Kuburan Tua Tamawiwij di Beo, Talaud

Dalam sebuah kunjungan saya ke Talaud pada Oktober 2011, saya menyempatkan diri ke Beo. Dalam kesempatan itu saya sempat memotret kompleks Perkuburan Tua, milik marga Tamawiwij.

Yang menarik dari yang tertulis pada kuburan tua tersebut adalah sebutan President Djogoegoe Beo untuk Kuburan SS. Tamawiwij dan sebutan Padoeka Radja P.P. Talaud untuk Kuburan Julius Satio Tamawiwij.

4R Tertulis: Disini Berhenti JULIUS SARIO TAMAWIWIJ, Padoeka Radja P.P. TALAUD, Wafat 19-7-1931 di Manado, Dimakamkan 28-7-1931 di BEO, Mazmoer 73:26, Wahjoe 14:13

Lanjutkan membaca “Kuburan Tua Tamawiwij di Beo, Talaud”

Cerita Perang melawan Bajak Laut Kepl. Sulu

Musuh bubuyutan dari leluhur orang Sangihe Talaude adalah bajak-bajak laut dari Kepl. Sulu. Kira-kira abad ke-14 Datu dari Kepl. Sulu bernama Hontontundali alias Himbawo I, singgah di Pulau Sulu memaksa orang-orang Siau untuk mengawalnya ke pulau Bukidé-Tabukan, berkehendak memboyong putri Sangiang Nilighidé yang termasyhur kecantikannya sampai di pulau-pulau Sulu waktu itu. Memboyong wanita dengan tidak melalui cara yang diadatkan, berarti memancing pertumpahan darah, sehingga dengan kegigihan para pengawal Sangiang nilighidé di bawah koordinasi pendekar bernama Sagheghe, sebagian besar para pengawal Datu Himbawo I, dapat dihancurkan di Pulau Bukidé.

Kehancuran tersebut terungkap dalam jawaban pria bernama Limbe yang ditegur oleh Datu Himbawo I, yang lari dari gelanggang pertempuran dengan jawaban: “Baļine tutaļang na taku timagunggi négiantang, kai tutaļang ma uļi tagunggi méléhabaré. U rala kante masue e kurai mataļente e, dala masu e su moļe mataļente su wahani. Ku dala su ļengeh’u Wukidé su lewa eng Kaderotang, taļowang kere iladé kere sarésaļ’u pato, séngga pinangémbo ténda pinénawau palawa.” Terjemahan bebasnya kira-kira: “Saya bukannya takut, lalu bergegas lari, tapi saya bergegas memberi tahu dan membawa berita. Sebab teman makin kurang dan kawan-kawan hampir musnah, digulung si pemberani di tetak oleh pendekar. Dilereng gunung sana yang dibawah perbukitan, mayatpun bergelimpangan persis kayu dihamparkan, lainnya dibuat pagar meneguhkan perkubuan.”

Lanjutkan membaca “Cerita Perang melawan Bajak Laut Kepl. Sulu”

Asal-Usul Penduduk Sangihe Talaud (versi Buku Suendumang)

Bila ditelusuri dari asal-usul keturunannya atau yang disebut silsilah, maka nenek moyang penduduk daerah Sangihe Talaud semuanya berasal dari tempat lain yang datang melalui lautan, lalu menetap di daerah tersebut, mereka adalah:

  1. Ras Apapuang (yang paling awal), konon ceritanya berasal dari Bangsa Negrito;
  2. Ras yang berasal dari Saranggani, Mindanao Selatan;
  3. Ras dari daratan Merano, Mondanao Tengah;
  4. Ras dari Kepl. Sulu (sebagian kecil adalah raksasa);
  5. Ras dari Kedatuan Bowentehu + Manado Tua, dimana ras ini berasal dari Molibagu (Bolangitam).

Lanjutkan membaca “Asal-Usul Penduduk Sangihe Talaud (versi Buku Suendumang)”

Cerita Rakyat tentang sejarah Sangihe-Talaude

Menurut cerita rakyat, bumi Tampunganglawo yang kini disebut pulau Sangihe Besar, ratusan abad yang lalu, daratannya bersambung dengan pulau-pulau kecil mulai dari p. Lipaeng, p. Kawaluso, p. Matutuang, p. Memanu, p. Komboleng, p. Kawio, p. Marore, p. Marulung (p. Balut)  dan ujung paling Utara Barat Laut, p. Sahenganeng (p. Saranggani).

