Tak Pernah Sekolah, Lumpuh Sejak Lahir dan Tunawicara, Indah Justru Terbitkan Cerpen

indah-disabilitas
Indah Tinumbia, seorang gadis di Kotamobagu, Sulawesi Utara, yang menderita lumpuh di kakinya dan juga penyandang tunawicara sedang tidur di kamarnya di Desa Tabang, Kecamatan Kotamobagu Selatan, Kota Kotamobagu, ketika disambangi, Jumat (17/2/2017).

Di kamar berukuran 3×4 meter itu, terdapat lemari pakaian, televisi dan sebuah rak yang berisikan puluhan buku cerita yang tertata dengan rapi.

Kamarnya yang terlihat apik menjadi saksi perjalanannya menyelesaikan sebuah buku cerpen.

Gadis yang mengenakan hijab ini lalu bercerita, dia bisa menjadi seperti sekarang ini karena ikut bergabung di komunitas Kelas Menulis Online (KMO). Rata-rata anggotanya adalah mahasiswa.

“Saya bisa menyelesaikan buku ‘Standing Because of Love’ ini karena mereka,” kata Indah terbata-bata. Lanjutkan membaca “Tak Pernah Sekolah, Lumpuh Sejak Lahir dan Tunawicara, Indah Justru Terbitkan Cerpen”

Yayu, Pembuat Kue dan Batu Bata Ini Dirikan Pondok Baca Bagi Anak-Anak

yayu-1

Hujan yang turun sepanjang hari tak menyurutkan langkah anak-anak di Desa Tikela, Kecamatan Tombulu, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, mendatangi rumah Niramita Yayu (30).

Sekitar 20 anak berbagai usia itu bersemangat ingin mengisi waktu mereka di ruangan berukuran 2 meter x 4 meter yang disediakan Yayu.

Ruangan itu begitu sederhana, sama halnya dengan rumah yang ditempati Yayu dan keluarganya. Dindingnya terbuat dari seng bekas.

Ruang itu sejatinya bagian dari dapur dan sengaja digunakan oleh Yayu sebagai Pondok Membaca dan Menulis.

“Awalnya mereka sering datang membaca buku koleksi saya yang tak seberapa. Saya lalu berniat menyediakan mereka ruang baca dan belajar. Jadi saya sisihkan sebagian dapur saya,” ujar Yayu, Rabu (15/2/2017).

Yayu dan suaminya, Sami Mannopo, menyisihkan sebagian pendapatan mereka yang pas-pasan untuk membenahi sedikit ruang baca bagi anak-anak itu.

Lanjutkan membaca “Yayu, Pembuat Kue dan Batu Bata Ini Dirikan Pondok Baca Bagi Anak-Anak”

Cerita Opa Yem dan Pisang Gorohonya..

opa-yem

Meski usianya sudah 87 tahun, Jemyy Albert Polii, yang biasa disapa Opa Yem masih terlihat kuat mengurus kebun pisangnya di Aer Panas, Malalayang, Manado.

Saat ditemui di kebunnya, Senin (16/1/2017), Opa Yem masih terlihat gagah, dan berpenampilan rapih. Ditemani istrinya, Opa Yem sedang memilin jagung yang juga merupakan hasil dari kebunnya.

“Saya mulai menanam pisang sejak tahun 60an. Dulu lahan kebun sekitar dua hektar,” kata Opa Yem.

Dengan luas lahan sebesar itu, Opa Yem mengaku bisa menanam pisang dari jenis goroho (Musa acuminafe,sp) hampir 1.000 pohon.

“Sudah beberapa jenis pisang yang dicoba, tetapi goroho yang terbaik. Tapi sekarang kebunnya sudah kecil, karena sudah dibagi ke anak-anak, dan sebagian sudah dibeli orang untuk dibangun rumah,” ujar Opa Yem. Lanjutkan membaca “Cerita Opa Yem dan Pisang Gorohonya..”

Citra Meiriana Wati, Sosok Perempuan Yang Memerdekakan Warga Talaud dari Ketertinggalan

Citra-01

Bangunan sederhana di Kelurahan Melonguane Barat, Kecamatan Melonguane, Kabupaten Talaud itu berada di antara pemukiman warga. Tak banyak yang mengetahui jika di kelurahan itu ada aktivitas kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Tunas Baru.Walau PKBM Tunas Baru telah meluluskan ratusan warga belajarnya, namun sebagian besar warga Melonguane merasa asing dengan nama lembaga pendidikan informal tersebut.  Citra Meirina Wati, sosok perempuan dibalik PKBM tersebut mengaku memang tak mencari popularitas.

“Saya tulus mengabdikan diri untuk masyarakat, ingin memerdekakan mereka dari ketertinggalan,” ujar Citra, saat ditemui beberapa waktu lalu.

Lanjutkan membaca “Citra Meiriana Wati, Sosok Perempuan Yang Memerdekakan Warga Talaud dari Ketertinggalan”

HANYA MITO YANG BISA – Yang tercecer dari perjalanan ke Polahi

(Ini bukan Promosi !)

