HANYA MITO YANG BISA – Yang tercecer dari perjalanan ke Polahi

(Ini bukan Promosi !)

BABUTA - Salah satu anggota kelompok Polahi ini sedang menggunakan telepon genggamnya di atas gunung Boliyohuto.
BABUTA – Salah satu anggota kelompok Polahi ini sedang menggunakan telepon genggamnya di atas gunung Boliyohuto.

Minggu, 14 April 2013 saya berkesempatan melakukan trip bersama Tim Indonesiaku Trans7 (Widya sebagai Host, Mas Nata dan Mas Adi sebagai kameraman) serta si Pengeliling Indonesia Ebbie Vebri Adrian. Perjalanan kami kali ini menuju ke pemukiman Polahi di Hutan Humohulo, Pengunungan Boliyohuto (2049 m).

Kami start dari Dusun Pilomohuta, Desa Bina Jaya, Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Boalemo. Dusun Pilomohuta merupakan salah satu dusun terdekat menuju ke pemukiman Polahi. Untuk mencapai Dusun Pilomohuta harus melewati jalan yang lumayan rusak dari pertigaan Desa Lakea. Jalan berbatu yang diselingi dengan pohon tebu. (maklum di Kecamatan Paguyaman terdapat areal perkebunan Tebu milik salah satu pabrik gula terbesar di Indonesia).

Mobil tidak bisa sampai di Dusun Pilomohuta, hanya berakhir di seberang sebuah sungai. Terpaksa mobil numpang parkir di rumah salah satu warga. Kami harus menyebrang untuk sampai di rumah Kepala Dusun Pilomohuta. Cerita lainnya nanti diseri berikut, saya mau cerita yang ini sesuai judulnya.

Lanjutkan membaca “HANYA MITO YANG BISA – Yang tercecer dari perjalanan ke Polahi”

Torosiaje, "Tanah Leluhur Kami adalah Laut"

Torosiaje-2

Tersebut dulu dalam hikayat orang Bajo, putri Sang Raja Elolo Bajo hanyut terbawa arus. Rombongan Patta Sompa diutus raja untuk mencari putri yang hilang tersebut. Dalam pencarian itu Patta Sompa sampai di Teluk Tomini. Ketika ingin beristirahat Patta Sompa menunjuk sebuah tanjung sambil berujar, “Kita Pasemba Matoro Ore” yang artinya, “kita akan singgah di tanjung sana.”

Tanjung itu bernama Tanjung Salam Penguh yang kini berada dalam wilayah administrasi Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwatu, Gorontalo. Waktu itu rombongan Patta Sompa masih menggunakan soppe (perahu). Mereka mengikat perahu-perahu di pohon lolaro yang banyak terdapat di tanjung tersebut.

“Ini merupakan salah satu versi asal mula terbentuknya kampung Torosiaje,” ujar Pemerhati Masalah Sosial Budaya, Dirno Kaghoo yang juga adalah seorang dosen.
Menurut tuturan warga lainnya, Suku Bajo yang berada di Torosiaje sudah ada sejak tahun 1901. Mereka berasal dari Sulawesi Selatan. “Dengan menggunakan perahu, sembilan keluarga dari Sulawesi Selatan itu menjadikan hutan bakau yang ada di tanjung itu sebagai daerah perlindungan mereka,” ujar Kepala Dusun Bahari Jaya Desa Torosiaje, Akbar Mile.

Lanjutkan membaca “Torosiaje, "Tanah Leluhur Kami adalah Laut"”

Desa Wisata di Atas Air Ini Kesulitan Air Bersih

Torosiaje-1

Torosiaje merupakan sebuah perkampungan Suku Bajo yang berada di tengah laut, terpisah dari daratan di Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwatu, Provinsi Gorontalo. Oleh pemerintah setempat, perkampungan Suku Bajo Torosiaje sudah dijadikan sebagai desa wisata dengan keunikan kehidupan orang Bajo yang hidup di rumah tiang pancang di atas laut.

Dari jalan masuk di darat, pengunjung sudah disambut dengan sebuah pintu gerbang yang di atasnya tertulis ucapan Selamat Datang di Desa Wisata.
Saat sekarang, perkampungan Torosiaje Laut dihuni lebih dari 450 kepala keluarga dengan sekitar 1.200-an jiwa yang terbagi atas dua dusun. Kedua dusun tersebut tinggal di rumah-rumah tiang pancang yang dihubungkan dengan jembatan kayu beratap sepanjang 4.000 meter lebih yang membentuk formasi huruf ‘U’.

Keunikan kehidupan Suku Bajo yang menggantungkan hampir seluruh hidupnya pada laut menjadi daya tarik sendiri bagi penyuka travelling. Torosiaje pun sering didatangi berbagai pelancong, baik dalam negeri maupun luar negeri.

