Tag

, , , , , , , , ,

Beberapa ekor anak penyu sedang berusaha mencapai air laut di Pantai Paal.

Beberapa ekor anak penyu sedang berusaha mencapai air laut di Pantai Paal.

Pantai Paal di Desa Marinsow, Likupang Timur, Minahasa Utara sejak beberapa bulan terakhir dijejali ratusan pengunjung yang datang dari berbagai daerah di Sulawesi Utara. Pasir putihnya yang halus, serta gradasi air laut yang mempesona mampu memikat warga untuk berbondong-bondong menyerbu pantai itu.

Warga di Marinsow yang bertugas menjaga Pantai Paal, bahkan mengakui bahwa pada akhir pekan atau hari libur, Pantai Paal bisa didatangi hingga sekitar 5.000 orang. Padahal, dulunya Pantai Paal sepi, dan hanya ada aktivitas warga di sekitar Marinsow. Semua berawal saat pengguna jejaring sosial mulai mengunggah foto keindahan Pantai Paal. Sejak itulah, pantai ini menjelma menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Sulut.

Warga di Marinsow mengaku senang dengan ramainya pengunjung, sebab bagi mereka kini ada sumber penghasilan tambahan dari berbagai jasa yang ditawarkan kepada pengunjung. Salah satunya adalah mendirikan warung untuk menjajakan berbagai makanan dan minuman. “Kami kini bisa membuka warung dan berjualan, juga menyewakan tenda-tenda serta perlengkapan mandi. Di portal masuk juga ada pendapatan dari karcis kendaraan, yang hasilnya untuk pengelolaan pantai ini,” ujar salah satu Pengurus Pantai Paal Novi Tatara, Kamis (25/6/2015).

Menurut Novi, setiap minggu ratusan juta rupiah uang berputar di Pantai Paal. Apalagi saat hari libur besar. “Jelas kami senang, oleh karena itu kami bertekad untuk menjaga kondisi Pantai Paal sebaik mungkin, terutama keamanan dan kenyamanannya,” kata Novi.

Tempat penyu bertelur 

Namun di antara keramaian pengunjung Pantai Paal, ternyata pantai ini telah lama menjadi tempat bertelur penyu laut. Jika saatnya tiba, induk penyu akan naik ke pasir untuk menggali lubang dan meletakkan telurnya. Bahkan, saat Pantai Paal dijejali ratusan warga setiap harinya, penyu masih juga datang untuk bertelur. Seperti yang terlihat saat saya menyambangi Pantai Paal, beberapa anak penyu atau tukik terlihat diletakkan di sebuah kolam buatan berdiamter sekitar 60 centimeter, yang dibuat di depan sebuah warung milik Herlin Kiriman.

Herlin menyelamatkan tukik itu dari timbunan pasir saat telur penyu menetas. “Tiga hari lalu kami ambil dari pasir itu, karena takut nanti terinjak orang atau malah diambil orang, jadi kami taruh di sini dulu dan nanti kalau sudah cukup kuat baru akan kami lepas kembali,” ujar Herlin.

Oleh Herlin dan warga lainnya, tempat penyu meletakkan telur mereka pagari dengan jaring sebagai pananda bahwa di situ ada telur penyu. Sebab jika tidak, telur-telur itu bisa rusak terinjak pengunjung. Beberapa pengunjung yang ditemui saat sedang melihat tukik di kolam buatan Herlin mengakui bahwa baru kali itu melihat tukik secara langsung. Mereka pun menyatakan niat untuk bisa membawa pulang tukik tersebut.

Pengunjung sedang menikmati keindahan di Pantai Paal.

Pengunjung sedang menikmati keindahan di Pantai Paal.

Pemerhati konservasi dari Wildlife Conservation Society – Marine Programme, Sonny Tasidjawa menjelaskan, semua jenis penyu laut merupakan hewan yang dilindungi. Semestinya, dengan kondisi itu, Pantai Paal dapat dijadikan sebagai daerah perlindungan bagi penyu.

“Penyu laut sekarang populasinya mulai terancam punah karena sering diburu untuk dikonsumsi telur dan dagingnya. Di Minahasa Utara sendiri ada tiga jenis penyu, yakni Penyu Hijau, Penyu Sisik dan Penyu Lekang, ketiganya dilindungi,” kata Sonny.

Sonny juga memaparkan, upaya penyelamatan penyu yang dilakukan oleh warga di Marinsow itu sebenarnya bertentangan dengan prinsip konservasi. Semestinya tukik-tukik tersebut dibiarkan langsung ke laut saat keluar dari telurnya. Kondisi Pantai Paal yang terlanjur ramai saat ini, menurut Sonny tetap bisa dikelola sesuai dengan prinsip lingkungan dan konservasi dengan memajukan konsep ekowisata.

“Jadi pemanfaatan wisata tetap bisa jalan, tetapi dengan arif dan bijaksana dengan tidak menganggu keberadaan penyu di sana,” kata dia. “Lalu melibatkan masyarakat setempat sebagai kunci dalam pengelolaannya dan pemerintah daerah harus berupaya memasukkan lokasi itu sebagai bagian dari program penyelamatan lingkungan,” sambung Sonny.

Kesadaran masyarakatlah yang diperlukan untuk bisa menjaga keberadaan penyu di Pantai Paal, tanpa harus menyampingkan potensi wisata yang dimiliki pantai indah itu. “Tentu kita tidak bisa membiarkan tukik-tukik itu mencari cara sendiri menyelamatkan diri dari keramaian demi kelestarian alam,” ungkapnya.

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di Kompas.com edisi 25 Juni 2015.