SARUNG BADAKA

img_20170120_173739-01

#21~365

Some member of family from the groom lift up some food in front of the bride, Jani. Before that, every member of family who attend in Sarung Badaka ceremony give them present like some money then they smear the powder to the bride and groom’s face and hands. Same way they do to the bride and groom’s parents.

After all of groom’s family done, Din who is the groom stay on the stage and all of bride’s family will do the same.

Din and Jani will be married on the next day in Wai Ila village, District East Sulabesi, Sula Island in North Maluku Province. Sarung Badaka is a ceremony like a bachelor’s party before they married.

#jurnal_rb #merasakanindonesiamu #wedding #art #culture #traditional #bride #heritage #natgeo #weddingtraditional #sula #sanana #molusca #maluku #maluku_utara #people #weddingparty #indonesianwedding

SUENDUMANG

Beberapa waktu lalu, saya memperoleh sebuah buku. Buku tersebut awalnya ditulis tangan, namun kemudian dirapihkan dengan ketikan mesin tik. Adalah Hans Barik (seorang pegawai di Dinas Pertanian Kab. Kepl. Sitaro) yang mengoleksi buku tersebut. Menurut Hans, Ia memperolehnya secara langsung dari keluarga penulis buku itu.

Hans Barik sangat berkeinginan untuk mempublikasikan isi buku tersebut, agar supaya banyak orang yang mengetahui isi dari buku tersebut, terisitimewa memahami apa yang dimaui oleh penulis. Sejauh ini, menurut Hans belum ada satupun usaha untuk menerbitkan secara massal buku tersebut.

Buku itu diberi judul: SANGIHE TALAUDE, SUENDUMANG disusun  oleh D. MANATAR. Dalam prakata tertera tanggal Agustus 1994 sebagai akhir dari penyusunan buku tersebut. Namun dalam pengantarnya yang singkat itu, D. Manatar menyatakan bahwa, Ia sejak 1936 sampai 1978 berusaha menghubungi sebanyak 26 orang sebagai narasumber bukunya. Salah satu narasumbernya adalah catatan tangan dari W.M.P. Mocodompis yang tak lain Raja Manganitu yang gugur dibawah kuasa pedang samurai Jepang pada 19 Januari 1945.

Usaha penyusunan kepingan-kepingan narasumber tersebut dimulai sejak Agustus 1982 ketika D. Manatar mendapat himbauan dari Prof Dr. M. Makagiansar, M.A.  Namun seperti yang diakui oleh penyusun, Ia tidak ditunjang dengan sarana yang memadai (mesin ketik, kertas dan karbon serta penulisan manual pada beberapa aksara daerah) membuat buku tersebut baru selesai disusun pada 1994.

Lanjutkan membaca “SUENDUMANG”