Saat Mereka Bisa Selamat Setelah 26 Jam Tertimbun di Tambang Emas Tatelu

SELAMAT – Karno (50) saat dievakuasi dari lubang tambang yang menjebak dia dan rekan-rekannya selama 26 jam.

Seperti biasanya, Karno (50), Kamis (13/4/2017) pagi kemarin bersiap bekerja. Dia menjadi pekerja tambang emas di Desa Tatelu, Kecamatan Dimembe, Kabupaten Minahasa Utara.

Peralatan yang dibawanya berupa betel, martil dan linggis. Tak lupa head lamp disematkan di kepalanya. Pagi itu, sekitar pukul 08.00 WITA, Karno asal Jawa Barat ini bersama 12 rekannya masuk kedalam lubang galian tambang.

Karno dan sejumlah petambang lainnya bekerja di sebuah usaha tambang di Tatelu. Dibandingkan dengan usaha sejenis lainnya di lokasi itu, tempat Karno bekerja terhitung besar. Di lahan yang dikapling majikan mereka, berbagai mesin pengolah material galian tersedia.

Petambang seperti Karno bertugas untuk menggali material batu dan tanah dari kedalaman. Mereka akan mencari batu rep, jenis batu yang mengandung emas. Rep, dulunya masih mudah diperoleh di permukaan, tapi seiring waktu rep hanya bisa ditemukan pada kedalaman hingga ratusan meter.

Pagi kemarin, Karno dan rekannya memasuki sebuah lubang berukuran tak lebih dari 1,5 x 1,5 meter. Ukuran itu nyaris hanya bisa menampung dua pekerja saling berhimpitan untuk  sekali turun kebawah. Mereka menggunakan semacam lift sederhana yang ditarik dengan tali baja dengan sistem katrol mesin. Lanjutkan membaca “Saat Mereka Bisa Selamat Setelah 26 Jam Tertimbun di Tambang Emas Tatelu”

LITERASI JALANAN


#54 ~365

Sekelompok anak muda di Ternate ini memelopori gerakan literasi jalanan sebagai cara mengedukasi warga lewat ketersediaan bahan bacaan di ruang publik.

Setiap akhir pekan mereka menggelar Perpustakaan Jalanan di Taman Nukila dan mempersilahkan siapa saja membaca koleksi buku mereka tanpa dipungut bayaran. Buku-buku itu merupakan donasi berbagai pihak yang tertarik mendukung gerakan mereka.

Karmilawati (23), salah satu relawan kelompok ini menceritakan bahwa program literasi jalanan lainnya adalah mendatangi pasar-pasar tradisional dan menggelar literasi on the street. Di pasar yang mereka datangi, selain menyediakan bahan bacaan gratis, kelompok ini juga mengajar anak-anak para pedagang yang tidak berkesempatan mengenyam pendidikan formal.

Kisah Inspiratif di sela-sela Workshop Data Driven Journalism.

#literasijalanan #literasi #literal #baca #buku #book #jurnal_rb #merasakanindonesiamu #ternate #maluku_utara #inspirasi #inspiraspendidikan #pendidikan

Tak Pernah Sekolah, Lumpuh Sejak Lahir dan Tunawicara, Indah Justru Terbitkan Cerpen

indah-disabilitas
Indah Tinumbia, seorang gadis di Kotamobagu, Sulawesi Utara, yang menderita lumpuh di kakinya dan juga penyandang tunawicara sedang tidur di kamarnya di Desa Tabang, Kecamatan Kotamobagu Selatan, Kota Kotamobagu, ketika disambangi, Jumat (17/2/2017).

Di kamar berukuran 3×4 meter itu, terdapat lemari pakaian, televisi dan sebuah rak yang berisikan puluhan buku cerita yang tertata dengan rapi.

Kamarnya yang terlihat apik menjadi saksi perjalanannya menyelesaikan sebuah buku cerpen.

Gadis yang mengenakan hijab ini lalu bercerita, dia bisa menjadi seperti sekarang ini karena ikut bergabung di komunitas Kelas Menulis Online (KMO). Rata-rata anggotanya adalah mahasiswa.

“Saya bisa menyelesaikan buku ‘Standing Because of Love’ ini karena mereka,” kata Indah terbata-bata. Lanjutkan membaca “Tak Pernah Sekolah, Lumpuh Sejak Lahir dan Tunawicara, Indah Justru Terbitkan Cerpen”

Yayu, Pembuat Kue dan Batu Bata Ini Dirikan Pondok Baca Bagi Anak-Anak

yayu-1

Hujan yang turun sepanjang hari tak menyurutkan langkah anak-anak di Desa Tikela, Kecamatan Tombulu, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, mendatangi rumah Niramita Yayu (30).

