Tag

, , , , ,

Makanan Pedas

Tidak ada cabai di atas meja makan, bagi orang Manado akan menjadi masalah besar. Selera makan akan berkurang, dan sajian makanan utama selezat apapun akan terasa hambar jika tak ada rasa pedas dalam bumbunya.

Rica“, demikian orang Manado menyebut bumbu masakan yang satu itu, adalah keniscayaan yang harus selalu hadir dalam setiap aktivitas kuliner. Dan percaya atau tidak, rica bisa mempengaruhi inflasi di Sulawesi Utara.

“Jika harga cabai rawit stabil, Manado akan deflasi,” ujar Kepala BPS Sulut Dantes Simbolon beberapa waktu lalu.

Sudah sangat sering cabe rawit mempengaruhi inflasi Manado. Bahkan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulut menyebutkan, 2.500 hingga 3.000 ton cabai rawit dikonsumsi setiap bulannya di Sulawesi Utara.

Semahal apapun harga cabai rawit, bumbu masakan yang satu itu tetap akan diburu. Orang Manado tidak peduli walau harganya menyentuh Rp 70.000 – Rp 90.000 per kilogramnya.

Nimbole makan kalo ndak ada rica (Tidak bisa makan kalau tidak ada cabai,” ujar Hana (46), seorang ibu rumah tangga.

Jenis cabai yang paling banyak digunakan untuk bumbu masakan Manado adalah jenis cabai rawit yang didatangkan dari daerah Bolaang Mongondow, Gorontalo dan Palu. Seorang pedagang cabai rawit, Ahmad Dutu di Pasar Bersehati Manado mengaku setiap bulannya dia menjual lebih dari 200 ton. “Selalu habis terjual, tidak bersisa,” ujar Ahmad.

Hampir seluruh masakan utama orang Manado menggunakan cabai sebagai bumbu utamanya. Sebut saja, ikan bakar rica, yang warnanya kemerah-merahan karena disiram dengan rica-rica. Tinutuan (bubur Manado) yang merupakan olahan berbagai aneka sayuran hijau dan sedikit beras itu akan terasa sangat hambar jika tanpa ditemani oleh rica roa (sambal dari ikan Roa) atau dabu-dabu bakasang (sambal dengan perut ikan).

Untuk menu kuliner yang sedikit ekstrem bagi orang di luar Manado, sebut saja seperti Tinoransak, daging babi yang dicampur dengan sedikit darah lalu dimasak dalam bambu dengan cara dipanaskan bara api, harus benar-benar pedas. Begitupula dengan masakan Kawok (tikus hutan ekor putih) tidak lengkap tanpa cabai dalam kuah santannya. Apalagi sajian masakan RW (daging anjing), harus benar-benar pedas baru terasa enaknya.

Rasa pedas yang dihasilkan dari cabai itu wajib hadir dalam setiap kali aktivitas makan orang Manado. Maka jangan heran pula untuk sekedar camilan semacam pisang goreng, orang Manado menyantapnya dengan ditemani sambal. Bahkan jika tak ada sambal, rica biji (cabai rawit yang masih utuh) pun tetap terasa enak.

Jadi jika anda ke Manado, jangan lupa merasakan menu ala lidah Manado yang nendang pedasnya. Dan jika Anda bukan penyuka rasa pedas, siap-siap saja ke restoran fast food, karena hampir semua rumah makan di Manado menunya pasti pedas.