JENGKI

Jengki

#7~365

Sebuah perahu seolah menjadi leader bagi perahu lainnya yang tertambat di kawasan Pelabuhan Manado, yang terletak di bagian Barat Kelurahan Calaca, Kecamatan Wenang.

Menurut catatan, kawasan ini dulunya merupakan muara Sungai Tondano yang sebenarnya. Belanda kemudian menimbun muara ini dan memindahkan aliran muara Sungai Tondano ke lokasi sekarang di sebelah Pasar Bersehati di bagian Utara. Muara baru itu disebut Muara Jengki. Jengki bermakna penampilan baru. Muara baru.

Lanjutkan membaca “JENGKI”

KEBUN RAYA

Kebun Raya Ratatotok

#6~365

Ini adalah sebagian dari bakal Kebun Raya di Minahasa Tenggara yang memiliki luas sekitar 300 Ha. Areal ini dulu merupakan bekas tambang yang dikelola oleh PT Newmont Minahasa Raya (NMR) di wilayah Ratatotok, Minahasa Tenggara. Di areal ini setidaknya telah tumbuh 180 ribu pohon dari 15 jenis seperti jati, mahoni, cempaka, sengon, jambu, mete, durian, mangga dan sebagainya.

Kala operasional tambang PT NMR ditutup pada 2004, kawasan ini kemudian direklamasi dan direvegetasi untuk mengembalikan hutan yang hilang saat perusahaan itu mengeruk emas sejak 1996. Lanjutkan membaca “KEBUN RAYA”

Membangun Harapan Pengelolaan Pesisir dari Pulau-Pulau di Sangihe

SOSIALISASI - Staff dari Perkumpulan Sampiri sedang memberikan pemahaman mengenai laut dan wilayah pesisir kepada Siswa SMPN 2 Satap Tabukan Selatan di Batuwingkung.
SOSIALISASI – Staff dari Perkumpulan Sampiri sedang memberikan pemahaman mengenai laut dan wilayah pesisir kepada Siswa SMPN 2 Satap Tabukan Selatan di Batuwingkung.

SANGIHE, KOMPAS.com – Raut wajah Risno Mangune (32) terlihat gembira pagi itu. Hujan yang dinanti turun juga. Bak-bak penampungan air di pulau Batuwingkung terisi lagi.

Batuwingkung merupakan desa yang berada di kecamatan Tabukan Selatan, Kabupaten Sangihe, Sulawesi Utara. Risno telah menjadi kepala desa selama satu periode, bagi 423 jiwa penduduk di pulau itu.

“Hujan sudah jarang turun di sini. Sumber air berkurang, sumur warga banyak yang kering. Kemarau tahun lalu sangat berpengaruh,” keluh Risno saat menjemput Tim dari Perkumpulan Pemberdayaan Masyarakat dan Koservasi Alam (YAPEKA), Kamis (5/5/2016).

YAPEKA bersama Perkumpulan Sampiri Sangihe memilih pulau Batuwingkung menjadi salah satu target pengembangan program pengelolaan wilayah sumber daya pesisir dan laut berbasis masyarakat. Lanjutkan membaca “Membangun Harapan Pengelolaan Pesisir dari Pulau-Pulau di Sangihe”

Manumpitaeng, Mengintip Burung Gosong Bertelur di Pulau Perawan

Manumpitaeng-1Kawasan Nusa Utara, yang melingkupi tiga kabupaten di ujung Utara provinsi Sulawesi Utara (Sulut) seakan menyimpan surga tersembunyi. Ketiga kabupaten itu adalah Kabupaten Kepulauan Talaud yang berada paling utara dan berbatasan dengan Filipina, Kabupaten Kepulauan Sangihe yang berada di tengah dan Kabupaten Kepulauan Sitaro yang paling dekat dengan Manado, ibu kota Sulut.

Ketiga kabupaten tersebut merupakan kabupaten bahari karena potensi kebaharian yang dimilikinya. Dengan posisi itu, ketiga kabupaten ini punya sederet destinasi wisata bahari, yang sayang memang belum dikelola secara maksimal, termasuk yang ada di Kabupaten Sitaro.

Sitaro sebenarnya punya keunggulan dilihat dari jaraknya yang dekat dengan Manado, hanya butuh sekitar 4 jam perjalanan dengan kapal cepat untuk mencapai pulau Siau sebagai pusat pemerintahan Sitaro, dan hanya butuh sekitar 2 jam untuk mencapai pulau Tagulandang yang tidak kalah eksotis.