Lanjutkan membaca “Desa Wisata di Atas Air Ini Kesulitan Air Bersih”

SERI POLAHI (1): Mereka Hidup Di Pedalaman Hutan Boliyohuto

Polahi-1

Kata "Polahi" bagi sebagian warga yang hidup di Gorontalo merupakan sebuah cerita yang diliputi dengan mistis. Walaupun hampir sebagian besar orang Gorontalo mengenal kata itu, tetapi hanya sebagian kecil yang benar-benar tahu dengan keberadaan Polahi.

"Nyaris hampir mustahil untuk bertemu dengan Polahi yang masih liar," ujar Fotografer Rosyid Azhar yang meminati kehidupan Polahi.

Polahi adalah sebutan untuk sekelompok warga yang hingga kini masih hidup terisolasi di pedalaman hutan Gunung Boliyohuto yang meliputi daerah Paguyaman, Suwawa dan Sumalata di Provinsi Gorontalo.

Berbeda dengan suku-suku pedalaman lainnya di Indonesia, literar suku Polahi sangat minim. Ini dikarenakan sikap tertutup yang mereka tunjukkan sejak dulu. "Polahi takut jika bertemu dengan orang lain, biasanya mereka langsung lari," tambah Rosyid.

Lanjutkan membaca “SERI POLAHI (1): Mereka Hidup Di Pedalaman Hutan Boliyohuto”

Yuk, Berwisata Ke Negeri di Atas Laut

(RAB)-Torosiaje-Laut---1

Jika menginginkan suasana perkampungan yang berbeda, Torosiaje salah satu pilihan tepat. Kampung ini sungguh berbeda dari kampung lainnya. Barangkali inilah satu-satunya kampung yang benar-benar berada diatas laut. Ya, di datas laut, karena dua dusun yang ada di Desa Torosiaje benar-benar didirikan diatas laut.

Desa Torosiaje merupakan desa perkampungan Suku Bajo yang terletak di Kecamatan Popayato, Kabupaten Gorontalo. Kisah terbentuknya perkampungan Torosiaje cukup panjang. Keberadaan orang Bajo di Torosiaje sudah ada sejak tahun 1901. Ketika itu mereka hanya menambatkan perahu di bawah pohon bakau, hingga kini telah menjelma menjadi satu desa dengan lebih dari 200 bangunan rumah. Semuanya dibangun di atas tiang pancang yang ditanam didasar laut.

Lanjutkan membaca “Yuk, Berwisata Ke Negeri di Atas Laut”

Malam Natal Diantara Kopiah

24 Desember. Malam Natal. Kenangan saya justru mengembara ke masa kecil, sewaktu duduk di bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah. Jika usia saya sekarang mendekati 40 tahun, berarti kejadiannya berlangsung sekitar 25-30 tahun lalu.

Bulontio, demikianlah nama kampung tempat saya belajar mengenal masa kanak-kanak hingga remaja. Berada disebuah Kecamatan Sumalata, Kabupaten Gorontalo yang waktu itu masih bergabung dengan Provinsi Sulawesi Utara. Bulontio sendiri terdiri dari dua desa. Bagian Barat dan Bagian Timur. Saya tinggal di Bulonti0 Barat, yang merupakan ibukota kecamatan.

Ayah saya suku Sanger, sebuah kepulauan di ujung Utara Sulawesi. Ibu saya terlahir sebagai suku Minahasa. Kami bisa berada di Bulontio karena ayah saya seorang tentara. Berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Saya malah lahir di Toli-Toli, Sulawesi Tengah.

Lanjutkan membaca “Malam Natal Diantara Kopiah”

Mereka Bilang, Memotret Itu Seperti Memasak

Kali ini saya memasak menu “Landscape di Danau Limboto”

 

_MG_6489 Memotret itu adalah seni, layaknya kegiatan memasak. Urusan dapur yang satu itu, bisa dilakukan oleh siapa saja, tetapi jika tidak dilakukan dengan “seni” maka sajian menunya biasa-biasa saja. Sebuah menu tradisional akan terasa sangat istimewa ketika diolah dan diberi improvisasi yang kreatif oleh seorang master chef.

Begitupula fotografi. Siapa saja bisa memotret, apalagi dengan kemajuan bidang fotografi saat sekarang, handset paling murah pun sudah dilengkapi dengan camera. Tetapi untuk menghasilkan foto yang “tidak biasa” diperlukan seni mengolahnya.

Layaknya memasak, kita harus mempersiapkan segala sesuatun agar sajian kita terasa “gurih dan garing.” Kali ini saya berkesempatan mengunjungi Gorontalo, provinsi yang memisahkan diri dari Sulawesi Utara ini punya bentangan lansekap yang indah. Gorontalo yang sebagian besar daerahnya merupakan dataran rendah menyimpan begitu banyak spot pemotretan. Hamparan luas persawahan yang rata merupakan satu pemandangan yang sangat menarik.

Lanjutkan membaca “Mereka Bilang, Memotret Itu Seperti Memasak”