Tag

, , , , , , , ,

Citra-01
Bangunan sederhana di Kelurahan Melonguane Barat, Kecamatan Melonguane, Kabupaten Talaud itu berada di antara pemukiman warga. Tak banyak yang mengetahui jika di kelurahan itu ada aktivitas kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Tunas Baru.Walau PKBM Tunas Baru telah meluluskan ratusan warga belajarnya, namun sebagian besar warga Melonguane merasa asing dengan nama lembaga pendidikan informal tersebut.  Citra Meirina Wati, sosok perempuan dibalik PKBM tersebut mengaku memang tak mencari popularitas.

“Saya tulus mengabdikan diri untuk masyarakat, ingin memerdekakan mereka dari ketertinggalan,” ujar Citra, saat ditemui beberapa waktu lalu.

Wanita asal Blora Jawa Tengah, kelahiran Yogyakarta 19 Mei 1984 ini mengenal Talaud karena ikut suaminya pada tahun 2007. Sewaktu datang di Talaud, dia tidak punya modal apa-apa.

Citra memulai keterlibatannya di pendidikan sebagai tenaga honor di SMP Esang selama 3 bulan sebagai Guru Agama. Setelah itu, dia bergabung dalam program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai Fasilitator Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) pada tahun 2008.

Dari sanalah kemudian dia jatuh cinta terhadap dunia pendidikan dan merasa terpanggil untuk memberdayakan masyarakat sekitarnya.

“Waktu itu, tugas kami mendampingi lembaga PAUD di 60 desa yang ada di Talaud,” kata Citra.

Pada tahun 2012, Citra mundur dari pekerjaannya sebagai fasilitator PAUD. Ibu dua anak ini kemudian sempat menjadi tenaga diperbantukan atau sukarela di Dinas Pendidikan sebelum bergabung di program Dinas Sosial dan Tenaga Kerja sebagai seorang Tenaga Kerja Sarjana (TKS). Pekerjaan itu juga masih berurusan dengan pendampingan masyarakat.

Sewaktu mengikuti pendidikan dan pelatihan sebagai TKS, Citra memperoleh banyak pengetahuan dan keterampilan, yang kemudian menjadi modal baginya dalam pemberdayaan masyarakat.

Dia kemudian merintis usaha pembuatan dodol dari berbagai bahan alam yang ada di Talaud. Setelahnya berbagai bentuk usaha lainnya ikut dicoba, seperti pembuatan tahu dan peternakan.

Dalam setiap pekerjaan itu, Citra selalu melibatkan warga sekitarnya. Karena semakin banyak warga yang ingin belajar, Dia kemudian mendirikan PKBM yang dia namakan Tunas Baru pada tahun 2011. Awalnya PKBM itu mengambil tempat di rumah mereka di Mamahan.

“Saya bersama suami kemudian mulai menyisihkan uang dari hasil panen pala dan cengkeh serta dana rumah tangga untuk membeli bahan bangunan,” cerita Citra.

Citra dan suaminya membeli bahan bangunan secara perlahan sesuai dengan kemampuan keuangan yang ada. Secara bertahap mereka membangun gedung PKBM di Melonguane. Kegiatan belajar tersebut kemudian mulai teroganisir dengan baik dan semakin banyak menjangkau warga lainnya. Tak hanya warga sekitar tempat Citra tinggal, tetapi telah menjangkau berbagi kecamatan di Talaud.

Citra-02
Suasana belajar di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Tunas Baru, Talaud, Sulut.

Merasa kegiatan pemberdayaan masyarakat di PKBM Tunas Baru semakin besar, Citra bersama suaminya kemudian sepakat mendirikan sebuah bangunan di samping rumah mereka. Semua dananya berasal dari kantong mereka, walau mereka hidup pas-pasan.”Suami juga setuju, dan dia sangat mendukung kegiatan saya, jadi dia ikut membantu bangun gedung ini,” sebutnya.

Kini walau masih berbentuk bangunan semi permanen, namun warga belajar di PKBM Tunas Baru telah memiliki ruang belajar yang cukup nyaman. Usaha Citra pun semakin dikenal, dan banyak ibu-ibu mau datang belajar.

Ratusan lulusan

Walau dengan dana sendiri, tetapi Citra lewat PKBM yang dia dirikan telah mampu meluluskan ratusan warga belajar, terutama mereka yang tidak sempat memegang ijazah di sekolah formal. Padahal informasi soal PKBM Tunas Baru hanyadari mulut ke mulut.

“Kebanyakan ibu-ibu yang datang, jarang bapak-bapak,” kata Citra sambil tertawa.

Di PKBM Tunas Baru, warga belajar yang sudah mahir baca tulis, diikutkan pada program ujian kesetaraan Paket B dan Paket C. Keberhasilan Citra, membuat beberapa pihak menawarkan kemitraan dengannya.

“Bantuan memang ada yang datang, tapi tidak untuk selamanya. Saya harus mencari cara sendiri untuk menanggung biaya operasional PKBM ini,” kata dia.

Selain pendidikan baca tulis, Citra juga melengkapi program di PKBM Tunas Baru dengan kewirausahaan mandiri, keterampilan tata rias, pengolahan makanan, dan keterampilan menjahit. Alhasil warga belajarnya memiliki berbagai keterampilan sebagai bekal merintis kemandirian.

Ketulusan dan ketekunannya membuat Citra pada tahun 2014 diganjar sebagai TKS Teladan mewakili provinsi Sulawesi Utara. Piagam penghargaan itu ditandatangani oleh Menteri Ketenagakerjaan waktu itu, Hanif Dhakiri.

Dia mengakui bahwa pendirian PKBM Tunas baru karena kerinduannya memberdayakan masyarakat. “Walau Talaud merupakan daerah paling ujung, tapi kami ingin mereka maju,” tegasnya.

Citra yang sudah merasa sebagai orang Talaud ini sengaja memberikan nama Tunas Baru pada PKBM dengan harapan agar bisa terus tumbuh dan berkembang.

“Saya berharap kegiatan-kegiatan ini tetap jalan, dan semoga pemerintah daerah atau pusat bisa mensupport kegiatan kami,” harap Citra.

Menurut Citra, belajar itu tidak harus dibatasi oleh usia dan waktu. Dia mengutarakan keinginannya untuk terus membangun masyarakat merdeka dari keterbelakanganya.

Artikel ini sebelumnya sudah terbit di Kompas.com edisi 17 Agustus 2016:

http://regional.kompas.com/read/2016/08/17/07080001/Citra.Meiriana.Wati.Memerdekakan.Warga.Talaud.dari.Ketertinggalan?page=all

Jika Anda tergerak untuk membantunya, silahkan salurkan donasi melalui:

https://kitabisa.com/bantucitra

Video mengenai Citra bisa dilihat di: