Tag

, , , , , ,

PENGABDIAN - Marisa Siagian berfoto usai melayani pasien di pulau Batuwingkung, Sangihe.

PENGABDIAN – Marisa Siagian berfoto usai melayani pasien di pulau Batuwingkung, Sangihe.

SANGIHE — Siang itu panas terik menyengat di pulau Batuwingkung. Sebuah desa di Kecamatan Tabukan Selatan, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Perlu menyeberang lautan dengan perahu dari daratan Sangihe untuk ke Batuwingkung.

Namun terik itu tak menyurutkan langkah Marisa Siagian (27), mengunjungi seorang anak kecil. Bidan kontrak itu harus melewati jalan setapak naik turun. Maklum pasien terbaring dan tidak bisa dibawa ke Puskesmas Pembantu (Pustu).

“Bocah ini sudah beberapa hari panas tinggi,” ujar Marisa sambil menyeka peluhnya, Rabu (4/5/2016). Sejurus kemudian, wanita cantik ini lalu mengerjakan tugasnya. Memeriksa pasien dan memberikan obat yang diperlukan.

Usai menangani bocah itu, Marisa lalu beranjak ke rumah warga lainnya. Seorang wanita paruh baya telah menanti kunjungannya, mengharapkan pemeriksaan kesehatan dari lulusan Politeknik Kesehatan Manado itu.

Tak ada keluhan sedikitpun keluar dari mulut Marisa. Padahal tak gampang hidup di Batuwingkung. Sumber air bersih berkurang drastis setelah kemarau panjang melanda setahun lalu. Belum lagi jalur komunikasi yang sulit, karena signal selular sangat buruk.

“Saya tidak pemakan ikan, alergi. Di pulau ini banyak ikan karena umumnya mereka nelayan. Sementara sayur-sayuran dan buah jarang didapat. Tapi saya menyesuaikan dengan kondisi yang ada, termasuk tinggal sendiri di Pustu,” ujar Marisa.

Kondisi serba terbatas di pulau, membuat banyak lulusan tenaga medis menolak bertugas di pulau-pulau. Padahal mereka berasal dari daerah itu. Tapi tidak bagi Marisa dan sejumlah tenaga medis lainnya, yang justru dari luar Sulut.

“Saya dari Medan, dan banyak teman-teman dari luar Sulut juga tersebar di pulau-pulau. Bagi saya justru bertugas di sini dengan kondisi serba terbatas menjadi sebuah tantangan. Kami harus memaknainya sebagai pengabdian,” kata Marisa.

Marisa dan bidan-bidan lainnya tergabung dalam program PNPM Generasi Sehat dan Cerdas (GSC). Program yang merupakan bagian dari integrasi Membangun Dari Pinggiran yang digagas Jokowi ini, menempatkan mereka di daerah-daerah terpencil. Tujuannya mengatasi keterbatasan tenaga medis di daerah-daerah tersebut.

“Di sini sudah dibangun Pustu, tetapi sayangnya bangunan itu terkesan mubazir karena tidak ada tenaga medis. Tapi kini kami bersyukur, sudah ada bidan kontrak,” jelas Kepala Desa Batuwingkung, Risno Mangune.

Salah satu sudut pantai pulau Batuwingkung, Sangohe.

Salah satu sudut pantai pulau Batuwingkung, Sangihe.

Risno dan warga Batuwingkung kini tidak perlu menyebrang lautan lagi ke Manalu, jika hanya perlu ke Puskesmas. Kehadiran Marisa paling tidak bisa membantu mereka memberikan pengobatan awal.

“Semua obat-obatan disuplai oleh Dinas Kesehatan setiap bulannya. Gratis bagi pemegang Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan peserta Jamkesmas, serta peserta BPJS Kesehatan,” jelas Marisa.

Namun tidak semua 423 jiwa di Batuwingkung yang tercover jaminan kesehatan. Risno menjelaskan, sewaktu KIS dibagikan, banyak data yang tidak valid, sehingga ada yang sudah pindah dan meninggal justru tercatat sebagai penerima KIS. Sementara beberapa warga yang semestinya tercover malah tidak menerimanya.

“Penghasilan warga disini umumya dibawah rata-rata. Untuk hidup sehari-hari saja mereka ┬ásusah. Jika ada pasien yang memang tidak mampu membayar biaya pengobatan dan obat, ya, saya menanggungnya,” ujar Marisa dengan senyum bangga.

Menurut Marisa, dia menyisihkan dana untuk menanggung pasien yang tidak mampu, dari upah yang seharusnya dia terima. Kadangkala, dia pun harus menanggung bersama sewa perahu saat merujuk pasien ke Puskesmas di Manalu.

“Bagi saya ini juga bentuk dari ibadah, tak sekedar bekerja. Saya sudah dua bulan di sini dengan masa kontrak enam bulan. Saya senang bisa membantu mereka,” cerita Marisa.

Marisa berharap, lulusan tenaga kesehatan bisa kembali ke daerahnya dan mengabdi bagi warga mereka. Terutama di daerah-daerah terpencil. Memang diakuinya, masalah keterbatasan di daerah-daerah itu menjadi alasan banyak yang menolak untuk ditempatkan.

“Saya pernah di Siau, waktu masa PKL, untuk mengabari keadaan ke mama saja, harus panjat pohon agar dapat signal selular. Hahaha,” kenang Marisa.

Baik Marisa dan Risno, berharap program jaminan kesehatan yang menjadi target pemerintah untuk memberikan layanan kesehatan terbaik bagi warganya, dibarengi dengan penyediaan fasilitas kesehatan serta tenaga medis hingga ke pulau-pulau.

“Tentu kami tidak ingin, ada warga kami yang mengurus jaminan kesehatan saat mereka sudah menderita sakit. Padahal, seharusnya mereka tercover dalam jaminan itu. Pemerintah harus turun hingga ke pelosok-pelosok untuk mensosialisaikannya,” harap Risno.

Artikel ini telah tayang sebelumnya di Kompas.com: http://regional.kompas.com/read/2016/05/05/08375201/Kisah.Bidan.Kontrak.di.Pulau.Batuwingkung.yang.Talangi.Obat.Pasien