Tag

, , , , , , , , , , , , , ,

Saya mendapat kesempatan mengisi halaman Portofolio di majalah National Geographic Indonesia Traveller pada edisi Desember 2016. Editor NatGeo meminta saya mengirimkan foto-foto dan artikel tentang Hudoq Pekayang, sebuah ritual suku Dayak, yang saya rekam di pedalaman Mahakam Hulu, Kalimantan Timur pada Oktober 2016.

Berikut artikel dan capture halaman majalah tersebut, sebagaimana juga dipublish di website fotokita.net pada 23 November 2016.


 

1216-ngt_t-018-027_page_1

Menjelang siang, Tipung Ping (65) dan Yeq Lawing (67) bergabung bersama warga lainnya di Lamin Adat kampung Long Isun Data Suling. Kedua inai ini—sebutan ibu tua di Dayak Bahau—mempersiapkan diri untuk turut serta pada Hudoq Pekayang di Long Tuyoq di Kecamatan Long Pahangai, Kabupaten Mahakam Hulu, Kalimantan Timur.

Rombongan warga bertolak ke Long Tuyoq. Tipung dan Yeq terlihat cantik dalam busana yang didominasi warna merah. Hudoq Pekayang menjadi ajang kumpul bagi 13 kampung di Long Pahangai saban Oktober.

Gerakan tarian hudoq dipercayai turun dari nirwana untuk mengenang leluhur mereka, yang diyakini berada di sekeliling anak cucunya saat musim tanam tiba. Lewat hudoq-lah orang Bahau memohon bimbingan dari roh-roh leluhur yang dijuluki sebagai Jeliwan Tok Hudoq. Apo Kayan dipercayai tempat muasal Asung Luhung, ibu besar yang diturunkan dari langit, yang memberi perintah kepada Tok Hudoq.

Dia diperintahkan menemui manusia. Misinya membawa kabar kebaikan sambil memberi benih dan tanaman obat. Namun, karena wujudnya yang menyeramkan, Tok Hudoq mengenakan topeng dan baju samaran manusia setengah burung. Tradisi itu digambarkan dalam tarian hudoq. Para penari menyembunyikan diri mereka dalam rupa topeng, serta berbalut pakaian dari kulit kayu yang dibungkus dengan jalinan daun pisang atau daun pinang.

Biasanya satu kelompok penari hudoq terdiri atas 13 orang, perlambang jumlah dewa yang memelihara padi, sekaligus simbol jenis hama yang menganggu tanaman. Hama itu terwakili dari rupa topeng yang menyerupai binatang buas.

Saat ratusan hudoq menari, Tipung dan Yeq bersama ribuan warga Bahau lainnya membentuk barisan melingkar. Mereka melakonkan tarian ngaraang. Sementara mereka larut dalam ngaraang, Dominika Hanyaq Sang di Long Pahangai nyaris tak mampu lagi berdiri. Usianya 86 tahun. Meski uzur, di telinganya masih tergantung 19 hisang.

Di Mahakam Hulu, kini, tak lebih dari 50 inai yang masih berhisang. Usia mereka 50 hingga 90 tahun. Merekalah yang merawat tradisi di ujung kepunahan itu. Betapa tidak, generasi Dayak Bahau saat ini, nyaris tak ada lagi yang mau memanjangkan kupingnya dan berhisang. Bahkan, beberapa yang berkuping panjang, telah dipotong dan hisangnya dilepas.

Banyak alasan yang muncul, mengapa mereka tidak meneruskan tradisi simbol kecantikan perempuan Dayak masa lalu. Umumnya, mereka mengatakan malu. Mungkin beberapa tahun lagi, salah satu kekayaan budaya Indonesia ini sekadar dongeng dari peradaban Sungai Mahakam. Akankah budaya ini menjadi kenangan saat Hudoq Pekayang digelar?


Karya Ronny Adolof Buol rutin dimuat di kompas.com dan media internasional. Mendirikan LPM f/21, lembaga yang mengusung visi mengedukasi masyarakat lewat fotografi di Manado. Foto cerita ini dimuat di National Geographic Traveler Desember 2016.

1216-ngt_t-018-027_page_21216-ngt_t-018-027_page_31216-ngt_t-018-027_page_41216-ngt_t-018-027_page_5

Fotografer: Ronny Adolof Buol (insta: ronnybuol)
Editor Foto: Yunaidi
Editor Teks: Mahandis Y. Thamrin
Editor Visual: Lambok Hutabarat
Desainer Grafis: Zulfiq Ardi Nugroho

Iklan