Catatan Perjalanan: Mata Desa, Ide Yang Berangkat Dari Desa Tak Berakses Internet

Undangan resmi itu datang tiga minggu sebelum kegiatan itu digelar. Keraguan masih membayangi sepulang saya dari Data Driven Master Class yang digelar pada 9-11 Februari di Jakarta. Ini adalah workshop yang diselenggarakan oleh AJI Indonesiabersama independen.id.

Pada kegiatan yang digelar di Morrissey Hotel, itu saya mempresentasikan sebuah project yang sedang Zonautara.com siapkan. Namanya Info Desa. Ini adalah project jurnalistik yang akan melibatkan partisipasi warga desa dalam mempromosikan potensi desanya.

Ide Info Desa lahir saat saya membawakan materi Cerdas Bermedia Sosial di Pelatihan Jurnalisme Warga di Desa Pinaling, Kecamatan Amurang Timur, Minahasa Selatan pada November 2017.  Itu kegiatan yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN). Eva Aruperes mendapat fellowship Citradaya Nita untuk pendidikan anak putus sekolah sejak 2015. Dia kemudian melakukan penguatan ke warga Desa Pinaling, lokasi implementasi program fellowship dari PPMN itu.

Materi yang saya bawakan adalah soal bagaimana seharusnya menggunakan media sosial. Tentu akses internet adalah modal utama. Namun, lucunya, Pinaling, desa yang berjarak sekitar dua kilometer dari jalan Trans Sulawesi yang melintasi Amurang itu tak menangkap signal seluler apapun.

Namun sekitar 20 peserta pelatihan yang digelar di ruang kelas SDGMIM Pinaling semuanya punya smartphone. Beberapa tipe smartphone milik warga itu, bahkan mengalahkan tipe Xiaomi Note 4 milik saya. Saya penasaran dengan apa yang mereka lakukan dengan smartphone itu tanpa signal. Nyatanya materi yang saya bawakan bisa diserap dengan baik. Sebabnya adalah, walau Pinaling adalah desa nirsignal seluler, namun smartphone adalah sebuah kebutuhan. Tak sekedar untuk memotret, bermain game dan mendengarkan lagu. Smartphone itu juga tetap digunakan sebagai pencari informasi. Caranya, mereka mendatangi desa tetangga yang signalnya bagus, atau saat sedang bepergian kesempatan itu digunakan untuk browsing dan menyimpan informasinya.

Lanjutkan membaca “Catatan Perjalanan: Mata Desa, Ide Yang Berangkat Dari Desa Tak Berakses Internet”

Biar Bisa Merasakan Indonesia

Bernandus Apa

#3~365

Bernadus Apa (22,) adalah pemuda asal Alor, Nusa Tengara Timur yang berkuliah di Sekolah Tinggi Teologia Haezar Tanjung Enim, Pelembang. Dia kami temui saat dalam perjalanan pulang dari pedalaman Mahakam Hulu, Kalimantan Timur.

Saat itu speed boat yang kami tumpangi menyinggahi kampung Mentiwa, Ujoh Bilang di batang sungai Mahakam. Bernadus sudah berada di kampung itu selama 4 bulan dari 1 tahun tugas Praktek Kerja Lapangannya untuk meraih Sarjana Teologia. Calon pendeta ini melayani para pekerja di perkebunan sawit yang ada di Mentiwa. Lanjutkan membaca “Biar Bisa Merasakan Indonesia”

Hambali, Backpacker Sejati Indonesia Berusia 60 Tahun

BUKTI -- Hambali menunjukkan sebagian lembaran buku albumnya berisi tandantangan dan cap dari pemerintah setempat di daerah yang dia kunjungi.
BUKTI — Hambali menunjukkan sebagian lembaran buku albumnya berisi tandantangan dan cap dari pemerintah setempat di daerah yang dia kunjungi.

Usianya sudah cukup tua, 60 tahun. Namun, siapa menyangka Henry Hambali masih terus bertualang dan mengelilingi Indonesia hingga sekarang.

