Tag

, , , , , ,

_MG_6294

NAMA “Miangas” populer karena tersebut dalam lirik lagu yang menggambarkan batas-batas wilayah Indonesia. Penggalannya adalah “dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote”.

Miangas menjadi magnet karena pulau kecil ini, lebih dekat dengan Filipina dibandingkan dengan ibu kota Kabupaten Kepulauan Talaud, Melonguane yang merupakan pemilik wilayah administrasi pulau yang hanya memiliki luas sekitar 3,5 Km2 ini.

Dari Melonguane, Miangas berjarak sekitar 110 mil, dan dari Manado sekitar 320 mil, sementara jarak Miangas ke Davao (Filipina) hanya 48 mil. Tak heran pulau ini dijadikan sebagai cross border area. Sebuah bangunan sederhana milik pemerintah Filipina berdiri di Miangas.

Untuk mencapai Miangas, dibutuhkan perjuangan yang tak gampang. Tidak saban hari ada kapal yang menyinggahi pulau yang dihuni sekitar 1.000 jiwa ini. Tetapi justru karena tantangan itulah, para pejalan dan pelancong menjadikan Miangas sebagai target destinasi khusus.

Menginjakkan kaki di tapal batas paling Utara Indonesia adalah sasaran mereka. Apalagi jika bisa berfoto di pulau dengan sejarah masa lalunya yang tak kalah menariknya.

Tak heran, beberapa pelancong rela menempuh perjalanan laut dari Bitung selama 5-6 hari hanya karena ingin ke Miangas. Eksotika dan keindahan Miangas juga merupakan magnet sendiri selain “tapal batas”.

Salah satu sudut pantai di Pulau Miangas, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, dengan latar Tanjung Wora yang terlihat dari arah dermaga. (RONNY ADOLOF BUOL )

Di pulau ini, kedatangan anda tidak disambut oleh para agen travel, tetapi akan disambut oleh seluruh penduduk pulau. Betapa tidak, kedatangan sebuah kapal yang bersandar di dermaga Miangas adalah berkah bagi penduduknya. Itu artinya, suplai kebutuhan barang pokok dan berbagai kebutuhan lainnya diangkut oleh kapal yang datang itu.Makanya saat kapal tiba, penduduk beramai-ramai menjemputnya. Walau ada beberapa kapal yang melayari rute Miangas, termasuk kapal Pelni dan kapal perintis, tetapi jadwal rute kapal-kapal tersebut tidak selalu tepat waktu. Apalagi, jika musim angin Barat bertiup, dan gelombang laut menjadi tinggi, Miangas seolah menjadi pulau terisolasi.

Pulau yang Eksotis

Menjejakkan kaki di Miangas adalah sebuah garansi menikmati eksotika di ujung paling Utara Indonesia. Begitu anda turun dari kapal, bentangan pulau kecil ini adalah panorama yang indah. Seolah teronggok sendiri di tengah samudera, Miangas menyimpan pesona wisata bahari yang kaya.

Perairan laut Miangas diberkati dengan kejernihan yang luar biasa. Dari atas dermaga saja, di Pantai Racuna, ikan-ikan yang berenang bisa terlihat dengan jelas. Apalagi jika anda snorkeling. Tapi harap bawa peralatan sendiri.

Di pantai Racuna yang sangat dekat pemukiman penduduk ini pula terdapat Tugu NKRI yang menjadi penanda bahwa anda sedang berada di tapal batas. Pastikan, anda tidak melewatkan sesi foto di tugu ini.

Beberapa sisi pantai pulau ini adalah pasir putih nan halus, dengan warna air yang menggradasi dari biru pekat, biru muda hingga ke hijau toska yang berpadu dengan putihnya pasir. Jika cuaca lagi cerah, birunya langit di Miangas mengambarkan bersihnya udara yang jauh dari polusi.

Warga menyambut tamu di ‘Gerbang Selamat Datang’, saat Festival Manam’mi digelar di Pulau Miangas, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara (RONNY ADOLOF BUOL)

Pergilah ke Pantai Kubbu yang hanya berjarak sekitar 500 meter dari Racuna. Lalu lanjutkan perjalan ke Pantai Lawasa, Tanjung Langinatundu, Pantai Aba’a, Pantai Mariu, Tanjung Liwua, Pantai Ropapa, Pantai Laru, tanjung Wolo yang ada goanya, Tanjung Langana dengan pemandangan laut lepas yang sangat indah.Lalu adaPpantai Merra dengan pasir putih halus yang membentang cukup panjang, Tanjung Panci yang merupakan lokasi favorit untuk memancing, Pantai Larawa dengan batu terapungnya, dan sejumlah tempat lainnya yang tak kalah indahnya.

