Tag

, , , , , ,

MENDAYUNG - Dua pelajar ini harus mendayung perahu menyeberangi lautan untuk menuju sekolah mereka di Pulau Batuwingkung, Sangihe.

MENDAYUNG – Dua pelajar ini harus mendayung perahu menyeberangi lautan untuk menuju sekolah mereka di Pulau Batuwingkung, Sangihe.

SANGIHEĀ  – Kabut sisa semalam masih belum beranjak. Namun, Novi dan Atris harus segera bangun. Mereka bergegas dan harus lebih awal.

Seragam sekolah menengah pertama (SMP) mereka simpan di dalam tas sekolah. Seperti biasanya, setiap pagi mereka mengenakan jaket lebih dulu.

Maklum dingin masih menusuk, karena mereka harus menyeberang lautan. Tak ada pilihan lain untuk menuju ke sekolah mereka di pulau Batuwingkung.

Setiap hari mereka harus bolak balik mendayung perahu sendiri dari Kampung Kendong dan Paraleng untuk pergi dan pulang sekolah. Butuh waktu sekitar 30 menit untuk tiba di Batuwingkung.

“Kalau lagi musim ombak, kadangkala kami harus basah. Makanya nanti pakai seragam kalau sudah tiba di Batuwingkung,” ujar Novi, Rabu (4/5/2016) yang bersama Atris duduk di bangku kelas 7 SMP Negeri 2 Satu Atap Tabukan Selatan di Batuwingkung.

Dua siswa perempuan ini tidak sendirian. Masih ada beberapa siswa lain yang harus melalui perjalanan seperti itu. Sebut saja Oji, Romli dan Fian (kelas 8), Martinus (kelas 9) serta Ivan yang masih duduk di kelas 4 sekolah dasar.

Biasanya mereka saling menunggu di pantai Batuwingkung, agar bisa saling membantu menarik perahu untuk ditambatkan, saat mereka mengikuti proses belajar di ruang kelas.

Hal itu terlihat saat Ivan tiba di pantai. Dia yang sudah mengenakan seragam SD-nya tidak pergi begitu saja. Dia menunggu perahu lain datang, lalu bocah ini ikut membantu menarik perahu ke tepi.

“Bagi kami, perahu adalah kendaraan mewah. Dengan perahu ini kami bisa menjangkau sekolah. Setiap hari kami harus mengayuh agar bisa menyelesaikan sekolah dan lulus,” tutur Oji.

Perahu-perahu kecil itu memang disediakan oleh orangtua mereka yang bekerja sebagai nelayan. Sore hingga malam hari, perahu itu dipakai orangtua mereka untuk mencari ikan.

“Kadang kami ikut pergi mencari ikan, membantu orang tua mencari nafkah,” kata Oji.

ANGKAT - Para pelajar di pulau Batuwingkung, Sangihe saling membantu mengangkat perahu yang mereka gunakan untuk pergi ke sekolah.

ANGKAT – Para pelajar di pulau Batuwingkung, Sangihe saling membantu mengangkat perahu yang mereka gunakan untuk pergi ke sekolah.

Batuwingkung merupakan sebuah desa di Kecamatan Tabukan Selatan, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Walau masih terbatas, namun di pulau ini sudah ada beberapa fasilitas sosial.

Selain bangunan sekolah dasar dan sekolah menengah pertama, bangunan puskesmas pembantu juga sudah ada, beserta seorang bidan kontrak.

Kehadiran bangunan sekolah itu membantu warga di kampung sekitarnya menyekolahkan anak-anak mereka. Jika tidak, maka alternatif lainnya cukup jauh, yakni menyeberang ke Manalu.

Butuh waktu yang lebih lama dan risiko ombak besar di waktu-waktu tertentu.

Walau hidup dengan serba keterbatasan, namun semangat para pelajar di Batuwingkung dan sekitarnya perlu ditiru.

Mereka dan ratusan anak-anak lainnya di pulau-pulau terpencil yang tersebar di wilayah Sangihe, punya semangat yang tak gampang menyerah.

Artikel ini sebelumnya sudah tayang di Kompas.com, pada edisi 5 Mei 2016: http://regional.kompas.com/read/2016/05/05/13390931/Bagi.Para.Pelajar.di.Sangihe.Ini.Perahu.adalah.Kendaraan.Mewah.Menuju.Sekolah