Tag

, , ,

Danau Tondano

Empat tahun lalu, perairan di samping jembatan yang ada Sumaru Endo, salah satu lokasi wisata di tepi Danau Tondano, itu masih dengan mudah bisa dilalui perahu bebek—salah satu wahana permainan air yang disediakan pengelola.

Namun kini, ketika saya kembali mendatangi lokasi indah ini dalam rangkaian Festival Danau Tondano 2012 lalu, wahana air itu sudah terparkir di atas daratan dan terlihat tidak terawat. Area yang dulunya menjadi tempat wahana air ini kini tidak bisa lagi digunakan.

Eceng gondok menutupi seluruh permukaan air tempat wahana ini biasa dikayuh. Danau Tondano yang menjadi salah satu sumber air utama di Sulawesi Utara ini kini sedang kritis. Dulunya perairan terdangkal di danau terluas di Sulawesi Utara itu bisa mencapai 3 meter. Tetapi, sendimentasi yang hebat telah menjadikan sebagian area perairan tersebut malah telah berubah fungsi menjadi lahan kering.

Berdasarkan catatan yang ada, pada 1923 kedalaman Danau Tondano rata-rata 40 meter. Namun, pada 2011 kedalaman rata-ratanya tinggal 12 meter. Ketika Zen dan Alzer mengukur kedalaman Danau Tondano pada 1934 didapati angka 40 meter. Tetapi, ketika pengukuran dilakukan kembali pada 1974, kedalamannya tinggal 28 meter.

Lalu, pada 1992, saat Pusat Penelitian dan Pengembangan Air melakukan pengukuran, kedalaman rata-rata Danau Tondano tinggal 23 meter. Pertumbuhan tak terkendali eceng gondok (Eichornia crassipes solms) membuat hampir seluruh daerah pinggiran Danau Tondano tertutupi.

Diperkirakan lebih dari 200 hektar dari 4.278 hektar luas Danau Tondano kini telah tertutupi eceng gondok. Dengan laju pertumbuhan 3 persen per hari, Danau Tondano benar-benar terancam kelestariannya.

Sejak 2009 pada Konferensi Nasional Danau di Bali, Danau Tondano memang sudah dimasukkan ke dalam daftar 15 danau kritis di Indonesia. Berbagai upaya untuk mengangkat eceng gondok dari permukaan air Danau Tondano pun sudah dilakukan, baik oleh Pemerintah Kabupaten Minahasa maupun Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara.

Demikian pula berbagai elemen masyarakat mencoba secara swadaya mengangkat eceng gondok tersebut. Jika upaya pengangkatan eceng gondok tersebut tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh, dikhawatirkan danau ini satu saat akan menjadi kering.

Keringnya Danau Tondano akan membawa dampak yang sangat besar sebab danau ini juga menjadi sumber energi bagi PLTA Tonsea Lama dengan kapasitas produksi sebesar 14,4 megawatt, PLTA Tanggari II sebesar 19 megawatt, serta PLTA Sawangan sebesar 16 megawatt.

Di samping itu, pada sektor perikanan Danau Tondano mampu memproduksi 534 ton ikan air tawar. Kini di saat digelarnya Festival Danau Tondano yang merupakan hajatan tahunan Pemerintah Kabupaten Minahasa, Danau Tondano seolah "menjerit" meminta perhatian karena sedang diserang eceng gondok yang semakin tak terkendali.