Mengisi National Geographic Indonesia Traveler edisi Desember 2016

Saya mendapat kesempatan mengisi halaman Portofolio di majalah National Geographic Indonesia Traveller pada edisi Desember 2016. Editor NatGeo meminta saya mengirimkan foto-foto dan artikel tentang Hudoq Pekayang, sebuah ritual suku Dayak, yang saya rekam di pedalaman Mahakam Hulu, Kalimantan Timur pada Oktober 2016.

Berikut artikel dan capture halaman majalah tersebut, sebagaimana juga dipublish di website fotokita.net pada 23 November 2016.


 

1216-ngt_t-018-027_page_1

Menjelang siang, Tipung Ping (65) dan Yeq Lawing (67) bergabung bersama warga lainnya di Lamin Adat kampung Long Isun Data Suling. Kedua inai ini—sebutan ibu tua di Dayak Bahau—mempersiapkan diri untuk turut serta pada Hudoq Pekayang di Long Tuyoq di Kecamatan Long Pahangai, Kabupaten Mahakam Hulu, Kalimantan Timur.

Rombongan warga bertolak ke Long Tuyoq. Tipung dan Yeq terlihat cantik dalam busana yang didominasi warna merah. Hudoq Pekayang menjadi ajang kumpul bagi 13 kampung di Long Pahangai saban Oktober.

Lanjutkan membaca “Mengisi National Geographic Indonesia Traveler edisi Desember 2016”

CUSTODIANS OF CULTURE: Paul Richard Renwarin

Renwarin-3Beberapa waktu lalu saya diminta Majalah Tempo Edisi Bahasa Inggris untuk mewawancarai Pastor Paul Richard Renwarin. Saya menghubungi Pastor via telepon yang waktu itu masih berada di Jakarta. Lalu kami sepakat bertemu di Asrama Sekolah Tinggi Ilmu Filsafat Seminari Pineleng. Pastor lalu menerima kami (saya mengajak Hermondo Kasiadi/F21STOCK untuk membantu memotret) di kamar asrama yang ditempatinya, pada 8 Desember 2014. Selama sekitar 3 jam, Pastor menyediakan waktu melayani wawancara saya, sementara Hermondo mengerjakan tugasnya.

Hasil wawancara itu sudah dimuat dalam artikel di Majalah Tempo English Edition 18-19 (December 22, 2014 – January 5, 2015) dalam Rubrik Outreach dibawah judul Development of Indonesia’s Outlying Areas. Dalam artikel itu juga dibahas mengenai sosok Robert Ramone dari pulau Sumba dan Joosten Leonardus Edigius dari Sumatera. Artikel itu sebanyak 8 halaman.

Sayang Majalah tersebut tidak beredar di Manado. Tempo berjanji mengirimkan satu majalah untuk saya. Namun saya sudah terlebih dahulu membeli versi e-magazinenya lewat Scoop di Android. Untuk memenuhi rasa penasaran beberapa teman yang juga ingin membaca tentang Pastor, baiklah saya mengutip isi dari artikel tersebut, tentu tidak semua 8 halaman itu, tetapi hanya bagian yang berisi mengenai Pastor Renwarin.

Lanjutkan membaca “CUSTODIANS OF CULTURE: Paul Richard Renwarin”