LETER C

leter-e

#39~365

Tahun 1884 Belanda mengreorganisasi Wijk di Manado menjadi 3: Wijk Leter A dan Leter B khusus orang Belanda, dan Wijk Leter C sebagai Kampung Cina.

Pemerintah kolonial Belanda ketika menjajah Indonesia, suka membagi-bagi klas masyarakat. Klas dan keistimewaan ini pun berlaku di Manado, pusat Keresidenan Manado. Orang Belanda dan penduduk istimewa memiliki pemukiman khusus di pusat Kota Manado, yang telah mulai dirintis sejak awal penjajahan, masa Kompeni (VOC, sebelum berganti pemerintah Hindia-Belanda).

Kampung-kampung istimewa tumbuh di Bendar Manado, sekarang masuk Kecamatan Wenang, lokasi yang di masa lalu disebut ‘distrik’ hoofdplaats Manado, pusat pemerintahan dan perdagangan. Hunian orang Belanda terdiri 6 kampung, tersebar di utara dan selatan Benteng Nieuwe Amsterdam. Di dekatnya, Kampung Cina di Calaca sekarang, dan kemudian Kampung Arab di Istiqlal sekarang. Berikut Kampung Borgo, sekarang di Kecamatan Tuminting, Kampung Borgo Kristen di Sindulang dan Kampung Borgo Islam di Kampung Islam. Lanjutkan membaca “LETER C”

Manado Fashion Carnaval – Januari 2016

Event Fashion Carnaval pada 29 Januari 2016 yang digelar oleh MTC cukup menarik perhatian warga Manado. Walau masih sedikit peserta yang mengikuti fashion on the street tersebut, namun event ini perlu diberi apresiasi dan didorong untuk terus dilakukan dengan konsep penyelanggaraan yang lebih baik.

Mengambil start dari Pohon Kasih, Kawasan Mega Mas, peserta yang datang dari berbagai kalangan usia mempertontonkan beraneka kreasi busana. Ikut pula meramaikan beberapa komunitas seperti pecintan satwa anjing dan kucing, penggemar busana tokoh film, serta komunitas otomotif.

Event ini juga dibarengi dengan kampanye anti narkoba. Peserta kemudian finish di MTC.

Berikut beberapa foto yang sempat saya abadikan:

Peserta Fashion Carnaval dari berbagai kalangan usia tampil dengan kreasi busana mereka saat berparade di jalan Kawasan Mega Mas Manado, Sabtu, 29 Januari 2016.
Peserta Fashion Carnaval dari berbagai kalangan usia tampil dengan kreasi busana mereka saat berparade di jalan Kawasan Mega Mas Manado, Sabtu, 29 Januari 2016.

Lanjutkan membaca “Manado Fashion Carnaval – Januari 2016”

In Picture: BALAPAN RODA SAPI KALAWAT

Ternyata tidak hanya di Jawa ada Lomba Balapan sapi, di Minahasa Utara juga ada Lomba Balapan Roda Sapi. Berbeda dengan di Jawa, di Minahasa Utara, Joki yang mengendalikan sapi berdiri di atas sebuah gerobak yang mempunyai roda dari kayu.

Menurut penuturan beberapa warga yang ditemui, lomba balapan roda sapi ini sudah ada sejak dari nenek moyang mereka. Mereka mengakui ini merupakan salah satu tradisi yang masih terus terpelihara di tanah Minahasa.

Berikut beberapa foto Lomba Balapan Roda Sapi yang berlangsung di Lintasan Mega Kapuk, Desa Kolongan, Kecamatan Kalawat, Minahasa Utara, 5 Oktober 2013.

CEPAT - Sapi-sapi yang dilombakan adalah sapi unggulan yang memiliki kecapatan lari yang baik.
CEPAT – Sapi-sapi yang dilombakan adalah sapi unggulan yang memiliki kecapatan lari yang baik.

