Tag

, , , , , , , ,

Polahi-1

Kata "Polahi" bagi sebagian warga yang hidup di Gorontalo merupakan sebuah cerita yang diliputi dengan mistis. Walaupun hampir sebagian besar orang Gorontalo mengenal kata itu, tetapi hanya sebagian kecil yang benar-benar tahu dengan keberadaan Polahi.

"Nyaris hampir mustahil untuk bertemu dengan Polahi yang masih liar," ujar Fotografer Rosyid Azhar yang meminati kehidupan Polahi.

Polahi adalah sebutan untuk sekelompok warga yang hingga kini masih hidup terisolasi di pedalaman hutan Gunung Boliyohuto yang meliputi daerah Paguyaman, Suwawa dan Sumalata di Provinsi Gorontalo.

Berbeda dengan suku-suku pedalaman lainnya di Indonesia, literar suku Polahi sangat minim. Ini dikarenakan sikap tertutup yang mereka tunjukkan sejak dulu. "Polahi takut jika bertemu dengan orang lain, biasanya mereka langsung lari," tambah Rosyid.

Tetapi beberapa tahun belakangan ada sebagian kelompok Polahi yang sudah bisa hidup bersosial dengan warga lainnya, walaupun masih mempertahankan kebiasaan lama mereka.

Salah satu kelompok yang bisa ditemui adalah keluarga Polahi yang hidup bermukim di pedalaman Hutan Humohulo pengunungan Boliyohuto, Paguyaman. Akses menuju ke pemukiman tersebut tidaklah mudah. Butuh waktu jalan kaki selama sekitar 8 jam dari Dusun Pilomohuta, Desa Bina Jaya, Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Boalemo untuk mencapai rumah keluarga Polahi disana.

"Inilah salah satu pintu masuk yang termudah kalau ingin mengunjungi mereka," ujar Kepala Dusun Pilomohuta, Udin Mole ketika menemani saya menyusuri jalan mendaki dan melewati 7 sungai tersebut.

Di Desa Bina Jaya sendiri sebenarnya ada 11 keluarga Polahi yang terdata. Namun sejak kematian Kepala Suku mereka, Baba Manio sebulan yang lalu, keluarga ini lalu berpencar. Sebab bagi suku Polahi, jika ada satu anggota keluarga yang meninggal, maka mereka semua harus meninggalkan rumah dan pemukimannya, lalu mencari pemukiman baru.

"Dulunya Polahi hidup sangat nomaden. Mencari lahan untuk ditanami, dan setelah itu berpindah ke lahan yang baru. Nanti setelah waktu panen, baru mereka akan balik lagi. Nyaris mereka tidak punya tempat tinggal tetap," kata Rosyid.

Namun Polahi yang ditemui di pedalaman Hutan Humoholo sudah punya rumah tetap, walau masih terlihat sangat sederhana. Hanya terbuat dari papan sisa hasil para perambah hutan dengan atap dari daun kelapa dan daun rumbia.

Kini di hutan Humohulo ada sekeluarga Polahi yang merupakan keturunan Baba Manio yang kawin dengan istrinya Mama Tanio, yang tidak lain adalah saudaranya sendiri. Mereka hidup di dua rumah yang berbeda lokasi dengan jarak yang lumayan jauh.

Rumah pertama ditinggali Mama Tanio dengan anak mereka Babuta yang otomatis menjadi pimpinan sekarang. Babuta memperistri Lanio yang tidak lain anak dari ayahnya dengan seorang istri yang bernama Hasimah. Hasimah dengan keluarga lainnya tinggal di lokasi yang terpisah di hutan Tumba.

Di rumah utama ini, hidup anak-anak Mama Tanio serta anak-anak dari Babuta. Sementara rumah kedua ditinggali adik Mama Tanio yang hidup bersama anak lainnya dari Baba Manio yang bernama Laiya yang punya dua istri kakak beradik.

Kawin mawin sesama saudara bagi Polahi adalah hal wajar. Ayah kawin dengan anak perempuannya, ibu kawin dengan anak laki-lakinya, serta kakak kawin dengan adiknya. "Kalau di kampung banyak orang, tetapi disini hanya ada kita, jadi kawin saja," ujar Mama Tanio dalam bahasa Gorontalo berdialek khas dengan polosnya.

Keterisolasian mereka membuat praktek insect tersebut dianggap wajar. Polahi tidak mengenal agama. Mereka hanya menganut paham agama tradisional, yang percaya kepada alam. Walau kini mereka sudah terbiasa pakai baju, namun pendidikan nyaris tidak pernah mereka rasakan.

"Dulu mereka tidak mengenal angka sama sekali. Tetapi sekarang karena sudah sering berinteraksi dengan warga lain, mereka telah mengenal uang," ujar Udin.

Pemerintah Gorontalo bukannya tidak pernah mencoba membawa mereka untuk hidup bersama masyarakat lainnya. Sebuah lokasi dekat dengan pemukiman warga di Dusun Pilomohuta pernah dibangun. "Ada sembilan Rumah Layak Huni (Mahayani) yang dibangun oleh pemerintah. Tapi mereka tinggalkan dan masuk hutan lagi," jelas Udin.

Mama Tanio menuturkan, mereka tidak bisa hidup di daerah panas. Tempat mereka adalah hutan. Alamlah yang memberi mereka makan. "Kalau mau beri kami rumah, bangun di hutan sini, kami tidak bisa tidur kalau di kampung," Mama Tanio memberi alasan.

Pendekatan yang tidak memperhatikan karakter kehidupan Polahi membuat sembilan rumah di lokasi Mahayani tersebut kosong, serta membuat Polahi terus terasing.

"Hanya kepala dusun yang pernah sampai di gunung ini, pemerintah lainnya tidak pernah datang. Kepala dusun yang selalu bawa bantuan baju dan makanan buat kami," aku Babuta.

Babuta menjelaskan jika pemerintah ingin merubah kehidupan mereka, seharusnya tetap membiarkan mereka bersama dengan alam dan hutan yang sudah menjadi bagian dari kehidupan Polahi. "Leluhur kami mengingatkan jangan pernah tinggalkan hutan," tambah Babuta.

Kondisi Polahi yang ditemui di Hutan Humohulo paling tidak sedikit menepis cerita mistis yang melingkupi suku Polahi. Beberapa kebiasaan lama  memang masih menjadi bagian dari kehidupan mereka. Diperlukan pendekatan yang tepat agar mereka bisa tidak lagi terisolir.

Baca Pula:

– Seri Polahi (2): Cerita Mistis Yang Melingkupinya
– Seri Polahi (3): Kawin Dengan Saudara Kandung
– Seri Polahi (4): Polahi Masih Hidup Nomaden
– Seri Polahi (5): Rotan dan Atimenga Menjadi Makanan
– Seri Polahi (6): Buat Lampu dari Rotan
– Seri Polahi (7): Lawan Keterisolasian, Polahi Gunakan Handphone
– Seri Polahi (8): Pesan Leluhur: "Jangan Tinggalkan Hutan"
– Seri Polahi (9): Kehadiran Para Petambang, Mempengaruhi Kehidupan Polahi

(Tulisan ini juga dapat diikuti di Kompas.com dan SulutExplorer.com