Tag

, , , , , ,

yayu-1

Hujan yang turun sepanjang hari tak menyurutkan langkah anak-anak di Desa Tikela, Kecamatan Tombulu, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, mendatangi rumah Niramita Yayu (30).

Sekitar 20 anak berbagai usia itu bersemangat ingin mengisi waktu mereka di ruangan berukuran 2 meter x 4 meter yang disediakan Yayu.

Ruangan itu begitu sederhana, sama halnya dengan rumah yang ditempati Yayu dan keluarganya. Dindingnya terbuat dari seng bekas.

Ruang itu sejatinya bagian dari dapur dan sengaja digunakan oleh Yayu sebagai Pondok Membaca dan Menulis.

“Awalnya mereka sering datang membaca buku koleksi saya yang tak seberapa. Saya lalu berniat menyediakan mereka ruang baca dan belajar. Jadi saya sisihkan sebagian dapur saya,” ujar Yayu, Rabu (15/2/2017).

Yayu dan suaminya, Sami Mannopo, menyisihkan sebagian pendapatan mereka yang pas-pasan untuk membenahi sedikit ruang baca bagi anak-anak itu.

Lantainya diplester seadanya. Di sana juga belum ada instalasi listrik.

Siang itu, anak-anak diberi tugas menggambar oleh Yayu. Meski duduk di atas tikar bekas, bocah-bocah itu terlihat mengerjakan tugas dengan penuh semangat.

Yayu yang menjadi anggota komunitas Torang Slanker Manado sesekali memberikan arahan sambil bercanda agar si buyung dan upik bisa belajar dengan senang.

Peralatan menggambar yang mereka gunakan merupakan donasi dari orang lain yang tertarik dengan apa yang dilakukan Yayu.

Yayu memang mencintai anak-anak. Ibu dari dua anak ini merupakan guru taman kanak-kanak.

yayu-2

Namun, warga sekitar mengenalnya sebagai pembuat kue. Ada kalanya ia membuat kue pesanan orang.

Yayu juga tak segan membantu pekerjaan utama suaminya sebagai pembuat batu bata. Butuh fisik kuat untuk pekerjaan kasar ini, tetapi Yayu senang hati menjalaninya.

Dalam satu kali proses pembuatan batu bata, perlu waktu sekitar 3 bulan hingga batu bata siap dijual.

Dalam sekali produksi, dia bersama suaminya bisa menghasilkan sekitar 20.000 batu bata dengan harga jual Rp 550 per buah.

“Untungnya tidak seberapa karena kami juga mempekerjakan beberapa orang,” tutur Yayu.

Kini keseharian Yayu bersama suaminya bertambah dengan memberi perhatian kepada bocah-bocah yang belajar di rumah mereka.

Ia merasa prihatin karena selama anak-anak tersebut kerap bermain di saluran air yang kotor sepulang sekolah.

“Saya ingin mereka mengisinya dengan hal yang lebih bermanfaat. Belajar di sini dengan gembira,” kata Yayu.

Yayu berkeinginan, kelak anak-anak asuhnya bisa melebihi profesi orangtua mereka yang rata-rata sebagai buruh pekerja.

Dia berharap, ruangan belajar yang dibangunnya itu bisa terus berlanjut walau Yayu mengakui harus mencari akal untuk bisa terus mendanai niat tulusnya itu.

“Jika ada yang sudi membantu, jangan bawakan kami uang, bawakan saja dalam bentuk barang. Kami masih butuh bangku, meja, lemari dan buku-buku bekas,” kata Yayu.

 

Artikel ini sebelumnya sudah tayang di Kompas.com, edisi Kamis (16/2/2016)

Saya bisa dihubungi di Instagram: @ronnybuol || Facebook: ronny.buol || Email: ronny.buol@yahoo.com

Iklan