Saat ditemui Kompas.com, Hambali sedang sibuk mengatur arus lalu lintas dan parkiran di pintu masuk utama kawasan wisata Bromo, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Probolinggo, Jawa Timur.

Saat itu, Bromo dikunjungi puluhan ribu orang yang ingin menyaksikan upacara Yadnya Kasada.

“Saya sudah seminggu di sini, numpang menginap di Pos Pengamanan Kawasan Wisata Bromo,” ujar Hambali, pekan lalu.

Dia datang ke Bromo karena ingin melengkapi daftar petualangannya ke seluruh penjuru Indonesia. Berbeda dengan para petualang lainnya, Hambali hanya bermodal nekat tanpa modal uang yang banyak.

Lanjutkan membaca “Hambali, Backpacker Sejati Indonesia Berusia 60 Tahun”

Walau Berlantai Tanah Berdinding Bambu Beratap Rumbia, Mereka Tetap Semangat Sekolah

Sebuah ironi dari bumi Porodisa, Talaud

Noldy Lumangkiba, sedang mengajar siswanya di SMA Udamakatraya, desa Bannada, Kecamatan Gemeh, Kabupaten Talaud.
Noldy Lumangkiba, sedang mengajar siswanya di SMA Udamakatraya, desa Bannada, Kecamatan Gemeh, Kabupaten Talaud.

Tak mudah mencapai desa Bannada, sebuah desa yang masuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Gemeh, Kabupaten Kepulauan Talaud yang merupakan kabupaten paling Utara dan berbatasan dengan Filipina. Akses jalan yang sulit dan masih jauh dari layak sebagai sarana transportasi umum membuat desa ini seperti terisolasi dari pembangunan. Setidaknya dibutuhkan perjalanan sekitar lima jam dari Melonguane ibukota Talaud.

Beberapa sarana umum memang sudah disediakan pemerintah termasuk sekolah dasar dan sekolah menengah (SMP), tapi tidak dengan sekolah menengah lanjutan atas (SLTA). Para siswa yang lulus dari SMP hanya punya pilihan melanjutkan ke Sekolah Menengah Kejuruan di Gemeh yang aksesnya juga susah, dan jika ingin ke SLTA harus ke kecamatan lain.

Melihat kondisi ini, beberapa warga yang prihatin dan dibantu oleh sebuah yayasan kemudian berinisiatif mendirikan SMA Udamakatraya di Bannada. “Sekolah ini didirikan pada tahun 2012, dananya dari kami secara swadaya warga desa,” ujar Ketua Pembangunan Sekolah Zakarias Potoboda, Kamis (9/7/2015) lalu.

Lanjutkan membaca “Walau Berlantai Tanah Berdinding Bambu Beratap Rumbia, Mereka Tetap Semangat Sekolah”

HANYA MITO YANG BISA – Yang tercecer dari perjalanan ke Polahi

(Ini bukan Promosi !)

BABUTA - Salah satu anggota kelompok Polahi ini sedang menggunakan telepon genggamnya di atas gunung Boliyohuto.
BABUTA – Salah satu anggota kelompok Polahi ini sedang menggunakan telepon genggamnya di atas gunung Boliyohuto.

Minggu, 14 April 2013 saya berkesempatan melakukan trip bersama Tim Indonesiaku Trans7 (Widya sebagai Host, Mas Nata dan Mas Adi sebagai kameraman) serta si Pengeliling Indonesia Ebbie Vebri Adrian. Perjalanan kami kali ini menuju ke pemukiman Polahi di Hutan Humohulo, Pengunungan Boliyohuto (2049 m).

Kami start dari Dusun Pilomohuta, Desa Bina Jaya, Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Boalemo. Dusun Pilomohuta merupakan salah satu dusun terdekat menuju ke pemukiman Polahi. Untuk mencapai Dusun Pilomohuta harus melewati jalan yang lumayan rusak dari pertigaan Desa Lakea. Jalan berbatu yang diselingi dengan pohon tebu. (maklum di Kecamatan Paguyaman terdapat areal perkebunan Tebu milik salah satu pabrik gula terbesar di Indonesia).

