Tag

, , , , ,

Cuaca Manado dalam beberapa pekan ini cukup panas. Matahari menyinari dengan terik, dan hampir semua orang yang bekerja di luar ruangan mengeluhkan suhu yang tinggi tersebut. Bahkan yang tinggal di dalam rumah pun ikut merasakan suhu yang sangat panas.

Burung-burung itu bercengkrama di atas pohon Rambutan di halaman tetangga saya.

Burung-burung itu bercengkrama di atas pohon Rambutan di halaman tetangga saya.

Bagi fotografer landscape mungkin ini saat yang tepat untuk hunting foto, karena ketersediaan cahaya yang sangat cukup dan langit selalu biru. Pukul lima subuh hingga pukul 10 pagi merupakan saat yang sangat tepat untuk memotret lansekap.

Lebih dari itu, terik matahari terasa membakar kulit dan energi yang terkuras akibat penguapan tinggi jelas membuat tubuh menjadi ingin terus beristirahat. Tak terkecuali saya, yang memang dalam beberapa hari ini kurang fit. Enggan untuk keluar rumah, apalagi banyak pekerjaan yang harus diselesaikan di komputer.

Rumah saya berada di Desa Tateli, yang dilewati jalan Trans Sulawesi. Sebuah desa di Kecamatan Mandolang, Kabupaten Minahasa, tapi hanya berjarak kurang lebih 5 kilometer dari Terminal Malalayang. Di desa kami pohon-pohon masih banyak tumbuh, bahkan ada hutan-hutan kecil walau tak seberapa. Termasuk di sekitar rumah saya, walau beberapa pohon telah roboh tertiup angin.


Siang ini terik matahari juga sangat menyengat. Tak tahan berlama-lama di depan komputer, konsentrasi saya sering pecah karena suhu yang tinggi. Berulang-ulang saya harus keluar ke teras rumah untuk sekedar menetralisir, walau angin juga tak berhembus. Saya bersyukur tinggal di Tateli, setiap pagi menikmati kicauan burung yang lumayan banyak dari beberapa jenis.

Siang ini beberapa ekor burung gereja atau Sparrow (Passer domesticus) terlihat berteduh di ranting-ranting pohon Rambutan di halaman tetangga. Mereka bercengkrama dan bermain-main, mungkin juga turut merasakan hawa panas. Terlintaslah di pikiran saya untuk memotret mereka, tapi tidak di atas pohon, karena sudah cukup banyak koleksi foto saya soal itu.

Semprotan air dari alat semprot yang saya letakkan di atas pohon palem membuat kolom air kecil di halaman depan rumah.

Semprotan air dari alat semprot yang saya letakkan di atas pohon palem membuat kolom air kecil di halaman depan rumah.

Lalu timbullah ide memotret mereka mandi. Siapa tahu panas-panas begini, mereka juga ingin mencari air. Kebetulan ada mata kran di halaman depan rumah saya. Lalu saya mengambil selang, ujung satunya saya tancapkan di mata kran dan ujung satunya lagi saya pasangkan alat penyemprot air.

Debit air diatur tidak terlalu kencang.

Debit air diatur tidak terlalu kencang.

Ujung yang terpasang semprotan air saya gantung di pohon palem di dekat pagar, lalu saya mengatur debit semprotannya tidak terlalu kencang. Lalu saya masuk ke dalam rumah dan bersembunyi dari balik kaca jendela di antara dua kursi sofa. Saya berharap burung-burung itu mau turun dan mandi.

Saya memotret dari balik jendela dan di antara dua kursi ini.

Saya memotret dari balik jendela dan di antara dua kursi ini.

Wah, ternyata tidak butuh waktu yang lama, sekitar 5 menit, saat air dari semprotan telah membentuk kolam kecil, mereka lalu mencoba turun dan perlahan mendekati kolam air itu. Pertama satu ekor, dia lalu bermain air dan mandi, Berikutnya datang lagi satu ekor, dan jadilah saya iseng memotret burung mandi di siang yang panas ini.

Dan ini beberapa moment mereka:

Burung_mandi-08

Burung_mandi-07

Burung_mandi-06

Burung_mandi-05

Burung_mandi-04

Burung_mandi-03

Burung_mandi-02

Keringkan tubuh usai mandi.

Keringkan tubuh usai mandi.