Sekitar 20 anak berbagai usia itu bersemangat ingin mengisi waktu mereka di ruangan berukuran 2 meter x 4 meter yang disediakan Yayu.

Ruangan itu begitu sederhana, sama halnya dengan rumah yang ditempati Yayu dan keluarganya. Dindingnya terbuat dari seng bekas.

Ruang itu sejatinya bagian dari dapur dan sengaja digunakan oleh Yayu sebagai Pondok Membaca dan Menulis.

“Awalnya mereka sering datang membaca buku koleksi saya yang tak seberapa. Saya lalu berniat menyediakan mereka ruang baca dan belajar. Jadi saya sisihkan sebagian dapur saya,” ujar Yayu, Rabu (15/2/2017).

Yayu dan suaminya, Sami Mannopo, menyisihkan sebagian pendapatan mereka yang pas-pasan untuk membenahi sedikit ruang baca bagi anak-anak itu.

Lanjutkan membaca “Yayu, Pembuat Kue dan Batu Bata Ini Dirikan Pondok Baca Bagi Anak-Anak”

BERBUAT

tikela
#43~365

Nik, bocah berusia 3 tahun ini bersiap bergabung dengan sekitar 20 teman lainnya di bilik berukuran 2×4 meter yang disediakan Niramita Yayu (30). Yayu, yang anak slanker itu merelakan sebagian ruangan dapurnya bagi anak-anak di Tikela agar mereka bisa mengisi hari mereka dengan belajar. “Saya prihatin mereka sering bermain di got yang kotor, jadi saya sediakan ruangan dan peralatan belajar seadanya bagi mereka,” ujar Yayu.

Sehari-hari Yayu yang telah dikarunia 2 orang anak ini bekerja membuat kue. Dia juga ikut turun berjibaku membuat batu bata dengan suaminya. Hari-hari mereka kini ditambah dengan kesibukkan memberi pelajaran tambahan buat puluhan anak di sekitar lingkungan rumah mereka yang sangat sederhana itu. “Kalau ikut tergerak, jangan bawa kami uang, bawakan saja barang. Kami masih butuh karpet, kursi, meja dan lemari buku,” kata Yayu.

Nik lalu berbaur dengan teman-temannya, mereka dengan riang menggambar sambil melantai beralas tikar bekas.

Baca:

#pendidikan #inspirasi #jurnal_rb #motivasi

Berpeluh Asap Demi Cakalang Fufu

cakalang-fufu-01

Salma bersama suaminya Jefry sore itu berpeluh di antara asap yang dihasilkan dari pemanggangan di Kecamatan Belang, Kabupaten Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara. Ini adalah rutinitas yang telah mereka jalani selama lebih kurang 30 tahun terakhir.

Saban hari suami istri ini mengolah cakalang fufu. Penganan ini menjadi salah satu menu wajib yang dianjurkan untuk dicicipi kala bertualang di Sulut.

“Ini lagi fufu cakalang, besok subuh harus dibawa ke pasar, tiap hari begini dengan asap terus,” ujar Salma beberapa waktu lalu saat ditemui Kompas.com.

Ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) atau tongkol putih memang hasil tangkap laut yang melimpah di Sulut yang sebagian besar wilayahnya merupakan perairan laut.

Masyarakat yang tinggal di pesisir pantai diuntungkan dengan hal itu karena menjadikan hasil laut sebagai salah satu mata pencarian. Belang berada di wilayah pesisir pantai sebelah selatan Minahasa. Ratusan perahu nelayan dan puluhan kapal ikan berbagai tipe terparkir di perairan Belang setiap hari. Lanjutkan membaca “Berpeluh Asap Demi Cakalang Fufu”

Cerita Opa Yem dan Pisang Gorohonya..

opa-yem

Meski usianya sudah 87 tahun, Jemyy Albert Polii, yang biasa disapa Opa Yem masih terlihat kuat mengurus kebun pisangnya di Aer Panas, Malalayang, Manado.

Saat ditemui di kebunnya, Senin (16/1/2017), Opa Yem masih terlihat gagah, dan berpenampilan rapih. Ditemani istrinya, Opa Yem sedang memilin jagung yang juga merupakan hasil dari kebunnya.

“Saya mulai menanam pisang sejak tahun 60an. Dulu lahan kebun sekitar dua hektar,” kata Opa Yem.

Dengan luas lahan sebesar itu, Opa Yem mengaku bisa menanam pisang dari jenis goroho (Musa acuminafe,sp) hampir 1.000 pohon.

“Sudah beberapa jenis pisang yang dicoba, tetapi goroho yang terbaik. Tapi sekarang kebunnya sudah kecil, karena sudah dibagi ke anak-anak, dan sebagian sudah dibeli orang untuk dibangun rumah,” ujar Opa Yem. Lanjutkan membaca “Cerita Opa Yem dan Pisang Gorohonya..”

