TIUP BIA

img_20170123_110628-01

#23~365

Deky Rindengan (67), warga Tinoor meniup bia (rumah kerang laut) ketiga kalinya sesaat sebelum ibadah pemakaman dimulai. Tiupan pertama saat acara akan dimulai, tiupan kedua saat pelayat mulai berkumpul

Di pemakaman ini, Deky mengaku telah menjalankan tugasnya sebagai peniup bia yang ke 605. Setiap kali dia selesai bertugas, dia mencatatnya di buku agenda. Tidak semua bisa meniup bia, kata Deky. “Waktu 17 Agustus dibikin lomba agar ada warga lain yang bisa juga meniup, tapi memang susah meniupnya,” ujar lelaki yang merupakan generasi keempat peniup bia di Tinoor ini.

Dalam cara yang berbeda, selain di Tinoor, di Kinilow dan Kakaskasen dan beberapa wilayah di Tomohon, meniup bia masih bagian dari tradisi saat ada warga yang meninggal. Padahal Tomohon merupakan daerah agraris. Semestinya tradisi ini ada di masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir.

Deky menjelaskan dulu sebenarnya pakai sperak (petasan bambu), tetapi dilarang oleh kolonial Belanda. Bia kemudian menjadi pengganti. Tradisi ini juga dianggap sebagai subtitusi lonceng gereja.

#merasakanindonesiamu #minahasa #tinoor #tradisi #traditional #jurnal_rb #bia #tomohon #bia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s