Pemukiman Suku Bantik dulu yang bernama Kaluwulang berada di bumi Tampunganglawo ini, yaitu diantara napong Ehise (beting-putih) dengan p. Marulung. Tapi karena daratan Tampunganglawo bagian Utara Barat Laut tenggelam, maka Suku Bantik untuk sementara waktu mengungsi ke daratan Talaud, lalu berpindah tempat dan mendiami pesisir Barat sepanjang pantai Sulawesi Utara, lainnya ke Mindanao Selatan, sedang yang kondisi tubuhnya lemah, berdiam terus di Talaud.

Lanjutkan membaca “Cerita Rakyat tentang sejarah Sangihe-Talaude”

Latar Belakang Sejarah Daerah Sangihe Talaude (versi Suendumang)

Sebelum digabung, daerah ini terdiri dari dua gugusan kepulauan, yaitu: Kepulauan Sangihe dan Kepulauan Talaude.Yang disebut Kepulauan Sangihe meliputi Pulau Taghulandang dengan pulau-pulau kecil disekelilingnya; Pulau Siau dengan pulau-pulau kecil disekelilingnya dan Pulau Sangihe Besar dengan pulau-pulau kecil disekelilingnya.

Sedangkan yang disebut dengan Kepuluan Talaude ialah: Pulau Karakelang, Pulau Salibabu, Pulau Kabaruan dan Pulau-Pulau Nunusa termasuk Pulau Miangas.

Pemerintahan pada dua gugusan kepulauan ini sebelm penjajahan adalah sebagai berikut:

Di Kepulauan Sangihe, pada akhir abad ke-XVII, pemerintahan berhubungan dengan Kesultanan Ternate, tapi sebelum waktu itu adalah pemerintahan yang merdeka.

Sedangkan Kepulauan Talaude berhubungan dengan Kerajaan Mojopahit.  Hal ini terlihat dalam syair Prapanca pada Kitab Negarakartagama pada Zaman Gajahmada (th. 1364), bahwa Talaud didalam syair bahasa Jawa tersebut disebut sebagai Udamakatrayadhi atau Udamakatraya. (buku Mr. M. Yamin yang berjudul Gajahmada Pahlawan Persatuan Nusantara, hal. 48-50).

Penggabungan dua gugusan kepulauan ini, yaitu Kepl. Sangihe dan Kepl. Talaude sehingga menjadi Sangihe Talaude nanti terjadi pada abad ke XVIII, setelah Kepl. Talaude tahun 1779 ditemukan oleh bangsa Belanda dan secara resmi disebut Daerah / Kepulauan Sangihe-Talaud.

Derah Sangihe Talaud dimasukkan ke dalam keresidenan Manado, nanti pada tahun 1825, yaitu setelah seluruh kepulauan ini dilepaskan dari Kesultanan Ternate, sehingga dengan keadaan ini maka penetapan raja-raja mulai tahun 1825 sudah bukan lagi di Ternate, melainkan di Manado.

SUENDUMANG

Beberapa waktu lalu, saya memperoleh sebuah buku. Buku tersebut awalnya ditulis tangan, namun kemudian dirapihkan dengan ketikan mesin tik. Adalah Hans Barik (seorang pegawai di Dinas Pertanian Kab. Kepl. Sitaro) yang mengoleksi buku tersebut. Menurut Hans, Ia memperolehnya secara langsung dari keluarga penulis buku itu.

Hans Barik sangat berkeinginan untuk mempublikasikan isi buku tersebut, agar supaya banyak orang yang mengetahui isi dari buku tersebut, terisitimewa memahami apa yang dimaui oleh penulis. Sejauh ini, menurut Hans belum ada satupun usaha untuk menerbitkan secara massal buku tersebut.

Buku itu diberi judul: SANGIHE TALAUDE, SUENDUMANG disusun  oleh D. MANATAR. Dalam prakata tertera tanggal Agustus 1994 sebagai akhir dari penyusunan buku tersebut. Namun dalam pengantarnya yang singkat itu, D. Manatar menyatakan bahwa, Ia sejak 1936 sampai 1978 berusaha menghubungi sebanyak 26 orang sebagai narasumber bukunya. Salah satu narasumbernya adalah catatan tangan dari W.M.P. Mocodompis yang tak lain Raja Manganitu yang gugur dibawah kuasa pedang samurai Jepang pada 19 Januari 1945.

Usaha penyusunan kepingan-kepingan narasumber tersebut dimulai sejak Agustus 1982 ketika D. Manatar mendapat himbauan dari Prof Dr. M. Makagiansar, M.A.  Namun seperti yang diakui oleh penyusun, Ia tidak ditunjang dengan sarana yang memadai (mesin ketik, kertas dan karbon serta penulisan manual pada beberapa aksara daerah) membuat buku tersebut baru selesai disusun pada 1994.

Lanjutkan membaca “SUENDUMANG”