Tag

, , , , , , , , , ,

Jembatan Seokarno menjadi ikon baru Kota Manado. / Foto: Liny Tambajong.

Jembatan Seokarno menjadi ikon baru Kota Manado. / Foto: Liny Tambajong.

Jika Anda sedang berada di Manado, ibu kota Provinsi Sulawesi Utara, berbagai destinasi wisata tersedia untuk didatangi. Sebut saja pulau Bunaken dengan keindahan taman lautnya yang tersohor seantero dunia itu. Juga puluhan destinasi bahari lainnya di sekitar Manado juga sangat layak dikunjungi.

Tetapi untuk ke lokasi-lokasi itu, tentu dibutuhkan persiapan yang matang dan juga biaya yang tidak sedikit, terutama menyewa transportasi laut. Nah, bagi Anda yang berkantung pas-pasan, ada beberapa lokasi wisata di Manado yang tidak dipungut bayaran untuk masuk alias gratis dan tergolong mudah untuk didatangi. Berikut daftarnya.

Pantai Malalayang

Lokasi pantai ini yang terletak di Kecamatan Malalayang merupakan salah satu lokasi paling favorit warga Manado. Betapa tidak, lokasinya sangat mudah dijangkau. Dari pusat kota tersedia rute angkutan kota langsung ke terminal Malalayang. Cukup membayar Rp 4000, Anda sudah bisa sampai di Pantai Malalayang dengan waktu tempuh sekitar 30 menit.

Pengunjung sedang menikmati kuliner di Sabua Buluh pantai Malalayang. / Foto: Ronny A. Buol

Pengunjung sedang menikmati kuliner di Sabua Buluh pantai Malalayang. / Foto: Ronny A. Buol


Angkutan kota akan berhenti di Terminal Malalayang. Dari depan jalan masuk terminal, Anda sudah bisa menikmati Pantai Malalayang dengan panorama Pulau Manado Tua di kejauhan. Berjalanlah ke Tugu Boboca yang berada di perbatasan Kota Manado dengan Kabupaten Minahasa.

Sepanjang jalan yang Anda telusuri tersedia Sabua Bulu (rumah makan dari bambu). Sabua Bulu siap mengisi istirahat Anda dengan berbagai hidangan kuliner khas Manado seperti pisang goreng yang dimakan bersama sambal. Orang Manado nyaris tak bisa makan tanpa sambal.

Lalu ada Tinutuan, yang terbuat dari berbagai sayuran hijau dicampur bubur labu. Lagi-lagi harus dimakan dengan sambal bakasang (dari fermentasi perut ikan) atau sambal terasi dan sambal roa. Ada pula jagung rebus dan berbagai kue tradisional. Carilah penjual es cendol, maka lengkaplah perjalanan Anda.

Di depan Sabua Buku tersedia bangku-bangku yang bisa Anda duduki secara gratis sambil memandangi tingkah pola pengunjung yang berenang dan para nelayan yang mencari ikan. Tak perlu membayar saat datang ke Malalayang, sebab tidak ada restribusi masuk termasuk jasa parkir jika Anda membawa kendaraan

Jembatan Soekarno

Lokasi ini merupakan tempat favorit baru bagi warga Manado sejak diresmikan pada Mei 2015. Jembatan Soekarno yang fenomenal ini, karena memerlukan waktu 12 tahun untuk menyelesaikannya, adalah lokasi paling tepat ber-selfie ria menjelang matahari terbenam.

Jembatan Seokarno menjadi ikon baru Kota Manado. / Foto: Liny Tambajong.

Jembatan Seokarno menjadi ikon baru Kota Manado. / Foto: Liny Tambajong.

Lagi-lagi Pulau Manado Tua bisa menjadi latar berfoto. Pergilah ke posisi paling tinggi di jembatan sepanjang 1.127 meter ini. Anda akan melihat kesibukan pelabuhan Manado tepat dari atasnya. Lalu lalang kapal dan mobilisasi calon penumpang yang akan berangkat maupun penumpang yang baru tiba menjadi salah satu pemandangan yang menarik.

Jangan lupa untuk berfoto dengan latar belakang Menara Lilin yang juga berlokasi sangat dekat dengan Jembatan Soekarno. Tunggulah hingga langit sore berubah warna merah keemasan pertanda matahari akan terbenam. Jangan khwatir jika Anda tidak punya kamera, sebab para penyedia jasa foto cukup banyak di sini. Hasilnya pun bisa Anda bawa pulang segera, karena mereka langsung mencetaknya begitu selesai difoto.