Mereka yang Mencari Tiket ke Surga

giat-rapi-rescue-manadoUpaya menyingkirkan pohon tumbang yang dilakukan RAPI Rescue Wilayah 01 Manado saat terjadi angin kencang pada 8 Januari 2017. (Foto: RAPI Rescue Manado)

 

Tjandra Theyono (65), Suleman (41) dan Pengky (46) nampak bangga dengan seragam yang mereka gunakan, kala ditemui Kompas.com, Kamis (12/1/2017) malam.

Mereka bertiga adalah sebagian dari anggota Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) Rescue Wilayah 01 Manado.

Kopi hangat yang tersaji malam itu di sebuah resto di kawasan Mega Mas, tidak mampu menepis kegelisahan mereka. Angin tiba-tiba kembali bertiup kencang. Itu pangkal kegelisahan mereka.

RAPI memang sejatinya adalah wadah berkumpul orang-orang yang punya hobi melakukan komunikasi dengan radio. Lanjutkan membaca “Mereka yang Mencari Tiket ke Surga”

NUSA NIPA

nusa-nipa

#13~365

Ini adalah buku foto perjalanan yang kedua yang saya terima pada minggu ini. Satunya lagi, buku karya Ati Bachtiar: TELINGA PANJANG, yang masih saya selesaikan membacanya sebelum menulis ulasannya.

Nusa Nipa, Langlang Mata Sunda Kecil merupakan karya Deni Sugandi, yang saat ini menjadi editor dan fotografer minat kebumian di majalah geologi Geomagz & Buletin Geologi Tata Lingkungan. Deni yang besar di Bandung juga mengelola perjalanan wisata fotografi kebumian dan budaya dengan label geotrip.asia.

Menyebut Sunda Kecil, berarti memulai perjalanan dari Bali hingga ke kelompok kepulauan Nusa Tenggara, diantaranya pulau Lombok, pulau Sumbawa Besar, pulau Flores, pulau Timor dan pulau-pulau kecil lainnya sekitar 1.192 pulau dengan 760 pulau belum memiliki nama resmi.

Dalam buku ini, Deni menceritakan perjalanannya sepanjang Sunda Kecil itu yang dibaginya menjadi 3 fragmen: rona rupa bumi dan kekayaan alam; visualisasi rangkaian gunung api; dan warisan budaya megalitik hingga asimiliasi budaya dan kelompok etnis yang mendiami kawasan itu.

Sebagaimana Telinga Panjang, buku ini juga merupakan bagian dari kerja dokumentasi MEMBACA INDONESIA yang digagas Ray Bachtiar.

Ah . . . meraka sudah menyelesaikannya, dan memotivasi saya untuk segera pula menuntaskan salah satu resolusi di 2017: membuat buku. Semoga.

#buku #book #photobook #apfi #membacaindonesia #jurnal_rb #books #photo #photography #reportage #publikasi #publishing #publication #journal

Ratman Asrar, Merawat Sejarah Lewat Koleksi Pribadi Kakek dan Ayah

ratman-asrar-1

Ratman Asrar (51) bergantian menunjuk Koran Tjahja Siang terbitan tahun 1894, Koran Sinar Harapan edisi Selasa 8 Februari 1965, dan beberapa koran yang terbit pada tahun 1937 sebagai koleksi berharganya.

Dia merawat koleksi benda-benda bernilai historis yang sebagian besar merupakan warisan kakeknya di rumahnya di Kecamatan Tuminting, Manado, Sulawesi Utara.

“Saya merasa terpanggil untuk terus memelihara barang-barang ini, sebagai saksi sejarah Sulawesi Utara,” ungkap Ratman, Senin (9/1/2017). Lanjutkan membaca “Ratman Asrar, Merawat Sejarah Lewat Koleksi Pribadi Kakek dan Ayah”

Citra Meiriana Wati, Sosok Perempuan Yang Memerdekakan Warga Talaud dari Ketertinggalan

Citra-01

Bangunan sederhana di Kelurahan Melonguane Barat, Kecamatan Melonguane, Kabupaten Talaud itu berada di antara pemukiman warga. Tak banyak yang mengetahui jika di kelurahan itu ada aktivitas kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Tunas Baru.Walau PKBM Tunas Baru telah meluluskan ratusan warga belajarnya, namun sebagian besar warga Melonguane merasa asing dengan nama lembaga pendidikan informal tersebut.  Citra Meirina Wati, sosok perempuan dibalik PKBM tersebut mengaku memang tak mencari popularitas.

“Saya tulus mengabdikan diri untuk masyarakat, ingin memerdekakan mereka dari ketertinggalan,” ujar Citra, saat ditemui beberapa waktu lalu.

Lanjutkan membaca “Citra Meiriana Wati, Sosok Perempuan Yang Memerdekakan Warga Talaud dari Ketertinggalan”