Tag

, , , , , , , , , , , ,

giat-rapi-rescue-manadoUpaya menyingkirkan pohon tumbang yang dilakukan RAPI Rescue Wilayah 01 Manado saat terjadi angin kencang pada 8 Januari 2017. (Foto: RAPI Rescue Manado)

 

Tjandra Theyono (65), Suleman (41) dan Pengky (46) nampak bangga dengan seragam yang mereka gunakan, kala ditemui Kompas.com, Kamis (12/1/2017) malam.

Mereka bertiga adalah sebagian dari anggota Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) Rescue Wilayah 01 Manado.

Kopi hangat yang tersaji malam itu di sebuah resto di kawasan Mega Mas, tidak mampu menepis kegelisahan mereka. Angin tiba-tiba kembali bertiup kencang. Itu pangkal kegelisahan mereka.

RAPI memang sejatinya adalah wadah berkumpul orang-orang yang punya hobi melakukan komunikasi dengan radio.

Namun, RAPI Rescue Manado telah bertransformasi menjadi bagian dari penanganan bencana di wilayah Manado bahkan Sulawesi Utara.

“Itu karena kami-kami ini tidak bisa diam jika mendengar informasi ada bencana dan membutuhkan pertolongan,” ujar Tjandra yang punya call sign JZ22CCA.

Tjandra sendiri merupakan seorang pengusaha tekstil. Namun keterpanggilannya akan aksi kemanusiaan untuk membantu sesama, membuat dia sering meninggalkan tokonya hanya untuk bisa membantu yang lagi membutuhkan pertolongan.

Padahal, Tjandra dalam usianya yang sudah tua itu, sakit-sakitan, bahkan kakinya yang pincang sempat dioperasi karena keropos.

Tetapi semangatnya untuk hadir di setiap musibah, membuat dia merasa punya tenaga melawan kondisi fisiknya.

“Tidak hanya itu, Ko Tjan juga menyiapkan berbagai peralatan rescue, seperti mesin potong pohon, dua buah mobil yang sudah dimodifikasi untuk rescue, dan berbagai peralatan lainnya. Dan itu dibeli dengan biaya sendiri,” jelas Suleman.

Tak hanya Tjandra, semua anggota RAPI Rescue Manado memberikan secara sukarela apa yang bisa mereka sumbangkan, untuk membantu warga yang sedang terkena musibah.

“Ya, bagi kami yang tidak bisa memberikan secara material, kami siapkan tenaga dan waktu,” tambah Suleman yang punya call sign JZ22BJH.

Suleman sendiri adalah seorang koki di sebuah restoran. Dia bergabung dengan RAPI Rescue karena tertarik dengan cerita anggota lainnya.

Awalnya, istri Suleman menentang aktivitasnya di RAPI Rescue. Istrinya beralasan, Suleman bekerja tidak digaji, malah sering meninggalkan pekerjaannya hanya karena ada musibah.

“Tapi, istri dan anak-anak kemudian memahami aksi kemanusiaan yang kami lakukan. Sekarang malah anak saya yang kuliah di kesehatan ikut bergabung menjadI anggota,” kata Suleman bangga.

Tiket ke surga

Walau harus bekerja tanpa gaji, bahkan harus mengeluarkan sendiri biaya operasional dan membeli peralatan, namun anggota RAPI Rescue Manado tidak merasa berkekurangan apapun.

“Rezeki sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Bagi kami, membantu orang lain menjadi sebuah keharusan, sesuai dengan apa yang bisa kami berikan. Kami hanya mencari tiket menuju surga saja,” ujar Tjandra.

Prinsip “tiket ke surga” itu juga yang melandasi kerja mereka.

rapi-rescue-manado

Beberapa anggota RAPI Rescue Wilayah 01 Manado, Sulawesi Utara saat stand by kondisi cuaca buruk di Manado, Kamis (13/1/2017).

RAPI Rescue Manado memang dikenal selalu hadir lebih awal saat ada musibah. Seperti saat Manado dan sekitarnya dilanda angin kencang pada 8 Januari. SekItar 15 pohon tumbang dan menghalangi jalan.

Mereka hadir untuk membantu kepolisian dan pihak lain memotong pohon tumbang, mengangkutnya dan setelah itu membersihkan jalan.

Tak ayal, pekerjaan sukarela ini membuat RAPI Rescue Manado diberikan kepercayaan oleh berbagai pihak.

“Beberapa mobil rescue kami, diizinkan oleh Ditlantas Polda Sulut untuk dipasangi rotator, agar dalam kondisi emergency, kami bisa cepat bergerak ke lokasi,” ujar Pengky.

Kepolisian, TNI, Pemerintah Kota, Badan Penanggulangan Bencana, bahkan Basarnas pun merasa terbantu dengan kehadiran RAPI Rescue Manado. Terlebih jalur komunikasi yang mereka jaga, dan siap setiap saat memberikan informasi yang terpercaya dari lapangan.

“Tak hanya musibah, bahkan kami pun sering menolong orang yang mengalami kecelakaan, pencarian korban hilang bahkan mengantar orang sakit. Semuanya kami lakukan dengan sukarela, tanpa pamrih,” kata Pengky yang punya call sign JZ22BCC.

Walau demikian, mereka bukan berarti menolak jika ada pihak yang ingin memberikan bantuan dana atau peralatan kerja. Bagi mereka, meyakinkan tiket ke sorga itu hanya bisa didapat dengan kerja dengan tulus dan tanpa pamrih.

“Beli seragam pun, kami talangi dari dana yang kami kumpulkan sedikit-sedikit. Jika ada yang bantu tentu lebih baik,” kata Suleman.

Di sesi akhir pertemuan dengan Kompas.com, hujan mulai reda. Mereka pun bergegas ke arah Singkil. Ada sebuah rumah yang tertimpah pohon dan membutuhkan pertolongan segera.

Walau malam telah menjemput larut, namun tak menghalangi niat mereka untuk turun membantu. Tanpa pamrih, tanpa gaji.

Artikel ini sebelumnya sudah tayang di Kompas.com, pada edisi Kamis (12/1/2017).

Saya bisa dihubungi di Instagram: @ronny.buol || Facebook: ronny.buol | Email: ronny.buol@yahoo.com

Iklan