Tag

, , , , , , ,

indah-disabilitas
Indah Tinumbia, seorang gadis di Kotamobagu, Sulawesi Utara, yang menderita lumpuh di kakinya dan juga penyandang tunawicara sedang tidur di kamarnya di Desa Tabang, Kecamatan Kotamobagu Selatan, Kota Kotamobagu, ketika disambangi, Jumat (17/2/2017).

Di kamar berukuran 3×4 meter itu, terdapat lemari pakaian, televisi dan sebuah rak yang berisikan puluhan buku cerita yang tertata dengan rapi.

Kamarnya yang terlihat apik menjadi saksi perjalanannya menyelesaikan sebuah buku cerpen.

Gadis yang mengenakan hijab ini lalu bercerita, dia bisa menjadi seperti sekarang ini karena ikut bergabung di komunitas Kelas Menulis Online (KMO). Rata-rata anggotanya adalah mahasiswa.

“Saya bisa menyelesaikan buku ‘Standing Because of Love’ ini karena mereka,” kata Indah terbata-bata.

Helny Hasan, ibu Indah, mengatakan bahwa anak sulungnya itu tidak bisa berbicara seperti orang normal.

“Indah memang berbicara tidak terlalu jelas,” ujar Helny.

Indah lahir pada 18 Oktober 1984 dan menderita lumpuh sejak kelahirannya. Dia juga tidak pernah bersekolah. Indah pernah ditawari untuk disekolahkan di Sekolah Luar Biasa Poyowa yang berada di desa tetangga.

Namun, niat itu urung dilaksanakan karena sang ibu khawatir. Saat itu, kabar guru mencabuli muridnya sedang heboh dan dia takut anaknya mengalami hal serupa.

Akhirnya, Indah banyak menghabiskan Tapi meski lumpuh dan tunawicara, Indah tak pernah patah arang untuk belajar.

“Dia belajar sendiri di rumah. Saya berikan kertas dan pulpen lalu menyuruhnya menulis, ternyata dia bisa menulis kata meski belum hafal huruf abjad,” tutur Helny.

Setelah Indah sudah bisa menulis dan membaca, kehidupan sehari-harinya baik senang dan sedih dituangkannya ke dalam buku diary hingga dia dewasa. Kegemaran menulis cerpen makin menjadi setelah mendapatkan buku-buku cerita dari teman-temannya yang tergabung dalam komunitas online.

Helny pernah menanyakan rencana Indah terhadap tulisan-tulisannya. Indah menjawab, ingin membuatnya menjadi buku.

Helny kaget ketika buku yang dikatakan Indah datang pada akhir tahun lalu. Bahkan dia kaget buku itu telah habis terjual pada cetakan pertama yang hanya dicetak sebanyak 70 buah dengan harga Rp 35.000.

“Dan ternyata masih banyak yang sudah memesan untuk membeli dan sedang dicetak lagi, ternyata karya anak saya dihargai,” ujar Helny bangga.

Buku setebal 73 halaman itu berisikan tiga cerpen yang berjudul “Standing Because of Love”, “Kado Ulang Tahun” dan “Selembut, Seputih Awan”. Buku ini diterbitkan SINT Publishing Semarang, Oktober 2016.

Indah berharap, dia dapat melanjutkan berkarya menuangkan imajinasi dan gagasannya dalam bentuk tulisan lain walau dalam serba keterbatasan.

“Saya tulis cerpen-cerpen itu hanya pakai handphone dan kirim ke penerbit lewat SMS-SMS,” ujar Indah.

Walau berstatus penyandang difabel, namun Indah tidak mau berharap belas kasihan orang lain. Dia sering menolak pemberian uang dari orang lain dan memilih membantu adiknya berjualan beras.

“Kalau pun ada yang ingin membantu, saya ingin punya komputer agar bisa lebih mudah menulis,” ungkap Indah.

Tulisan ini sebelumnya sudah terbit di Kompas.com edisi Sabtu (18/2/2017)

Saya bisa dihubungi di Instagram: @ronnybuol, || Facebook: ronny.buol || Email: ronny.buol@yahoo.com

Iklan