Tag

, , , , ,

Torosiaje-2

Tersebut dulu dalam hikayat orang Bajo, putri Sang Raja Elolo Bajo hanyut terbawa arus. Rombongan Patta Sompa diutus raja untuk mencari putri yang hilang tersebut. Dalam pencarian itu Patta Sompa sampai di Teluk Tomini. Ketika ingin beristirahat Patta Sompa menunjuk sebuah tanjung sambil berujar, “Kita Pasemba Matoro Ore” yang artinya, “kita akan singgah di tanjung sana.”

Tanjung itu bernama Tanjung Salam Penguh yang kini berada dalam wilayah administrasi Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwatu, Gorontalo. Waktu itu rombongan Patta Sompa masih menggunakan soppe (perahu). Mereka mengikat perahu-perahu di pohon lolaro yang banyak terdapat di tanjung tersebut.

“Ini merupakan salah satu versi asal mula terbentuknya kampung Torosiaje,” ujar Pemerhati Masalah Sosial Budaya, Dirno Kaghoo yang juga adalah seorang dosen.
Menurut tuturan warga lainnya, Suku Bajo yang berada di Torosiaje sudah ada sejak tahun 1901. Mereka berasal dari Sulawesi Selatan. “Dengan menggunakan perahu, sembilan keluarga dari Sulawesi Selatan itu menjadikan hutan bakau yang ada di tanjung itu sebagai daerah perlindungan mereka,” ujar Kepala Dusun Bahari Jaya Desa Torosiaje, Akbar Mile.

Dari bermula menambatkan perahu, perlahan-lahan mereka membangun tempat tinggal berupa rumah diatas laut dangkal. Hutan Mangrove yang menjadi pelindung tanjung itu pun habis dibabat untuk digunakan kayunya. Baik sebagai bahan rumah maupun sebagai bahan kayu bakar. “Kini yang tersisa dari tanjung tersebut hanyalah sejengkal ini,” ujar Elsa yang menyewakan perahunya ketika membawa saya menyusuri perkampungan Torosiaje.

Pemukiman rumah suku Bajo dimulai sejak tahun 2003. Pemerintah setempat mencoba menata suku Bajo agar punya tempat tinggal yang layak. Awalnya mereka direlokasi ke darat. Suku Bajo diberi rumah di darat dengan tujuan agar mereka bisa punya alternatif pekerjaan selain melaut. Tetapi sebagian besar dari Suku Bajo yang direlokasi itu tidak betah. Mereka kembali ke laut dan membangun rumah mereka.
“Kami suku Bajo adalah suku laut. Hidup kami dari laut, tanah leluhur kami adalah laut, yang memberi kami makan dan hidup,” ujar Elsa mantap.

Itulah sebabnya mereka tetap memilih hidup di laut. Karena pandangan hidup suku Bajo yang menghormati laut sebagai sumber kehidupan itu, lalu pemerintah Gorontalo mencoba menata kembali pemukiman mereka di atas laut. Kini di Torosiaje, berdiri lebih dari 200 bangunan dengan 450 kepala keluarga dengan lebih dari 1.000 jiwa.

Terbentuklah sebuah Desa Torosiaje yang terdiri dari dua dusun dengan kehidupan yang mereka jalani seluruhnya diatas laut. Rumah tiang pancang yang mereka dirikan benar-benar berdiri di atas laut dangkal yang terpisah dari daratan Popayato. Pada bekas tanjung itu rumah-rumah suka Bajo dihubungkan oleh jembatan kayu yang penjangnya mencapai 4.000 meter. Melingkar membentuk formasi permukiman seperti huruf “U” raksasa.

Dalam formasi itu juga terdapat sarana sosial seperti, masjid, sekolah dasar, puskesmas, lapangan bermain, wartel, aula serbaguna, kios, yang semuanya dibangun di atas laut. Di pemukiman diatas laut inilah orang Bajo Torosiaje melanjutkan tradisi leluhur mereka. Meminjam laut sebagai lahan tempat mereka menangkap ikan, layaknya petani memanen hasil pertanian.

“Tapi kami bisa memanen kapan saja. Karena ikan-ikan itu berada tepat dibawah rumah kami,” ujar Elsa sambil senyum bangga.

Sejatinya Suku Bajo adalah nomaden. Berpindah terus kemana arah angin dan arus membawa perahu mereka. Mereka hanya akan berhenti dan mencari perlindungan untuk tambatan perahu ketika laut sedang bergelora. Di Torosiaje sifat nomaden itu berubah bentuk. “Setiap hari para lelaki keluar mencari ikan, entah untuk sekedar lauk atau untuk dijual, tapi akan pulang kembali ke rumah” jelas Akbar.

Selain yang ada di Torosiaje, di Indonesia sendiri suku Bajo dapat ditemukan di Lombok, Pulau Sumbawa dan Bima, Lalu ada pula di Labuhan Bajo, Pulau Flores. Di Sulawesi sendiri Suka Bajo juga dapat ditemui Sulawesi tengah, Sulawesi Tenggara hingga Sulawesi Selatan. Suku Bajo yang ada di Torosiaje telah mengalami pencampuran etnik karena proses kawin mawin mereka dengan orang lokal.

Menurut catatan, ada sekitar 4 persen etnis Gorontalo yang sudah menjadi bagian dari masyarakat Torosiaje. 3 persen lainnya etnis Bugia, sementara 1 persen etnis Kaili. “Namun ada juga etnis Jawa, Minahasa bahkan etnis Cina yang sudah menjadi bagian dari keluarga kami,” terang Akbar.

Namun walau telah terjadi percampuran berbagai etnis tersebut, tradisi leluhur harmonisasi kehidupan orang Bajo dengan laut tetap dipertahankan. Tak heran kehidupan mereka tak jauh dari peralatan menangkap ikan. Membawa pancing, tombak ikan, jaring dan berperahu adalah bagian yang tak terpisahkan dari rutinitas. “Anak-anak kami begitu lahir langsung mengenal laut,” ujar Elsa lagi.

Di Torosiaje para bocah mengisi waktu dengan memancing, mendayung perahu di perairan dangkal, menangkap kerang yang menempel di tiang-tiang rumah. Jika harus bermain bola pun, mereka lakukan diatas air.

Potret kehidupan harmonisasi Suku Bajo Torosiaje yang menyatu dengan kehidupan alam laut merupakan sebuah kearifan tradisional yang patut diteladani. Walau rumah-rumah mereka telah dihiasi perabot modern, termasuk terpasang antena parabola dan telepon selular, tetapi kehidupan mereka tetap berpijak pada tradisi lelulur. “Tanah kami adalah laut,” ujar Elsa dengan semangat.

Baca pula: Desa Wisata Di Atas Air Ini, Kesulitan Air Bersih