Jangan lupakan pula pergi ke Tanjung Wora, yang jika air sudah pasang menjadi terpisah dari pulau utama. Setelah itu mendakilah ke lokasi meriam keramat, yang menjadi saksi penjuangan nenek moyang orang Miangas melawan orang Sulu.

Walau hanya sebagai pulau kecil, menjelajahi semua keindahan bahari di Miangas tidak cukup hanya sehari. Berusahalah untuk tinggal beberapa hari sambil menunggu kapal berikutnya yang datang. Carilah rumah warga yang sudi menampung kehadiran anda.

Selingi kegiatan di Miangas dengan bergabung bersama nelayan menangkap ikan dengan cara-cara tradisional. Yakin, petualangan anda di tapal batas akan lebih bermakna.

Kearifan Lokal yang Terus Terjaga

Tak hanya keindahan alam, Miangas menggaransi dengan kearifan lokal yang terus terjaga. Para tetua adat, yang disebut Ratumbanua, diangkat secara khusus untuk menjaga laut dan darat. Titah mereka adalah kebijaksanaan bagi penduduk Miangas.

Maka hormatilah adat yang dijaga turun temurun itu jika anda sedang berada di Miangas. Termasuk hutan kelapa yang dijaga secara adat, dan terlarang untuk dimasuki sembarang. Hutan kelapa itu hanya bisa dimasuki kala mendapat petunjuk dari Ratumbanua.

Peserta Festival Manam’mi mengelilingi titik kumpul terakhir sambil menunggu petunjuk dari tetua adat untuk menangkap ikan secara bersama-sama. (RONNY ADOLOF BUOL )

Panen buah kelapa pun dilakukan secara bersama-sama. Tujuannya agar kelapa-kelapa itu menjadi lestari karena menjadi tumpuan hidup bagi penduduk Miangas.Ikan memang melimpah, tetapi jaraknya yang sangat jauh dari pusat industri perikanan di Bitung, membuat nelayan Miangas tidak bisa sepenuhnya menggantungkan mata pencaharian dari laut. Ikan ditangkap sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kearifan lokal yang masih terus dihormati itu juga tercermin di Pantai Wolo. Sebuah pantai yang dijadikan daerah terlarang dengan sistem adat. Dengan pentunjuk Ratumbanua, pada waktu tertentu kawasan Pantai Wolo terlarang untuk didatangi.

Larangan itu terkait dengan ritual penangkapan ikan yang disebut Mana’mi, yang hanya digelar setahun sekali. Hari pelaksanaannya berpedoman pada hitung-hitungan surut terendah dalam setahun yang biasanya jatuh pada bulan Mei.

Sebelum puncak Mana’mi digelar, atas petunjuk Ratumbanua, warga membuat pagar dari batu di salah satu titik tertentu di Pantai Wolo. Pagar batu itu nantinya digunakan untuk menjebak ikan. Tak ada yang bisa ke sana sampai waktunya tiba. Jika ada yang ketahuan, hukum adat menanti.

Berbulan-bulan sesudahnya, atas perhitungan Ratumbanua, Mana’mi pun dihelat. Seluruh penduduk Pulau Miangas akan mendatangi Pantai Wolo. Berbekal dengan janur kelapa yang dirangkai ke tali hutan, para penduduk pulau ini akan turun ke laut.

Janur sepanjang ratusan meter itu ditebar sejak air masih pasang. Mereka membentuk setengah lingkaran menghalau ikan yang terjebak ke satu titik di Pantai Wolo. Ikan digiring seiring dengan air yang semakin surut, hingga masuk ke pagar batu. Saat air mencapai surut terendahnya, Ratumbanua yang dibantu oleh para tetua adat lainnya, akan melakukan prosesi Mana’mi.

Doa pun dipanjatkan. Dan sesudahnya, ribuan ikan yang terjebak di janur itu, akan dipanen secara bersamaan. Warga memanen ikan bersama-sama. Menangkapnya dan membakar di tepi pantai, lalu menyantap di pondok-pondok yang sudah didirikan malam sebelumnya. Semua bergembira dan merayakannya.

Para pelancong yang datang tepat saat Manami’mi juga diajak berpesta ikan bersama penduduk setempat. Atraksi budaya bahari itu oleh Pemerintah Daerah Talaud sesekali dijadikan sebagai festival.

Seperti yang baru saja lewat, pada tanggal 21 Mei lalu, Pemerintah Talaud mengadakan Festival Mana’mi di Pulau Miangas. Ratusan tamu dari luar Pulau Miangas sengaja datang untuk menghadiri festival ini. Dan tentu juga menikmati eksotisme di tapal batas.

Artikel ini sebelumnya telah tayang di Kompas.com edisi 6 Juni 2016 (http://travel.kompas.com/read/2016/06/06/153400527/Magnet.Wisata.Bahari.di.Tapal.Batas.Itu.Bernama.Miangas)