Tag

, , , , , , , , , ,

ratman-asrar-1

Ratman Asrar (51) bergantian menunjuk Koran Tjahja Siang terbitan tahun 1894, Koran Sinar Harapan edisi Selasa 8 Februari 1965, dan beberapa koran yang terbit pada tahun 1937 sebagai koleksi berharganya.

Dia merawat koleksi benda-benda bernilai historis yang sebagian besar merupakan warisan kakeknya di rumahnya di Kecamatan Tuminting, Manado, Sulawesi Utara.

“Saya merasa terpanggil untuk terus memelihara barang-barang ini, sebagai saksi sejarah Sulawesi Utara,” ungkap Ratman, Senin (9/1/2017).

Ratusan foto Sulawesi Utara pada zaman dulu yang dimilikinya seolah lembaran sejarah yang bercerita tentang perkembangan Manado dan sekitarnya. Juga masih terdapat banyak rol film yang belum sempat dicetak.

Demikian pula manuskrip, uang kertas, koin, piringan hitam, majalah, koran, gramafon, dan barang berharga lainnya. Semuanya bernilai sejarah.

Terdapat pula koleksi kamera yang dipakai kakeknya ketika memotret Kota Manado pada tahun 1900an. Salah satu kamera yang dimaksud adalah Yasica Mat-124G yang masih berfungsi dengan baik. Demikian pula dengan kamera Olympus Trip-35 yang juga masih berfungsi.

Ratman berharap, ada pihak terkait yang bisa membantu kepeduliannya ini, terutama mereproduksi beberapa negatif film yang sampai saat sekarang belum tercetak.

“Ini ada foto Pasar Cita pada tahun 1952,” katanya sambil menunjukkan sebuah foto lama yang menggambarkan keramaian Kota Manado pada tahun 1952.

Ruang tamunya yang berukuran 3 x 4 meter itu seolah menjadi galeri barang antik dan bersejarah. Di bagian dinding ruang tamu itu beberapa foto lama tergantung dalam bingkai. Salah satunya adalah foto yang menggambarkan dua buah kapal sedang berlabuh di Teluk Manado yang dipotret pada 11 Juli 1962.

Ratman bercerita bahwa kakeknya, Hanan Kadula, adalah seorang yang sangat dispilin, terutama mendokumentasikan pengalaman hidupnya. Hal itu bisa terlihat dari catatan harian sang kakek yang hingga sekarang masih terjaga.

Hanan memang bekerja sebagai seorang wartawan pada masa itu. Puluhan buku yang menjadi catatan harian Hanan memuat apa saja yang dialami kakek Ratman sepanjang perjalanan hidupnya.

“Walau dalam kondisi sakit pun, kakek masih berusaha menulis catatan hariannya,” ungkap Ratman.

BACA PULA: Koleksi Barang Bersejarah Ratman Asrar

 

Sambil memperlihatkan catatan-catatan itu, Ratman merasa bangga karena kakeknya menulis kejadian-kejadian begitu detail walau itu hanya soal tetangga yang berkelahi, dan siapa yang berpuasa dan tidak berpuasa.

“Ini jam tangan milik ayah saya, Manaf Asrar, merek Titus tahun 50. Ini agak spesial (sambil menunjukkan barangnya) dari zaman pendudukan Jepang, ada nama Takahashi, yang diberikan ke kakek waktu zaman pendudukan Jepang. Spesial sekali ini. Ini juga satu kebanggaan (menunjukkan barang lainnya) karena orangtua saya bisa mencetak foto-foto sendiri, dan beberapa peralatan yang masih dia simpan dan terawat sampai sekarang. Mereka juga wartawan foto, wartawan media cetak waktu itu, dan itu hasil foto karya-karya mereka,” ungkap Ratman di ruang tamunya.

Koleksi Ratman lainnya adalah ratusan kaset pita dari jaman pendudukan Jepang, baik artis Indonesia maupun artis mancanegara. Kaset itu semua masih berfungsi, walau pemutar tapenya sudah tidak ada.

Begitu pula dengan piala jadul, tusuk konde, beberapa patung kayu bahkan seterika besi yang masih menggunakan bara api. Juga beberapa alat permainan tradisional dan piring-piring tempo dulu.

“Kakek lahir tahun 1915, di Gorontalo. Tahun 1925 beliau ke Manado, tepatnya ke Tondano, untuk melanjutkan sekolah MULO di Tondano, bersama dengan Pak Nani Wartabone. Bapak saya juga orangnya telaten, fotografer, dan beberapa koleksi dari kakek disimpan oleh bapak saya. Beliau seorang ahli tata hukum, pada jaman Belanda, kerjasama dengan Borsumai, pada jaman Jepang juga bekerja dengan pemerintah Jepang pada waktu itu. Dan sesudah kemerdekaan, beliau ikut salah satu badan usaha dari pemerintah Belanda sampai tahun 1968,” ungkap Ratman.

Ratman berharap, kelak bisa membuatkan tempat khusus, semacam meseum mini, untuk seluruh koleksinya itu.

Artikel ini telah terbit di Kompas.com, edisi Senin (9/1/2017)

Instagram: @ronnybuol || Facebook: ronny.buol || email: ronny.buol@yahoo.com

Iklan