Sunset Boulevard

Pesisir pantai Manado merupakan salah satu lokasi paling bagus untuk menikmati saat matahari terbenam. Pergilah ke Boulevard hingga ke tepi pantai yang terdapat di sepanjang Jalan Piere Tendean yang membentang sekitar lima kilometer. Anda tidak perlu membayar untuk menikmati sunset di sini.

Langit Manado jelang matahari terbenam di sepanjang kawasan Boulevard / Foto: Ronny A. Buol

Langit Manado jelang matahari terbenam di sepanjang kawasan Boulevard / Foto: Ronny A. Buol

Tumpangi angkutan kota khas Manado yang berwarna biru muda dan turunlah di mana pun Anda suka untuk menikmati sunset. Beberapa titik yang bagus adalah di kawasan Manado Convention Centre, kawasan Manado Town Square, Jembatan Kuning, Kawasan Mega Mas, Kawasan Pohon Kasih, dan Kawasan Marina Plaza.

Lokasi-lokasi itu merupakan tempat favorit warga Manado menunggu matahari terbenam yang setiap saat selalu menyajikan warna langit yang spektakuler. Saran terbaik adalah Anda harus membawa kamera dan ajaklah teman agar sama-sama bisa mengabadikan keindahan alam yang gratis itu.

Patung Yesus Memberkati

Patung ini adalah salah satu ikon terkenal di Kota Manado. Letaknya berada di kawasan perumahan elit Citraland Winangun. Jalan bypass atau Manado Ring Road membelah kawasan ini seolah menjadi dua bagian.

Patung Yesus Memberkati di kawasan Perumaha Citraland / Foto: Ronny A. Buol

Patung Yesus Memberkati di kawasan Perumaha Citraland / Foto: Ronny A. Buol

Patung Yesus Memberkati yang memiliki tinggi keseluruhan 50 meter ini berada di sisi jalan yang lain. Pergilah ke sisi jalan yang satunya dan jangan khawatir, karena walaupun terletak di perumahan elite, Anda tidak akan dipungut bayaran.

Datang saat pagi hari merupakan waktu terbaik, karena Anda bisa menyaksikan siraman mentari pagi di badan patung saat matahari keluar dari balik Gunung Klabat di kejauhan. Anda juga dapat menyaksikan pemandangan alam sekitar yang tak kalah indahnya. Setelah puas dengan pemandangan matahari terbit, pergilah ke area patung, dan coba menyusuri tangga-tangga yang ada serta menikmati berbagai fragmen cerita mengenai kehidupan Yesus yang ditata sedemikian rupa di lokasi ini.

Kampung Cina

Lokasi ini berada tepat di tengah Kota Manado dan merupakan salah satu jantung penggerak ekonomi Manado sejak dulu kala hingga sekarang. Dinamakan Kampung Cina karena hampir semua pedagang yang berada di sini merupakan keturunan etnis Tionghoa.

Klenteng Ban Hin Kiong di kawasan Kampung Cina. / Foto: Ronny A. Buol

Klenteng Ban Hin Kiong di kawasan Kampung Cina. / Foto: Ronny A. Buol

Mereka menempati bangunan-bangunan toko tua yang dibangun sejak penjajahan Belanda. Beberapa bangunannya bahkan masih dipertahankan sebagaimana aslinya dengan arsitektur bergaya kolonial. Jika siang hari, lokasi ini sangat padat dengan hilir mudik para pembeli termasuk padatnya kendaraan.

Di Kampung Cina ini juga Anda dapat mengunjungi klenteng tertua di Manado, Ban Hing Kiong, yang dibangun pada tahun 1819 dan berdiri megah berdampingi dengan Klenteng lainnya, Kwang Kong. Jika Anda membawa kendaraan parkirlah di Taman Kesatuan Bangsa yang tak jauh dari Kampung Cina.

Berjalan kakilah dan nikmati nostalgia bagian dari sejarah Manado di Kampung Cina. Jika sudah penat, langkahkan kaki menuju Jalan Roda, sebuah lokasi yang selalu dipadati ratusan orang dari pagi hingga menjelang malam, hanya untuk minum kopi dan bercengkrama berbagi cerita. Orang Manado bilang tak lengkap kalau ke Manado tanpa mampir ke Jalan Roda.