Mobil tidak bisa sampai di Dusun Pilomohuta, hanya berakhir di seberang sebuah sungai. Terpaksa mobil numpang parkir di rumah salah satu warga. Kami harus menyebrang untuk sampai di rumah Kepala Dusun Pilomohuta. Cerita lainnya nanti diseri berikut, saya mau cerita yang ini sesuai judulnya.

Lanjutkan membaca “HANYA MITO YANG BISA – Yang tercecer dari perjalanan ke Polahi”

Desa Wisata di Atas Air Ini Kesulitan Air Bersih

Torosiaje-1

Torosiaje merupakan sebuah perkampungan Suku Bajo yang berada di tengah laut, terpisah dari daratan di Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwatu, Provinsi Gorontalo. Oleh pemerintah setempat, perkampungan Suku Bajo Torosiaje sudah dijadikan sebagai desa wisata dengan keunikan kehidupan orang Bajo yang hidup di rumah tiang pancang di atas laut.

Dari jalan masuk di darat, pengunjung sudah disambut dengan sebuah pintu gerbang yang di atasnya tertulis ucapan Selamat Datang di Desa Wisata.
Saat sekarang, perkampungan Torosiaje Laut dihuni lebih dari 450 kepala keluarga dengan sekitar 1.200-an jiwa yang terbagi atas dua dusun. Kedua dusun tersebut tinggal di rumah-rumah tiang pancang yang dihubungkan dengan jembatan kayu beratap sepanjang 4.000 meter lebih yang membentuk formasi huruf ‘U’.

Keunikan kehidupan Suku Bajo yang menggantungkan hampir seluruh hidupnya pada laut menjadi daya tarik sendiri bagi penyuka travelling. Torosiaje pun sering didatangi berbagai pelancong, baik dalam negeri maupun luar negeri.

Lanjutkan membaca “Desa Wisata di Atas Air Ini Kesulitan Air Bersih”

Orgasme Bersama di Laine

Dingin subuh itu menusuk tulang. Tak pelak, tubuh yang terperangkap dalam kelelahan siang sebelumnya enggan beranjak dari tidur. Keengganan bertambah karena malam sebelum subuh itu, mereka tidur pukul 24.00. Berbagi cerita dalam canda tentang apa yang telah dilalui dan ditemui, menjadi bumbu penghilang kantuk.

Tetapi komando dari Koordinator Tim 12 Days Exploratory Photo Expedition subuh itu mengharuskan ke-12 anggota tim untuk segera bangun. Bersiap, sarapan secangkir teh hangat dan sepotong kue lalu mengantungkan tas kamera di pundak. Berangkat berjalan kaki menuju Sungai Laine. Disana telah menanti sebuah perahu, dengan Jokinya Opo Lao (sebutan Kepala Desa di daerah Sangihe). Dibantu Sekretaris Desanya, perahu yang semestinya hanya berkapasitas 8 orang itu, dijejali 14 orang sekaligus. Nyaris tak ada ruang bebas bergerak, apalagi untuk posisi memotret. Dengan mesin tempel melajulah perahu membelah gelapnya subuh Minggu 13 November 2011. Maklum jam baru menunjukkan pukul 4 dini hari.

Wajah kelelahan masih tersirat hampir di semua anggota tim. Kemarin mereka baru saja melakukan perjalanan nekat, memotret di lokasi pendulangan emas tanpa ijin. Dan malamnya, mereka naik perahu yang sama, menelusuri dalam senyap dan gulita, berusaha mencari dan memotret kehidupan buaya liar. Ekspedisi yang tak pernah akan terlupakan.

Lanjutkan membaca “Orgasme Bersama di Laine”

Tengkorak Makalehi itu Tidak Mau Difoto bersama Kamga

P9080691 Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro, atau yang sering disingkat sebagai SITARO, mempunyai salah satu pulau yang merupakan satu dari 99 pulau terluar Indonesia. Pulau Makalehi namanya. Masuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Siau Barat, kini Pulau Makalehi sedang dalam persiapan menjadi satu kecamatan sendiri. Pulau ini pada tahun 2010 sempat menjadi tenar, karena merebut Juara Pertama dalam Lomba Desa Tingkat Nasional. Alhasil, Piagam Penghargaan itu, kini tergantung dengan megahnya di rumah Kepala Desa Makalehi.