Lanjutkan membaca “Manumpitaeng, Mengintip Burung Gosong Bertelur di Pulau Perawan”

Pantai Paal, diantara Keramaian dan Tukik

Beberapa ekor anak penyu sedang berusaha mencapai air laut di Pantai Paal.
Beberapa ekor anak penyu sedang berusaha mencapai air laut di Pantai Paal.

Pantai Paal di Desa Marinsow, Likupang Timur, Minahasa Utara sejak beberapa bulan terakhir dijejali ratusan pengunjung yang datang dari berbagai daerah di Sulawesi Utara. Pasir putihnya yang halus, serta gradasi air laut yang mempesona mampu memikat warga untuk berbondong-bondong menyerbu pantai itu.

Warga di Marinsow yang bertugas menjaga Pantai Paal, bahkan mengakui bahwa pada akhir pekan atau hari libur, Pantai Paal bisa didatangi hingga sekitar 5.000 orang. Padahal, dulunya Pantai Paal sepi, dan hanya ada aktivitas warga di sekitar Marinsow. Semua berawal saat pengguna jejaring sosial mulai mengunggah foto keindahan Pantai Paal. Sejak itulah, pantai ini menjelma menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Sulut.

Warga di Marinsow mengaku senang dengan ramainya pengunjung, sebab bagi mereka kini ada sumber penghasilan tambahan dari berbagai jasa yang ditawarkan kepada pengunjung. Salah satunya adalah mendirikan warung untuk menjajakan berbagai makanan dan minuman. Lanjutkan membaca “Pantai Paal, diantara Keramaian dan Tukik”

“Tak Ada Yang Tersisa”

Brian korban banjir
TAK ADA YANG TERSISA. — Brian Worang (9), bocah warga Kelurahan Tikela, Lingkungan I, Kecamatan Tombulu, Minahasa, sedang menunjuk ke Daerah Aliran Sungai (DAS) Sawangan. Brian berdiri di atas lantai bekas rumahnya yang tersapu banjir bandang pada 15 Januari 2014 lalu,
Dia tidak tahu mau tinggal dimana lagi. Beberapa warga di Tikela terpaksa tinggal di kolong jembatan Ring Road.

Danau Tondano Dikepung Eceng Gondok

Danau Tondano

Empat tahun lalu, perairan di samping jembatan yang ada Sumaru Endo, salah satu lokasi wisata di tepi Danau Tondano, itu masih dengan mudah bisa dilalui perahu bebek—salah satu wahana permainan air yang disediakan pengelola.

Namun kini, ketika saya kembali mendatangi lokasi indah ini dalam rangkaian Festival Danau Tondano 2012 lalu, wahana air itu sudah terparkir di atas daratan dan terlihat tidak terawat. Area yang dulunya menjadi tempat wahana air ini kini tidak bisa lagi digunakan.

Eceng gondok menutupi seluruh permukaan air tempat wahana ini biasa dikayuh. Danau Tondano yang menjadi salah satu sumber air utama di Sulawesi Utara ini kini sedang kritis. Dulunya perairan terdangkal di danau terluas di Sulawesi Utara itu bisa mencapai 3 meter. Tetapi, sendimentasi yang hebat telah menjadikan sebagian area perairan tersebut malah telah berubah fungsi menjadi lahan kering.

Lanjutkan membaca “Danau Tondano Dikepung Eceng Gondok”

Mereka Bertekad Ganti BBM dengan Briket Arang

Briket Arang

Bertje Salindeho (36) begitu semangat menjelaskan apa yang sedang dikerjakan oleh kelompoknya di bangsal Kelompok Kumbang yang dipimpinnya. Siang itu, sekitar 30-an ibu yang tergabung dalam Kelompok Kumbang, Desa Lantung, Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara sedang memproduksi briket arang aktif dari tempurung kelapa.

Sejak Maret 2012 mereka mendapat dana stimulus dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat – Lingkungan Mandiri Perdesaan (PNPM-LMP) sebagai modal pembeliaan alat produksi dan tenaga pelatih. "Kami memilih kegiatan pembuatan briket arang ini karena harga minyak tanah yang sudah sangat mahal. Di desa ini, kami harus membeli minyak tanah Rp 13.000 sebotol," jelas Bertje.

