiap tahun, rutin diselenggarakan Perayaan Cap Goh Me, yang ditandai dengan keluarnya para "Encipia".  Perayaan Cap Goh Me, malah sudah menjadi kalender wisata tetap kota Manado, dan banyak diminati wisatawan.

Namun diantara keriuhan perdagangan yang berlangsung sangat padat pada setiap harinya, ternyata Kampung Cina menyisahkan sejumlah bangunan yang tergolong tua, bahkan beberapa diantaranya sangat tua. Bangunan-bangunan tersebut pada umumnya masih berupa peninggalan jaman kolonial Belanda. Bangunan-bangunan tersebut hampir seluruhnya digunakan sebagai toko.

Lanjutkan membaca “KAMPUNG CINA, Sajian Wisata Bangunan Tua di Kota Manado”