Di Nusa Utara sendiri (sebutan untuk wilayah Talaud, Sangihe dan Sitaro) terdapat tiga pulau terluar. Pulau Marore (Kab. Sangihe), Pulau Miangas (Kab. Talaud) dan Pulau Makalehi sendiri yang berbatasan dengan wilayah Malaysia Timur. Luas Pulau Makalehi lebih kurang 300 ha. Penduduknya hampir semua bermata pencarian sebagai nelayan. Pulau ini juga terkenal sebagai penghasil pelaut-pelaut ulung. Beberapa diantaranya bahkan menjadi nahkoda kapal internasional.

Saya mengunjungi Makalehi pertama kali pada tahun 2007. Waktu itu sarana dan prasarana di pulau Makalehi masih sangat terbatas. Maklum, Sitaro baru memekarkan diri dari Kabupaten Induknya, Sangihe. Kini Makalehi telah berbenah. Sebagai salah satu Desa Teladan Nasional, berbagai fasilitas telah dibangun. Termasuk pelabuhan megah yang sementara diselesaikan pekerjaannya.

Pulau ini berbentuk kerucut yang terpancung oleh letusan dahsyat Kala Pilo-Plistosen. Kawahnya terbuka ke arah barat daya. Mengakibatkan Pulau ini sangat indah dilihat dari udara yang merupakan perpaduan pasir pantai, bertemu birunya laut yang bergradasi dari muda ke tua.

Kawah dari pulau ini membentuk sebuah danau yang sangat indah untuk dinikmati dari atas bukit yang mengelilinginya. Hampir seluruh masyarakat Makalehi hidup di sekitar danau. Namanya Danau Makalehi. Tentang keindahan danau ini, Host Explore Indonesia Kompas TV, Kamga berujar, “mungkin ini satu-satunya danau di Indonesia yang bisa saya katakan sebagai danau perawan. Tidak ada aktifitas apapun di tengah danau, seperti pemeliharaan ikan oleh masyarakat sekitar. Danau ini mungkin hanya untuk dinikmati oleh mata.” ujarnya ketika melakukan pengambilan gambar di tepi danau.

Lanjutkan membaca “Tengkorak Makalehi itu Tidak Mau Difoto bersama Kamga”

Kamga, Vokalis Tangga itu Nyaris Tenggelam

Sebuah pengalaman yang tak pernah akan aku lupakan terjadi pada 19 Oktober 2011 lalu. Ketika harus menemani Tim Explore Indonesia, salah satu acara di Kompas TV melakukan pengambilan gambar di Kabupaten Kepulauan Sitaro.

Sitaro, merupakan singkatan dari tiga pulau besar dari 47 pulau yang ada di kabupaten yang masuk dalam wilayah administrasi Provinsi Sulawesi Utara. Dulunya kabupaten ini merupakan satu kesatuan dengan Kabupaten Kepulauan Sangihe. Tetapi sejak 4 tahun lalu, menjadi kabupaten sendiri.

Daerah ini menyimpan potensi perikanan dan kelautan yang melimpah. Pulau-pulaunya juga menyimpan potensi wisata yang sangat indah. Bahkan beberapa diantaranya bisa menjadi kandidat destinasi wisata bahari utama, jika dikelola dengan baik.

Tidak salah, jika Kompas TV lewat acara Explore Indonesia, memasukkan segmen Sitaro pada salah satu episodenya di Sulawesi Utara.  Mereka memilih Sitaro setelah membaca tulisan-tulisan saya mengenai potensi wisata daerah itu di https://sitaro.wordpress.com/category/sitaro/

Lalu saya pun memasukkan Pulau Makalehi, sebagai salah satu objek yang harus diambil. Disana ada Misteri Tengkorak Tembo Yonding, Danau Makalehi yang indah serta Patok dan Monumen Tapal Batas NKRI. Ya, karena Pulau Makalehi merupakan salah satu dari 99 pulau terluar NKRI. (Mengenai Pulau Makalehi akan saya tuliskan pada kesempatan lain, juga misteri tengkorak yang tidak berhasil difoto oleh Kamga)

Kami bertolak dari Manado hari selasa, 18 Oktober 2011. Dan langsung mengambil gambar di Pantai Panas Lehi yang sensional. Dan pada keesokan harinya kami ke Pulau Makalehi.

