Tag

, , , , , , , , ,

(Ini bukan Promosi !)

BABUTA - Salah satu anggota kelompok Polahi ini sedang menggunakan telepon genggamnya di atas gunung Boliyohuto.

BABUTA – Salah satu anggota kelompok Polahi ini sedang menggunakan telepon genggamnya di atas gunung Boliyohuto.

Minggu, 14 April 2013 saya berkesempatan melakukan trip bersama Tim Indonesiaku Trans7 (Widya sebagai Host, Mas Nata dan Mas Adi sebagai kameraman) serta si Pengeliling Indonesia Ebbie Vebri Adrian. Perjalanan kami kali ini menuju ke pemukiman Polahi di Hutan Humohulo, Pengunungan Boliyohuto (2049 m).

Kami start dari Dusun Pilomohuta, Desa Bina Jaya, Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Boalemo. Dusun Pilomohuta merupakan salah satu dusun terdekat menuju ke pemukiman Polahi. Untuk mencapai Dusun Pilomohuta harus melewati jalan yang lumayan rusak dari pertigaan Desa Lakea. Jalan berbatu yang diselingi dengan pohon tebu. (maklum di Kecamatan Paguyaman terdapat areal perkebunan Tebu milik salah satu pabrik gula terbesar di Indonesia).

Mobil tidak bisa sampai di Dusun Pilomohuta, hanya berakhir di seberang sebuah sungai. Terpaksa mobil numpang parkir di rumah salah satu warga. Kami harus menyebrang untuk sampai di rumah Kepala Dusun Pilomohuta. Cerita lainnya nanti diseri berikut, saya mau cerita yang ini sesuai judulnya.


Begitu tiba di rumah Kepala Dusun (Kadus), Udin Mole (Hmmm, soal nama Udin ini ada ceritanya juga, bikin ngakak, karena ternyata lagu Udin sedunia itu tebukti disini, wkwkwkwk). Lanjut…. begitu tiba, kami yang “orang kota” ini sibuk mencari posisi untuk menangkap signal. Saya pakai BlackBerry seperti si Ebbi, juga si Widya dan Adi. Widya juga punya handpone lain merk Nokia, sama merek dengan teman saya dari Gorontalo, Nonu, yang juga ikut serta.

Si Adi punya Iphone, si Nata lupa saya merknya, tapi punya dua HP. Kami yang “orang kota” ini punya beberapa sim card, telkomsel, tri, xl, dan smart. Semuanya “mati signal.” Kalau pun ada, hanya bisa di atas sebuah meja tamu. Jadilah area seluas 10x10cm itu dipakai bergantian untuk meletakkan handset kami. Tidak bisa bergerak sedikit, signalnya hilang, terserah mau merk dan sim card apa pun yang kami bawa, semuanya begitu.

Hmmm… sementara kami kelimbungan mencari signal untuk memberitahu keberadaan kami yang sudah berada di rumah Kadus, “orang-orang desa” lainnya, dengan asyik dan entengnya menelepon dimana saja mereka suka.

“Ini ada dua batang,” ujar salah satu warga ketika saya tanya kalau handphonenya dapat signal. Cek and ricek, ternyata dia pakai handphne murah, merk MITO. Jelas kami iri!.

Malam itu kami tidur di rumah Kadus, untuk prepare jalan kaki menuju ke pemukiman Polahi. Besok paginya, rombongan kami menuju pemukiman Polahi. Ikut serta Kadus dan para kijang (Kijang, sebutan untuk porter yang menyediakan jasa mengangkat barang). Total rombongan kami menjadi 20 orang. Perjalanan kami lumayan berat, perlu 8 jam naik turun gunung dan melewati sekitar 7 sungai.

KIJANG - Jasa porter warga desa yang disewa untuk membantu mengangkut logistik ke pemukiman Polahi.

KIJANG – Jasa porter warga desa yang disewa untuk membantu mengangkut logistik ke pemukiman Polahi.

Dalam perjalanan itu, sekali saja handphone-handphone kami mendapat signal dengan jelas. Kesempatan itu kami gunakan sebaik-baiknya sambil berisitirahat mengambil nafas.

Tiba di pemukiman Polahi, hari menjelang sore. Lelah terasa. Kami disambut dengan buah pisang yang lumayan menyegarkan dan memulihkan sedikit tenaga. Tiba-tiba mata saya menangkap pemandangan yang menjanjikan. Salah satu anak kepala Suku Polahi, Babuta, sedang asyik dengan handphone di tangannya. Saya pikir barang itu mungkin dipakainya hanya untuk mendengarkan lagu.

Eh… ternyata diatas ketinggian itu signal masih tertangkap. Hmmm… saya pun cepat-cepat mengeluarkan perangkat Blackberry dari tas, ikut juga si Widya dan si Nonu teman Gorontalo saya itu. Melihat kami ramai-ramai mengeluarkan handphone, Adi ikut-ikutan keluarkan iPhonenya.

Namun betapa kecewanya kami, karena handphone-handphone mahal itu tidak bisa menangkap signal sama sekali. Sementara anak si Kepala Suku dengan asyiknya menelepon di lokasi mana saja.

Dan HPnya. lagi-lagi merek MITO !!!

Guna keperluan mencharge baterai peralatan camera dan lain-lain, tim Trans7 sengaja membawa genset ke atas gunung itu. Malam hari kami nyalakan genset sambil mencharge semua peralatan. Jam 8 malam genset dimatikan. Penerangan hanya datang dari lampu rotan ala Polahi.

SUBUH - Suasana subuh di salah satu rumah orang Polahi

SUBUH – Suasana subuh di salah satu rumah orang Polahi


Ditengah kegelapan itu, terdengar musik ngejreng yang nyaris tidak berhenti hingga jelang subuh. (ini juga punya cerita ngakak lainnya). Paginya baru kami tahu, ternyata anak si Kepala Suku itu, memutar lagu-lagu itu dari Handphone merek MITO nya.

Pagi hari saya penasaran, mencari tahu, bagaimana dia bisa mengisi daya baterai MITO nya? Kan disini tidak ada listrik?

Jawaban yang dia berikan membuat kami semua terheran, ternyata untuk mencharge, mereka menggunakan beberapa baterai kering yang disambungkan, lalu kabel charger yang sebenarnya dipotong dan dikoneksikan ke kutub positif dan negatif dari baterai itu.

CHARGER - Keterbatasan melahirkan ide kreatif orang Polahi, yang menggunakan baterai kering untuk mengisi daya telepon gengam.

CHARGER – Keterbatasan melahirkan ide kreatif orang Polahi, yang menggunakan baterai kering untuk mengisi daya telepon gengam.


“Kalau habis baterainya, tinggal dijemur saja, nanti terisi ulang,” kata Babuta, anak Kepala Suku itu.

MITO memang luar biasa!!! (Ini bukan promosi… hehehehe ).
Beramai-ramai kami mencoba mencharge handphone milik kami di charge ala Polahi tersebut. Hahaha… tidak bisa!

Si Nata (Assisten Produser Indonesiaku) sampai berujar, “Pulang Jakarta, saya akan usul ke kantor, semua anggota tim yang akan masuk hutan, harus dilengkapi dengan MITO!”

Hahahaha.