BABUTA - Salah satu anggota kelompok Polahi ini sedang menggunakan telepon genggamnya di atas gunung Boliyohuto.
BABUTA – Salah satu anggota kelompok Polahi ini sedang menggunakan telepon genggamnya di atas gunung Boliyohuto.

Minggu, 14 April 2013 saya berkesempatan melakukan trip bersama Tim Indonesiaku Trans7 (Widya sebagai Host, Mas Nata dan Mas Adi sebagai kameraman) serta si Pengeliling Indonesia Ebbie Vebri Adrian. Perjalanan kami kali ini menuju ke pemukiman Polahi di Hutan Humohulo, Pengunungan Boliyohuto (2049 m).

Kami start dari Dusun Pilomohuta, Desa Bina Jaya, Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Boalemo. Dusun Pilomohuta merupakan salah satu dusun terdekat menuju ke pemukiman Polahi. Untuk mencapai Dusun Pilomohuta harus melewati jalan yang lumayan rusak dari pertigaan Desa Lakea. Jalan berbatu yang diselingi dengan pohon tebu. (maklum di Kecamatan Paguyaman terdapat areal perkebunan Tebu milik salah satu pabrik gula terbesar di Indonesia).

Mobil tidak bisa sampai di Dusun Pilomohuta, hanya berakhir di seberang sebuah sungai. Terpaksa mobil numpang parkir di rumah salah satu warga. Kami harus menyebrang untuk sampai di rumah Kepala Dusun Pilomohuta. Cerita lainnya nanti diseri berikut, saya mau cerita yang ini sesuai judulnya.

Lanjutkan membaca “HANYA MITO YANG BISA – Yang tercecer dari perjalanan ke Polahi”

SEBUAH PERENUNGAN

IMG_0962 Disaat kamu ingin melepaskan seseorang, ingatlah pada saat kamu ingin mendapatkannya

Disaat kamu mulai tidak mencintainya, ingatlah saat pertama kamu jatuh cinta padanya

Disaat kamu mulai bosan dengannya, ingatlah selalu saat terindah bersamanya

Disaat kamu ingin menduakannya, bayangkan jika dia selalu setia

Saat kamu ingin membohonginya, ingatlah disaat dia jujur padamu, maka kamu akan merasakan arti dia untukmu.

Jangan sampai disaat dia sudah tidak disisimu, kamu baru menyadari semua arti dirinya untukmu.

Yang indah hanya sementara

Yang abadi adalah kenangan

Yang ikhlas hanya dari hati

Yang tulus hanya dari sanubari

Tidak mudah mencari yang hilang

Tidak mudah mengejar impian

Namun yang lebih susah mempertahankan yang ada, karena walaupun tergenggam bisa terlepas juga.

Ingatlah pada pepatah "Jika kamu tidak memiliki apa yang kamu sukai, maka sukailah yang kamu miliki saat ini"

Belajar menerima apa adanya dan berpikir positif.  Hidup bagaikan mimpi, seindah apapun, begitu bangun semuanya sirna tak berbekas

Rumah mewah bagai istana, harta benda yang tak terhitung, kedudukan, dan jabatan yang luar biasa, namun ketika nafas terakhir tiba, sebatang jarumpun tak bisa dibawa pergi, sehelai benangpun tak bisa dimiliki apalagi yang mau diperebutkan, apalagi yang mau disombongkan.

Maka jalanilah hidup ini dengan keinsafan nurani, jangan terlalu perhitungan, jangan hanya mau menang sendiri, jangan suka sakiti sesama apalagi terhadap mereka yang berjasa bagi kita.

Belajarlah tiada hari tanpa kasih, selalu berlapang dada dan mengalah, hidup ceria, bebas leluasa.

Tak ada yang tak bisa di ikhlaskan, tak ada sakit hati yang tak bisa dimaafkan, tak ada dendam yang tak bisa terhapus.

(Terimakasih dari yang pertama kali mengshare ini melalui Facebook, entah siapa yang menulisnya, tapi sungguh ini merupakan sebuah inspirasi dan motivasi yang kuat. Silahkan share sesuka anda, lebih banyak yang membaca lebih baik)

Sebuah arti Cinta – Kisah Nyata dari Jepang

Ini sebuah kisah nyata yang terjadi di Jepang.

51175 Ketika sedang merenovasi sebuah rumah, seseorang mencoba merontokan tembok.
Rumah di Jepang biasanya memiliki ruang kosong diantara tembok yang terbuat dari kayu. Ketika tembok mulai rontok, dia menemukan seekor kadal terperangkap diantara ruang kosong itu karena kakinya melekat pada sebuah paku.

Dia merasa kasihan sekaligus penasaran. Lalu ketika dia mengecek paku itu, ternyata paku tersebut telah ada disitu 10 tahun lalu ketika rumah itu pertama kali dibangun.
Apa yang terjadi? Bagaimana kadal itu dapat bertahan dengan kondisi terperangkap selama 10 tahun???
Dalam keadaan gelap selama 10 tahun, tanpa bergerak sedikitpun, itu adalah sesuatu yang mustahil dan tidak masuk akal.

Lanjutkan membaca “Sebuah arti Cinta – Kisah Nyata dari Jepang”