Lanjutkan membaca “Kamga, Vokalis Tangga itu Nyaris Tenggelam”

Pantai Panas Lehi membuat Tim Explore Indonesia Kompas TV Terkagum-kagum

IMG_1696

Explore Indonesia merupakan salah satu acara Kompas TV yang mengexplore tempat-tempat indah dan unik di Indonesia yang sebelumnya belum pernah terexpose atau sudah dikenal namun ditampilkan dengan sesuatu yang baru.

Minggu kedua Oktober 2011, saya dihubungi bagian Creative dan Produser Explore Indonesia. Percakapan via telepon yang cukup lama itu menanyakan soal potensi yang dimiliki Kabupaten Kepulauan Sitaro. Beberapa tulisan saya mengenai keindahan pulau-pulau dijajaran Nusa Utara itu menarik perhatian mereka. Akhirnya kesepakatanpun dicapai, saya menemani perjalanan mereka ke Pulau Siau.

Dengan menggunakan Kapal Cepat Express Bahari, kami berangkat dari Pelabuhan Manado pada Selasa, 18 Oktober 2011. Kapal bertolak pukul 10.00 wita dengan cuaca yang sangat cerah. Begitu meninggalkan pelabuhan Manado, tim Explore Indonesia yang terdiri dari 4 personel itu sudah terkagum-kagum dengan laut dan langit yang sangat biru.

Tak tahan dengan keindahan itu, mereka pun melakukan pengambilan gambar di haluan kapal ketika melewati Pulau Manado Tua dan Bunaken. Host mereka, Kamga, yang juga vokalis group band Tangga harus berulang kali saya ajarkan untuk melafalkan dengan benar kata-kata seperti, Siau, Tagulandang, Biaro, Makalehi, Mahoro, Lehi dan beberapa tempat di Pulau Siau. Maklum, penyanyi yang satu ini keturunan Kamerun dan Palembang serta kental dengan dialek Jakarta.

Lanjutkan membaca “Pantai Panas Lehi membuat Tim Explore Indonesia Kompas TV Terkagum-kagum”

MAKALEHI – Misteri Tengkorak Tembo Yonding, Danau Eksotis dan Kehidupan Nelayan

Makalehi-1

Pulau Makalehi berada dibawah administrasi Kecamatan Siau Barat. Pulau ini merupakan pulau terluar dari Kabupaten Siau Tagulandang Biaro, bahkan merupakan salah satu dari 92 pulau terluar Indonesia.

Pulau ini berbentuk kerucut yang terpancung oleh letusan dahsyat Kala Pilo-Plistosen. Kawahnya terbuka ke arah barat daya. Mengakibatkan Pulau ini sangat indah dilihat dari udara yang merupakan perpaduan pasir pantai, bertemu birunya laut yang bergradasi dari muda ke tua.

Luas Pulau Makalehi + 300 Ha. Masyarakatnya 100 persen nelayan. Sehingga sangat ideal untuk menikmati wisata kehidupan masyarakat. Potensi hasil perikanan tangkap yang memadai merupakan salah satu objek yang patut diexplorasi. Masyarakatnya ahli membuat Kapal Pajeko (kapal penangkap ikan) dengan keterampilan alamiah.

Kawah dari pulau ini membentuk sebuah danau yang sangat indah untuk dinikmati dari atas bukit yang mengelilinginya. Hampir seluruh masyarakat Makalehi hidup di sekitar danau.

Lanjutkan membaca “MAKALEHI – Misteri Tengkorak Tembo Yonding, Danau Eksotis dan Kehidupan Nelayan”