Lanjutkan membaca “In Picture: BALAPAN RODA SAPI KALAWAT”

In Picture: RITUAL MASAK MINYAK KLENTENG KWANG KONG

Umat Tridharma di Klenteng Kwang Kong, Manado melaksanakan Ritual memaksa minyak ketika memperingati kelahiran Kwan Seng Ta Tie Kwan Kong, 31 Juli 2013.

Minyak panas yang sudah diberkati tersebut diyakini dapat menyembuhkan berbagai penyakit ketika dioleskan pada tubuh, dan juga dapat mendatangkan berkat dan rejeki serta kemakmuran bagi umat yang meyakininya.

Umat Tridharma melakukan ritual masak minyak dalam peringatan kelahiran Kwan Seng Ta Tie Kwan Kong di Klenteng Kwan Kong, Manado, Sulawesi Utara, 31 Juli 2013.
Umat Tridharma melakukan ritual masak minyak dalam peringatan kelahiran Kwan Seng Ta Tie Kwan Kong di Klenteng Kwan Kong, Manado, Sulawesi Utara, 31 Juli 2013.

Lanjutkan membaca “In Picture: RITUAL MASAK MINYAK KLENTENG KWANG KONG”

In Picture: FESTIVAL BANTIK 2013

Suku Bantik merupakan salah satu sub etnik Minahasa yang ada di Sulawesi Utara. Di Sulawesi Utara sendiri terdapat tiga etnis utama, yaitu Suku Minahasa, Suku Sangihe dan Talaud serta Suku Bolaang Mongondow.
Sub-Etnik Bantik saat ini tersebar dan mendiami 11 negeri di Sulawesi Utara, yaitu :  Mahasa (Meras), Molrasa (Molas), Bailrang (Bailang), Talrabang (Talawaan Bantik), Bengkolro (Bengkol), Buha, Sikilri (Singkil), Minanga (sekarang Malalayang), Kalrasei (Kalasei), Tanamon, dan Sumoiti.

Setiap tanggal 5 September, warga Sulawesi Utara dari sub etnik Bantik menggelar Festival Bantik yang dipusatkan di Lapangan Bantik Malalayang. Festival tersebut dirangkaikan dengan peringatan wafatnya pahlawan nasional asal Sulut, Wolter Mongisidi, yang merupakan pahlawan berdarah Bantik.

Berikut beberapa foto yang terekam pada Festival Bantik 2013.

Seorang pria dari Suku Bantik dengan pakaian Upasa sedang bersiap dalam Festival Bantik 2013.
Seorang pria dari Suku Bantik dengan pakaian Upasa sedang bersiap dalam Festival Bantik 2013.

Lanjutkan membaca “In Picture: FESTIVAL BANTIK 2013”

Foto: Waruga, Warisan Leluhur Orang Minahasa

Taman Waruga Airmadidi Bawah.
TAMAN WARUGA. Di daerah Airmadidi Bawah dan Sawangan, Minahasa Utara terdapat Taman Waruga yang merupakan sebuah lokasi Taman Purbakala tempat dikumpulkannya berbagai Waruga yang tersebar di sekitar daerah tersebut, 19 Juli 2013.

Waruga adalah kubur atau makam leluhur orang Minahasa yang terbuat dari batu besar. Waruga terdiri dari dua bagian, yakni bagian atas yang berbentuk segi tiga dan bagian bawah yang berbentuk kotak. Bagian bawahnya yang mempunyai lubang di tengah inilah tempat meletakkan mayat.

Dari beberapa catatan, Waruga mulai dipergunakan oleh orang Minahasa sebagai kubur sejak abad ke IX. Sebelumnya suku Minahasa mempunyai kebiasaan mengurbur mayat dengan membungkus dengan daun woka sebelum ditanam. Kemudian kebiasaan membungkus dengan daun woka diganti dengan memasukkan ke dalam rongga pohon kayu atau nibong. Lanjutkan membaca “Foto: Waruga, Warisan Leluhur Orang Minahasa”