Ketersediaan bahan baku yang melimpah, berupa tempurung kelapa juga menjadi alasan Kelompok Kumbang mengembangkan briket arang. Sebagian besar warga Lantung memang punya kebun kelapa, sehingga tempurung tergolong melimpah. Tempurung kelapa yang sudah dikeringkan dibakar kemudian dihancurkan sehingga menjadi potongan-potongan yang lebih kecil.

Lanjutkan membaca “Mereka Bertekad Ganti BBM dengan Briket Arang”

Ikan di Tondano: Dulu 3.000 Ton, Kini Hanya 500 Ton

Danau Tondano-2

Produksi ikan yang dihasilkan dari Danau Tondano di Minahasa sangat memprihatinkan. Jika pada tahun 1976 danau terbesar di Sulawesi Utara ini bisa menghasilkan 3.027 ton per tahun, maka kini tinggal 534 ton.

Hal ini terungkap dalam pemaparan ketika Diskusi Penyelamatan Danau Tondano digelar oleh Badan Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Utara yang juga dihadiri oleh Menteri Lingkungan Hidup RI, Balthasar Kambuaya, Jumat (23/11/2012) di Tondano, Minahasa.

"Eutrofikasi menjadi masalah di Danau Tondano, dengan penyebab utama adalah semakin luasnya tutupan eceng gondok yang penyebarannya semakin tidak terkendali," ujar Bupati Minahasa Stevanus Vreeke Runtu.

Lanjutkan membaca “Ikan di Tondano: Dulu 3.000 Ton, Kini Hanya 500 Ton”

Di Binerean, Maleo Punya Kebun Kelapa Sendiri

Pantai-Binerean

Sejak 2005 Wildlife Conservation Society Indonesia Project (WCS IP) Sulawesi Utara melakukan upaya pelestarian Macrocephalon Maleo di pantai Tanjung Binerean, Desa Mataindo, Kecamatan Pinolosian Tengah, Kabupaten Bolaang Mongondow. Maleo merupakan salah satu species endemik Sulawesi yang populasinya terancam punah karena telurnya terus diburu.

Berbeda dengan site yang ada di Muara Pusian dan Tambun yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW), site Binerean berada diluar kawasan TNBNW. "Burung Maleonya memang berasal dari kawasan TNBNW, tetapi mereka datang bertelur di pantai ini, ujar Manager Maleo Project WCS IP Iwan Honuwu, Sabtu (29/09/2012) ketika melakukan monitoring rutin.

Sebelum Maleo Project berlangsung, telur-telur Maleo di Binerean menjadi incaran para pemburu telur untuk dijual. Sifat Maleo yang meninggalkan begitu saja telurnya di lubang pasir yang digalinya membuat perkembangbiakan populasinya terancam. "Jika tidak dilakukan usaha konservasi, mungkin species macrocephalon maleo ini tinggal catatan saja," kata Iwan lagi.

Lanjutkan membaca “Di Binerean, Maleo Punya Kebun Kelapa Sendiri”

Karamoy, Dari Pemburu Jadi Pengasuh

Karamoy-2

Karamoy sedang mengamati keberadaan Maleo

 

Karamoy Maramis (69) sudah beranjak dari pembaringan ketika mentari belum muncul. Di pagi yang gelap dan dingin, dirinya  bersiap menuju hutan yang tepat berada di belakang tempat tinggalnya, sebuah Pos Penjaga Hutan milik Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNWB) yang dijadikan basecamp Maleo Project WCS IP di Tambun, Dumoga, Kabupaten Bolaang Mongondow.

Setiap hari, dua kali Karamoy harus mengitari area seluas 2,6 hektar yang sudah dipagari. Dia diberi tugas oleh Wildlife Conservation Society Indonesia Program (WCS IP) Maleo Project sebagai pengawas aktivitas spesies Macrocephalon maleo, unggas endemik Sulawesi.

"Saya harus berjalan pelan-pelan. Takut mengusik kehadiran maleo yang akan datang bertelur. Mereka liar dan takut akan kehadiran manusia. Jika tahu ada orang, mereka enggan bertelur," ujar Karamoy sambil mengendap-endap di antara rimbunnya tanaman, Jumat (28/9/2012) subuh .

Lanjutkan membaca “Karamoy, Dari Pemburu Jadi Pengasuh”