Tag

, , , , , , , , , ,

SOSIALISASI - Staff dari Perkumpulan Sampiri sedang memberikan pemahaman mengenai laut dan wilayah pesisir kepada Siswa SMPN 2 Satap Tabukan Selatan di Batuwingkung.

SOSIALISASI – Staff dari Perkumpulan Sampiri sedang memberikan pemahaman mengenai laut dan wilayah pesisir kepada Siswa SMPN 2 Satap Tabukan Selatan di Batuwingkung.

SANGIHE, KOMPAS.com – Raut wajah Risno Mangune (32) terlihat gembira pagi itu. Hujan yang dinanti turun juga. Bak-bak penampungan air di pulau Batuwingkung terisi lagi.

Batuwingkung merupakan desa yang berada di kecamatan Tabukan Selatan, Kabupaten Sangihe, Sulawesi Utara. Risno telah menjadi kepala desa selama satu periode, bagi 423 jiwa penduduk di pulau itu.

“Hujan sudah jarang turun di sini. Sumber air berkurang, sumur warga banyak yang kering. Kemarau tahun lalu sangat berpengaruh,” keluh Risno saat menjemput Tim dari Perkumpulan Pemberdayaan Masyarakat dan Koservasi Alam (YAPEKA), Kamis (5/5/2016).

YAPEKA bersama Perkumpulan Sampiri Sangihe memilih pulau Batuwingkung menjadi salah satu target pengembangan program pengelolaan wilayah sumber daya pesisir dan laut berbasis masyarakat.

“Dari survey awal kami, dari sisi ekologi, Batuwingkung punya potensi untuk dikembangkan. Disini ada mangrove, padang lamun dan terumbu karang,” ujar Agus W dari YAPEKA.

Menurut Agus, warga perlu didorong dan diberi penguatan dalam mengelola sumber daya alam serta pemanfaatannya. Harus ada penguatan secara kelembagaan, serta mengajak mereka merancang bersama program yang cocok dengan kondisi lingkungan mereka.

Berkurangnya sumber air bersih, diakui oleh Risno salah satunya dampak dari kurang pedulinya masyarakat menjaga pohon-pohon di pulau itu.

“Banyak yang menebang pohon sembarangan. Kami juga terbatas untuk menegurnya, karena mereka memberi alasan itu adalah lahan milik mereka,” jelas Risno.

Walau kemarau panjang setahun lalu dianggap memberikan dampak yang signifikan, tapi ketiadaan pohon-pohon di dekat sumber air, dianggap sebagai penyebab utama lainnya berkurangnya sumber air bersih.

“Beberapa waktu lalu, ada warga sampai bentrok hanya untuk memperebutkan sumber air. Saya kira ini sudah harus dipikirkan jalan keluarnya,” kata Risno.

Pantai yang indah di pulau Batuwingkung, Kecamatan Tabukan Selatan, Kabupaten Kepulauan Sangihe.

INDAH. Pantai yang indah di pulau Batuwingkung, Kecamatan Tabukan Selatan, Kabupaten Kepulauan Sangihe.

Alasan YAPEKA dan Sampiri masuk melalui pengelolaan wilayah pesisir, karena 190 hektare (ha) dari 250 ha luas Batuwingkung merupakan wilayah perairan.

“Sebagian besar penduduknya mengantungkan harapan dari mencari ikan di laut, bahkan ada yang mencari ikan hingga ke perairan Siau dan Ternate,” jelas Agus.

Agus menuturkan, mereka ingin memberikan pemahaman kepada penduduk Batuwingkung, bagaimana mengelola sumber daya alam yang bertanggungjawab, berkelanjutan serta mensejahterakan masyarakat dalam jangka panjang.

“Walau fokus utama kami di wilayah pesisir, wilayah daratan dan hutan juga menjadi target. Nanti kami akan dorong penghijauan, pengelolaan tanaman organik dan pengembangan ekowisata,” kata Agus.

Agustinus Wijayanto, dari YAPEKA sedang memberikan materi kepada masyarakat Batuwingkung.

Agustinus Wijayanto, dari YAPEKA sedang memberikan materi kepada masyarakat Batuwingkung.

Bersama stakeholder terkait, YAPEKA dan mitranya akan berada di Sangihe selama dua tahun. Mereka akan masuk melalui program daerah perlindungan laut dan secara bertahap memberikan pendampingan bagi penyusunan Rencana Pembangunan Jangkah Menengah Desa (RPJMD).

“Perlu komitmen dari semua pihak untuk menjaga dan mengelolah kualitas dan daya dukung lingkungan. Kami ingin saat desa menyusun RPJMD, aspek lingkungan menjadi faktor penting. Sehinga nantinya, RPJMD itu terintengrasi dengan rencana pembangunan ditingkat atasnya,” jelas Agus.

Selain di Batuwingkung, program yang sama mereka implementasikan di desa Lesabe, Bukide, Nipa dan di Bukide Timur.

Harapannya, program pengelolaan wilayah sumber daya pesisir dan laut berbasis masyarakat itu, bisa menjadi salah satu alternatif dalam mitigas dan adaptasi perubahan iklim.

“Mitigasi penting melihat kondisi perubahan lingkungan yang ada sekarang. Sementara di sisi adaptasi, kami akan mendorong program-program ini dikuatkan lewat peraturan desa. Tujuannya adalah agar mereka mendapat landasan hukum saat melanjutkan program,” kata Agus.

Sebagai kepala desa, Risno menyambut baik program-program tersebut. Baginya, yang terpenting adalah masyarakat mendapat manfaat dari semua program yang didatangkan di desanya.

“Jelas kami harus mendukungnya, jika ini memang bisa menjadi jalan bagi kami memperbaiki lingkungan,” kata Risno

Tulisan ini sebelumnya sudah tayang di Kompas.com, edisi 5 Mei 2016: http://regional.kompas.com/read/2016/05/05/10492851/Membangun.Harapan.Pengelolaan.Pesisir.dari.Pulau-Pulau.di.Sangihe